“Terima kasih telah membantu kakek saya,” ucap pria berjas hitam yang mengaku sebagai cucu Charles Lin.
Sejatinya, pria itu adalah asisten Charles yang berpura-pura mengaku sebagai sang cucu. Tentu, semua itu adalah bagian dari rencana sang pria tua. Karena jika ia membawa cucu aslinya, mungkin perang dunia akan segera dikumandangkan. Ah, tidak. Mungkin mereka akan perang mulut dan melemparkan umpatan yang tidak pantas didengar sebelum perang yang sesungguhnya terjadi. Tentu, semua itu bukan hal yang bagus. Terutama untuk kesehatan mental Kiel dan asistennya.
“Ini alamat rumah kami. Jika kalian sempat, jangan sungkan untuk berkunjung,” ujar sang asisten yang memainkan peran sebagai seorang cucu.
Shannon menerima secarik kertas itu dan melemparkan senyuman. Baik sang pria berjas hitam dan Charles akhirnya pamit dan melangkah ke arah mobil BMW hitam yang terparkir tak jauh dari sana. Ain sendiri merasa sedikit kecewa karena pertemuannya dengan sang kakek terasa begitu singkat. Walau begitu, ia tetap melambaikan tangan dan mengucap salam perpisahan.
“Kakek, jaga diri kakek!” teriak Ain pada teman barunya.
Menoleh, Charles pun melambaikan tangan dan tersenyum sebelum masuk ke dalam mobil. Helaan napasnya terdengar setelah tubuh rentanya beristirahat di kursi penumpang. Ah, sudah lama ia tidak keluar dari kediaman Lin. Berkeliaran di tengah dinginnya udara kota, tentu membutuhkan banyak tenaga. Bahkan tangannya kini kembali menggigil setelah kembali terpapar udara dingin. Walau begitu semuanya terbayarkan karena pertemuannya dengan Ain dan Shasha terhitung berjalan lancar.
“Tuan, ini mantel dan sarung tangan Anda,” ujar sang asisten. Tangannya mengulurkan sebuah mantel tebal dan sarung tangan pada sang tuan besar.
Meraihnya, Charles Lin segera memakai mantel dan sarung tangan itu. Berusaha untuk mengembalikan suhu normal pada tubuhnya yang terasa beku. Ia buru-buru pulang karena salah satu anak buahnya mengatakan bahwa Fabian telah mengetahui rencananya dari sang asisten. Seperti dugaan, Kiel memang lemah dengan tekanan yang Fabian berikan. Beruntung, ia sudah beranjak dari rumah Shasha sebelum Fabian sampai. Jika tidak, entah apa yang akan cucunya lakukan.
“Bagaimana perasaan Anda sekarang, Tuan Besar?”
Sang asisten tentu bertanya tentang pertemuannya dengan Shanaya Yin. Seketika, pria tua itu menghela napas prihatin.
“Gadis itu terlalu baik untuk Fabian,” ucapnya. “Sepertinya aku harus mengawasi bocah itu untuk sementara waktu agar Fabian tidak menyusahkannya.”
Sebagai seorang kakek, ia sangat tahu jelas bagaimana watak cucu kesayangannya. Umur Fabian memang sudah memenuhi syarat untuk menjadi pria dewasa. Sayangnya, watak Fabian terkadang benar-benar bertolak belakang dengan panampilan dan umurnya. Terlalu kekanak-kanakkan dan terlalu arogan. Tidak pernah menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang ada dalam dirinya sendiri. Jika bukan dilahirkan dari keluarga Lin, mungkin hanya wajahnya saja yang menjadi aset berharga Fabian.
“Sepertinya aku harus memikirkan beberapa cara agar cucu laknat itu bertaubat,” bisik Charlea Lin sembari kembali menghela napas.
Seraya dengan mesin mobil yang menyala, pikiran Charles pun semakin dipenuhi dengan berbagai macam perkara. Namun, beberapa saat kemudian ia mengalihkan pandangan pada sosok yang sangat ia kenal. Salah seorang pria yang selama ini menjadi ancaman bagi keluarga Lin.
“Alvin Xu?” bisik sang kakek sembari menatap dari kaca belakang. Menyadari bahwa Alvin kini menyapa Ain dan juga Shannon.
Dari gelagat Alvin yang lebih memperhatikan Ain, bisa ditarik kesimpulan bahwa pria itu tidak terlalu dekat dengan Shannon. Keduanya tidak mungkin menjalin hubungan asmara. Namun, semua itu malah menguatkan fakta bahwa Alvin mempunyai hubungan khusus pada Shanaya.
Seketika, seringai Charles pun terbentuk. Ada yang mengatakan bahwa nusuh dari musuhmu adalah temanmu. Alvin mungkin akan menjadi bencana bagi Fabian jika pria itu terbukti menjalin hubungan dengan Shanaya. Sayangnya, semua itu tidak berlaku bagi sang pria tua. Jika ia pandai memanfaatkan suasana, Alvin Xu akan menjadi senjata utamanya untuk memberi Fabian "pelajaran" yang sesungguhnya.
Fabian yang selama ini menyombongkan diri menjadi pria berpengaruh di negara mereka akan kandas jika Alvin Xu naik takhta. Tak banyak yang tahu bahwa Ryann Xu—sang pemilik Orion grup sekaligus rival berat Hexagon, mempunyai dua putra. Selama ini, hanya anak pertamanya yang muncul di depan publik. Sementara keberadaan anak kedua Ryann Xu seolah hanya menjadi bayang-bayang.
Namun, akhir-akhir ini terdengar kabar bahwa William Xu yang mewarisi Orion, bermaksud untuk menyerahkan takhta Orion pada sang adik. Si sulung, layaknya lebih memilih untuk menapaki jalan yang berbeda dari orangtuanya. Tentu, hal ini membuat Ryann Xu kalang-kabut. Di sisi lain, Charles Lin pun tahu bahwa semua hal yang tejadi secara berurutan bukanlah hal yang kebetulan. Bisa jadi, semua itu adalah petunjuk dari langit akan hal yang terjadi di masa depan.
Charles Lin tersenyum puas, kini tinggal melihat dan menunggu waktu. Akan ada saatnya di mana Fabian akan mendapatkan teguran dari takdir.
***
Bersyukur atas kehidupan memang perlu. Namun, bagaimana jika kehidupan yang selama ini dipertahankan hanya mampu menghasilkan sebuah pahit dan perih yang terulang? Kadang kata-kata umpatan pun terbersit dalam pikiran saat kehidupan hanya memberikan sebongkah garam. Tidak salah. Semua manusia pasti melakukannya. Sumpah-serapah yang terucap pun kadang lebih parah dari apa yang terucap di bibir.
Bergantung pada seseorang pun tidak menjamin jika hidup akan menjadi lebih bahagia. Karena semuanya mempunyai batasan. Karena tidak ada hal di dunia ini yang bersifat kekal. Satu-satunya yang bisa merubah semua kebusukan takdir hanyalah diri sendiri. Bangkit, percikkan amarah di d**a. Hingga tangan yang semula menyentuh tanah, kini mencapai takdir dan menampar kerasnya kehidupan dengan bangga. Tidak akan ada yang jatuh. Tidak akan ada air mata. Perjuangan masih panjang, dan katakanlah pada dunia bahwa busuknya takdir akan sirna.
Saat ini pun, masih banyak manusia yang berjuang untuk melawan dirinya sendiri. Melawan kesedihan dan keputusasaan yang selalu mengancam untuk menghunjam leher mereka. Mungkin memerlukan waktu, namun jika semua kekelaman itu terlewati, maka apa yang didapat akan membuahkan sebuah kisah indah yang mungkin akan membuat para iblis pun tak mampu untuk tertawa.
Setidaknya, begitulah pemahaman dan harapan Shanaya Yin. Ya, ia dalam keadaan yang sangat tidak baik dan dalam sekali lihat, bahkan bocah pun tahu betapa malangnya sang gadis. Kelam kehidupan masih menggerogotinya. Sampai kapan? Shanaya pun tidak mengerti. Yang ia tahu, salah satu sumber dari takdirnya yang membusuk adalah sang ayah dan juga pria berjas hitam yang kini duduk di depannya, Fabian Lin.
Jika saja ia bisa menyingkirkan dua orang itu dari kehidupannya, mungkin akhir kisah bahagia akan ia dapatkan. Sayangnya, ia hanya gadis biasa. Jangankan menyingkirkan dua orang yang membuat kehidupannya bak neraka, membeli nasi untuk esok hari pun ia tak mampu.
“Kau tidak menawarkan minuman padaku?” ujar Fabian, membuyarkan pikiran Shasha.
Sang gadis yang sedari tadi diam, kini sedikit mencuramkan alisnya. “Apa tujuan Anda datang kemari? Jika semua ini karena hutang—”
“Bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku merindukanmu?” potong Fabian, dengan seringai nakal. “Apa aku perlu alasan lain untuk menemui calon istriku?”
“Aku bukan calon istrimu!” salak Shasha. “Jika tidak ada keperluan lain, silakan angkat kaki. Jangan membuang waktuku lagi!”
Mendengar suara Shasha yang menahan emosi membuat Fabian kembali terkekeh dalam hati. Tentu, kedatangannya bukan semata karena ia ingin menemui Shasha, tapi karena Kiel telah membocorkan rencana kakeknya yang ingin "mengeksekusi" Shanaya Yin.
Entah apa yang dimaksud dengan "mengeksekusi", tapi firasat Fabian mengatakan bahwa niat sang kakek benar-benar patut dicurigai. Setelah mendengar semuanya dari Kiel, Fabian langsung meninggalkan kantor seorang diri dan bergegas untuk menemui Shasha. Hatinya mungkin tidak akan mengakui. Namun, pria itu benar-benar khawatir kalau-kalau kakeknya merencanakan hal buruk pada Shasha.
Saat tiba di rumah Shasha, ia menghela napas lega saat melihat gadis itu baik-baik saja. Ketika ia melangkah masuk, semua sudut ruang pun tak lepas dari pandangannya. Bersyukur, sosok sang kakek tidak ada di sana. Walau begitu, masih ada beberapa tempat yang harus ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Beruntung, rumah Shasha terbilang mungil dan simpel. Sangat terlihat jelas jika seseorang bermaksud untuk menyembunyikan diri di celah sempit sekalipun.
“Boleh aku ke kamar mandi?”
Shasha terdiam, menelisik pria berjas hitam yang masih duduk santai.
“Atau kau lebih memilih aku melakukan itu di sini?” lanjut Fabian, bermaksud membuka sabuknya.
Seketika, Shasha pun tersentak dan langsung menunjukkan arah ke kamar mandi. “Lurus saja.”
Mengurungkan niat, Fabian pun tersenyum dan melenggang pergi. Sebenarnya, yang ia inginkan hanya mengecek beberapa sudut rumah yang mungkin manjadi tempat berkamuflase. Sayangnya, ia benar-benar tidak menemukan Charles Lin walau ia telah mengedarkan pandangan ke seluruh ruang. Semua ini membuatnya sedikit lega. Namun juga waswas. Shasha lolos kali ini. Tapi ia tidak akan menjamin sang kakek akan tinggal diam. Ia yakin kakeknya masih merangkai beberapa trik murahan untuk menyingkirkan Shasha.
Charles Lin adalah orang yang mendalangi pertunangannya dengan Rhea Zao, cucu dari salah satu temannya sekaligus anak dari presiden direktur bank ternama. Kemungkinan besar, pria tua itu tidak akan menerima Shanaya Yin sebagai menantu keluarga Lin. Mengingat latar belakang Shasha bukan berasal dari kalangan elit dan menengah ke atas. Ia harus segera memikirkan cara agar semua dapat berjalan lancar.
Kembali, kini Fabian melangkah ke ruang tamu dan menatap Shasha yang masih belum beranjak dari tempatnya. Sebenarnya, ia masih ingin bersenang-senang dengan Shasha. Sayangnya, ia tidak bisa mengabaikan pekerjaan kantor yang ia tunda beberapa jam demi melihat gadisnya.
“Kalau sudah selesai, kau bisa pergi. Untuk hutang ayahku, aku akan melunasinya asal kau tidak menginterupsi kegiatanku mencari u—”
Cup!
Shasha membeku saat Fabian memegang dan mengecup lembut rambutnya. Saat tersadar, gadis itu langsung terlonjak kaget dan memperlebar jarak antara dirinya dan pewaris tunggal keluarga Lin.
“A-apa yang kau—”
Tersenyum, Fabian mengabaikan Shasha yang kaget dan melenggang ke arah pintu keluar. Sebelum pria itu pergi, ia menoleh dan menatap gadisnya.
“Aku akan kembali saat jangka waktumu habis. Persiapkan dirimu.”
Saat pintu tertutup, saat itu juga teriakan Shasha menggema.
“Aku tidak sudi bertemu lagi denganmu!”
Walau begitu, takdir selalu mempermainkannya. Selalu mempertemukannya dengan biang onar yang mengacaukan hidupnya. Tidak bisakah nama Fabian Lin menghilang selamanya dari kehidupannya?
***
“Kakak! Ain pulang!”
Bocah mungil membuka pintu rumah dengan semangat. Sebuah bingkisan besar ada di tangannya. Di belakangnya, Shannon dan Alvin pun ikut masuk ke dalam rumah. Namun, yang mereka dapati hanyalah wajah muram Shasha yang sedang memijat pangkal hidung.
“Ah ... selamat datang,” ucapnya, lesu. Sungguh, bertemu dengan Fabian Lin benar-benar menguras tenaganya.
Melihat keanehan tersebut, Shannon dan Ain saling melempar pandangan. Sebelumnya, saat mereka meninggalkan Shasha, gadis itu tidak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda frustrasi. Memang, Shasha terlihat lelah, tapi suasana hatinya tidak seburuk saat ini. Keduanya curiga bahwa setelah mereka meninggalkan Shasha, sesuatu yang buruk terjadi.
Di sisi lain, Alvin pun menciun sebuah kejanggalan. Sejatinya, pria itu sudah tahu bahwa sang pujaan hati terlibat dalam masalah yang rumit. Salah satu anak buahnya melaporkan bahwa menurut informasi beberapa hari lalu Shasha didatangi oleh beberapa pria berjas hitam. Tidak ada yang tahu pasti identitas para pria itu, tapi Alvin yakin bahwa semua ini berkaitan dengan ayah Shasha. Pria itu benar-benar telah menciptakan kekacauan yang merusak kehidupan anak-anaknya.
Sebenarnya, Alvin berencana mengupas tuntas masalah yang menimpa Shasha. Sayangnya, tiba-tiba ayahnya menelepon dan mengatakan bahwa ia harus pulang secepatnya karena ada urusan mendadak yang membutuhkan kehadirannya. Melihat situasi Shasha yang begitu memprihatinkan membuat Alvin tidak tega untuk beranjak sejenak dari sisi sang gadis. Namun, ia pun tidak bisa menentang ayahnya sendiri. Terpaksa, pria itu harus menunda untuk mengorek masalah Shasha. Berharap, apa pun urusan yang ayahnya berikan tidak memakan waktu yang lama.
Beruntung, ia telah mendapatkan lowongan pekerjaan untuk Shasha. Setidaknya, gadis itu bisa kembali bekerja saat Alvin kembali ke kampung halamannya. Ingin rasanya memberikan bantuan finansial, sayangnya gadis itu hanya menerima bantuan finansial dari Shannon. Beberapa kali ia mendapat penolakan saat menawarkan bantuan pada Shasha. Alvin tahu benar, walau telah lama kenal gadis itu selalu merasa tidak enak hati jika ia menawarkan bantuan. Padahal, pria itu pun tidak keberatan jika ia ikut nenanggung penderitaan Shasha. Ia akan merasa terhormat jika mampu membantu sesama, apalagi pujaan hatinya.
Menoleh, pria itu menepuk kepala Ain dan tersenyum. “Ain, bagaimana kalau kau menyiapkan huǒguō dengan Kak Shannon di dapur?”
Bocah itu pun mengerjap lucu sebelum mengangguk patuh. Dengan menggandeng tangan Shannon, keduanya pun menghilang di balik pintu dapur. Alvin mungkin tidak tahu, tapi Shannon sempat menatap Alvin dengan penuh harap sebelum gadis itu diseret oleh Ain ke dapur.
Kembali, kini pria itu memfokuskan pandangan pada sang tuan rumah yang masih belum beranjak. Tanpa menunggu dipersilakan, pria itu duduk di samping Shasha dan menepuk lembut kepala sang gadis. Cukup untuk membuat manik indah yang ia puja mengalihkan pandangan padanya.
“Apa kau ingin mendengar kabar baik dariku?” ujar Alvin, seraya menarik tangannya dan meraih sesuatu di saku celana.
Shasha masih terdiam, tapi manik gadis itu melayangkan sebuah tatapan penuh dengan keingintahuan. Tersenyum lembut, pria itu pun memberikan secarik kertas pada Shasha. Saat gadis itu membukanya, yang tertera di sana hanyalah sebuah alamat dan satu nama.
“Ini....”
“Mulai besok kau sudah bisa bekerja di sana. Aku sudah menjelaskan semuanya pada pemilik resto itu” ujar Alvin, enteng.
Walau ia bukan anak pertama dan pewaris, untuk masalah koneksi, pria itu setara dengan kakaknya. Tidak memerlukan banyak tenaga dan waktu untuk mencari sebuah lowongan kerja baru.
“Tapi Kak—”
Kata-kata Shasha terputus saat pria itu tiba-tiba memeluk erat dirinya. Meminjamkan kekuatan untuk menghadapi cobaan yang datang. Ia tidak mengerti. Namun, satu hal yang pasti, rengkuhan Alvin membuat hatinya terasa begitu tenang. Seolah, separuh beban telah menguap dan digantikan oleh harapan akan kebahagiaan. Tanpa sadar, tangan mungilnya pun bergerak dan membelas rengkuhan pria itu.
“Walau kau tidak memberitahu masalah yang sebenarnya, aku ingin kau selalu mengingat bahwa aku akan selalu ada di pihakmu,” bisik Alvin. “Kau tidak perlu menanggung semua beban sendirian.”
Menipiskan bibir, air mata Shasha pun terkumpul di pucuk mata. Menuntut untuk di tumpahkan. Saat pelukan itu menjadi longgar, Alvin menangkup kedua pipi tirus sang gadis dan mengusap manik yang masih berkaca-kaca.
“Aku akan pergi sebentar. Sampai saat aku kembali lagi, bisakah kau menunggu dan mempercayaiku?”
Gadis itu mengangguk pasti. Ia tidak pernah meragukan Alvin. Karena hanya pria itu yang selama ini membantunya dan berada di sisinya. Hanya pria itu ... yang menilai kehidupan dan hidupnya adalah anugerah.
Di sisi lain, Alvin merasa bersalah saat ia harus meminta Shasha untuk menahan semua penderitaan. Ia tidak memiliki pilihan lain. Namun, ia berjanji akan membebaskan gadis itu dari neraka dunia. Saat ia kembali ... ia akan mengungkap semua perasaan yang tertahan dan membawa Shasha dan Ainar untuk hidup bahagia dan menyandang marga Xu.
Ia berjanji.