Chapter 6

2765 Words
Muram. Satu kata yang kini menggambarkan raut Fabian. Manik tajamnya menatap ke beberapa karyawan yang kini membuatnya naik darah. Sejatinya, suasana hati Fabian memang sangat buruk setelah ia menemui Shasha. Bukan karena penolakan sang gadis, melainkan khawatir karena ia tidak dapat membaca pergerakan kakeknya. Semua ini benar-benar di luar dugaan. Charles Lin tidak menghubunginya atau menampakkan batang hidung di depannya. Bahkan mata-mata yang ia kirim pun melaporkan bahwa sang kakek tidak meninggalkan Kediaman Lin. Aneh. Semua ini sungguh aneh. Tentu saja Fabian tidak merasakan sedikit pun kelegaan. Alih-alih lega pria itu malah merasa semakin gelisah. Kakeknya jelas merencanakan sesuatu. Kembali, tangan Fabian kini meraih sebuah dokumen dan membantingnya ke meja. Ia begitu marah hingga rasanya ia ingin mencekik anak buahnya yang tidak berguna. “Ulangi laporanmu," desis Fabian. “Jelaskan secara terperinci mengapa ada selisih yang begitu besar dalam laporan ini? Kemana raibnya dana perusahaan? Jika kau tidak bisa menjawabnya, mulai besok kau tidak perlu menginjakkan kakimu di perusahaan ini!” Fabian kembali membanting laporan keuangan itu. Kali ini tepat di depan pria berkacamata yang masih menggigil ketakutan. “Sa-saya mengerti,” cicitnya, lirih. “Bagus," ujar Fabian seraya kembali duduk di kursi kebesarannya. Kali ini, tatapannya tertuju pada semua orang yang hadir secara bergantian. “Untuk hari ini sampai di sini, kita akan membahas masalah selanjutnya besok.” Semua orang di ruangan itu langsung menghela napas lega sebelum melangkah keluar dengan kaki yang gemetar. Fabian memang dikenal sebagai pemimpin yang kompeten, hanya saja pria itu sama sekali tidak bisa mengontrol emosi saat ada satu hal yang melenceng dari rencana awal. Dengan kata lain, ia adalah pria yang terlalu perfeksionis. Memang bukan hal yang mutlak negatif, tapi tidak semua orang bisa mengikuti kemauan Fabian. Beberapa diantara mereka mungkin bisa terbiasa dan berakhir kebal dengan segala macam kelakuan Fabian. Kiel adalah salah satu contoh nyata. Namun, banyak juga yang menderita kerugian mental yang besar hingga terserang tekanan batin walau hanya mendengar nama Fabian. Masih di dalam ruang meeting, Fabian kini menyandarkan punggungnya di kursi. Menatap tembok yang berada beberapa meter di depannya. Ia tidak mempunyai minat untuk kembali ke ruangannya. Untuk sejenak, ia ingin sebuah ketenangan. Menghela napas, pria itu tidak pernah menyangka bahwa menyukai seorang gadis membuatnya begitu frustrasi. Selama ini ia hanya bercinta dengan dokumen kantor. Walau banyak wanita yang melemparkan diri mereka sendiri padanya, Fabian tidak pernah menanggapi mereka secara serius. Bahkan tunangannya sendiri pun tidak pernah mendapatkan sebuah perhatian khusus darinya. Terakhir kali dan itu pun sudah beberapa bulan yang lalu, ia hanya mengirim pesan singkat pada tunangannya. Isinya pun bukan rayuan cinta macam pria petualang di luar sana, melainkan sebuah kalinat singkat yang berisikan sebuah permintaan tolong dari sang kakek untuk titip membeli wine kesukaannya. Satu pesan singkat, satu kalinat, dan parahnya lagi semua itu bukan berisi kemauan Fabian. Gadis mana pun akan langsung melemparkan batu bata ke kepala Fabian jika mereka berada di posisi sang tunangan. Beruntung, tunangannya berbaikhati dan tidak memperpanjang masalah dengan menjawab dengan satu huruf "Y". Banyak juga cerita gila Fabian saat menangani para gadis yang menggodanya. Jika dijabarkan, mungkin jumlah kata dari cerita-cerita konyol sang pewaris tunggal keluarga Lin akan mendekati jumlah kata novel karya Moxiang Tongxiu. Masalahnya, hampir semua gadis mendapat penolakan menggelikan darinya. Entah berapa banyak hati para gadis yang telah Fabian remukkan. Namun, Shanaya Yin berbeda. Justru Fabian yang ditolak oleh sang gadis. Benar, karma memang berlaku. Bahkan Fabian pun merasakan bahwa Shanaya Yin selalu ada dalam kepalanya walau ia sudah berusaha mengenyahkan bayangan sang gadis. Itu membuat Fabian frustrasi sekaligus penasaran. Karena baru kali ini ada gadis yang mampu mengacak-acak kewarasannya. Baru kali ini juga ada gadis yang sama sekali tidak menginginkannya. Semua itu membuat percikan api di dadanya berkobar. Sebuah keinginan kuat untuk memiliki, justru berawal dari sebuah penolakan. Suara pintu yang diketuk membuyarkan lamunan Fabian. Saat ia menoleh, sosok Kiel ada di depan pintu dan menatapnya dengan penuh kegelisahan. Tentu, ia tahu Kiel pasti mencari-cari dirinya untuk menyerahkan tumpukan dokumen perusahaan yang ia abaikan saat absen untuk "mengunjungi" Shanaya Yin. Jujur, kadang Fabian pun ingin muntah karena terlalu bosan melihat dokumen yang tak ada habisnya. Tangannya pun kaku karena terlalu banyak bertanda tangan. “Tuan Muda, Nathan Feng telah hadir.” ujar Kiel. Ah, Nathan Feng. Kepalanya kacau hingga ia melupakan jadwalnya bertemu dengan calon bodyguard sekaligus mata-mata. Keadaan Shasha memang perlu dimonitor. Fabian tidak ingin mengambil risiko karena yang ia hadapi sekarang adalah kakeknya sendiri. Jika ia tidak mengawasi Shasha, ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi. “Suruh dia masuk,” ucap Fabian. Di sisi lain, Kiel yang sedari tadi mengamati sang tuan muda, mendapati sifat janggal. Awalnya, saat ia memberitahu Fabian tentang apa yang akan Charles Lin rencanakan, sang tuan muda terlihat begitu marah. Bahkan Kiel pun tak sanggup menerima berbagai macam omelan yang terlempar dari bibir Fabian. Menyalahkan sang asisten tentang mengapa ia tidak memberitahu hal sepenting itu sebelumnya, dan masih banyak lagi ocehan yang membuat telinga Kiel panas. Namun, setelah Fabian kembali dari kunjungannya dari rumah Shanaya Yin, pria itu menjadi lebih pendiam dan wajahnya pun terlihat muram. Kiel tidak tahu pasti. Ia juga tidak ingin tahu-menahu jika ia tidak diminta untuk mengetahuinya. Campur tangan dalam urusan pribadi Fabian bukanlah urusan sepele. Jika salah, bisa saja gajinya dipotong dua per tiga bagian atau mungkin bonus tahunannya akan raib bak ditelan setan. Ia tidak berencana memakan nasi dan minyak cabai untuk beberapa bulan ke depan. Maka, ia pun tahu diri untuk tidak menabur garam untuk luka yang Fabian derita. Walau sebenarnya ia sangat ingin melakukannya. Lagipula, bukankah tingkah Fabian terlalu aneh? Ia sendiri telah menyakiti Shasha hingga titik di mana gadis itu terpuruk dan mendapat tekanan batin. Namun, saat sang kakek ingin menyakiti gadis itu, ia bertindak seperti pahlawan. Untuk apa pria itu memakai dua topeng yang berlawanan jika akhirnya ia juga yang menyeret Shasha dalam neraka dunia? Kiel tidak mengerti jalan pikiran Fabian Lin. Diam-diam, sang asisten menghela napas pelan dan berjalan keluar ruangan. Tentu, wawancara karyawan baru di ruang meeting adalah hal yang tidak lazim. Tapi apa yang bisa Kiel lakukan jika sang tuan muda pun terlalu malas untuk memindahkan pantatnya dari kursi ruang meeting ke kursi ruang kerja pribadinya? Kaki Kiel berjalan perlahan sebelum berhenti tepat di depan pemuda berjas hitam yang kini sudah menggunduli rambutnya. Menipiskan bibir, Kiel merasa sangat kecewa saat Nathan benar-benar memangkas rambutnya sampai tak tersisa. Pria yang lebih muda darinya itu terlihat sangat menawan dengan rambut hitam yang sedikit acak-acakan. Itu adalah pemandangan indah di mata Kiel. Sayangnya, Fabian Lin benar-benar membuat Nathan menagenyahkan rambut yang begitu indah. “Gege....” Suara Nathan pun tidak kalah indah. Mengalun merdu, membuai siapa pun yang mendengarnya. Ah, jangan salah sangka. Kiel tidak memiliki perasaan khusus pada Nathan, hanya saja pria itu sudah mengenal Nathan semenjak ia belia. Sejak dulu, Kiel menginginkan seorang adik laki-laki yang bisa ia ajak berbincang dan mengobrol hingga larut malam. Namun, orangtuanya tidak diberkati dengan anak lain selain dirinya. Itulah mengapa, semenjak ia bertemu Nathan, Kiel langsung menganggapnya sebagai adik. Ya, adik kecilnya yang sangat ia sayangi. Hanya saja, semenjak ia pindah karena pekerjaan, ia sangat jarang bertemu dengan Nathan. Kadang, ia pun merasa resah karena adiknya selalu terlibat dengan hal yang berbahaya. Mengingat bakat Nathan adalah bertarung, sangat berlawanan dengan wajah Nathan yang terlihat lembut. Dari segi wajah pun, Nathan lebih bisa dibilang cantik daripada tampan. Tak jarang saat bocah itu masih kecil, ia bertarung dengan para preman kampung yang mencoba mengganggu karena mengira dirinya adalah seorang gadis. Saat pulang, Kiel langsung shock karena bekas biru dan darah kering yang keliar dari ujung bibir Nathan yang sobek. Walau sudah ditegur berapa kali pun, bocah itu seolah tidak pernah bosan untuk berkelahi. Hingga Kiel pun menyerah dan melayangkan kata-kata yang penuh dengan sebuah keputusasaaan. Asal kau hidup, bertarunglah sepuasmu. Walau begitu, Nathan Feng mempunyai sisi lembut dalam dirinya. Pria itu tidak akan memulai perkelahian jika tidak ada hal yang pantas dibela hingga tubuhnya babak belur. Misalnya saja, saat para preman mengganggu gadis kecil di desa mereka. Atau saat seorang perampok menodongkan pisau ke arah seorang ibu yang menggendong anaknya. Mungkin tangan Nathan terlalu gatal jika mengabaikan semua kejahatan di depan matanya. Secara singkat, pria itu benar-benar pria lembut yang memiliki rasa keadilan yang tinggi. Entah Kiel harus bertepuk tangan bangga atau menangis karena hal ini. Menepuk bahu Nathan, sang asisten pun menatap cemas. Seolah tidak ingin mengirim adik kesayangannya ke kandang singa yang lapar. “Semoga beruntung,” ujar Kiel, walau hatinya masih tak menentu. Sang pria muda hanya mengangguk pelan sebelun tersenyum manis pada Kiel. “Terima kasih, Gege. Melihat semua itu, Kiel merasa bahwa dirinya adalah seorang kakak yang begitu tidak berakhlak. Bagaimana bisa ia mengirimkan makhluk semanis Nathan Feng ke kandang singa macam Fabian Lin? Menangkup wajahnya, sang asisten mencoba untuk tetap menenangkan diri. Sayangnya, setelah punggung Nathan hilang ditelan pintu ruang meeting, panik pun segera melanda. Ia berharap Fabian tidak memberi tes yang kejam. Menggigit bibir bawahnya, Kiel terlihat frustrasi. Meratap dalam sunyi. “Ah, adikku yang manis ... maafkan kakakmu yang kejam ini.” Sementara itu, Nathan yang kini sudah masuk ke dalam ruang meeting langsung menatap satu-satunya pria yang ada di ruangan itu. Saat manik mereka bertemu, pria muda itu langsung tersentak dan langsung memberi salam. “Saya—” “Kau diterima,” potong Fabian Lin seraya menyerahkan sebuah dokumen dan dua buah kunci. “Hari ini kau bisa bekerja. Pekerjaanmu sudah dijelaskan di dokumen, kau bisa membacanya.” Walau masih kebingungan, Nathan meraih dokumen itu lalu menatap Fabian. Secara garis besar ia mengerti bahwa pekerjaannya bukan untuk menjadi bodyguard, melainkan mata-mata. Bukan hal mudah, tapi ia akan mencobanya. Di dokumen itu pun dijelaskan juga mengenai target. Shanaya Yin—gadis biasa yang kini menarik perhatian sang tuan muda. Ah, tidak. Detail itu tidak dijelaskan di dokumen. Hanya saja, Nathan mendengar dari Kiel tentang target yang menjadi sasaran utama pekerjaannya. “Dua kunci di tanganmu adalah kunci rumah dan kunci mobil. Aku sudah mempersiapkan lokasi rumah yang menguntungkan saat kau menjalankan pekerjaanmu.” “Dalam jangka waktu berapa hari saya harus melapor?” Tersenyum, Fabian merasa bahwa pria muda di depannya adalah pribadi yang tanggap. Untuk kali ini, Kiel akan mendapat keuntungan karena pria itu telah mencari pria berbakat macam Nathan. “Setiap hari,” ujar Fabian. “Jika kau tidak memiliki pertanyaan lagi, kau bisa langsung bekerja. Untuk nomor ponsel pribadiku, kau bisa tanyakan Kiel.” Seketika, Nathan mengangguk paham. “Dimengerti.” Baru kali ini, ia diterima saat melamar pekerjaan hanya dengan satu kata. Fabian Lin memang luar biasa. Atau mungkin pria itu sedang kehilangan setengah kewarasannya? Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu mengapa pria itu begitu tergesa untuk mempekerjakannya. *** Hidup mungkin bukanlah hal yang menarik bagi Shasha. Namun, Tuhan telah memberinya nyawa dan tubuh dan membuatnya "hidup" di dunia ini. Tidak ada pilihan lain kecuali menjalani hari-hari walau terasa sulit baginya. Apa yang bisa ia lakukan selain bertahan dan berjuang? Mungkin di luar sana, banyak yang memilih solusi singkat seperti mengakhiri hidup sendiri. Walau memang pernah terlintas di pikiran, Shasha tidak pernah berpikir untuk benar-benar melakukannya. Karena menurutnya, semua hal yang tercipta dan terlahir di dunia ini adalah sesuatu yang berharga. Setiap manusia memiliki misi masing-masing untuk menjawab pertanyaan semacam "mengapa aku diciptakan?" atau "mengapa aku hidup?”. Namun, kematian bukanlah sebuah pencapaian. Kematian adalah akhir dari pencapaian, sebuah peristiwa yang menandakan bahwa misi sebuah nyawa telah tercapai dan terpenuhi di dunia ini. Hingga mereka pun bisa meninggalkan dunia tanpa membawa sebuah penyesalan. Shasha bukan orang yang religius. Walau begitu, ia berusaha untuk melihat sisi indah dari dunia ini. Tuhan tidak hanya menciptakan kegelapan, Dia pun menciptakan cahaya. Hanya saja, kebanyakan manusia tidak bisa melihat seberkas cahaya yang tersembunyi di balik kabut kegelapan yang bernama "keputusasaan" atau "kesedihan". Itu bukan hal yang langka. Semua itu memang pantas dimaklumi, karena setiap hati manusia memang menyimpan kegelapan tersembunyi. Hanya saja, setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda untuk menekan kegelapan yang menelan hati mereka. Menurut Shasha, membiarkan hatinya sendiri ditelan oleh kegelapan bukanlah hal yang patut untuk dibanggakan. Ia boleh menangis. Ia boleh meratap dan mengutuk kehidupan. Ia boleh larut dalam keputusasaan dan kesedihan. Namun, ia tidak boleh menyerah dengan semua kebusukan dunia. Jika takdir kini menginjak-injak kewarasannya, Shasha bersumpah di masa depan, ia akan membalikkan keadaan dan merobek takdir busuknya. Dengan tangannya sendiri, ia akan membuktikan bahwa ia yang akan mengubah nasib dan menulis ulang takdir dengan tinta emas. Yang pasti, ia tidak akan menyerah pada kematian sebelum ia berhasil membalas takdirnya. Di masa depan, ia harus meraih bahagia dan menertawakan takdir busuknya yang telah ia cincang. Ya, hanya bermodal sebuah dendam atas takdir yang membuatnya melangkah sejauh ini. Kembali, kini gadis itu berdiri di depan kaca sembari membenahi kemeja putih yang dipadukan dengan rok span hitam pendek selutut. Tubuhnya mungil, dengan berat badan yang sedikit berada di bawah batas normal. Walau begitu, parasnya terlihat begitu menawan. Bibirnya mungil, namun padat. Manik cokelat bulat dibingkai oleh alis yang melengkung layaknya busur. Rambut kelamnya diikat kuncir kuda, menyisakan beberapa anak rambut yang jatuh di dahinya. Tidak secantik para artis atau anak konglomerat, tapi Shasha memiliki pesona tersendiri di balik penampilan sederhananya. Baru saja ia bermasud untuk beranjak, suara sesuatu yang jatuh membuatnya tersentak. Saat itu juga, ia berlari keluar kamar dan mendapati Ain yang kini tersungkur di samping kursi. Panik pun melanda, tanpa pikir panjang Shasha berlari dan menghambur di samping adiknya. “Ain! Astaga, apa kau baik-baik saja??” ujarnya, sembari membantu sang bocah berdiri. Tak lama, bocah itu bangkit dan tersenyum polos pada kakaknya. “Ain hanya tersandung kaki kursi. Kak Shasha, tolong jangan khawatir. Ain baik-baik saja.” Menipiskan bibir, entah mengapa Shasha merasa khawatir. Walau Ain meyakinkan dirinya sekalipun, perasaan resah tetap mengelayut dalam benaknya. Terlebih, bocah itu terlihat pucat. Manik bulat yang biasanya cerah, kini terlihat sayu. “Kak Shasha, bukannya harus bekerja sekarang? Nanti terlambat, loh,” ujar Ain dengan senyuman lebar. “Tapi, Ain—” “Ada aku di sini, jangan khawatir,” ujar Shannon yang baru saja bangun dari tidurnya. “Kau hanya perlu melakukan yang terbaik untuk hari pertamamu masuk bekerja. Jangan kecewakan Kak Alvin, ok?” Walau ada Shannon pun, Shasha tidak bisa merasa tenang jika bukan ia sendiri yang mengawasi Ain. Sayangnya ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Alvin sudah berbaikhati memberinya kesempatan di restoran milik kenalannya, Shasha tidak mungkin membuang kesempatan ini begitu saja. Lagipula, ia pun membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Ia tidak ingin merepotkan orang-orang di sekitarnya. Menghela napas, Shasha pun tersenyum tipis dan mengangguk paham. “Shannon, aku titip Ain padamu.” “Tentu,” ujar Shannon seraya menepuk lembut kepala Ain. Setelah Shannon menjawabnya, Shasha mengambil mantel bulu dan syal. Gadis itu lalu melangkah ke pintu. Sesampainya di luar, manik bulatnya menatap langit yang berhias butiran salju. Perlahan, bibirnya menipis. Masalah tentang Fabian Lin pun kembali terputar dalam benaknya. Ya, hari ini adalah hari di mana Fabian akan menagih jawaban atas lamaran yang ia terima. Dipenjara atau menikah dengan Fabian. Mengetatkan rahang, entah mengapa d**a Shasha terasa terbakar walau udara dingin di sekitarnya mampu menusuk tulang. Entah apa yang akan ia lakukan untuk menghadapi pria itu. Hutang ayahnya pun terlampau besar hingga ia tidak mungkin bisa membayarnya dalam sekali pembayaran. Fabian pun sama saja, pria itu berusaha memojokkannya agar mau menerina lamaran. Sebenarnya apa yang pria itu cari darinya? Bisakah pria itu mengganti target selain dirinya? Hidupnya sudah hancur, jika Fabian juga ikut dalam upaya penghancuran kehidupannya, bagaimana bisa ia bertahan? Untuk sejenak, Shasha meratapi kesialannya. Segera mungkin, ia harus memikirkan bagaimana caranya lari dari genggaman Fabian Lin. Jika tidak ... skenario paling buruk dalam hidupnya benar-benar akan terjadi. *** Nathan Feng. Satu nama terpampang di layar ponselnya. Saat suara ponsel yang berdering membelah kesunyian, semua orang di ruang meeting langsung bungkam. Apalagi saat sang bos tak mengindahkan keberadaan mereka dan menerima panggilan telepon tanpa adanya rasa berdosa. Semua orang langsung membeku dan tercengang. Sang pemimpin yang sangat keras dengan peraturan perusahaan, kini melanggar peraturan?? Ah, layaknya keajaiban telah terjadi. “Tuan Muda, Nona Shasha hari ini mulai bekerja di salah satu restoran.” Seketika, seringai Fabian terbentuk. “Kirimkan lokasinya.” “Baik, Tuan Muda.” Suasana masih hening, hingga sebuah notifikasi pesan masuk terdengar. Saat itu pula Fabian melebarkan seringainya, membuat semua orang menggigil ketakutan. Mungkin, bagi orang lain seringai Fabian setara dengan rupa iblis yang sering membisikkan dosa pada manusia. Tentu saja, paras Fabian lebih menawan dari para iblis. Namun, semua itu tidak menghapus kesan horor di raut wajahnya. “Kiel,” panggil Fabian seraya bangkit dari singgasana. “Ada apa Tuan Muda?” jawab Kiel yang juga masih bingung. “Siapkan mobil, mari kita mengunjungi Shanaya Yin.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD