Pisah Kamar

1501 Words
Apa yang bisa Kayla lakukan? Jujur ia ingin sekali menjawab iya. Tetapi, bagaimana dengan status dia yang sekarang sudah menjadi seorang istri? Sedangkan Dava adalah pria yang selama ini ia suka, bahkan momen menyatakan cinta seperti ini adalah hal yang paling ia tunggu-tunggu sejak lama. Ketika Kayla diam tidak menjawab, raut wajah pria berusia tiga puluh tahun itu berubah, perlahan melepaskan genggaman tangannya, dan berkata, "Kalau kamu nggak mau nerima cinta aku, it's oke. Aku bisa terima." "Nggak gitu, Mas. Aku cuma lagi bingung aja," ucap Kayla. "Bingung kenapa? Kamu udah punya pacar? Atau kamu udah dijodohin sama keluarga?" tanya Dava lagi. "Bukan gitu, aku ...." Belum sempat kalimatnya diucapkan secara sempurna, Dava langsung memangkasnya. "Jujur kepada hatimu, Kay. Apakah kamu mencintai aku?" "Aku mencintaimu, Mas," jawab Kayla dengan jujur. "Lalu, apa yang membuat kamu ragu?" tanyanya lagi. Kembali ia meraih tangan Kayla, mengusapnya dengan lembut. "Ada sesuatu hal yang harus aku pertimbangkan. Kamu mau nunggu?" "Berapa lama, Kay?" "Mungkin minggu depan. Aku akan memberikan jawabannya minggu depan." Merasa tidak masalah atas waktu yang diminta, Dava pun mengangguk setuju. "Oke, kamu bisa kasih aku jawabannya minggu depan. Tapi, selama menunggu jawaban, kita tetap dekat seperti biasa kan?" "Iya, Mas." Kayla tersenyum, mereka melanjutkan acara makan malam sederhana dengan khidmat. Demi menghargai Dava, Kayla pun ikut makan walau hanya sedikit. Dua jam lamanya mereka menghabiskan malam, Kayla pamit pulang tepat di pukul sebelas malam. Dia pulang menggunakan taksi, menolak ajakan Dava yang ingin mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan Kayla tidak berhenti memikirkan ungkapan cinta yang Dava utarakan. Andai saja ijab kabul tidak terjadi tadi pagi, Kayla pasti langsung menerima cintanya. "Aahh sial! Apa yang harus gue lakuin? Gue nggak mungkin nolak Mas Dava, gue suka sama dia," gumam Kayla ketika masih dalam perjalanan pulang. Saat ini Kayla masih ada di dalam taksi, menatap keluar dengan perasaan bingung. "Apa gue terima aja ya cinta Mas Dava? Toh pernikahan gue sama Mas Elang juga nggak kayak pasangan suami istri yang lain? Cuma memenuhi keinginan Mbak Indira. Lagi juga, Mbak Indira kan minta kita nggak cerai, kan kita nggak cerai, cuma menjalani kehidupan masing-masing aja." Terus berpikir, sampai tidak sadar taksi yang ia tumpangi sampai di tempat tujuan, kediaman Erlangga yang begitu mewah. Kayla turun di depan gerbang utama. Dengan langkahnya yang lemas Kayla berjalan menuju pagar, menekan bel sampai beberapa kali, tidak lama pintu gerbang pun terbuka. "Malam, Non," sapa scurity dengan ramah. "Malam, Pak," balas Kayla juga ramah. Hanya bertegur sapa biasa, Kayla terus berjalan masuk ke dalam rumah, lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya, tanpa menyapa siapa pun, karena ketika ia pulang semua orang sudah tertidur, termasuk kedua mertuanya. Tidak ingin membangunkan penghuni di dalam kamar yang sedang tertidur pulas, Kayla membuka pintu secara perlahan, dan keadaan kamar sekarang dalam keadaan gelap gulita. "Kayaknya tadi gue nggak matiin lampu deh. Kok ini mati ya?" Kayla bicara sambil menutup kembali pintu, lalu lampu kembali menyala tepat saat Kayla melangkahkan kakinya, hal itu tentu membuat Kayla terkejut. "Dari mana kamu?" tanya Erlangga yang saat ini sedang berjalan ke arahnya sambil berkacak pinggang. Kayla memalingkan wajahnya ke arah lain, sama sekali tidak ada niat untuk menjawab. Bukankah percuma bicara dengan seseorang yang sedang mabuk? Toh, besok juga pria yang sedang mabuk itu akan melupakan semuanya. Karena Kayla diam tidak menjawab, Erlangga mengulang pertanyaan yang sama, kali ini lebih tegas dari sebelumnya. "Aku tanya dari mana kamu?" "Apaan sih, Mas?" balas Kayla tak kalah menantang. Dia menatap Erlangga dengan tajam. "Jam berapa ini?" tanya Erlangga lagi. "Jam dua belas. Kenapa emangnya?" "Kenapa kamu bilang? Kamu itu harus tau diri di mana sekarang kamu tinggal! Kalau keluyuran tengah malam udah jadi kebiasaan kamu, tolong jangan kamu bawa kebiasaan buruk kamu itu ke sini, karena penghuni rumah ini seorang wanita gak ada yang keluyuran sampe tengah malam. "Aku udah izin sama ibu kamu. Ibu kamu juga izinin. Terus apa masalahnya?" "Masalahnya sekarang kamu udah jadi bagian dari keluarga Abrar, kamu nggak bisa bersikap seenaknya di rumah ini. Kamu harus mencontoh bagaimana Indira bersikap di rumah ini!" Dengan tegas Kayla berkata, "Apa kamu bilang? Aku harus mencontoh sikap mbak Indira? Ingat ya, Mas! Siapa pun, mau itu kamu, orang tua kamu, bahkan orang tuaku sekalipun tidak bisa menahanku. Tidak ada satu pun di antara kalian bisa mengatur hidupku. Ingat! Aku menjadi bagian dari keluargamu juga bukan atas keinginanku. Aku ada di sini juga karna sebuah keterpaksaan. Jadi, perlu kamu tahu, peraturan apa pun yang dibuat di rumah ini, aku nggak akan pernah mau mengikutinya!" Setelah berkata demikian, Kayla pun melangkah pergi, tetapi tangannya ditahan oleh Erlangga. "Mau ke mana kamu?" "Lepasin aku! Aku mau ambil koper." Erlangga menghempas tangan Kayla, lau ia pergi ke ruang ganti, keluar dari sana sambil menyeret koper milik sang istri. "Ini!" Dengan kasar koper itu ditendang, lalu jatuh tepat di depan pemiliknya. "Bawa koper itu! Keluar kamu dari rumah ini!" lanjut Erlangga sangat kesal. "Mas Elang ngusir aku?" "Iya, aku nggak mau rumah ini dihuni oleh orang yang tidak mau diatur seperti kamu." "Bagus. Aku juga nggak mau tinggal sama orang yang egois kayak kamu." Kalau Erlangga berpikir Kayla akan mohon ampunan, itu salah besar. Karena pada kenyataannya, Kayla mengambil koper miliknya, lalu melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kayla membuka pintu dengan kasar, betapa terkejutnya saat melihat sang ibu mertua ada di sana. "Tante?" "Ada apa ini?" tanya Herlita dengan dahi mengerut. "Suara kalian sampe kedengaran keluar loh." Kayla tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya ke bawah, sedang Erlangga memalingkan wajahnya ke arah lain. Karena keduanya diam, Herlita kembali bertanya. "Elang, kenapa kamu diam?" "Ibu tanya aja sendiri sama penghuni baru itu. Apa yang dia lakuin di luar malam-malam gini?" jawab Erlangga sambil menunjuk ke arah Kayla dengan ujung matanya. Kayla tidak perduli, dia memilih tetap diam mau lagu apa pun yang Erlangga ucapakan. "Maksud kamu keluyuran apa, Lang?" tanya Herlita lagi. "Nggak tau anak itu keluar jam berapa, dan gak tau dia pergi ke mana. Masa jam dua belas malam baru pulang? Apa itu namanya nggak malu-maluin?" "Kayla pergi ketemu temen-temennya, Lang. Dia butuh hiburan juga kayak kamu. Emangnya apa yang kamu lakuin itu udah bener? Pulang dalam keadaan mabuk itu bisa dibenarkan?" "Loh, wajar dong, Bu. Aku baru kehilangan istriku, aku butuh sesuatu untuk menenangkan." "Dengan mabuk? Dan apa yang Kayla lakuin itu masih dalam batas wajar. Dia cuma minta waktu buat ketemu temen-temennya. Sedangkan kamu, kamu malah pulang dalam keadaan mabuk. Mana yang menurut kamu lebih memalukan?" Mendapatkan pembelaan dari sang mertua, Kayla menatap ke arah Erlangga sambil menyunggingkan senyum dari sudut bibirnya. "Emangnya enak," batin Kayla bergumam. "Kamu masih dalam pengaruh alkohol, Lang. Jangan berbuat hal yang aneh-aneh, biarkan Kayla tidur dengan tenang." Ketika sang mertua akan melangkah pergi, Kayla menahan dengan menarik tangannya. "Tante." Herlita menoleh, lalu bertanya, "Ada apa, Kay?" "Aku boleh nggak tidur terpisah?" pinta Kayla memohon. "Tidur terpisah? Maksudnya kalian nggak tidur bareng?" tanya Herlita untuk memperjelas. Kayla mengangguk. "Kenapa? Kamu takut Erlangga mengganggu kamu?" "Itu salah satunya, Tante. Tapi, selain itu aku juga punya alasan lain." "Kenapa? Katakanlah, siapa tau tante punya jalan keluar." Herlita berkata sambil memegang bahu sang menantu. "Kita bukan dua orang yang sudah akrab sebelumnya. Kita dua orang asing yang disatukan oleh sebuah keterpaksaan. Aku belum siap kalau harus tinggal satu kamar sama Mas Elang, Tante. Karna aku punya privasi yang harus aku jaga." "Tapi, Erlangga kan suami kamu," Herlita mengingatkan. "Aku tau, Tante. Tapi semua itu butuh waktu, aku nggak bisa langsung tinggal satu kamar sama Mas Elang. Belum apa-apa aja dia udah ngusir aku." Herlita menghela napas dalam, lalu melihat ke arah Erlangga sebelum akhirnya ia pun menganggukan kepalanya. "Baiklah. Tapi, untuk sementara waktu aja ya, Nak." "Sampai aku siap, Tante." "Baiklah. Kamu mau tidur di kamar tamu?" "Di mana pun. Tidur di di sofa juga gak apa-apa, Tante." "Itu nggak mungkin Kayla. Ya udah. ayo ikut tante ke kamar bawah." "Iya, Tante." Setelahnya mereka berdua pun pergi ke lantai bawah menuju sebuah kamar berukuran sedang, di mana di dalamnya sudah ada kasur lengkap dengan bantal, juga satu selimut tebal, juga satu lemari tiga pintu untuk menyimpan baju-bajunya. Sederhana memang. Tetapi, kalau harus dibandingkan dengan tempat tidur miliknya di rumah, jauh lebih besar yang ini. Kayla berasal dari keluarga yang sederhana, dia saja hanya karyawan biasa di sebuah pabrik milik keluarga Abrar, sedangkan ayahnya hanya sebagai kepala kebersihan di salah satu perusahaan. *** Pagi hari saat akan sarapan, Kayla diminta oleh Herlita untuk membangunkan Erlangga. Kayla patuh, dia langsung naik ke lantai atas, mengetuk pintu beberapa kali, lalu pintu ia buka sendiri, karena lama tidak mendapat respon dari sang pemilik kamar yang ternyata masih tertidur pulas. Kebetulan Erlangga masih tidur, Kayla yang mau buang air kecil langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah menyimpan handphonenya di atas nakas. Begitu pintu ditutup, ponsel yang ia simpan tadi berdering. Terlanjur ada di dalam kamar mandi, Kayla mengabaikan panggilan itu, tetapi tidak lama dering ponselnya berhenti membuat dirinya buru-buru menyelesaikan urusannya lalu keluar. "Mas Elang?" Kayla terkejut saat ponselnya berada di tangan Erlangga. "Siapa Dava? Jawaban apa yang sedang ia tunggu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD