Menanti Sebuah Jawaban

1274 Words
Len Industri sedang dikejar pengiriman sore ini, sedangkan stok barang di gudang tidak cukup memenuhi pesanan. Mau tidak mau ada beberapa tipe barang yang tidak beroperasi demi membantu tipe barang yang sedang dikejar-kejar target, karena setidaknya barang yang akan dikirim sore ini, minimal pukul dua belas siang sudah ada di gudang untuk dilakukan pemeriksaan kelengkapan. "Tetap fokus, jangan melamun, jangan sampai shift pagi mendapat masalah seperti yang dialami oleh shift siang. Kerjakan sesuai aturan!" tegas seorang kepala tim leader bernama Lena yang saat ini berdiri di ujung meja kerja QC. Memperhatikan dengan seksama bagaimana mereka bekerja. Namun, karena tugas kepala tim leader bukan hanya mengawasi satu land saja, beliau pun pergi berkeliling, memastikan karyawan lainnya bekerja dengan benar mengikuti segala peraturan yang sudah ditetapkan perusahaan. "Panggil Helper!," titah QC bernama Bunga kepada teman satu grupnya, karena produksi mereka sudah menghasilkan dua box. "Iya, Mbak," jawab wanita itu bernama Fitri. Seseorang pergi memanggil helper, tidak lama helper datang membawa dua box tersebut ke gudang. Setelah beberapa menit, wanita yang tadi memanggil helper terkejut saat ada dua lembar nito atau yang umumnya disebut double tape, tersisa masing-masing sebanyak dua. Ini kesalahan yang sama fatalnya seperti kemarin. Tanpa berpikir panjang, Fitri berusaha menyembunyikan dua double tape tersebut ke dalam saku celana, tetapi hal itu langsung diketahui oleh Bunga. "Apa yang kamu lakuin? Kamu lupa pasang double tape?" tanya Bunga dengan ekspresi wajah marah sekaligus bingung. "Maafin aku, Mbak. Aku nggak sengaja." Fitri jongkok di bawah, takut kesalahan yang ia lakukan diketahui orang lain terutama ketua tim leader. "Wah gila, ini bakalan jadi masalah besar lagi kalau ketauan. Mana box kita udah dibawa ke gudang lagi." Panik Bunga sambil berkacak pinggang, frustasi. "Gimana dong, Mbak? Apa kita jujur aja?' pendapat Fitri. "Jangan gila kamu. Kamu mau kita dimarahin bos besar?" "Terus gimana dong, Mbak?" "Jam berapa sekarang?" Bunga bertanya kepada diri sendiri seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Masih ada waktu, ayo ikut aku ke gudang!" ajak Bunga. Diam-diam dirinya dengan Fitri pergi ke gudang, merencanakan sesuatu hal. *** Turun dari bis jemputan. Kayla melihat Ajeng dari kejauhan, lalu memanggilnya dengan suara kencang. "Ajeng!" Yang dipanggil pun menoleh, merespon panggilan Kayla dengan melambaikan tangannya. Ia berjalan cepat menghampiri sang sahabat. "Naik jemputan itu lagi?" Tanya Ajeng setelah berdiri di depan Kayla. "Iya. Enak nggak terlalu penuh, jadi gue bisa tiduran juga, Kan." Jawabnya. Mereka berjalan menuju pintu utama, bertemu dengan ketua tim Lider dari shift pagi. Wanita berusianya lebih dari setengah abad itu pun melihat ke arah Kayla sambil mendelik. "Produksi kacau gara-gara satu orang yang ceroboh. Gak mikir dampaknya apa tuh anak?" Dia bicara dengan teman di sebelahnya dengan suara yang sedikit kencang, sengaja ia lakukan agar terdengar oleh Kayla. Langkah kaki Kayla tiba-tiba berhenti. Dia menoleh hendak menyerang, tetapi digagalkan oleh Ajeng dengan menarik tangannya. "Udah, Kay. Untuk sekarang-sekarang ini kita cari aman aja lah." "Dia ngomongin gue, Jeng. Gue nggak bisa tinggal diam," kesal Kayla degan menatap tajam ke arah dua wanita yang mulutnya paling menyebalkan di dunia, yang saat ini sedang berjalan menuruni anak tangga sambil cekikikan. "Hei, dia itu ketua tim leader. Biar itu urusannya sama Bu Wilda aja deh. Kalau lu yang lawan, terus lu diaduin lagi sama bos besar, bisa apa kita? Kecuali kalau lu istrinya, mau lu tidur seharian penuh juga nggak masalah," ujar Ajeng. "Emang gue is...." Kalimatnya melayang di udara bersamaan dengan kembalinya ingatan akan rahasia pernikahan mereka. Belum selesai satu kalimat, Kayla langsung merapatkan bibirnya. "Kenapa, Lu? Is apa? Istighfar?" tanya Ajeng. "Ah, udah lah lupain." Kayla melangkah pergi, diikuti oleh Ajeng dari belakang. Mereka berjalan menuju loker untuk mengganti sandalnya dengan sepatu, tidak lama bel pergantian shift pun berbunyi. Ratusan karyawan shift pagi keluar melalui pintu sebelah kiri, sedangkan karyawan shift siang masuk melalui pintu sebelah kanan. Masuk dengan tertib menuju land masing-masing, Kayla dengan Ajeng mulai menghitung stok yang diberikan dari shift pagi, memeriksa keseluruhannya, memastikan kalau barang yang disisakan dari shift pagi tidak mengalami cacat sedikit pun. "Gue nggak habis pikir, padahal selama ini gue kerja sangat hati-hati dan teliti. Tapi, kenapa bisa gue meloloskan barang yang reject?" seru Kayla seraya memeriksa stok barang. "Iya, ya. Padahal kalau diperhatikan QC land lain itu kalau kerja, terkesan asal loh," timpal Fauziah selaku kepala grup yang memang sedang menemani Kayla memeriksa barang, berdiri di sampingnya. "Gue malah mikir ada yang curang sama kita," sambung Ajeng sambil menyiapkan bahan produksi grupnya. "Bener nggak, Mbak?" Ajeng bertanya kepada Fauziah. "Aku juga mikirnya sih begitu. Tapi, siapa ya? Emang kamu punya musuh di grup lain?" Setelah merasa ada keanehan, Fauziah mulai mencari tau. Lalu ia bertanya kepada teman-teman lain. "Yang lain juga tolong kerja samanya, ya. Kalau kalian mengalami masalah, tolong jangan diam saja. Segera laporkan ke saya, oke." "Baik, Mbak," jawab tiga orang lainnya yang ada dalam satu land tersebut. Selesai memeriksa, Kayla bersama dengan teman-temannya mulai bekerja dengan menyediakan masing-masing alat yang berbeda, dari berbagai material sesuai dengan tugasnya masing-masing. Suasana di dalam ruang produksi sangat hening. Yang terdengar hanya deru dari mesin pendingin, juga alat-alat produksi yang karyawan gunakan untuk bekerja. Tidak ada yang berbicara dengan suara lantang, bahkan tidak ada yang mengobrol kecuali mereka yang memiliki kepentingan. Semua bekerja dengan fokus, termasuk Kayla yang sedang menjalani bagiannya, yaitu memeriksa material finishing. "Fokus amat," ucap seorang pria di belakang Kayla. Kayla mendengar suara itu, tetapi dia diam, karena merasa ucapan itu bukan untuk dirinya. Kayla terus bekerja tanpa menghiraukan hal lain selain tim kerjanya. Karena tidak ada respon, pria itu kembali bicara, tetapi kali ini ia menyertakan nama. "Sudah jatuh tempo, aku menunggu jawaban darimu, Kayla Putri." Mendengar namanya disebut, bukan hanya Kayla yang terkejut, Ajeng juga satu orang yang ada di tim mereka langsung menoleh ke belakang secara bersamaan. "Mas Dava?" "Cieee...." goda Ajeng. Kayla langsung menyenggol bahunya. "Ajeng...." Suara Kayla menggeram. "Apa sih, Kay?" "Jangan gitu dong, nggak enak sama yang lain." "Nggak apa-apa ya, Pak." Ajeng bicara kepada Dava sambil tersenyum, juga menutup mulutnya, Dava pun tersenyum sambil melihat wajah Kayla. "Nanti malam aku antar kamu pulang." "Loh, kok tiba-tiba?" tanya Kayla dengan ekspresi wajah terkejut. "Nggak tiba-tiba. Ini aku bilang dulu sama kamu." Dava tidak berhenti tersenyum saat bicara. "Tapi, kan...." "Tidak ada tapi-tapian. Aku tunggu di tempat biasa. Oke!" Baru selesai bicara, Bu Wilda memanggilnya. "Pak Dava, filenya sudah ketemu." "Oke, saya ke sana," sahut Dava. "Mas, aku mohon jangan sekarang!" pinta Kayla yang masih kebingungan. "Sudah satu Minggu, Kay," ucap Dava menatap wajah Kayla lekat-lekat. Belum sempat ia memberikan jawaban iya atau tidak, Dava pun langsung pergi. "Ciee... yang OTW punya pasangan. Traktir dong kalau udah jadian," goda Ajeng. Kayla melihat ke arah Ajeng dengan ekspresi bingung, dia kembali bekerja tanpa menyahuti ucapannya. Pasti ada sesuatu hal yang Kayla sembunyikan, Ajeng merasakan itu, tetapi dia memilih diam, karena saat ini mereka sedang bekerja, konsentrasinya tidak boleh terganggu, khawatir mengulang kejadian sebelumnya. *** Tidak bisa mengelak. Saat ini Kayla sedang duduk sendirian di bangku depan minimarket, menunggu kedatangan Dava sambil menikmati minuman kaleng dingin. Tadi sore Kayla sempat mengirim pesan kepada Dava untuk tidak perlu mengantarkan pulang. Tetapi, Dava yang sedang menunggu jawaban akan ungkapan cintanya tempo hari, bersikukuh akan tetap datang ke pabrik untuk menjemputnya, sekalipun dirinya menolak. Mau tidak mau Kayla pun mengiyakan ajakannya. "Gimana, Pak Dava udah dateng?" Tanya Ajeng dalam sebuah pesan. Kayla membalas sambil menunduk ke bawah. "Belum. Sebentar lagi mungkin." "Langsung bagi-bagi cerita ya sama gue, gue tunggu pokoknya, dan besok lu wajib traktir gue." "Kagak ada duit gue. Nanti aja traktirannya. Belum pasti juga gue jadian malam ini." Sedang asik berbalas pesan dengan Ajeng, tiba-tiba seseorang memanggilnya. "Kayla." Kayla mengangkat wajahnya, terkejut saat melihat sosok pria yang ada di depannya. "Mas Elang?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD