Three - Meet Again in a Different Situation

1339 Words
Dave POV         "Hey, Bro! Whats up?" Greg menyapaku sembari mengajak 'tos'.         "Never been this better." jawabku dengan senyuman khas.         Aku duduk di meja bar sembari menyesap Vodka sambil memperhatikan situasi di klub, kadang-kadang beberapa wanita seksi mendatangiku tapi aku sedang tidak bersemangat dengan wanita manapun malam ini. Aku hanya ingin bersantai sejenak setelah satu minggu kemarin disibukkan oleh shooting acara trip & adventure. Aku paling sering mengunjungi klub ini, setidaknya dua minggu sekali. Aku memang pecinta dunia malam, hampir seluruh klub yang ada di New York sudah ku sambangi, dan Inferno ini adalah salah satu klub yang cukup elite di New York.         "Tolong buatkan aku dua vodka, satu tequila, dan satu wine, sebentar lagi aku kembali kesini." ucap seorang gadis yang tiba-tiba berada di sebelahku berbicara pada Greg, sang bartender. Gadis itu lalu pergi ke arah toilet, aku memperhatikannya dengan seksama.         Seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya? ucapku dalam hati.         Aaahhh.. itu kan gadis yang kena tumpahan kopiku kemarin. Dia terlihat sangat berbeda malam ini.         "Honey, kau sendirian saja?" seorang wanita seksi menghampiri dan menggodaku membuyarkan lamunanku akan gadis tadi. Kami sempat terlibat ciuman meskipun mataku tak lepas memandang gadis itu.         Sekilas aku melihat gadis tadi kembali dari toilet dan membawa gelas minumannya dibantu pelayan yang membawakan pesanan lain, mereka lalu menghilang dari pandanganku. Aku menyudahi ciumanku. Entah kenapa aku sangat tidak menikmati ciuman wanita seksi tadi, aku pun menyuruhnya pergi.         Cukup lama aku hanya duduk di bar dan menikmati minumanku, sudah gelas ketiga hingga akhirnya aku memutuskan untuk turun ke tengah dan menari. Tak lama aku melihat gadis tadi lagi, dia menari dengan begitu lihainya, seksi dan menggoda. Sepertinya dia sudah mabuk. Aku menghampirinya dan kamipun berdansa bersama, dia meliuk-liukkan tubuh bagian belakangnya ke arahku membuatku semakin bersemangat. Entah kenapa kemudian aku menciumnya, mungkin pengaruh alkohol. Awalnya hanya nothing to lose, tapi begitu kurasakan bibirnya yang manis seperti candu yang membuatku semakin ingin melumat bibir gadis ini. Lucky me! diapun membalas ciumanku, dia pandai sekali mencium.         Kami berciuman cukup lama sampai ada seseorang yang menarik gadis itu.         Oh s**t! bahkan aku belum berkenalan dengannya, tapi temannya itu sudah mengancam macam-macam. * Author POV         Dua minggu berlalu semenjak malam itu, baik Kim dan Dave tetap melanjutkan hidupnya masing-masing. Mereka memang tidak saling berkenalan malam itu dan tidak mencari tau satu sama lain. Yang mereka ingat hanyalah rasa yang berbeda dari biasanya ketika mereka berdua saling berciuman.         Memabukkan.         "Er, apa kau sudah menyiapkan bahan presentasi kita nanti siang?" tanya Kim.         "Sudah, Kim. Mungkin kau harus review lagi agar nanti pada saat kau bawakan tidak ada kesalahan."         "Okay."         Setelah makan siang, Kim dan Erica ada meeting dengan divisi Marketing Communication untuk presentasi produk baru mereka yang akan dihadiri brand ambassador baru, Kim dan Erica belum tau siapa yang akan menjadi model untuk produk tersebut.         Kim dan Erica sudah berada di dalam ruang meeting di lantai delapan, disusul MarComm Manager dan asistennya. Mereka masih menyiapkan bahan meeting, lima belas menit kemudian datanglah seorang pria berkacamata hitam dan pria setengah baya dibelakangnya, sepertinya Manager dari model itu.         Kehadiran model tampan itu langsung mendominasi ruangan meeting ini dimana semuanya adalah wanita. Pria itu terlihat sangat tampan dengan penampilannya, menggunakan jas semi formal dan kaos hitam, tubuhnya tinggi atletis, berkulit bersih dengan potongan rambut sempurna, hidungnya yang mancung dan bibir merahnya yang seksi membuat semua wanita yang ada di dalam ruangan meeting terpaku selama beberapa saat. Sampai akhirnya pria itu membuka kacamatanya, Kim dan Erica melotot kaget dan mulut mereka menganga, namun masih tetap bisa mengontrol emosinya karna ini adalah meeting profesional.         "Hallo Dave, bagaimana perjalananmu?" tanya Mandy, MarComm Manager sambil menjabat tangan model itu.         "Maaf aku terlambat. Jalanan sedikit macet." jawab Dave tersenyum.         "Oh ya, perkenalkan ini adalah Kimberly, Product Manager yang nanti akan menjelaskan lebih detail tentang produk yang akan kau bawakan, dan itu asistennya Erica." jelas Mandy memperkenalkan Kim dan Erica kepada Dave.         Kim, Erica, dan Dave saling bersalaman. Dave tetap bersikap normal layaknya tidak pernah terjadi apa-apa. Sementara Kim dan Erica, mereka berdua menjadi agak salting, terlebih Kim.         Sepanjang presentasi, Kim cukup lancar menjelaskan materi detail produk baru tersebut. Sesekali ia melihat ke arah Dave, tepat ketika pandangan mata mereka saling bertemu, Kim terdiam beberapa detik hanya memandangi sosok yang ada di depannya.         That lips! batin Kim sambil memperhatikan bibir sempurna itu.         Kira-kira ada sekitar lima hingga sepuluh detik sampai akhirnya Erica menyenggol-nyenggol Kim, ia tersadarkan kembali dan melanjutkan presentasinya. Usai Kim, presentasi kemudian dilanjutkan oleh Mandy. Kim sama sekali tidak memperhatikan isi dari materi yang dibawakan Mandy, lebih tepatnya matanya memang ke arah slide tapi pikirannya menerawang jauh entah apa yang ia pikirkan. Sesekali ia melirik ke arah Dave yang duduk tepat di depannya, kadang-kadang ia menunduk. Setelah presentasi selesai, kemudian sesi tanya jawab. Kim memperhatikan Dave yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi yang aneh, benar-benar bersikap normal dan profesional.         Dia benar-benar bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara kami malam itu, pintar sekali berakting, batin Kim memperhatikan Dave sekilas.         Meeting yang berjalan kurang lebih selama sembilan puluh menit akhirnya selesai, Mandy dan anak buahnya telah lebih dulu keluar ruangan kemudian disusul Dave dan managernya.         "Kimmy, its him." ujar Erica, meeting sudah selesai dan semua sudah keluar dari ruangan menyisakan mereka berdua.         "Yaa, I know" jawabnya masih speechless.         "He looks so hot. Tapi dia bersikap seolah-olah belum pernah ketemu kita ya, padahal kan kalian berciuman malam itu dan aku membentaknya. Oh ya, tadi kalian berbicara apa?”         "Aku juga tak mengerti kenapa dia bisa begitu tapi tadi dia meminta nomorku, dia juga memberi nomornya. Dia bilang kalau dia ada pertanyaan bisa langsung bertanya padaku, Er." kata Kim tersenyum tipis.         "Seriously? Bolehkah aku memintanya juga? Mungkin aku bisa menghubunginya sekali-kali," bujuk Erica sambil senyum-senyum dan mengedipkan matanya. "Ahh, menyesal kenapa malam itu aku membentaknya."         "Jangan macam-macam Er, kita harus bersikap profesional. Jangan merusak nama baikku! Ayo kembali ke atas." Kim menarik tangan Erica lalu memencet tombol lift.         "Awas saja kau! Jangan sering-sering berkomunikasi dengannya! Ingat kau sudah punya suami!" ujar Erica mengingatkan sahabatnya. “Kalau aku boleh, aku kan wanita bebas.” lanjutnya sambil terkekeh.         "Hhhhh... jangan mulai Er, aku malas berbicara denganmu kalau kau bahas itu lagi. Kau tau seperti apa pernikahanku yang sebenarnya." Kim memutar bola matanya.         “Iya, iya, aku tau. Tapi tetap saja tak pantas untukmu.”         “Sekali lagi kau bicara tentang Mark, aku berikan surat peringatan untukmu!” ancam Kim yang sebenarnya hanya sebuah gertakan belaka.         “Ampun, Nyonya! Aku berjanji tidak akan mengulanginya.” jawab Erica sambil tertawa.         "Kim, menurutmu berapa umur pria itu? Dia terlihat sangat cute, pasti di bawah kita ya."         “Siapa?”         “Michael Jackson! Tentu saja Dave Smithson, kau ini benar-benar menyebalkan!”         "Aku tak tau, Er." jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.         Merekapun tiba di ruangan mereka di lantai sepuluh dan melanjutkan pekerjaannya kembali.         Dave Smithson? Batin Kim.         Di depan layar laptopnya, Kim kembali melamun, mengingat pria yang baru saja ditemuinya tadi. Ia kemudian memegang bibirnya, kilasan kejadian malam itu kembali teringat jelas dalam bayangannya.         “Ahh, menyebalkan! Kenapa aku jadi terus mengingat ciuman itu?!” gerutunya sambil mengacak rambutnya kesal. Tapi tetap saja Kim menyentuh kembali bibirnya sambil senyum-senyum.         Tiba-tiba saja mejanya digebrak oleh tumpukan kertas membuat Kim terlonjak dari kursinya.         “Erica!!! Apa yang kau lakukan?!” bentak Kim kesal.         “Kau pasti tadi sedang berkhayal dengan Dave kan?” goda Erica yang sukses membuat pipi Kim bersemu merah menahan malu. “Hmm, membayangkan ciuman malam itu?”         “Tidak! Jangan mengada-ada!” jawab Kim berbohong.         “Buktinya kau terus saja memegang bibir, padahal aku sudah memanggil dari tadi.”         Kim mengabaikan godaan Erica dan pura-pura melanjutkan pekerjaannya, padahal jiwanya sedang tidak berada di tempat itu.         “Kan, melamun lagi!” sentak Erica.         “Erica! Lebih baik kau keluar saja kembali bekerja dari pada disini hanya menggangguku!” perintah Kim.         “Loh, aku sedang bekerja! Ini...” Erica menyerahkan tumpukan dokumen yang perlu aku periksa.         “Ya sudah, keluar sana! Nanti kalau sudah selesai aku kembalikan ke mejamu.”         "Oke. Oke. Oke. Selamat melanjutkan khayalanmu.” goda Erica sambil keluar ruangan. Kim melempar sahabatnya itu dengan pulpen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD