Dava melambaikan tangan sambil tersenyum ketika melihat Kayla berjalan ke arahnya. Kayla pun melakukan hal yang sama.
"Nunggu lama ya?" tanya Kayla setelah berdiri di depan Dava.
Dava menjawab sambil membuka pintu mobil. "Nggak ko. Aku baru aja dateng." Lalu mempersilahkan Kayla untuk masuk. "Masuklah!"
"Terima kasih." Lalu Kayla pun masuk ke dalam mobil.
Tidak seperti biasanya. Setelah beberapa hari menolak diantara pulang, malam ini malah Kayla sendiri yang menghubunginya untuk diantar pulang. Dava berpikir ini pasti ada kaitannya dengan kejadian tadi siang.
"Maaf." Kalimat itu terucap dari mulut Dava ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.
Kayla yang sedang memasang sabuk pengaman pun menoleh ke arah Dava, lalu bertanya, "Kok minta maaf? Kenapa?"
"Aku nggak bisa belain kamu waktu kamu dimarahin bos besar," jawab Dava penuh penyesalan.
"Oh itu, nggak apa-apa, Mas. Emang aku juga yang salah," jawab Kayla biasa saja. Bukan sudah lupa, tetapi Kayla sedang berusaha untuk melupakannya.
"Tapi, nggak seharusnya bos besar marahin kamu depan banyak orang. Itu tidak beretika," lanjut Dava sambil merubah posisi duduknya menyamping.
"Udahlah, jangan bahas itu lagi. Aku lagi nggak mood. Mending kita jalan sekarang, yuk! Aku mau cepet nyampe rumah, pengen istirahat," pinta Kayla sambil memijat batang lehernya yang terasa pegal.
"Oke, kita jalan sekarang."
Dava segera menghidupkan mesin mobil, menginjak pedal gas secara perlahan, mobil pun mulai meninggalkan kawasan industri menuju kediaman Kayla dengan kecepatan sedang.
Lelah? Tentu. Kayla menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok, melihat ke luar sambil melamun, bahkan Dava pun tidak berani mengganggu. Yang dia lakukan hanya menggenggam tangan Kayla tanpa bicara. Cukup berpengaruh, sentuhan itu berhasil membuat Kayla sedikit melupakan kejadian tadi.
Saat mobil berhenti di persimpangan lampu merah, tepat di sebelahnya mobil carry pengangkut banyak bunga pun berhenti, dan berhasil menarik perhatian Kayla yang sedang melamun.
"Cantik," gumam Kayla pelan.
Dava masih bisa mendengarnya, lalu ia pun bertanya sekaligus menggoda, "Apanya yang cantik? Kamu?"
Kayla menoleh ke samping, tersenyum sambil mencubit pinggang Dava, Dava yang meringis kesakitan pun meraih tangan Kayla lagi. "Sakit juga ternyata cubitan kamu."
"Lagian ngeledekin," balas Kayla.
"Kenapa juga tadi kamu senyum-senyum sendiri?" lanjut Dava bertanya.
"Itu," tunjuk Kayla ke samping kiri nya.
Dava melihat ke arah yang Kayla tunjuk. "Oh itu. Kenapa memangnya?"
"Aku suka bunga. Aku suka aromanya. Boleh aku buka kaca?" izin Kayla.
"Bo–boleh," jawabnya sedikit ragu, raut wajah Dava berubah dalam sekejap.
Kayla merasakan perubahan itu, lalu ia pun bertanya, "Kenapa? Mas Dava nggak suka bunga?"
"Bukan nggak suka, Kay. Lebih tepatnya aku alergi bunga, aku bisa bersin-bersin nggak berhenti," jelas Dava.
"Oh gitu? Ya udah deh ngga usah dibuka kalau bahaya."
"Maaf ya, Kay," sesal Dava.
"Nggak apa-apa, Mas."
Rambu merah berubah hijau, Dava kembali menginjak pedal gas, lalu mobil pun kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman Kayla yang jaraknya tidak terlalu jauh dari persimpangan tadi.
Hanya membutuhkan waktu tempuh selama lima belas menit, mobil Dava pun sampai di tempat tujuan. Rumah sederhana yang tidak terlalu kecil itu berdiri di tengah-tengah rumah tingkat di kanan kirinya, juga beberapa rumah tingkat di depannya. Bukan komplek elit, memang tetangganya banyak yang sukses, padahal dulu rumah mereka sama seperti rumah Kayla.
"Terima kasih ya, Mas. Maaf aku sering banget ngerepotin kamu," ucap Kayla berjalan menghampiri Dava.
"Nggak ko, kamu nggak ngerepotin. Justru aku malah seneng bisa bantu kamu," balas Dava dengan tulus.
Tidak lama setelah itu, Mira yang belum tidur pun langsung keluar ketika melihat dari dalam putrinya pulang diantar pria tidak dikenal.
"Kayla!" panggil sang ibu yang saat ini sedang berdiri di depan pintu utama.
Kayla menoleh, lalu ia bicara dengan Dava. Entah apa yang Kayla katakan, tidak lama Dava pun masuk ke dalam mobil, lalu pergi. Setelah Dava pergi, Kayla berjalan lemas menghampiri ibunya seraya bertanya, "Ibu belum tidur?"
"Tadi udah tidur, kebangun mau minum," jawab Mira.
Kayla merespon cuma dengan satu kalimat. "Oh."
Lelah, Kayla berjalan masuk ketika Mira ingin bertanya, dia mengikutinya dari belakang, lalu memanggil. "Kayla!"
"Iya, Bu?" sahut Kayla tanpa menghentikan langkah kakinya menuju sofa ruang tamu, lalu ia duduk di sana, menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Kok kamu pulang ke sini?" tanya Mira dengan dahi mengerut. Kalau datang berdua dengan Erlangga, pasti lain lagi cerita. Mira akan melayani tanpa bertanya apa alasannya datang tengah malam. Kalau datang sendiri, pasti ada apa-apanya.
"Ya kepengen aja. Emang kenapa? Aku nggak boleh pulang ke sini?" kesal kayla. Pulang ke rumah sendiri, tetapi harus memiliki alasan.
"Ya bukannya nggak boleh, cuma kan aneh aja. Seharusnya kan kamu pulang ke rumah suami kamu," terang Mira seraya mendudukkan diri di samping Kayla.
"Males. Aku nggak mau pulang ke rumah itu lagi, aku nggak mau jadi istri Mas Elang. Aku mau pisah." Kayla mengucapkan kata pisah, semudah ia mengibaskan rambutnya yang panjang ke belakang.
"Sembarangan aja kalau ngomong," tegur Mira. "Kamu pikir pernikahan itu main-main apa? Pernikahan itu sekali seumur hidup. Lagian juga kamu lupa apa sama janji kamu? Kamu udah janji sama Indira nggak bakal cerai sama Erlangga setelah dia tiada. Kamu sendiri yang bilang iya," jelas Mira mengingatkan.
"Aku tau, Bu. Lagian juga aku yakin Mbak Indira nggak bakal keberatan kalau aku berpisah. Mas Elang itu jahat." Kayla coba membela diri.
"Jahat gimana maksud kamu?" tanya Mira, bingung.
Kayla langsung menjelaskan semua kejadian mulai dari komplain perusahaan yang bekerjasama, ganti rugi, hingga kejadian tadi siang saat dirinya dimarahi oleh Erlangga di hadapan banyak orang.
Mira mengangguk mengerti, lalu ia bertanya dampak yang dirasakan banyak karyawan atas kesalahan itu apa, dan Kayla pun menjelaskan semuanya. Setelah bercerita, Mira langsung memukul punggung tangan Kayla. Tentu Kayla melayangkan protes. "Ibu apa-apaan sih? Sakit tau, Bu."
"Wajar kalau Erlangga marah, masalah yang kamu buat itu sangat serius, gimana Elang nggak marah?"
"Ibu, kalau mas Elang marahin aku nggak di hadapan banyak orang, aku nggak masalah. Ini, dia marahin aku di ruang meeting. Di sana banyak orang, Bu. Aku malu lah, taro di mana coba muka aku?"
"Kantongin biar nggak keliatan," jawab sang ibu asal.
Hal itu membuat Kayla kesal. "Ibu apa-apaan sih? Ngga lucu tau nggak."
"Jangan gampang baperan. Kalau emang salah ya udah terima aja. Nggak usah mikirin orang di sekitar. Seharusnya nasihat seperti itu jangan kamu buang mentah-mentah, justru harus kamu jadikan sebagai cambukan. Bukan malah melempem."
Bercerita kepada sang ibu, bukannya mengurangi beban, ini malah menambah beban. Kayla merasa pusing, dia bangkit dari duduknya, lalu pergi ke kamar.
"Kayla! Ibu belum selesai ngomong." Suara Mira sedikit berteriak, tetapi Kayla tetap pergi seolah tidak mendengar panggilan itu.
"Dengerin ibu dulu!" Kekeh Mira mengikuti langkah kaki putrinya dari belakang.
"Udah ah, Kayla capek, Bu. Mau istirahat dulu, besok lagi aja bahasanya." Langkahnya membawa ia ke depan kamar, lalu membuka pintu.
"Tapi Bu Herlita tau kamu pulang ke sini?" tanyanya lagi.
"Ya nggak lah. Ibu gimana sih? Mana boleh," jawab Kayla berdiri di depan pintu kamar yang sudah terbuka.
"Nanti kalau mereka khawatir gimana?"
"Aduh ibu, aku nggak tau. Udah ya, besok lagi." Setelah berkata demikian, pintu kama pun ditutup.
Mira berdiri di depan pintu kamar putrinya, kebingungan. "Ada-ada aja itu anak." Setelah itu ia pun kembali ke kamarnya,
***
Kayla membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi terlentang, menatap ke langit-langit sambil tersenyum. "Ah, akhirnya aku kembali ke kamar tercinta." Kayla memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma khas kamar yang begitu ia rindu.
Sedang asik menghirup udara segar yang berasal dari jendela-jendela yang dibuka, Tiba-tiba saja handphone yang masih ada di dalam tas berdering.
Kayla segera mengambil benda pipih tersebut dari dalam tas, dahinya mengerut ketika melihat nama si pengirim, lalu mulai membacanya. "Kayla, Sayang. Kamu baik-baik aja, kan?"
"Baik, tente, " jawabnya singkat.
"Maafkan Erlangga, Nak. Tante udah marahin dia tadi. Kamu pulang, ya. Kita selesaikan baik-baik." bujuk Herlita dengan lembut.
Kayla langsung menolak ajakan sang mertua dengan penuh rasa hormat. "Jangan, Tante. Aku lagi nggak mau bahas masalah tadi. Kita bahasnya lain kali aja ya, Tante."
"Loh, kok gitu? Berarti malam ini kamu beneran nggak pulang? Kamu tidur di rumah ibu kamu?" tanyanya lagi.
"Iya, Tante."
Karena tidak ingin merusak mood sang menantu, terpaksa Herlita pun mengiyakan keinginan Kayla, dan tidak jadi menjemputnya.
***
"Ini semua gara-gara kamu!" omel Herlita kepada Erlangga yang saat ini duduk di sampingnya. Sebenarnya tadi Erlangga sudah tidur. Tetapi, dibangunkan oleh Herlita setelah tahu Kayla tidak ada di kamarnya.
"Kenapa jadi ibu yang nyalahin aku?"
"Ibu nggak mau tau, pokoknya besok kamu harus jemput Kayla, ajak dia pulang!"
"Kalau dia nggak mau?"
"Ya kamu usaha, dong."
"Nggak ah, aku nggak mau. Besok aku ada meeting. Aku harus pergi pagi," alasan Erlangga sambil berdiri, lalu ia pergi meninggalkan sang ibu di ruang keluarga.