Hanya membutuhkan waktu satu jam, akhirnya pihak keluarga pun berhasil membawa penghulu ke rumah sakit, ijab kabul pun terucap sesuai dengan apa yang Indira harapkan.
"Saya nikahkan, dan saya kawinkan engkau ananda Erlangga Abrar bin Ghani Abrar kepada Kayla Putri binti Sidik Rasyid dengan mas kawin seperangkat alat solat juga cincin berlian seberat tiga gram, dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Kayla Putri binti Sidik Rasyid dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?" ucap penghulu setelah ijab kabul berhasil diucapkan dengan lugas oleh Erlangga. Ijab kabul yang kedua kalinya dengan keadaan yang berbeda.
Semua orang yang menyaksikan menjawab, Sah secara bersamaan, lalu setelah ijab kabul terucap dan sudah disahkan oleh para saksi, penghulu mengangkat kedua tangannya mengucapkan doa yang diaminkan oleh semua orang, termasuk pengantin baru, juga seorang wanita yang saat ini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Selesai mengucapkan doa, Erlangga yang sekarang sudah menjadi suami dari Kayla, mencium kening sang istri di hadapan semua orang termasuk Indira. Istri pertama yang saat ini sedang berusaha melawan penyakit mematikan yang sudah selama bertahun-tahun bersarang di dalam tubuhnya.
Tidak ada rasa sakit. Indira yang memang menginginkan pernikahan itu terjadi, tersenyum bahagia ketika menyaksikan pernikahan antara suaminya dengan sahabat masa kecilnya.
"Aku sudah memenuhi semua keinginanmu, Sayang. Sekarang bertahanlah. Aku membutuhkan kamu. Aku nggak tau apa jadinya kalau aku tanpa kamu," ungkap Erlangga sambil meneteskan air mata kesedihan melihat kondisi istrinya saat ini.
Indira tersenyum, membalas genggaman tangan sang suami dengan erat. "Aku udah gak sanggup lagi, Mas. Aku harus pergi sekarang. Terima kasih kamu mau memenuhi keinginan aku, sekarang aku bisa pergi dengan tenang," ungkapnya semakin lemah.
Tangis semua orang pecah ketika Indira berkata demikian. Kayla sebagai sahabat Indira yang sekarang sudah sah menjadi istri dari Erlangga pun tidak berhenti menangis dalam pelukan sang ibu, Mira.
Erlangga yang saat ini duduk di atas kursi tepat di samping kanan sang istri, terus menundukkan wajahnya, menyembunyikan kesedihannya.
Detak jantung semakin lemah, dengan susah payah Indira memanggil sang sahabat. "Kayla."
Dia yang masih menangis pun langsung melepaskan pelukannya, menoleh ke arah Indira, lalu menjawab "Iya, Mbak. Aku di sini." Kayla berjalan menghampiri sang sahabat, berdiri di samping kirinya.
Indira meraih tangan Kayla, menggenggamnya dengan erat. "Terima kasih, Kay. Terima kasih kamu bersedia memenuhi keinginan aku. Aku yakin kamu bisa menggantikan posisi aku di hidup Mas Elang."
"Apa sih, Mbak. Mbak gak boleh bilang kayak gitu. Mbak pasti sembuh, Mbak harus sembuh."
"Nggak bisa, Kay. Waktu aku udah habis."
"Nggak, Sayang. Kamu pasti kuat. Aku yakin itu," timpal Erlangga.
Indira menarik tangan Erlangga juga Kayla. Dia menyatukan kedua tangan itu di atas perutnya seraya berkata, "Berjanjilah kepadaku kalian tidak akan bercerai setelah aku pergi, berjanjilah kepadaku untuk saling mencintai, untuk hidup bahagia bersama." Dengan sudah payah Indira mengatakan itu.
Erlangga dengan Kayla mengangguk-anggukan kepalanya tanda patuh. Indira kembali tersenyum, lalu saat ingin mengatakan sesuatu hal, ucapannya tertahan di kerongkongan, napasnya tercekat membuat wanita berusia dua puluh lima tahun itu dengan susah payah meraup udara banyak-banyak, tetapi ia sudah tidak memiliki kesanggupan.
"Dokter, lakukan sesuatu! Istriku kesulitan bernafas!" teriak Erlangga ketika melihat sakaratulmaut tengah datang menghampiri istri tercinta.
Dokter yang sejak tadi ada di sana, melangkah maju bersama seorang suster, sedangkan Erlangga dengan Kayla melangkah mundur memberikan ruang kepada medis untuk menyelamatkan Indira. Namun sayang, setelah berjuang selama bertahun-tahun, akhirnya Indra pun menyerah tepat di hari pernikahan Erlangga dengan Kayla selesai dilakukan.
Indira menghembuskan napas terakhirnya tepat pukul sembilan pagi, tepat pukul dua siang proses pemakaman selesai, dan mendiang sanh istri dikebumikan di dekat kuburan sang kakek. Sesuai dengan permintaannya saat masih hidup.
Semua orang yang ikut dalam proses pemakaman, satu-persatu meninggalkan tempat pemakaman. Sekarang yang tertinggal hanya keluarga dari Kayla, juga keluarga dari Erlangga.
"Kita pulang sekarang, yuk!" ajak Herlita kepada sang menantu Kayla. Saat ini mereka berdiri di belakang Erlangga sambil memegang payung berwarna hitam.
"Pulang ke mana, Tante?" tanya Kayla kebingungan, tangisnya masih terisak.
"Ke rumah tante dong. Sekarang kamu kan udah jadi menantu tante," ujarnya.
Kayla melupakan statusnya. Dia sama sekali tidak merasa sudah menjadi istri dari Erlangga, dan sekarang Kayla merasa sudah ada di dunia nyata setelah ijab kabul yang diucapkan untuk dirinya seperti mimpi.
Kayla menatap Mira dengan bingung, ia sebagai ibu kandungnya pun memberikan nasihat. "Terlepas dari alasan apa pun yang membuat kalian menikah, kamu sekarang sudah menjadi seorang istri. Sudah sepatutnya kamu berbakti kepada suamimu, termasuk tempat tinggal setelah ini. Kamu harus ikut bersama mertua kamu untuk sementara waktu. Sebelum kalian mempersiapkan tempat tinggal sendiri."
"Tapi aku belum terbiasa, Bu," balas Kayla.
"Maka dari itu. Biasakan dari sekarang, Nak. Pulanglah ke rumah mertuamu!" Kali ini sang ayah Sidik yang bicara.
Kayla melihat ke arah sang mertua, lalu melihat ke arah Erlangga yang masih betah duduk di tanah sambil menangis. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Kayla pun mengangguk setuju. "Baiklah."
Herlita merasa senang, dia memeluk Kayla dari samping.
"Tapi mas Elang?" tanya Kayla lagi. "Bagaimana sama Mas Elang?"
Herlita melepaskan pelukannya, lalu menjawab, "Biarin Elang di sini dulu. Dia butuh waktu untuk sendiri."
Tidak mau ambil pusing. Akhirnya Kayla pun pulang bersama dengan sang mertua ke rumahnya.
Rumah yang begitu asing bagi Kayla. Rumah yang dulu pernah ia datangi sebagai tamu saat Indira mengadakan syukuran dan sekarang ia tidak menyangka akan datang untuk yang kedua kalinya sebagai seorang istri dari Erlangga. Menantu dari keluarga Abrar.
Tidak ada yang bisa Kayla lakukan di rumah besar itu. Dia yang sekarang ada di dalam kamar Erlangga, hanya bisa diam, berdiri di ujung ranjang sambil melihat ke arah dinding, ke arah di mana foto pernikahan Indira berada.
"Kenapa kamu memilih aku, Mbak? Aku bahkan nggak tau bagaimana sifat Mas Elang. Apakah dia baik atau jahat? Dingin, atau ramah?" Kayla terus bermonolong di dalam hatinya tanpa mengalihkan pandangan dari foto pernikahan Indira dengan Erlangga.
***
Malam harinya. Saat ini, Kayla berada di dalam kamar milik Erlangga tengah duduk di atas sofa, menyaksikan siaran televisi yang menurutnya sangat membosankan. Mungkin lebih tepatnya bukan bosan karena siarannya, tetapi Kayla merasa bosan selama beberapa jam ada di sana tanpa melakukan apa pun selain menunggu kepulangan Erlangga yang sampai saat ini belum terlihat batang hidungnya.
"Ke mana sih dia? Kita kan harus bicara. Kita harus membuat banyak peraturan," kesal Kayla sambil memindahkan channel televisi, melampiaskan amarahnya pada siaran yang menurutnya tidak ada yang berguna.
"Pantesan TV sekarang gak laku. Siarannya gak ada yang bagus. Kalau gak berita politik, berita pembunuhan. Kalau gak sinetron bikin nangis, sinetron yang gak masuk akal. Masa yang bagus cuma gosip doang? Udah itu artis yang digosipin itu itu aja. Cowok playboy cap kaki tiga yang ternyata seorang duda beranak satu. Gak ada yang lain apa?" Sungut Kayla menggerutu tanpa henti, memindahkan channel televisi dari satu channel ke channel lainnya.
Belum menemukan yang cocok, pintu kamar diketuk dari luar, lalu Kayla pun bangkit dari duduknya, berjalan ke arah pintu sambil bergumam. "Siapa, ya?"
Pintu dibuka lebar, Kayla yang belum mengenal nama seorang asisten rumah tangga itu, memanggilnya tanpa nama. "Bi, "
"Surti, Non."
Kayla mengangguk-anggukan kepalanya. "Oh oke, Bi Surti. Ada apa ya, Bi?"
"Dipanggil Nyonya, Non. Non Kayla ditunggu di ruang makan."
"Udah jam makan malam ya?" Ia melirik ke arah jam dinding dan saat ini waktu menunjukkan pukul delapan malam.
"Iya, Non."
"Ya udah. Bibi turun duluan, nanti aku nyusul."
"Baik, Non. Kalau begitu, bibi permisi dulu ya, Non."
Kayla meresponnya dengan senyum, lalu Surti pun turun ke lantai bawah, menemui sang majikan di ruang makan, menyampaikan apa yang tadi Kayla perintahkan.
Mereka masih menunggu, tidak lama setelah itu Kayla pun datang menyapa dengan ramah. "Malam, Tante juga Om." Dia berjalan menghampiri kedua mertuanya, berdiri di samping kanan Herlita.
"Malam, Kay," balas keduanya secara bersamaan.
"Maaf aku terlambat," ucapnya dengan wajah penuh penyesalan.
"Nggak apa-apa, Kay. Sini duduk!" ajak sang mertua seraya menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Patuh, Kayla pun duduk di kursi tersebut, lalu adik Erlangga yang bernama Sabrina menawarkan sebuah makanan. "Mbak Kayla mau ini?" tunjuk salah satu makanan yang ada di depan Sabrina.
"Sedikit aja ya!" pinta Kayla sekedar mengakrabkan diri dengan sang adik ipar.
Remaja berusia tujuh belas tahun itu menuangkan makanan tersebut ke atas piring Kayla, tiba-tiba saja suara pecahan kaca mengejutkan semua orang yang ada di ruang makan.
"Ada apa?"
Mereka bangkit dari duduknya, berjalan ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya saat melihat Erlangga berbaring di lantai dalam keadaan mabuk. Sangat kacau, mengoceh tidak karuan.
"Ya ampun, Erlangga. Kamu mabuk?" seru Herlita.
Erlangga mengangkat kepalanya, lalu berdiri, berjalan dengan gontai menghampiri Kayla yang ia lihat seperti Indira. "Kamu di sini, Sayang? Kamu kembali setelah pergi begitu lama, aku sangat merindukanmu." Erlangga menangkup pipi Kayla dengan kedua tangannya, lalu memiringkan wajahnya hendak mencium bibir, tetapi belum sampai bibir itu menyatu, Erlangga yang mabuk berat pun kembali jatuh ke lantai tidak sadarkan diri.