"Kay, ada tamu di depan!" teriak Mira di depan pintu kamar putrinya yang masih tertutup rapat, karena penghuninya masih bermain perosotan taman kanak-kanak yang ada di belakang gang di alam mimpi bersama seorang pangeran.
Karena tidak juga ada jawaban, Mira kembali memanggilnya kali ini sambil mengetuk pintu cukup kencang. "Kaylaaa!"
Mimpi manisnya buyar ketika samar-samar ia mendengar teriakan dari langit, lalu Kayla pun terbangun dari mimpinya. Padahal, saat ibunya teriak, pangeran itu hampir mencium bibirnya.
"Gagal deh dicium pangeran," gerutu Kayla bangkit dari tidurnya, sambil mengucek mata.
Lagi teriakan itu terdengar, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya. "Kayla, bangun dong!" Kamarnya dalam keadaan dikunci dari dalam, membuat Mira tidak bisa menerobos masuk untuk sekedar menyemprotkan sedikit air untuk membangunkan putrinya.
"Iya, iya. Aku udah bangun," sahut Kayla juga dengan berteriak, lalu ia turun dari atas ranjang, berjalan menuju pintu sambil menggaruk kepalanya yang terasa gatal.
Pintu dibuka, lalu Mira terkejut ketika melihat keadaan putrinya yang berantakan.
"Ya ampun, Kay. Berantakan banget sih?" Mira menarik Kayla masuk, lalu ia mengambil sisir di atas meja. "Cepetan sisir rambut kamu! Di depan ada tamu."
Sambil menerima sisir dari ibunya, Kayla bertanya, "Tamu siapa?"
"Tamu agung," jawab Mira singkat.
Dahi Kayla mengerut. "Tamu agung? Aku nggak punya temen namanya Agung, Bu."
"Bukan namanya yang agung. Tapi tamunya yang agung."
"Presiden?" tanyanya lagi semakin konyol, sambil menyisir rambutnya yang sedikit bergelombang.
"Iya presiden, tapi bukan presiden negara."
"Presiden apa?" tanya Kayla semakin bingung.
"Presiden rumah tangga."
"Itu mah bukan presiden, Bu. Itu mah kepala rumah tangga," koreksi Kayla. Selesai merapikan rambutnya, ia meletakkan kembali sisir tersebut ke atas meja.
"Iya begitulah pokoknya."
"Maksudnya Mas Elang ada di sini? Mau ngapain sih?" kesal. Padahal semalam waktu berbalas pesan dengan sang mertua, dirinya menolak untuk dijemput. Kenapa sekarang malah nekad datang? Mau jemput atau jangan-jangan Erlangga mau cari ribut?
"Udah ayo temuin dulu!" titah Mira sambil menarik tangan Kayla menuju ruang tamu.
Saat ini Erlangga tengah duduk sambil memainkan ponselnya. Dari cara dia memegang, juga dari cara jarinya bergerak, sepertinya pria memakai baju berwarna hitam, celana jeans dengan nada serupa itu sedang berbalas pesan.
"Nak Elang," panggil Mira berdiri bersama Kayla di belakang single sofa.
Erlangga langsung meletakkan ponselnya, lalu menyahuti panggilan Mira sambil berdiri. "Iya, Bu."
"Maaf lama. Kayla nya susah banget dibangunin."
"Nggak apa-apa, Bu," jawab Erlangga sopan.
"Sekarang kayak kucing, kemaren kayak singa!" gerutu Kayla sambil memalingkan wajah ke arah lain, diam-diam Mira menyenggol lengannya. "Ibu, apa sih?"
"Jangan gitu dong, Kay. Malu-maluin ibu aja," gerutu Mira, pelan.
Setelah bicara kepada Kayla, Mira bicara kepada Erlangga. "Ya udah, kalian ngobrol aja. Ibu mau ke belakang dulu."
Erlangga mengangguk sambil tersenyum, lalu Mira pun pergi ke dapur.
Setelah Mira pergi, raut wajah Erlangga berubah seratus delapan puluh derajat, dan senyumnya memudar ketika melihat wajah Kayla. Dia menghirup udara banyak-banyak, lalu menghembuskannya secara kasar.
"Nggak bisa ya kalau nggak bikin masalah?" gerutu Erlangga dengan ekspresi kesal.
Kayla diam, dia menautkan kedua tangannya di d**a, masih memalingkan wajahnya ke arah lain, lebih tepatnya ke arah televisi yang sedang menyiarkan sebuah berita luar negeri.
Merasa tidak dihargai karena Kayla mengabaikan ucapannya, Erlangga mencari keberadaan remote. Setelah menemukannya, televisi pun mati, membuat Kayla yang sedang kesal semakin kesal. "Apa-apaan sih, Mas?"
"Aku lagi ngomong, Kay. Kenapa kamu malah nonton TV?" Setelah televisi mati, Erlangga meletakkan kembali remote tersebut ke tempat semula.
"Ya udah ngomong aja. Nggak ada yang ngelarang juga, kan? Gak disuruh bayar, kan?"
"Ya kamu dengerin aku lah. Percuma aku ngomong kalau nggak mau denger," timpal Erlangga dengan raut wajah semakin mengerikan.
"Maunya didengerin terus, tapi nggak mau dengerin. Egois!" seru Kayla menatap Erlangga, penuh keberanian.
"Kayla!" Erlangga sedikit meninggikan suaranya.
"Apa sih, Mas? Lagian apa yang harus aku dengerin? Dengerin Mas Elang yang terus menyalahkan aku? Atau Mas Elang mau menghina kinerja aku di pabrik? Bilang aja kerjaan aku itu nggak ada yang benar, semuanya jelek."
"Aku datang untuk menjemput kamu!" jawab Erlangga dengan tegas.
"Jemput? Apa aku nggak salah denger?" Kayla memasang wajah tidak percaya.
"Kamu pikir buat apa aku ke sini?"
"Ya mana aku tau. Mungkin cuma memenuhi perintah tante Herlita."
Erlangga terkejut, dalam hati ia bergumam, "Eh, kok dia tau?"
"Udahlah, mending Mas Elang pulang, aku mau tidur lagi Aku masih ngantuk. Percuma kalau Mas Elang ke sini kalau cuma memenuhi perintah tante, bukan atas kesadaran sendiri."
Setelah berkata demikian, Kayla pun melangkah pergi, dengan cepat Erlangga meraih tangan istri kecilnya seraya berkata, "Pulanglah."
Tidak seperti tadi, sekarang suara Erlangga terdengar sangat lembut, lalu Kayla pun melihat ke arah Erlangga dengan dahi mengerut. Pria berusia jauh di atas Kayla itu pun mengulang ucapan yang sama. "Pulanglah! Ibu nungguin kamu di rumah. Kasian ibu kepikiran kamu terus, ibu khawatir sama kamu."
"Cuma ibu yang khawatir sama aku?" tanya Kayla coba menguji.
"Aku juga, Kay. Aku juga mengkhawatirkan kamu, aku nyesel udah marahin kamu di depan banyak orang, ya walaupun emang kamu pantas mendapat teguran dari aku. Kamu melakukan kesalahan, kok. Gimana aku nggak marah?"
"Ini sebenernya mau minta maaf atau mau marah-marah lagi sih?" Sudah bagus tadi cara bicaranya lembut, kok semakin didengarkan malah terdengar menyalahkan lagi dan lagi.
"Bukan begitu, maksud aku."
"Udah ah, lepasin tangan aku. Mas Elang nggak tulus." Kayla terus menggerakkan tangannya, tetapi Erlangga malah menautkan kelima jarinya.
"Iya aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal, Kayla Putri. Sekarang kamu ikut aku pulang, ya! Mau kan?"
Dari cara bicaranya cukup meyakinkan. Tetapi Kayla tidak semudah itu mengatakan iya, lalu ia pun meminta sesuatu, "Dengan syarat."
"Kok pake syarat segala?" keluh Erlangga.
"Mau aku pulang atau nggak?"
Kembali Erlangga menghela napas dalam, lalu mengangguk. "Oke, oke. Katakan apa syaratnya?"
"Jangan marahin aku lagi di depan banyak orang! Kalau aku berbuat kesalahan, oke aku terima kamu tegur, tapi nggak kayak kemaren caranya. Itu sangat tidak beretika. Anda paham?"
"Iya aku paham," jawab Erlangga singkat.
"Jangan mengganggu kebebasan aku, sekalipun aku berteman sama cowok. Jangan menyapa saat berpapasan, jangan larang aku makan sama siapa pun dan di mana pun, lalu ...."
Dengan cepat Erlangga memangkas kalimat sang istri yang belum sepenuhnya di ucapkan. "Iya udah aku setuju sama semua persyaratan kamu, Kay. Jadi, sekarang kita pulang, oke!"
"Belum selesai, Mas."
"Apa lagi?" tanya Erlangga, lelah. Sejak tadi Kayla tidak berhenti mengoceh persyaratan-persyaratannya.
"Aku laper. Aku mau sarapan enak."
"Iya, nanti setelah ini kita makan."
"Tapi, tempatnya aku yang menentukan," pintanya lagi.
"Oke, Kayla putri," jawab Erlangga sambil menghela napas panjang. Rasanya ia sudah lelah mendengar semua persyaratan yang Kayla berikan. "Ada lagi?"
"Lepasin tangan aku!"
"Oh iya aku lupa." Setelah itu dia melepaskan tangannya.
"Awas kalau ingkar janji. Tunggu di sini, aku mau mandi dulu."
Kayla pergi, Erlangga kembali duduk sambil mengusap d**a seraya berkata, "Sabar, sabar. Kalau nggak karna ibu, nggak bakal aku jemput anak kecil ini. Tapi, kemaren emang aku keterlaluan sih. Nggak seharusnya aku marahin Kayla di depan banyak orang. Ya udahlah, anggap aja ini sebagai permohonan maaf, dengan aku melakukan apa yang ibu suruh."
Sambil menunggu, Erlangga membalas pesan dari Joenathan yang tadi belum sempat dibalas.
"Meeting jam 10 jangan lupa. Gue udah suruh Susan siapin materinya. Pastikan barang yang mau dikirim sore bukan barang reject lagi!"
Tidak lama Joenathan pun membalas, "Baik, Tuan muda. Hari ini Anda bisa fokus membahagiakan istri kecil Anda yang sedang merajuk."
"Sialan," balas Erlangga lagi.
Terus berbalas pesan dengan Joenathan, tidak lama Kayla pun datang sudah berpakaian rapi, lalu memanggilnya. "Mas Elang!"
Erlangga mengangkat wajahnya, terkejut ketika melihat perubahan penampilan pada istri kecilnya.