Pernyataan Cinta Dava

1659 Words
"Angkat dia!" titah Ghani sang ayah kepada supir pribadinya yang bernama Asep. "Baik, Tuan." Dengan cepat Asep mengangat tubuh tinggi kekar itu dengan sekuat tenaga, lalu membawanya naik ke lantai atas menuju kamarnya. Kayla yang masih terkejut atas sikap Erlangga yang hendak mencium bibirnya, bengong melihat ke arah di mana pria itu tengah berjalan dengan bantuan Asep menaiki anak tangga. Dalam hati ia bergumam, "Gila, hampir aja dia cium bibir gue. Dan apa? Mas Elang pria idaman, idaman dari mana? Tukang mabuk bukan pria idaman. Gue baru tau sifat asli Mas Elang." Herlita merasa malu kepada Kayla, dia meminta maaf atas sikap putranya yang kurang baik. "Maaf. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak dulu mengenai putraku. Tidak biasanya Elang bersikap seperti ini, ini pasti karna dia merasa depresi kehilangan istri yang sangat ia cintai. Tante harap kamu bisa memakluminya." Coba untuk mengerti, Kayla pun mengangguk. "Iya, Tante." "Sabrina yakin Mbak Kayla bisa menyembuhkan luka hati Mas Elang. Aku percaya sama pilihan Mbak Indira," sambung Sabrina menaruh kepercayaan penuh. "Jangan terlalu menaruh banyak harapan, aku juga manusia biasa yang miliki kekurangan. Kamu belum tau siapa aku. Mungkin, suatu saat kalau kamu tau bagaimana buruknya aku, kamu akan sangat kecewa," balas Kayla. Dia tidak mau keluarga suaminya menaruh banyak harapan, karena itu hanya akan menjadi beban yang sangat berat untuk dirinya yang masih menginginkan kebebasan. "Semua orang punya sisi buruk dan sisi baik. Bukan cuma kamu, Erlangga pun sama dan salah satu contohnya barusan. Mabuk, kamu gak tau kan kalau Erlangga dulunya suka mabuk? Berkat Indiralah kebiasaan buruk itu sempat hilang dan sekarang kembali ketika Indira pergi." "Mungkin dulu mbak Indira bisa membuat Mas Elang sadar. Tapi aku, aku belum tentu bisa melakukan itu, karna aku sama mbak Indira dua wanita yang berbeda. Tante nggak bisa menaruh harapan penuh sama aku, karna aku belum tentu bisa melakukan hal yang biasa dilakukan mbak Indira." "Indira udah percaya sama kamu, kenapa kami harus ragu?" ucapnya dengan mengulum senyum. Apa yang bisa Kayla lakukan? Menentangnya? Mematahkan harapan mereka? Rasanya itu tidak mungkin. Lalu, jawaban apa yang pantas Kayla ucapkan ketika keluarga Erlangga begitu mempercayainya? Mengangguk, mengiyakan seolah ia sanggup. Mungkin itu yang terbaik sekarang dan benar saja, satu kali anggukan seorang Kayla membuat senyum di bibir kedua mertuanya melebar, lalu mereka pun melanjutkan makan malam yang sempat terganggu, karena kepulangan Erlangga yang dalam keadaan mabuk. Setelah selesai makan malam, Kayla kembali ke kamar, melihat sang suami tengah berbaring di atas ranjang dalam keadaan terlentang, dengan kancing kemeja yang sudah dalam posisi terbuka semua, sehingga menampakkan dadanya yang bidang dengan sangat jelas. Untuk sejenak Kayla sempat terpesona melihat postur tubuh sang suami yang ternyata memiliki bentuk yang sangat atletis. Namun, dalam sekejap dia segera menyadarkan diri ketika mengingat kelakuan Erlangga yang ternyata jauh dari kata suami idaman. "Nyesel gue pernah mengidolakan dia, Mbak. Ternyata begini kelakuannya? Sabar banget ya lu waktu itu." Kayla bicara sambil berkacak pinggang di ujung ranjang, menatap ke arah Erlangga dengan kesal. "Tapi, gue mau marah sama lu, Mbak. Kenapa lu jodohin gue sama orang yang kayak gini sih? Nyusahin hidup gue tau nggak." Sungutnya tidak berhenti mengoceh, lalu melempar bantal ke arah Erlangga tepat mengenai wajahnya, lalu ia mengumpat di bawah, takut pria itu sadar siapa yang melempar bantal ke arahnya. Setelah satu menit lamanya dia berjongkok dan tidak ada pergerakan, Kayla bangkit, melihat sang suami yang ternyata kembali memejamkan mata sangat rapat. "Untung dia tidur lagi." Setelahnya Kayla berjalan menghampiri Erlangga, menyelimuti tubuh kekar itu dengan selimut yang ada, lalu ponsel yang ada di dalam sakunya berdering, sebuah panggilan masuk dari seseorang. "Dava?" Kayla menyebutkan nama yang tertera pada layar handphonenya sambil tersenyum girang, lalu ia menggeser icone berwarna hijau, menyapanya dengan manis, "Malam, Mas." Gaya bicara Kayla berubah seratus delapan puluh derajat ketika bicara dengan Dava, ia memilih duduk di sofa, menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. "Malam, Key. Kamu lagi apa?" tanya pria itu di seberang sana. "Lagi duduk aja sambil nonton TV." "Sendiri?" "Iya, Mas." "Berarti ini lagi gak sibuk dong?" tanyanya lagi. "Nggak sih, Mas. Ada apa ya?" Kali ini Kayla yang bertanya, karena penasaran. "Jalan, yuk! Aku ke rumah kamu sekarang," ajak Dava. Ajakan tersebut langsung mendapat penolakan. "Jangan!" "Kok jangan? Kenapa emangnya? Kamu lagi gak mau diganggu ya?" "Nggak, bukan itu, Mas," jawab Kayla tergugup. "Lalu?" Karena pernikahannya disembunyikan dari khalayak ramai, tentu Kayla menjawab pertanyaan Dava dengan berbohong. "Suasana rumah lagi kurang enak, kamu sebutin aja mau ketemu di mana, nanti aku yang nyamperin." "Oh, gitu ya? Ya udah deh. Kamu temuin aku di kafe Kenangan. Sekarang ya, soalnya aku juga jalan sekarang." "Oke aku jalan sekarang." Setelahnya sambungan telepon pun terputus, dalam hitungan detik, bahkan belum sempat Kayla bangkit dari duduknya hendak bersiap-siap, ponselnya kembali berdering, kali ini Mira sang ibu yang menghubunginya. "Lagi telepon siapa tadi? Menunggu terus." protes Mira yang panggilannya bertuliskan menunggu dalam waktu yang cukup lama. Kayla menjawab singkat, "Temen. Ada apa, Bu?" "Ibu mau tau dong kabar kamu gimana? Ibu nunggu dari tadi." "Kabar apa?" "Kabar pernikahan kamu sama Erlangga." "Nggak ada kabar apa-apa. Cuma hari ini Mas Elang pulang dalam keadaan mabuk," jawab Kayla dengan jujur. Mira terkejut, lalu mengulang ucapan putrinya. "Mabuk?" "Iya, gak nyangka, kan? Aku juga kaget pas tadi Mas Elang pulang." Kayla bicara sambil menaikan satu kaki ke atas sofa, duduk menyamping melihat ke arah Erlangga, takut sang suami bangun dan menguping pembicaraan mereka. "Itu pasti karna Elang merasa depresi kehilangan Indira, wajar sih kalau menurut ibu." "Iya wajar, tapi tetep aja dia itu pemabuk." "Nggak pemabuk, Nak. Dia kan baru sekali mabuk, itu pun ada alasannya," bela Mira, membuat Kayla kesal. "Ibu apa-apaan sih? Mau sekali atau dua kali, yang namanya mabuk ya tetap aja mabuk. Heran deh, udah tau mabuk itu salah, kok masih dibelain!" kesal Kayla, karena sang ibu mewajarkan perbuatan salah yang Erlangga lakukan. "Tapi kan emang begitu, Nak." "Udah ah, Ibu. Aku ada urusan, udah dulu ya teleponnya. Aku mau pergi ini, ditungguin orang." Sedang buru-buru, Kayla bangkit dari duduknya, berjalan menuju ruang ganti mencari keberadaan kopernya, mencari baju apa yang akan ia kenakan untuk bertemu dengan Dava. "Ketemu siapa sih? Buru-buru banget." "Temen, Bu. Udah dulu ya." "Bukan temen cowok, kan?" tanya Mira lagi. "Temen cowok. Udah ah, aku mau siap-siap dulu." Mira masih mengoceh, tetapi Kayla langsung memutus sambungan telepon secara sepihak. "Emangnya yang stres cuma mas Elang? Aku juga kali. Aku juga butuh hiburan," gerutu Kayla sambil meletakkan ponselnya di atas meja, lalu ia mencari baju di dalam koper. Setelah mendapatkan baju yang sesuai, Kayla langsung menggantinya di sana, lalu keluar dari ruang ganti sudah keadaan rapi. mengendap-endap menuju nakas, mengambil tas kecil miliknya yang tadi ia simpan ketika pertama kali datang. Mendapatkan apa yang ia butuhkan, sebelum pergi Kayla menghampiri sang suami, memastikan kalau pria yang sedang mabuk itu masih tertidur dengan lelap, lalu ia pun berkata, "Kamu pikir cuma kamu yang terpukul atas kepergian mbak Indra? Kamu pikir cuma kamu yang merasakan sakit lantas semua orang memaklumi perbuatan kamu ini? Kalau kamu berpikir seperti itu, aku rasa kalau aku mau pergi bersenang-senang sama pria lain pun nggak masalah. Iya kan?" Kayla sudah tidak perduli, dia memutar badannya hendak pergi, tetapi langkah kaki itu kembali berhentikan ketika melihat foto Indira di atas dinding di depannya. "Maafkan aku, Mbak. Aku juga butuh waktu untuk bisa menerima keadaan ini. Tolong izinkan aku pergi bersenang-senang sama cowok yang aku suka." Setelah bicara dengan foto Indira, Kayla pun pergi menuju kafe yang sudah dijanjikan sebelumnya. Menempuh perjalanan selama tiga puluh menit dengan menggunakan taksi, Kayla pun tiba di tempat tujuan. Sebuah Kafe Kenangan yang mana kebanyakan pengunjungnya dari sepasang kekasih. Kayla masuk secara perlahan, matanya berkeliling mencari sosok Dava yang katanya sedang menunggu di sana. Setelah menemukan yang dicari, Kayla memanggilnya dari kejauhan, lalu Dava dengan satu orang wanita yang sedang bicara dengannya pun ikut menoleh. "Siapa wanita itu?" tanya Kayla bermonolong. Dia terus berjalan menghampiri Dava, sedangkan wanita itu langsung pergi ketika melihat kedatangannya. "Hai, Kay." Dava menyapa. Kayla membalas dengan senyum, lalu bertanya perihal wanita tadi. "Tadi yang ngobrol sama kamu siapa, Mas?" "Yang mana?" "Yang tadi, pas aku dateng." "Oh yang barusan?" Kayla mengangguk. "Iya." "Itu bukannya karyawan Len Industri? Emangnya kamu nggak tau?" "Apa iya? Kok aku nggak tau ya?" "Mungkin beda bagian sama kamu." Kayla terus berpikir, lalu Dava menyenggol bahunya pelan. "Udahlah gak usah dipikirin. Lagian juga dia cuma nyapa, aku juga gak kenal kalau dia nggak memperkenalkan diri duluan." "Oh ya?" ledek Kayla. Memang bukan hal yang aneh jika banyak karyawan yang mengenal sosok Dava. Bisa dikatakan kalau dirinya lebih terkenal dari pemilik perusahaan itu sendiri, karena selain tampan, ia juga terkenal baik dan ramah. "Ya udah. Duduk di sana yuk! Aku udah pesen tempat duduk," ajak Dava seraya meraih tangan Kayla, dan mereka berjalan menuju kursi yang sudah dipesan sambil bergandengan tangan. Perlakuan manis Dava membuat Kayla selalu merasa spesial ketika sedang bersamanya. Jantungnya selalu berdebar kuat setiap kali mata tajam bak elang itu menatap ke arahnya. Dia menggeser satu kursi, mempersilahkan Kayla untuk duduk, lalu Kayla pun duduk seraya berucap. "Terima kasih." "Sama-sama," balas Dava. Setelah Kayla duduk, Dava pun duduk di kursi di depannya, lalu tidak lama pesanan pun datang. "Loh, kamu udah pesen duluan, Mas?" tanya Kayla menatap tidak percaya ketika pelayan menyimpan cukup banyak menu makanan di atas meja. Dava mengangguk sambil tersenyum. Setelah semua menu tertata dengan rapi di atas meja, pelayan itu pun pergi. "Padahal nggak perlu pesen makanan sebanyak ini loh, Mas. Takut nggak habis." "Nggak apa-apa," jawab Dava Kayla tertarik pada satu menu makanan yang ditutup, lalu ia pun membukanya, dan langsung terkejut ketika melihat isinya ternyata bukan makanan, melainkan sebuah tulisan i love you yang diukur dengan indah berwarna merah. "Mas Dava, ini ...." Dava meraih tangan Kayla, mengutarakan perasaannya. "I love you, Kay. Kamu mau jadi pacar aku?" Ungkapan perasaan Dava membuat Kayla diam seribu bahasa. Bagaimana tidak, di saat dia sudah menjadi seorang istri, dia mendapatkan pengakuan cinta dari pria lain. "Jawab aku, Kay. Apa kamu mau jadi pacar aku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD