"Ngapain Mas Elang di sini?" Tanya Kayla memasang wajah bingung. Celingukan ke kanan, ke kiri, khawatir Dava datang dan melihat mereka.
"Kamu sendiri ngapain di sini? Kenapa belum pulang? Bukannya bus jemputan udah jalan? Kamu mau kabur lagi?" Pertanyaan Elang bertubi-tubi.
Tidak ada waktu menanggapi semua pertanyaan. Kayla langsung meraih tangan Erlangga, lalu menariknya menuju mobil.
"Hei, mau ke mana?" Tanya Erlangga dengan dahi mengerut, mengikuti ke mana langkah kaki istri kecilnya membawa.
"Ngobrolnya di dalem aja. Jangan di sini," jawab Kayla masih terus berjalan dengan tergesa-gesa. Menurut pesan yang ia terima dari Dava, posisi Dava saat ini hanya tinggal beberapa meter saja dari mini market tempat Kayla menunggu. Kalau tidak langsung pergi, bisa-bisa Dava memergoki kebersamaan mereka berdua, dan semuanya akan menjadi kacau.
"Kuncinya buka!" perintah Kayla kepada sang suami. Saat ini mereka berdiri di pintu sisi sebelah kiri.
Erlangga mengeluarkan kunci dari dalam saku celana, menekan salah satu tombol, lalu pintu pun terbuka. Setelah pintu terbuka, Kayla langsung mendorong Erlangga untuk masuk, lalu ia pun masuk dari pintu yang sama.
"Apa-apaan sih, Key? Ngapain kamu dorong-dorong aku?" Dengan susah payah Erlangga berpindah duduk, kepalanya menyundul spion kecil yang menggantung, sampai ia meringis. "Aww... Keyla!" Suara Erlangga menggeram.
"Susah banget sih pindah tempat duduk aja, Mas." Seru Kayla tidak kalah kencang, dan terus mendorong hingga akhirnya ia berhasil memindahkan suaminya ke jok kemudi.
"Bagus," gumamnya.
Begitu berhasil memindahkan suaminya, ia melihat mobil milik Dava melaju dengan kecepatan lambat memasuki gerbang kawasan, lalu ia pun masuk ke mobil, mengunci semua pintu.
"Kamu tuh apa-apaan sih? Kayak dikejar debkolektor aja," kesal Erlangga. Selain aneh, malam ini istri kecilnya lagi-lagi membuat ia kesal.
"Enak aja. Emang aku mafia utang!"
"Lagian kayak orang kepergok maling aja," balas Erlangga seraya merapikan baju juga tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.
Kayla melihat ke belakang, matanya membulat sempurna ketika melihat mobil Dava berada di belakang, dan saat ini masih melaju menuju samping kiri mobil yang ia tumpangi.
"Gawat," batih Kayla bergumam. Raut wajahnya sangat jelas terlihat ketakutan, lalu ia pun menarik mantel yang Erlangga kenakan, sehingga pria yang saat ini kesabarannya sedang diuji pun, merubah posisi duduknya jadi menyamping.
"Kamu mau ngapain lagi?" tanya Erlangga dengan napas berat, cenderung pasrah atas tingkah istrinya yang semakin aneh.
"Mas Elang mau ke mana?" Jarak wajah keduanya cukup dekat, tetapi hal itu tidak membuat Kayla merasa canggung atau apa pun, karena saat ini fokusnya sedang terpecah oleh Dava.
Bukannya menjawab, Erlangga malah bertnya, "Harus ya kita ngobrol dengan posisi kayak gini?"
"Kebiasaan deh, oang nanya malah balik nanya. Jawab aja kenapa, sih?"
Erlangga menghela napas dalam, lalu menjawab, "Aku mau ke pabrik. Dompet aku ketinggalan."
"Aku ikut!" pintanya dengan cepat.
Dahi Erlangga mengerut. "Ngapain ikut?"
"Ya ikut aja, masa Mas Elang tega ninggalin aku sendiri di sini? Di luar dengan udara yang kurang bagus untuk kesehatan," ujarnya sambil memanyunkan bibirnya.
"Aku mau tega-tega aja, kenapa mesti nggak tega?"
"Iih... Mas Elang kok kyai gitu sih?" protes Kayla.
"Lah, bukannya dari tadi juga kamu udah di luar? Nggak kenapa-kenapa, kan? Masih hidup, kan?"
"Iya, tapi pokoknya aku mau ikut!" kekeh Kayla matanya sambil melihat ke arah mobil Dava, dan pemilik mobil itu terlihat sudah keluar dari mobilnya, berjalan sambil melihat ke arah mobil Erlangga.
Tidak bisa tinggal diam. Dava tidak boleh melihat mereka berdua, lalu ia pun melakukan hal ekstrim yang belum pernah ia lakukan yaitu menarik tubuh Erlangga, mencium bibirnya untuk menutupi wajahnya.
Kayla memejamkan mata, Erlangga yang terkejut tetap membuka matanya, diam mematung ketika bibir mereka saling menyatu.
Kejadian itu tidak berlangsung lama. Ketika melihat Dava masuk kembali ke dalam mobilnya, secara perlahan Kayla pun melepaskan pautannya.
"Kamu gila?" ujar Erlangga yang masih terkejut.
Sadar akan apa yang sudah ia lakukan baruan, Kayla menjawab dengan tergugup. "A–aku...."
Belum satu kalimat diucapkan sempurna, Kayla langsung mengajak suaminya pergi. "Mas, bahasnya nanti aja, ya! Ayo kita ke pabrik sekarang!" Walaupun ponselnya saat ini dalam keadaan tidak aktif, tetap saja Kayla merasa takut.
"Nggak, aku nggak mau. Jawab dulu pertanyaan aku! Kenapa kamu cium aku?" tegas Erlangga.
"Nanti aku jawab di pabrik."
"Setelah melecehkan aku kamu nggak mau jawab pertanyaan aku?" Raut wajah Erlangga menjadi suram.
"Melecehkan?" dahi Kayla mengerut. "Melecehkan apanya sih, Mas? Jangan ngaco deh. Masa cuma cium begitu aja melecehkan? Udah ah ayo ke pabrik. Nanti aku kasih tau jawabannya di sana."
Sempat berpikir sebentar, lalu Erlangga pun merubah posisi duduknya. Tanpa berucap sepatah katapun, Erlangga langsung menginjak pedal gas. Meninggalkan mini market berbahaya tersebut.
Saat mobil mewah berwarna hitam itu melaju pergi, sekilas Dava sempat melihat sosok yang tidak asing ada di dalam sana, tetapi dengan cepat juga ia segera menyadarkan diri bahwa sosok Kayla tidak mungkin ada di dalamnya. "Gue pasti salah liat."
Fokus Dava kembali pada handphonenya. Sudah lebih dari lima belas menit tidak mendapat jawaban, bahkan pesan yang ia kirim pun belum belum berhasil terkirim.
"Tadi katanya di depan mini market. Tapi kok nggak ada ya? Jangan-jangan terjadi sesuatu? Atau jangan-jangan orang yang ada di dalem mobil itu...."
Pikiran Dava mulai buruk. Dia langsung menyimpan ponselnya di atas jok samping kemudi, segera menghidupkan mesin mobil hendak mengejar mobil yang diduga di dalamnya ada Kayla. Namun, baru saja menghidupkan mesin mobil, sebuah notifikasi pesan baru masuk ke ponselnya.
"Kayla sudah pulang ke rumah." Isi pesan singkat yang dikirim oleh seseorang tidak dikenal.
"Sudah pulang? Cepet banget," gumam Dava dengan dahi mengerut. Karena tidak percaya, ia pun coba menghubungi nomer itu hendak menanyakan, tetapi nomer tersebut tidak bisa dihubungi, juga pesan yang ia kirim tidak terkirim. Diduga seseorang di sana yang entah siapa, langsung menonaktifkan nomernya setelah mengirim pesan kepada Dava.
Bukannya merasa tenang mendapat kabar, justru pesan singkat itu membuat Dava semakin cemas. Dia semakin menduga kalau wanita yang ia lihat tadi adalah Kayla
"Kayla dalam bahaya. Aku harus mencarinya," gumam Dava seraya menghidupkan mesin mobil, lalu pergi ke arah berlawanan.
***
"Pake topinya!" Titah Erlangga seraya memasangkan topi secara tiba-tiba.
Kayla yang sedang membuka sabuk pengaman pun terkejut. "Loh, kok pake topi sih?"
"Di sini banyak petugas keamanan. Kamu mau ketahuan sama mereka?"
Patuh. Wanita berusia dua puluh itu diam ketika suaminya memasangkan topi. Setelah topi terpasang, Erlangga mengambil satu masker dari dalam dasbor agar wajah istrinya tertutup dengan sempurna. "Pakai ini juga!"
"Apa topi aja nggak cukup?" Tanya Kayla dengan mimik wajah pasrah.
"Nggak lah. Kamu mau besok heboh?" Jawab Erlangga seraya menautkan satu-persatu tali masker ke belakang telinga. "Lagian, kamu harus pakai masker. Khawatir kamu melecehkan aku lagi."
"Mas Elang!" gerutu Kayla seraya memukul pelan dadanya.
Baru selesai bicara, suara ketukan terdengar dari luar. Erlangga langsung melihat ke samping kanannya, melihat petugas keamanan ada di luar. Beruntung wajah istrinya sudah tertutup, lalu ia pun membuka kaca mobil, memberitahukan. "Ini saya."
"Oh, Pak Elang?" Petugas keamanan itu terkejut, karena mobil yang Erlangga pakai saat ini, bukan mobil yang biasa ia bawa saat bekerja.
"Saya mau ke kantor. Ada yang tertinggal."
"Baik, Pak. Mari saya temani."
"Tidak perlu, saya datang berdua."
Setelah mengatakan itu, Erlangga pun turun dari mobil, begitupun dengan Kayla. Mereka berdua masuk ke dalam pabrik berjalan sambil bergandengan tangan, membuat petugas keamanan itu penasaran.
"Wah, kayaknya calon istri baru nih. Cepet juga si bos dapet gantinya." Bergumam dengan suara pelan.
Meninggalkan rasa penasaran petugas kemanan itu. Kayla dengan Erlangga saat ini masih berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua, lalu Erlangga pun bertanya, "Kasih tau aku. Kenapa kamu nggak ikut pulang naik jemputan!"
Kayla menjawab dengan singkat. "Ketinggalan."
"Kok bisa?" Tanyanya lagi.
"Aku di toilet nya kelamaan."
"Lagian ngapain sih di toilet lama banget?"
"Ya buang air lah, Mas. Masa makan," ketus Kayla.
"Siapa tau kamu meditasi di sana, menikmati aroma terapi yang paling memabukkan."
Kayla langsung memukul lengan Erlangga. "Mas Elang, jorok ih...."
"Lagian aneh bisa sampe ketinggalan jemputan."
Kayla diam, lalu Erlangga kembali mengajukan pertanyaan. "Sekarang kasih tau aku kenapa tadi cium aku? Kamu mulai suka sama aku?"
"Idih... mana ada, ya."
"Terus?"
"Udah ah jangan bahas itu. Tadi cuma uji nyali aja, tes perasaan. Ternyata saat mencium Mas Elang, aku nggak ngerasain apa-apa," jawab Kayla dengan santai. "Kalau Mas Elang gimana? Mas Elang grogi? deg-degan? Itu artinya Mas Elang suka sama aku. Kan, kan? Iya kan?" ledek Kayla.
Erlangga menghentikan langkah kakinya, lalu berdiri di depan Kayla. "Kamu mau tau bagaimana perasan aku?"
Kayla mengangguk tanpa berkata.