Bab 4

1390 Words
Arlane Dennis Giovelle menyunggingkan senyum manisnya saat melihat sebuah rumah besar berlantai dua di Roudland Avenue. Ia menatap pada rumah itu dengan mata elang birunya yang tajam. Dengan teliti Dennis melihat setiap gerak-gerik rumah itu. Bukan hanya itu, telinganya juga tengah difokuskan untuk mendengar suara sekecil apapun yang berasal dari rumah itu. Dilihatnya seorang wanita paruh baya dengan anggunnya duduk di balkon lantai dua sambil menyesap teh melati diantara bunga bugenvil yang menjuntai. Dengan langkah kaki yang sangat ringan, perlahan dan tanpa meninggalkan bunyi, Dennis beranjak dari tempatnya berdiri dan melompati pagar setinggi satu setengah meter. Setelah kakinya menapak pada tanah, pemuda itu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Mata biru pria itu dengan seksama menatap lekat-lekat foto seorang wanita yang tergambar di kertasnya dengan wanita anggun yang duduk menikmati angin malam. Dennis tersenyum, lelaki itu kemudian naik ke atap lewat sebuah pohon pinus besar yang terpampang di halaman rumah. Lagi-lagi pemuda itu meringankan seringan mungkin langkah kakinya agar tidak terdengar. Suara langkah kaki yang menyatu dengan hembusan angin itu terus mengendap hingga tepat diatas balkon. Srreeeett… Dennis melompat dan berdiri tepat didepan wanita paruh baya itu. Wanita itu tersentak. Namun, dengan tenang ia menatap Dennis seolah tak terjadi apapun disana, seolah Dennis memang sudah ditunggunya. Wanita itu tersenyum, lalu sebuah eyesmile tergambar jelas disana. Jujur, ketenangan wanita itu cukup membuat Dennis terkejut. Akan tetapi tidak bagi wanita yang tampak berkelas itu. “Atas perintah siapa ?” tanya wanita itu seraya menyesap kembali tehnya. Dennis tak menjawab, hanya menatap tajam wanita itu. Lagi-lagi wanita itu tersenyum, “Atas perintah siapa ?” “Huh ?” “Maksudku, atas perintah siapa kau datang ?” tanya wanita itu lagi pada Dennis. “Apa anda perlu tahu, Mrs. Andersond ?” Dennis balik bertanya. “Karena aku targetnya, berarti iya.” Wanita yang dipanggil Mrs. Andersond itu tersenyum. “Anda tahu tujuanku datang kemari ?” lagi-lagi dennis mengabaikan ucapan Mrs. Andersond. Mrs. Andersond mengangguk. “Kalau aku tidak tahu, untuk apa aku bertanya...” “Kalau anda sudah mengetahuinya, mengapa anda masih bertanya, Mrs. Andersond ? Toh aku akan tetap melakukannya…” Dennis mengendikan bahu. “Tapi aku yang akan jadi korbannya, aku berhak tahu.” Dennis menghela nafas. “Suamimu…” “Apa ?” “Suamimu…” ulang Dennis. Mata hijau Mrs. Andersond membesar, sekilas tampak setetes air mata akan jatuh dari sana. “Begitu, ya… Rupanya dia sangat membeciku hingga mengirimkan pembunuh bayaran kelas satu sepertimu…” Mrs. Andersond bergumam. “Kau mengenalku ?” tanya Dennis. “Tentu saja. Aku adalah pimpinan dari kelompok mafia wanita. Tidak mungkin aku tidak mengenal kelompok pembunuh Teratai Perak. Kau putranya kan’ ?” “Well, itu mengejutkan… Apa bisa kita mulai saja ?” tanya Dennis kemudian. “Kau akan membunuhku ?” “Tentu saja. Suami anda membayarnya untuk itu.” Dennis mengalihkan pandangannya. “Berapa dia membayarmu ?” Mrs. Andersond menarik nafas berat. “Sejumlah seluruh kekayaan anda jika aku berhasil membunuh anda, Nyonya...” Jawab Dennis jujur. “Begitu rupanya…” lagi-lagi ia bergumam. “Bagaimana jika aku membayarmu lebih, dengan syarat jika kau mau pergi untuk membunuh suamiku ?” tanya Mrs. Anderson. Dennis menggelengkan kepalanya, “Kami bekerja dengan sistem kontrak, jadi aku tidak bisa melanggar kontrak. Bagi kami, ini adalah bisnis. Kami tidak akan pernah mau bertaruh nyawa untuk melakukannya jika tak ada yang menguntungkan…” jelas Dennis. “Kenapa…? Aku akan membayarmu lebih.” Ucap Mrs. Andersond lagi. “Tidak bisa. Karena denda atas pelanggaran kontrak kami adalah nyawaku sendiri.”  “Begitu, ya ?” “Baiklah. Bunuh aku, tapi jangan rusak tubuhku seperti yang kau lakukan pada korban lain…” Mrs. Andersond memberikan sebuah sarung tangan dan sebilah pisau pada Dennis. Dennis menatap Mrs. Anderson tiba-tiba. “Kenapa…?” “Karena aku tidak mau mati dengan mengenaskan…” jawab Mrs. Andersond. “Bukan itu maksudku. Tapi, mengapa anda tidak mencegahku ?” Dennis menatap lekat-lekat Mrs. Andersond. “Tak ada gunanya mencegah atau menghalangimu. Sekeras apapun aku berusaha, kau tetap akan membunuhku…” “Bukankah masih ada persentase kegagalan untuk ku jika saja anda mau melawan…?” Dennis mengendikan bahunya. “Aku sudah kalah, nak. Aku kalah dari suamiku sendiri.” Mrs. Andersond tersenyum. “Kalah dalam hal apa ? Dan kekalahan seperti apa yang mampu membuat anda, seorang kepala mafia wanita, menyerahkan nyawa pada seorang pembunuh bayaran seperti aku ?” “Kekalahan total. Aku sudah kalah dalam segala hal.” “Tapi… Kenapa ?” Dennis mengerutkan keningnya. “Karena aku mencintai suamiku. Karena aku begitu bodohnya untuk jatuh cinta pada suamiku. Dan karena aku begitu tak berdaya ketika dia menghianatiku lalu mengirim pembunuh bayaran untuk membunuhku…” Mrs. Anderson menangis, air matanya jatuh perlahan bersamaan dengan setetes air hujan yang mulai turun di kelamnya langit malam. “Maafkan aku, Mrs. Anderson…”  “Aku adalah kepala mafia. Dan semua bawahanku adalah perempuan. Sementara suamiku, ia adalah seorang kepala polisi. Awalnya, kami bertemu sebagai musuh. Dan tak ku sangka, aku justru jatuh hati padanya saat kami bertemu secara langsung dalam keadaan baku tembak. Saat itu betapa bahagianya aku ketika ia menyatakan perasaannya padaku. Akhirnya, beberapa bulan kemudian kami menikah. Awalnya rekan kerja kami saling bermusuhan dan dokter memvonis kami tidak bisa memiliki anak, tapi saat itu adalah saat-saat paling membahagiakan untuk ku. Kau tahu kenapa ? Karena saat itu aku benar-benar merasakan cinta dari suamiku…” Mrs. Andersond terhenti. “Tapi yang aku tidak tahu adalah kalau pada akhirnya dia tetap akan menjadi musuhku. Sekitar dua tahun yang lalu, tepat dihari ulang tahun pernikahan kami yang ke sepuluh, ia mengajukan surat cerai padaku secara tiba-tiba. Karena curiga, aku meminta salah satu bawahanku untuk menyelidikinya. Dan sejak saat itu, kami selalu berperang. Kelompok kami selalu membuat kekacauan dan pihak kepolisian yang dipimpin suamiku selalu berusaha membereskannya. Aku tahu hari ini akan segera tiba cepat atau lambat. Hari dimana kami mengakhiri peperangan kami dengan kemenangan atau kekalahan…” Mrs. Andersond tersenyum getir, sementara hujan mulai turun deras. “Mengapa anda menceritakannya, Mrs. Andersond ?” “Mungkin karena aku ingin melepaskan beban berat yang menghimpitku selama dua tahun terakhir, tepat sebelum kematianku…” “Boleh aku bertanya, Mrs. Andersond ?” Mrs. Andersond mengangguk.  “Kalau memang suami anda mencintai anda, mengapa kalian melakukan hal yang tak masuk akal seperti ini ? Terutama jika mengingat usia pernikahan kalian saat itu, suami anda tidak mungkin hanya ingin menjebak anda, kan ?” Dennis mengeluarkan nalarnya. “Kau harus mengingat ini, nak. Tak ada satupun yang masuk akal dalam dunia hitam.” Mrs. Andersond berdiri. “Mungkin jika ia benar-benar mencintaiku, kami tidak akan menjadi seperti ini. Kami akan bahagia bersama selamanya sampai tua, dan kau tidak mungkin mendapatkan pekerjaan semahal ini. Tapi sayangnya dia tidak mencintaiku. Dia hanya berpura-pura mencintaiku selama sepuluh tahun untuk melihat kematianku…” lanjutnya. “Maaf kalau pertanyaanku menyinggung anda, Mrs. Andersond..” “Kau tak bersalah. Aku yang telah salah mengira tentang suamiku sendiri.” “Mrs. Anderson…?” “Kau pemuda yang baik. Mengapa melakukan pekerjaan seperti ini ?” Mrs. Andersond mengalihkan pembicaraan. Dennis tersenyum, “Entahlah, membunuh sudah seperti sebuah hobi untukku. Jadi, dengan bekerja sebagai pembunuh bayaran kuanggap kalau aku tengah menekuni hobiku.” Mrs. Andersond mengambil nafas panjang, “ Kalau begitu, bunuh aku dan selesaikan tugasmu…” “Anda yakin ? Anda bisa memanggil pengawal pribadi anda untuk menggagalkan pembunuhan ini.” “Bunuh saja aku.” “……” Dennis tersenyum. Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk menerima sebilah pisau dari Mrs. Andersond. Dengan perlahan jemari Dennis menelusuri sisi-sisi pisau sambil menggoreskan sedikit pada jarinya untuk memastikan bahwa pisau tersebut cukup tajam. Kemudian dengan tenang Mrs. Andersond duduk dikursinya dan menyesap tehnya hingga gelasnya kosong. Wanita itu duduk tanpa rasa takut sedikitpun. Kemudian, hanya dalam waktu sepersekian detik, sebilah pisau telah mencancap tepat di d**a kiri Mrs. Anderson. Pisau itu bahkan telah menembus jantung dan mematahkan rusuk hingga ujungnya terlihat di punggung wanita paruh baya itu. “Well, tugasku selesai.” Ucap Dennis sambil memberikan checklist pada buku tugasnya. *** Gais, buat kalian yang menunggu My f*****g Senior ... aku lanjut di September, ya :) Maafkan aku lama tidak update~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD