Semut Merah

1397 Words
Kayla berjalan cepat menghampiri sang suami, lalu merebut ponselnya dengan kasar seraya berkata, "Bukan urusan kamu." "Apaan sih? Lagian juga aku nggak perduli. Ngapain kamu di sini? Kenapa kamu keluar dari kamar mandiku?" Erlangga mengambil kaus yang ada di atas ranjang, lalu merapikannya sambil berjalan ke arah cermin. "Tante Herlita minta kamu cepat turun. Kita mau sarapan," ucapnya sambil menunduk. Kayla belum berani menatap wajah suaminya, karena wajah tampan itu masih sangat menyebalkan. "Aku udah bangun. Sana kamu keluar! Bilang sama ibu aku segera turun. Aku mau mandi dulu." Rambutnya yang sedikit gondrong, membuat Erlangga harus menyisirnya lebih dulu sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tanpa berkata lagi, Kayla berjalan hendak pergi, langkahnya berhenti saat melihat foto Indira. "Tahan ya kamu punya suami modelan kayak gitu, Mbak," gerutu Kyla dengan suara pelan. Erlangga yang mendengar ocehan sang istri, langsung menoleh, menyahuti ucapannya. "Apa maksud kamu?" "Jujur ya, Mas. Sehari aja aku jadi istri kamu, rasanya itu pengen... hih..." Erlangga yang tidak mengerti pun bertanya sambil mengerutkan keningnya. "Hih apa?" "Pengen ganti suami baru, tuker tambah sama tukang rujak juga aku mah rela, dari pada nikah sama pria pemabuk, pemarah, egois kayak kamu. Males banget." Kayla berkata sambil menyunggingkan senyum dari sudut bibirnya. Erlangga semakin kesal, dia menghampiri Kayla ingin memberikan pelajaran, tetapi Kayla langsung kabur sambil berlari. "Anak kurang ajar," gerutu Erlangga berdiri di depan pintu, lalu menutup kembali pintu itu dengan kasar, lalu berjalan masuk. Saat melihat ke arah foto yang tadi diajak bicara oleh Kyla, Erlangga pun ikut bicara. "Aku yakin sekarang kamu lebih menyesal, kan. Udah jadiin anak kecil itu pasangan hidup aku. Dia itu gak ada seujung kuku acan dibandingin kamu. Dia suka keluyuran malam, banyak protes, nggak dewasa. Kalau bukan karena aku sangat mencintai kamu, mungkin sejak saat itu juga dia udah aku pulangin ke rumahnya." Setelah bicara dengan foto mendiang sang istri, Erlangga terduduk di ujung ranjang, terus menatap ke arah di mana foto itu berada dengan mata berkaca-kaca. "Aku sangat merindukanmu, Indira. Jangankan untuk masa depan, kehidupan buat besok aja aku nggak tau, aku seperti kehilangan arah." Sempat menunduk sebentar, lalu ia menyeka air mata yang tiba-tiba saja menetes. Tidak ingin larut dalam kesedihan, Erlangga bangkit dari duduknya, lalu masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa handuk, berendam cukup lama di sana. *** Setelah keluar dari kamar Erlangga, Kayla masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai bawah untuk membalas pesan masuk yang tadi sudah terlanjur Erlangga baca. Setelah mengirimkan satu balasan, Kayla keluar dari kamar, menghampiri sang mertua yang saat ini masih menunggu di meja makan. "Mana Erlangga, Kay?" tanya Herlita ketika melihat Kayla sedang berjalan ke arahnya. Wanita berusia dua puluh tahun itu menjawab sambil menarik satu kursi di samping kiri Herlita. "Mas Elang mau mandi dulu, Tante. Nanti nyusul." "Ayah makan duluan, Bu. Ayah udah kesiangan ini," ucap Ghani seraya melipat berkas yang belum selesai dibaca, dan berencana akan kembali dibaca saat di perjalanan. Herlita mengangguk seraya membuka piring yang awalnya tengkurap, lalu menuangkan nasi di atasnya, juga lauk pauk yang diinginkan. Hal yang biasa seorang istri lakukan ketika suami akan makan. "Lakukan ini kepada suamimu, Kay," nasihat Herlita sambil tersenyum ke arah Kayla. "Maksudnya?" tanya Kayla bingung. "Melayani suami saat makan," jawab herlita tanpa menghentikan aktifitasnya. Dalam hati Kayla bergumam. "Aku? Ya ampun, di rumah aja kadang kalau makan dibawain ke kamar sama ibu. Di sini, aku harus ngelayanin mas Elang? Aku memang terlalu muda untuk menjadi seorang istri." Karena Kayla diam tidak merespon, Herlita kembali bicara. "Maaf, bukan maksud tante mau ngatur, tapi memang seperti inilah tugas seorang istri." "Iya, Tante, Kayla paham. Tapi, nanti ya, Tante," jawab Kayla seraya membuka piringnya yang masih dalam keadaan tengkurap. "Aku boleh makan sekarang kan, Tante? Nggak usah nunggu Mas Elang?" "Boleh dong. Makanlah! Lagian kayaknya Elang bakal lama mandinya. Kalau nunggu dia keburu kelaparan," seloroh Herlita sambil terkekeh. Kayla pun ikut terkekeh. *** Masih belum berhenti memikirkan indira. Saat ini Erlangga sedang berada di bawah guyuran air shower, berdiri di sana untuk waktu yang cukup lama. Masih sangat berbekas di hatinya. Luka atas kehilangan orang yang sangat ia cintai, masih sangat basah. Pernikahan yang baru menginjak angka lima tahun itu membuat beberapa impian yang pernah mereka rancang belum terealisasikan semua, terutama keturunan yang sering mereka bahas saat masih bersama. "Kamu berjanji kepadaku akan memberikan banyak keturunan. Tapi, belum sempat kamu wujudkan, kamu malah pergi. Haruskah aku menyalahkan takdir Tuhan? Kenapa dia begitu kejam kepada kita, Indi? Rasanya ingin sekali aku memarahi Tuhan. Kenapa harus takdir seperti ini yang ia gariskan?" Terus menggerutu, sampai tidak terasa ia berada di bawah guyuran air shower selama lima belas menit. Setelah menyelesaikan mandinya, Erlangga mengambil handuk yang sudah disediakan, lalu keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk tersebut sampai sebatas pinggang. Memilih untuk tetap kerja, Erlangga mengambil kemeja berwarna biru langit, dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam, lalu ia pun keluar dari kamar setelah merapihkan diri, berjalan menuruni anak tangga sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. "Itu Mas Elang," tunjuk Sabrina dengan matanya. Herlita dengan Ghani yang hendak pergi pun menoleh ke atas. Kecuali Kayla yang sedang membantu Bi Surti beres-beres, memilih diam dan melakukan hal yang lebih berguna dari pada melihat wajah Erlangga yang menyebalkan. "Kamu dari mana aja? Sampe kita udah selesai makan, kamu baru turun," seru Herlita. "Mandi," jawab Erlangga datar. "Ayah tau kamu sedih. Tapi, hidup ini berjalan. Cobalah untuk tetap baik-baik aja," timpal sang ayah. "Iya, Ayah. Jawab Erlangga." Herlita dengan Ghani menggelengkan kepalanya, lalu mereka pun pergi meninggalkan putranya dengan Kayla yang masih membantu Bi Surti merapikan meja. "Bibi ada kerjaan lain? Cucian piring ditinggal aja, nanti aku yang nyuci." Kayla bicara kepada sang asisten rumah tangga yang saat ini berdiri di samping Kayla. "Jangan, Non. Ini udah tugas bibi di dapur, kerjaan yang lain bisa bibi pegang nanti." Bi Surti berusaha mengambil posisi berdiri Kayla yang sudah siap di depan cucian piring, dengan posisi lengan baju sudah digulung sampai atas. "Nggak apa-apa, Bi. Bibi kerjain yang lain aja," kekeh Keyla. Karena di rumah orang tuanya tidak ada pembantu, Keyla sudah terbiasa melakukan kebiasaan mencuci piring setelah makan. Baginya, mencuci piring setelah makan itu hukumnya wajib. Lagi pula, apa yang akan dia lakukan setelah makan selain mencari kegiatan lain yang mana hanya mencuci piring lah yang bisa ia lakukan. Terus memaksa, akhirnya Bi Surti pun mengalah. Dia membiarkan pengantin baru itu mencuci piring, lalu pergi ke belakang untuk mengerjakan yang lain. Tentu hal itu atas izin dari Erlangga yang juga ada di sana. Sambil makan dia melihat ke arah sang istri, dalam hati bergumam. "Indira selalu melakukan itu, terkadang dia melakukan hal lain untuk meringankan pekerjaan bi Surti." Makan dengan santai, tiba-tiba Kayla menjerit memanggil ibunya. "Ibu!" Erlangga terkejut. Dia melihat ke arah Kayla sedang mengusap wajah menggunakan lengan, lalu ia pun bertanya, "Kenapa?" "Mata aku peris, Mas. ada semut kayaknya," jawab Kayla masih mengucek mata dengan lengannya. Berusaha sendiri melepaskan semut yang menggigit bibir matanya dengan susah-payah. "Tangan kamu cuci dulu, baru ambil semutnya," ucap Erlangga santai, padahal Kayla masih merintih kesakitan, karena belum berhasil melepaskan semutnya. "Aku tau, tapi airnya mati." "Kok mati sih?" heran. Erlangga pun menyelesaikan makannya, minum, lalu berjalan menghampiri sang istri berdiri di depannya. "Mana?" Kayla menahan sakit dengan menurunkan lengan dari matanya, agar semut tersebut bisa terlihat oleh Erlangga. Semut itu sangat kecil berwarna merah tua, sedikit panjang, menempel di kulit yang paling sensitif. Setelah semut itu ditemukan, bukannya mengambil semut tersebut dengan tangannya, Erlangga malah berkata, "Oh itu. Kamu tunggu di sini, biar aku panggil bi Surti dulu." Tentu Kayla kesal. Dia menarik tangan Erlangga sambil berkata dengan sedikit meninggikan suaranya. "Kamu gila apa, Mas? Ngapain manggil bi Surti? Tinggal kamu ambil aja apa susahnya, sih?" "Nggak bisa!" tegas Erlangga. "Kenapa nggak bisa? Cepetan! Ini sakit tau." "Mau aku atau bi Surti juga sama aja. Udah, kamu tunggu di sini." Karena sang suami menolak membantu, Kayla pun menangis. "Kok nangis sih? Kayak anak kecil aja?" gerutu Erlangga. "Sakit tau." Tangisnya semakin kencang. Melihat sang istri malah menangis, mau tidak mau tangan Erlangga sendiri yang mengambil semut itu, lalu membuangnya ke lantai. "Tuh udah," ketus Erlangga. Semut sudah berhasil diambil tetapi Kayla masih menangis, membuat Erlangga bingung. "Kenapa lagi sih? Kenapa masih nangis? Manja benget." "Keterlaluan tau nggak. Dasar pria tua nggak punya hati." Setelah berkata demikian Kayla pun pergi dalam keadaan menangis, lalu tiba-tiba air pun kembali mengalir. "Terlambat," gerutu Erlangga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD