"Hay, Kay." Dava menyapa Kayla yang baru saja turun dari mobil jemputan karyawan.
Kayla menoleh ke samping kirinya, merespon panggilan itu dengan melambai tangannya, juga tersenyum manis.
Dava yang baru saja akan pergi dengan teman kerjanya, berjalan menghampiri Kayla sambil bertanya, "Tumben naik jemputan lain? Ini bukan bis yang biasa kamu tumpangi, kan?"
"Iya, Mas," jawab Kayla sambil tersenyum.
"Kenapa? Mobil ini kan rutenya jauh dari rumah kamu," tanya Dava lagi.
"Ini lewat depan jalan aku, ko. Kan ada 3 mobil yang lewat jalur aku. Aku pilih ini karna gak terlalu penuh, yang biasa aku naikin malah penuh. Nggak bisa duduk," jelas Kayla agar tidak menimbulkan kecurigaan bahwa dirinya tidak lagi tinggi bersama kedua orang tua.
Dava mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh, ya udah. Asal kamu nyaman aja."
"Iya, Mas. Oh iya, Mas Dava mau ke mana?"
"Aku mau ke pabrik Niso dulu, ada missing lagi," jawab Dava. Kesalahan cukup fatal yang dilakukan perusahaan dalam produksi barang.
"Ya ampun, kok ada lagi sih?" kejut Kayla.
"Iya, makanya bagian produksi harus lebih hati-hati lagi, lebih teliti lagi."
"Iya, Mas."
"Dav!" panggil teman Dava bernama Bintang yang saat ini menunggunya di mobil. "Ayo!"
"Iya sebentar," sahut Dava kepada temennya, lalu kembali bicara kepada Kayla. "Aku pergi dulu ya. Nanti bagian shift siang bakal ada meeting sama bos besar terkait masalah ini."
Kayla mengangguk. "Iya, Mas. Kamu hati-hati, ya."
"Iya, Kay."
Setelahnya Dava pun pergi, sedangkan Kayla masuk ke dalam pabrik, bertemu dengan temannya bernama Ajeng saat Kayla berada di area loker sedang mengganti sandalnya dengan sepatu.
"Gue pikir lu nggak kerja. Habis tadi gak ada di jemputan sih. Lu tadi naik mobil mana? tanya Ajeng sambil berdiri, bersandar pada dinding, ia melihat ke arah di mana Kayla sedang duduk memakai sepatunya.
"Gue naik jemputan yan lain. Jemputan itu lu tau sendiri penuhnya kayak gimana," jawab Kayla berbohong. Walaupun Ajeng adalah sahabatnya, Kayla masih belum mau jujur akan pernikahan dirinya dengan Erlangga, yang mana Erlangga bukan hanya suami dari sahabatnya, melainkan pemilik perusahaan di mana tempat mereka bekerja.
Dengan mudah Ajeng mempercayai ucapan Kayla. Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Pantesan."
Selesai memakai sepatu, Kayla pun berdiri, tidak lama bel pun berbunyi, menandakan pekerja yang masuk shift pagi pulang, sedangkan shift siang masuk untuk mulai bekerja.
Mereka berdua masuk ke dalam ruang produksi dari pintu sisi sebelah kiri, berjalan menuju meja kerja sambil berbincang ringan, diiringi dengan tawa kecil. Setelah berada di depan meja produksi yang sama, mereka yang memiliki tim sejumlah empat orang pun berdiri di depannya.
"Siap-siap meeting. Pabrik kita melakukan kesalahan lagi," ujar Ajeng.
"Iya gue tau. Tadi gue ketemu sama Mas Dava, dia udah cerita."
"Ciee... yang ketemu sama pujaan hati. Semangat target dong hari ini."
Kayla merespon, malu-malu. "Apaan sih?"
"Iya lah. Secara kan degan ketemu aja batere langsung full. Apa lagi nanti sore pak Dava masih di sini, pasti kalian makan bareng," goda Ajeng sambil cengar-cengir.
Kayla menjadi salah tingkah, dia coba menyembunyikan wajah malunya dengan menunduk.
"Eh, orang udah banyak yang tau loh, kalau lu deket sama pak Dava. Beberapa orang tanya sama gue, termasuk land saingan kita. Bu GL aja nanya sama gue."
Kayla terkejut mendengar cerita Ajeng, lalu ia pun bertanya, "Cuma mereka yang tanya, kan? Bos besar nggak tau masalah ini?"
Raut wajah Kayla tampak serius, hal itu membuat Ajeng tertawa terbahak-bahak. "Lu gila apa? Apa lu lagi sakit?" ujar Ajeng seraya meletakkan punggung tangan pada kening sahabatnya.
"Lu apa-apaan sih?" seru Kayla seraya menurunkan tangan Ajeng dari keningnya, lalu Kayla membetulkan topinya yang sedikit miring.
"Pertanyaan lu itu loh yang gak habis pikir gue. Kek gak punya pikiran," seloroh Ajeng.
"Ya siapa tau kan?" Balas Kayla.
"Mustahil tau gak, lu. Gak ada waktu dia cari tau hubungan lu sama pak Dava. Siapa kalian?" Kembali Ajeng tertawa terbahak-bahak, dan langsung mendapatkan serangan dari sang sahabat.
"Kurang ajar, Lu. Temen nggak ada akhlak." Dia melempar tissue yang ada di atas meja.
Sangat lincah, Ajeng berhasil mengelak dari serangan, dan terus tertawa. Tidak lama setelah itu, Bu Wilda sebagai Team Leader, sedikit meninggikan suaranya memanggil nama Ajeng yang terus tertawa. "Ajeng!"
Ajeng langsung merapatkan bibirnya, berdiri dengan tegak menghadap ke arah di mana Bu Wilda berada.
"Jangan berisik kamu! Kita berada di dalam produksi, tidak ada yang tertawa terbahak-bahak seperti kamu!" ketus Bu Wilda.
Sebetulnya Ajeng bisa saja melawan, tetapi karena sekarang sedang bekerja, mau tidak mau Ajeng pun mengalah. "Baik, Bu."
Setelah Bu Wilda marah, dia langsung memberikan pengumuman perihal masalah yang sedang dihadapi perusahaan. Selain itu juga Bu Wilda mengatakan akan diadakan meeting keseluruhan bersama staf termasuk pemilik perusahaan, yaitu Erlangga Abrar.
Mendengar nama suaminya disebutkan, posisi berdiri tegak Kayla berubah sedikit menunduk, bersedekap di atas meja, membuat Ajeng bingung, lalu bertanya. "Kenapa, Lu?"
"Sakit perut," jawabnya berbohong lagi, pada kenyataannya Kayla takut sang suami mengenalinya, karena sejauh ini Erlangga belum tau kalau Kayla adalah salah satu pegawai di perusahaan miliknya.
"Ada-ada aja lu mah. Ini mau meeting sama bos besar, masa lu mau ke toilet?"
"Nggak kuat, gue. Mau gue lahiran di sini?"
"Jorok banget sih, Lo," ketus Ajeng.
Sudah tidak ada waktu lagi. Rombongan dari office sudah mulai berdatangan, lalu Kayla pun langsung berlari melewati lautan manusia yang sedang berkumpul akan mendengarkan meeting bersama pemilik perusahaan perihal masalah yang sedang dihadapi.
Kayla berjalan sedikit menunduk, menabrak beberapa orang yang ada di depannya. "Maaf," ucap Kayla masih menunduk.
"Lu apa-apaan sih? Jalan yang bener dong!" gerutu salah satu karyawan.
"Gue kan udah minta maaf."
"Tapi lu udah nginjek kaki gue."
"Iya gue minta maaf. Rese lu ah," timpalnya lagi.
Keributan dua orang itu diketahui oleh Bu Wilda, lalu ia pun menegurnya. "Ada keributan apa lagi di sana? Apakah kalian tidak bisa untuk diam sebentar saja? Tuan Erlangga akan menyampaikan informasi penting!"
Membantah? Bu Wilda tidak akan menerima bantahan apa pun, sehingga wanita itu pun memilih diam, menatap tajam ke arah Kayla yang masih berjongkok di bawahnya.
"Maaf," gumam Kayla dengan suara pelan.
Kembali wanita itu mendengarkan apa yang akan disampaikan, sedangkan Kayla terus berjalan sambil tertunduk menuju toilet yang ada di ujung kanan ruang produksi.
Sampai di sana, Kayla langsung membuka pintu, tanpa sengaja menutupnya dengan kasar, membuat semua orang yang ada di dalam ruang produksi melihat ke arah toilet tersebut, Bu Wilda kembali menggerutu. "Ada aja."
Kayla menghela napas lega ketika ada di dalam, berdiri sambil bersandar pada dinding, seraya mengusap dadanya. "Aman."
Tidak ada yang bisa Kayla lakukan di dalam sana kecuali diam sambil mendengarkan beberapa staf office bicara. Tidak lama setelah itu Kayla mendengar suara Erlangga menyapa semua karyawan penuh ketegasan, dan berwibawa.
"Siang semuanya."
"Siang," jawab semua karyawan secara bersamaan.
"Catatan buruk kembali terjadi setelah sekian lama. Kalian pasti tau apa kesalahan itu?" Erlangga sempat memberikan jeda pada kalimatnya, lalu kembali bicara. "Iya, missing. Kesalahan yang sangat fatal. Saya tidak menyalahkan pegawai baru di sini, tetapi permasalahan ini muncul ketika perusahaan menerima pegawai baru. Tolong, dalam bekerja siapa pun yang baru maupun lama, tolong kerja dengan serius, konsentrasi, jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi. Kalian mengerti?"
Semua karyawan menjawab serentak. "Mengerti, Tuan."
Di dalam kamar mandi Kayla menggerutu. "Bisanya nyalahin kita doang."
Di luar sana staf office masih bicara untuk waktu yang lumayan lama. Kayla yang masih ada di dalam toilet pun merasakan gerah sampai keringat bercucuran, lalu memutuskan untuk keluar dari sana secara diam-diam.
Pintu toilet dibuka secara perlahan, lalu ia mengendap-endap berjalan sambil menunduk menuju salah satu meja yang posisinya tidak terlihat oleh sang suami. Namun, belum sempat ia sampai ke tempat tujuan, ponsel miliknya yang ada di dalam saku berdering nyaring, membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arahnya.
"Apa lagi ini?" ketus Bu Wilda.
Dengan gerakan cepat Kayla langsung mengambil ponsel dari dalam saku, lalu menggeser icone berwarna merah seraya meminta maaf, "Maaf aku nggak angkat, Mas. Sekarang aku dalam bahaya."
Beberapa kali meeting terganggu membuat Erlangga kesal, lalu ia meminta kepada ketua team leader untuk memanggilkan orang yang sudah membuat tidak nyaman saat meeting berlangsung, setelah itu Bu Wilda pun memanggilnya.
"Hei, yang tadi baru keluar dari kamar mandi. Cepat ke sini!" tegas Bu Wilda.
Kayla jongkok mengumpat di bawah meja, lalu karyawan lain memberitahukannya. "Di sini, Bu. Ngumpet."
"Asem, malah kasih tau."
Wanita itu tersenyum sambil menutup mulutnya.
Apa pun perintah Bu Wilda, Kayla tetap tidak mau keluar dari persembunyian, tidak lama meeting berlanjut, hal itu membuat Kayla kembali menghela napas lega.
Hanya berlangsung selama beberapa menit saja meeting pun selesai, lalu Kayla keluar dari persembunyian sambil berjalan jongkok, dan tiba-tiba saja ia menabrak dua pasang kaki nan kokoh berdiri di depannya. "Mas Elang?"
Panggilan yang salah. Kayla langsung menutup mulut dengan tangannya, lalu memanggil dengan panggilan yang benar. "Tu–tuan?"