Kim POV
"Ayam, cumi, sayur-sayuran, bumbu-bumbu, sudah semua. Hmm, kira-kira apalagi ya?" aku bertanya pada diri sendiri sambil memperhatikan isi troli belanjaanku.
Saat ini aku sedang berada di supermarket untuk berbelanja kebutuhan dapur. Ya, meskipun aku wanita karir yang sibuk kadang-kadang aku sempatkan untuk memasak sekali-kali. Bosan juga kalau tiap hari beli makan di luar terus. Terakhir masak mungkin sudah beberapa minggu yang lalu, jadi pulang kantor kuputuskan untuk belanja beberapa bahan makanan. Tak lupa mengabari Mark agar dia bisa pulang lebih cepat dan tidak makan di luar.
Kim : Aku hari ini masak, kalau bisa makan di rumah ya.
Mark : Okay. Satu jam lagi aku pulang.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, masakanku sudah selesai dan Mark masih belum pulang juga. Kuputuskan untuk makan duluan, sudah terbiasa makan sendiri dan kemudian meletakkan piring kotor di tempat cuci piring. Kalian pasti berpikir aku malas karna tidak langsung mencuci piringku. Jujur saja aku paling benci pekerjaan mencuci piring, biasanya jika aku masak dan menggunakan peralatan dapur lainnya, maka bagian cuci-cuci akan kuserahkan pada asisten rumah tangga.
Setelah makan aku kembali ke kamar dan duduk bersandar di atas ranjangku sambil menyalakan televisi, akupun mulai mengecek ponselku dan membuka akun sosial mediaku. Sedang membuka i********:, aku tak sengaja melihat akun pria itu di halaman Explore, Dave Smithson. Aku membuka profilnya dan mulai stalking i********: pria itu. Dia memiliki jumlah followers yang cukup banyak. For your info, aku sama sekali tidak mem-follow akunnya. Akupun membuka satu per satu foto dan videonya.
"Ya Tuhan, dia memang supercute..." pujiku sambil menaikturunkan layar ponsel.
"Sepertinya dia masih single, tak ada foto mesra dengan perempuan.." setiap unggahan selalu ada saja yang ku komentari. Aku bahkan menggeser layar hingga ke unggahan foto pertamanya. Sungguh sangat niat!
“Jangan-jangan dia gay!” tuduhku. “Ah, tidak mungkin! Dia menciumku dengan hebat malam itu.”
Aku terus saja berbicara sendiri sambil fokus menatap layar ponsel. Tiba-tiba senyum-senyum sendiri, lalu tertawa, dan terheran-heran.
Hmmm... kenapa aku jadi seperti stalker begini ya? Aku jadi seperti remaja yang sedang puber. Aku tersenyum dalam hati menyadari kebodohanku ini.
"OMG...!!!!"
"Apa yang baru saja kau lakukan, Kim!?" teriakku histeris mengerutuki diri sendiri. Bodohnya aku, tak sengaja memencet tombol suka di salah satu unggahan video miliknya.
Oh Tuhan, semoga saja dia tidak notice dengan perbuatanku ini apalagi sampai mengetahui akunku, dalam hati aku berdoa dan langsung unlike unggahan tersebut.
Semoga saja dia tidak menyadarinya.
"Kenapa kau? wajahmu seperti habis melihat hantu. Apa kau sedang melihat video horror?" Mark tiba-tiba muncul di pintu kamar.
"Eemmm.. yaa seperti itu kira-kira. Kau sudah pulang? Aku sudah siapkan makan di bawah. Aku sudah makan duluan tadi." jawabku setengah gugup.
"Okay, nanti aku makan. Aku mandi dulu."
Mark kemudian pergi ke kamar mandi dan setelah itu ia langsung turun ke bawah untuk makan. Aku masih melanjutkan browsing-browsing, sambil sesekali menonton tv. Jam sebelas, Mark masuk ke kamar, dia sudah naik ke ranjang tapi tak ada pembicaraan diantara kami, masing-masing sibuk dengan handphone. Situasi seperti itu terus berlanjut sampai mata kami terlelap dan kami tertidur. Dalam tidurku aku merasa sedikit gelisah, seperti ada sesuatu yang menggerayangi tubuhku. Perlahan aku membuka mata dan merasakan tangan Mark yang sudah bertengger manis di beberapa titik sensitif tubuhku. Posisi tidur kami saat ini, aku memunggungi Mark sehingga Mark memelukku dari belakang. Kulihat jam di dinding masih menunjukkan pukul 04.30 pagi.
'Serangan fajar nih!' batinku
Mark semakin bersemangat dengan aktifitasnya dimana tangannya kini sudah berada di dalam piyamaku dan menyentuh kulitku langsung. Aku tidak pernah mengenakan bra saat tidur, tentu saja karna itu tidak sehat. Kurasakan ada sesuatu yang mengeras dibalik bokongku. Sepertinya dia sudah sangat b*******h, kurasakan napasnya sudah sangat berat di belakang telingaku.
Desahan kecil mulai keluar dari mulutku. Setelah beberapa menit dia bermain-main di bagian atas, tangannya lalu berpindah ke bagian bawahku.
Pelan.
Tidurku menjadi tak tenang akibat gangguan-gangguan kecil namun cukup berpengaruh besar pada tubuhku dan aku mulai menggeliat-menggeliat. Mark lalu membalikkan tubuhku agar telentang. Kemudian dia setengah berdiri di hadapanku sembari membuka kaos dan celana tidurnya. Ia juga melepaskan pakaianku. Kini kami berdua sudah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun. Ia mulai melancarkan aksinya.
Akupun memejamkan mataku.
"Haaaaahhhhhh....!!!!" aku terkejut saat membuka mata yang kudapati adalah sosok pria itu, Dave. Ini hanya halusinasi.
"Ada apa denganmu?" tanya Mark menyadarkanku.
"Ah, tidak apa-apa." jawabku berbohong.
Mark kembali melanjutkan aksinya, aku hanya bisa terdiam merasakan serangannya. Ketika aku memejamkan mata lagi, sosok Dave kembali mengisi pikiranku lagi, seolah-olah saat ini pria itulah yang ada di hadapanku.
'Daveeeeee....' teriakku dalam hati.
Aku tau ini salah. Salah besar. Tapi entah mengapa baru kali ini aku merasakan aktifitas s*x yang berbeda dari biasanya kulakukan. Aku merasa sangat b*******h dari sebelumnya. Apakah ini semua karna bayanganku akan Dave? Tubuhnya yang atletis, kulit wajahnya yang halus dan bersih, hidungnya yang mancung, bibirnya yang merah dan sexy, matanya yang indah. Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan yang tercetak sempurna pada dirinya itu.
Jangan kalian pikir hanya Dave yang tampan, Mark tentu saja juga tampan. Dia juga sempurna sebagai seorang pria, Mark lebih tinggi dari Dave, namun kulitnya sedikit lebih gelap dari Dave. Dari ujung kepala hingga ujung kaki semua terlihat sempurna. Jika saja dulu dia tidak mempunyai kekasih, mungkin aku bisa dengan mudah belajar mencintainya. Dahulu saat awal perjodohan kami, Mark saat itu masih menjalin hubungan kasih dengan seorang gadis bernama Kate. Dia sangat mencintai gadis itu. Namun, dari kabar yang kudengar tak lama setelah kami menikah, Kate pindah ke Inggris.
Aku terus memejamkan mataku, sambil terus menikmati serangan yang dilakukan Mark, namun yang kubayangkan adalah Dave. Ini luar biasa. Suara teriakan kami berdua memenuhi seisi kamar di pagi hari ini, mengalahkan suara ayam berkokok yang berusaha membangunkan setiap makhluk hidup. Semenjak menikah, aku memang langsung menggunakan kontrasepsi, jadi tak perlu kuatir akan 'kebobolan'. Selain alasan utamaku adalah karir, akupun juga tak ingin punya anak dari Mark. Aku belum siap. Aku tidak ingin anakku lahir dari orang tua yang tidak saling mencintai.