Bab 6 - Mengatur Ulang Rencana Pembalasan

2056 Words
“Udah pada lapar ya,” ujar Nirmala sambil tersenyum ke arah Aksa dan Lola. “Eh, iya, Ma.” Aksa mengusap tengkuhnya, lalu lebih dulu menjauhi Lola dan melangkah memasuki dapur. “Sabar ya, sebentar lagi selesai kok,” kata Nirmala sambil sibuk menyiapkan beberapa hal. Aksa mengangguk. Bibirnya terus tersenyum bersamaan dengan kakinya yang terus melangkah mendekati Sabrina. Matanya hanya tertuju pada perempuan itu, memberi arti bahwa hanya Sabrina yang ada di matanya. Dulu, Sabrina mungkin akan berbunga-bunga dan merasa tersanjung dengan sikap Aksa yang seperti ini. Namun sekarang, semua tidak ada artinya lagi. “Kamu habis habis makan apa sih, Yang?” tanya Aksa terkekeh. Tangannya tiba-tiba terangkat dan menyentuh sudut bibir Sabrina. “Sampai belepotan gini.” “Semur ayam,” jawab Sabrina sambil memalingkan muka. Tiba-tiba saja hatinya berdebar atas perlakuan Aksa barusan. Sabrina mengutuk dirinya sendiri. Ternyata ia masih begitu lemah atas sikap manis Aksa terhadap dirinya. Dasar bodoh. Apa yang masih kamu harapkan dari pengkhianat ini, Sabrina? tanyanya pada diri sendiri. “Hei, Anak Muda. Jaga sikap ya. Jangan lancang kamu,” kata Nirmala saat melewati mereka. Ia memberi tatapan peringatan pada putranya. “Colek-colek anak gadis orang di depan Mama pula.” Aksa nyengir pada ibunya. Wanita itu tampak masih sibuk membuka beberapa kabinet lalu menyusun barang-barang yang diambilnya ke atas pantry. Di sisi lainnya, Lola masih berdiri diam di ambang pintu dapur sambil memperhatikan mereka. Sabrina tersenyum tipis melihat sikap Nirmala pada anaknya barusan. Ia tahu bahwa kedua orangtua Aksa berupaya sangat baik mendidik anak-anak mereka agar menjadi laki-laki terhormat. Sayangnya, kedua orangtua Aksa tidak tahu apa yang telah putra mereka lakukan pada Sabrina sebelum ini. Sejujurnya Sabrina jadi semakin penasaran, apa yang akan terjadi jika kedua orangtua Aksa mengetahui kelakuan putra mereka. Bahkan sampai membuat Lola hamil. Sayangnya saat ini ia belum punya cukup bukti untuk membongkar hal tersebut. Lagi pula, Sabrina juga belum tahu apakah saat ini Aksa dan Lola sudah berbuat sejauh itu atau belum. Saat ini masih dua tahun lebih awal dari insiden tersebut. Tapi Sabrina tebak mereka berdua memang belum berbuat sejauh itu. “Aksa, sini bantu bawa ini ke meja makan,” ujar Nirmala. “Iya, Ma,” ujar Aksa setengah hati. “Panggil Kak Arya sekalian dong, Ma. Biar dia bantu-bantu juga.” Laki-laki itu menatap ibunya dengan tatapan protes karena kali ini pun hanya Nararya yang tidak dilibatkan oleh sang ibu untuk membantu-bantu mereka. Hal seperti ini sudah sering sekali terjadi. “Kakak kamu baru pulang semalam. Kasihan kalau disuruh-suruh, biar dia istirahat dulu.” Wajah Aksa masih tertekuk tidak suka. “Mama sama Papa sih, semua beban kerja di luar kota diserahin ke Kak Arya. Coba kalian izinin aku juga ambil bagian.” Nirmala menatap putranya yang kini meraih mangkuk berisi semur ayam. “Kamu kan masih harus belajar dari bawah dulu, Nak. Sekarang masih terlalu awal untuk kamu sibuk seperti kakakmu.” Aksa menaikkan alis, lalu mengangkat bahu. Ia kemudian membawa mangkuk berisi semur ayam keluar dari dapur. “Anak itu, benar-benar nggak sabaran,” gumam Nirmala. Sabrina yang berada di sana hanya diam. Ia tahu bahwa Aksa pernah mengeluh bahwa orangtuanya seolah hanya memercayai Nararya untuk memegang peran penting di perusahaan, sementara dirinya masih harus memulai dari level suvervisor. “Nanti saya bantu bicara sama Aksa ya, Tante,” ujar Sabrina sambil tersenyum menenangkan. Nirmala menoleh padanya, lalu tersenyum tipis. “Makasih ya, Sayang.” Sementara itu, Lola yang sejak tadi tidak dianggap, akhirnya memilih menyingkir dari sana dan menyusul Aksa. Hatinya sakit sekali melihat Nirmala yang benar-benar mengacuhkan keberadaannya sejak Sabrina muncul di dapur dan merebut perhatian wanita itu. *** “Kamu kenapa?” tanya Sabrina seraya menoleh ke samping kanan. Aksa yang duduk di balik kemudi tampak lebih banyak diam. “Kamu sebel sama Kak Arya ya?” tanya Sabrina lagi. Kali ini tangannya terulur dan menyentuh lengan kiri Aksa. Laki-laki itu menoleh ke samping, lalu tersenyum tipis pada Sabrina. “Kita antar Lola dulu ya. Habis itu aku temenin kamu biar nggak bad mood.” Ucapan Sabrina barusan langsung membuat Aksa kembali menoleh dengan ekspresi terkejut. Pasalnya, tidak pernah sekali pun Sabrina bersikap seperti ini. Bukannya Sabrina tidak perhatian, hanya saja sulit sekali bagi Aksa untuk mengajak Sabrina keluar rumah hanya berduaan saja dengannya. Hal tersebut tidak hanya membuat Aksa terkejut, melainkan Lola yang duduk di bangku penumpang belakang pun juga sama terkejutnya. Selama ini yang mengisi ruang kosong yang tidak bisa dipenuhi oleh Sabrina adalah dirinya. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba saja Sabrina bersikap seperti ini? “Nanti Papa marah lho kalau kamu pulang malam-malam dan pergi berduaan aja sama Kak Aksa,” ujar Lola tiba-tiba. Sebenarnya jauh di dalam hati kecilnya sama sekali tidak rela jika Sabrina pergi berduaan saja dengan Aksa. Sabrina menoleh ke belakang, lalu tersenyum. “Nggak apa-apa. Aku sudah dewasa, sudah saatnya Papa berhenti mengkhawatirkan aku. Lagian kamu juga sering kan keluar malam sama teman-teman kamu, dan Papa juga nggak masalah soal itu.” Lola seketika mengatupkan mulutnya. Melihat itu, Sabrina kembali tersenyum dan berkata, “Nanti kamu bilang aja sama Mama dan Papa kalau aku keluar sebentar sama Aksa ya. Kasihan kalau nggak ditemani, nanti suasana hatinya terus memburuk sampai pulang ke rumah.” Karena tidak ada lagi yang bisa ia jadikan alasan untuk menahan Sabrina agar tidak pergi dengan Aksa, Lola pun akhirnya mengangguk pasrah. Setengah jam kemudian mobil yang mereka kendarai memasuki kompleks perumahan yang menjadi kediaman Sabrina dan Lola. Setelah melewati tikungan pertama, beberapa meter kemudian mobil tersebut pun berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan halaman yang tampak asri. Langit sudah berubah jingga ketika Lola turun dari mobil dan Sabrina pun membuka jendela kaca di sebelah kirinya. “Aku nggak akan pulang kemalaman kok. Sampaikan ini pada Mama dan Papa ya,” kata Sabrina tersenyum. Ketika Lola mengangguk pasrah, Aksa pun kembali menjalankan mobil. Membuat Lola hanya bisa menyimpan amarah melihat mobil yang telah meninggalkannya berdiri di depan pagar rumah seperti orang bodoh. *** Aksa memandangi Sabrina yang duduk di depannya dengan dahi berkerut. Hari ini kekasihnya itu tampak sedikit berbeda. Sabrina tidak seperti biasanya. “Kamu yakin nggak akan dimarahin orangtua kamu?” tanya Aksa. Akhirnya ia bertanya juga karena penasaran. Selama ini Sabrina selalu menolak saat ia ajak keluar di malam hari. Jadi jika mereka harus bertemu di jam malam, Aksa akan menemui Sabrina di rumahnya. Papa bilang aku nggak boleh pergi sama laki-laki berduaan aja kalau malam-malam. Nanti Papa marah. Di rumah aja ya. Dan segudang alasan penolakan lainnya yang membuat Aksa sebal. Tapi kali ini, entah kenapa Sabrina tiba-tiba berubah. Tidak mungkin kan bahwa gadis ini mengendus hubungan gelapnya bersama Lola hingga berbuat seperti ini? Sabrina memandang laki-laki itu, lalu tersenyum. “Nggak apa-apa. Papa pasti ngerti. Aku lebih peduli dengan kamu yang masih bete sama Kak Arya.” Tangan Sabrina terulur di atas meja, lalu menggenggam tangan Aksa. Laki-laki itu benar-benar dibuat terkejut dengan tindakan tersebut. “Sabar ya. Kamu pasti bisa menyaingi Kak Arya juga nantinya. Bahkan lebih dari dia,” kata Sabrina sambil menatap Aksa. Hati laki-laki itu tiba-tiba berdesir. Pacarnya yang dulu sangat naif, kini memancarkan aura kedewasaan yang berbeda. “Nanti di rumah abaikan aja keberadaan dia. Nggak usah diambil hati,” kata Sabrina lagi. Tadi saat mereka makan siang, Aksa kembali menyindir Nararya yang muncul di meja makan dengan wajah letih, tapi terus-terusan dipuji-puji oleh ibu mereka. Sindiran itu tidak berpengaruh apa-apa pada sang kakak, andai ibu mereka tidak ikut campur dan membela Nararya. Pembelaan itulah yang membuat Aksa jengkel dan suasana hatinya memburuk sejak selepas makan siang tadi. Tiba-tiba saja rasanya Aksa ingin memeluk gadis di hadapannya ini. Tapi sayangnya saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe. Rasanya tidak etis melakukan hal tersebut di area terbuka seperti ini. Lagi pula Sabrina juga mungkin saja terkejut dan berubah kaku seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya jika Aksa tiba-tiba memeluknya. Hei… Tapi tadi Sabrina sendiri sudah berani memeluknya saat mereka sedang berada di kolam renang. Saat ini pacarnya itu pasti sudah berubah. Aksa menatap kekasihnya. Mata mereka bertemu. “Makasih ya,” bisiknya lalu membalas genggaman tangan Sabrina. Sabrina tersenyum tipis, membuat wajah ayunya tampak bertambah cantik berkali-kali lipat. Aksa tahu Sabrina cantik, baik, dan perhatian. Tapi kali ini, rasanya hal tersebut jadi bertambah berkali-kali lipat. Seolah hari ini Sabrina mengenakan jubah baru yang membuat Aksa merasa semakin nyaman berada di dekatnya. “Aku bisa mengerti, dibanding-bandingkan itu nggak enak memang,” kata Sabrina. Aksa mengangguk. “Apa kamu sering dibanding-bandingkan sama Lola?” Sabrina menaikkan alis mendengar pertanyaan tersebut. Tapi kemudian ia tersenyum tipis dan menggigit bibirnya. “Ada sih, dulu orang bilang aku harus lebih aktif seperti Lola. Jangan terlalu kaku dan penyendiri. Dulu bahkan ada yang bilang kenapa aku bisa dapat pacar kayak kamu, sementara aku sendiri nggak begitu aktif bersosialisasi dengan yang lainnya.” “Hei… Kamu tahu kan kenapa aku suka sama kamu. Nggak perlu dengerin ucapan orang,” ujar Aksa lembut. Sabrina mengangguk. “Iya, aku nggak terlalu ambil hati kata-kata itu kok.” Dulu ia dan Aksa mulai dekat sejak sering bertemu di perpustakaan kampus. Aksa saat itu adalah senior Sabrina di kampus. Aksa yang nongkrong di perpustakaan untuk tidur bertemu dengan Sabrina yang menyendiri untuk membaca buku. Spot favorit mereka berdua adalah meja di pojok kanan yang berada di dekat rak paling belakang. Suatu hari, saat menyadari siapa laki-laki yang sering tidur di meja sebelahnya, Sabrina mulai merasakan debaran aneh. Aksa mirip sekali dengan bocah laki-laki yang dulu tinggal satu kompleks dengannya dan menyelamatkan Sabrina dari kejaran anjing. Sementara Aksa sendiri, menyadari bahwa tempat nongkrongnya menjadi sorotan seseorang pun akhirnya menyadari bahwa ada gadis cantik yang sering kali mencuri-curi pandang ke arahnya saat sedang tidur. Aksa pun mulai memberanikan diri untuk mengajaknya mengobrol. Dan saat Sabrina bertanya apakah dulu Aksa pernah tinggal di kompleks yang gadis itu sebutkan, Aksa pun langsung mengiyakan karena memang kompleks tersebut adalah rumah pertamanya sebelum dibawa pindah ke rumah yang sekarang. Sejak saat itu, mereka jadi sering bertegur sapa dan Sabrina bahkan membawakan Aksa sebuah bantal leher untuknya di akhir minggu pertama perkenalan mereka. Hal tersebut terus berlanjut hingga akhirnya mereka saling bertukar nomor telepon, dan tidak lagi hanya bertemu di perpustakaan. Bagi Sabrina, Aksa adalah laki-laki cinta pertamanya. Bagi Aksa, Sabrina adalah warna baru dalam hidupnya. Melihat ketenangan Sabrina dan kebaikan gadis itu membuatnya menjadi jatuh hati dan takut jika Sabrina dimiliki orang lain. Sementara Lola, bagi Aksa gadis itu hanya kesenangan sesaat ketika ia sendiri tidak bisa mendapatkan hal tersebut dari Sabrina yang agak kaku dan naif. *** Hampir pukul delapan malam, Aksa mengantar Sabrina pulang. Setelah melepas sabuk pengamannya, Sabrina menoleh pada Aksa. “Janji ya nanti di rumah kamu bakal ngacuhin Kak Arya. Jangan bikin ribut sama dia,” ujar gadis itu. Aksa mengangguk dan tersenyum tipis. Sabrina tersenyum, lalu bergerak maju mencondongkan tubuhnya ke arah Aksa. Lalu tiba-tiba saja ia mendaratkan satu kecupan di pipi laki-laki itu, membuat mata Aksa melebar karena terkejut. “Semangat…” Sabrina tersenyum tanpa dosa, lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar dari sana. Aksa mengerjap. Barusan itu apa? Sabrina menciumnya? Yang benar saja! Dulu saat Aksa ingin menciumnya, Sabrina pasti akan memalingkan muka dan menghindar. Tapi sekarang… Ketika menyadari bahwa Sabrina sudah turun dari mobilnya, Aksa pun buru-buru melepas sabuk pengaman. Ia segera beranjak turun dan menyusul Sabrina. “Kenapa ninggalin aku,” kata Aksa sembari menjajari langkah Sabrina yang baru saja melewati pagar. “Aku kan harus minta maaf sama papa kamu karena sudah bawa anak gadisnya keluar sampe semalam ini.” “Aku nggak ninggalin kamu kok,” kata Sabrina sambil tersenyum menggoda. Hati Aksa berdesir. Ini benar-benar baru untuknya. Sabrina yang sebelumnya tidak pernah seperti ini. Sementara di sisi lainnya, melihat Aksa yang masuk ke dalam jebakannya membuat Sabrina benar-benar merasa puas. Ia tahu, di teras lantai dua Lola tengah berdiri di balik jendela dan mengamati mereka. Ternyata pengaturan ulang rencana balas dendamnya tidak terlalu buruk. “Kamu sudah berani menggodaku ya,” kata Aksa. Tangannya lalu terangkat dan mengusap puncak kepala Sabrina. Sabrina hanya terkekeh pelan. Hal itu jelas tampak sebagai respons yang ia berikan pada Aksa, padahal sebenarnya ia sendiri tengah menertawakan Lola yang sudah bisa dipastikan merasa panas melihat apa yang sudah Sabrina lakukan di mobil tadi. Tapi ini belum apa-apa. Pembalasan lainnya akan segera menyusul. Akan Sabrina pastikan Lola dan ibunya menerima balasan dan wajah asli mereka akan segera terungkap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD