Bab 7 – Ketidakadilan

2134 Words
“Masuk dulu yuk,” ajak Sabrina. Ia dan Aksa telah sampai di depan pintu bagian depan kediaman Sabrina. Aksa tersenyum, tapi sebelum ia sempat menjawab ucapan Sabrina, pintu depan tiba-tiba terbuka. “Malam, Om,” sapa Aksa sambil mengangguk hormat. Sabrina sontak menoleh ke belakang dan menemukan ayahnya yang kini tengah berdiri di ambang pintu. “Malam, Aksa,” balas Bayu sambil tersenyum tipis. “Maaf ya, Om, saya bawa Sabrina keluar dulu tadi. Jadi pulangnya sedikit telat,” ujar Aksa. Bayu tersenyum dan mengangguk. “Nggak apa-apa.” Melihat reaksi ayahnya yang biasa saja, Sabrina pun seketika tersenyum senang. “Ayo, masuk dulu,” ajak Sabrina lagi. Aksa menatapnya ragu. “Hmm… Udah malam. Kamu istirahat gih.” Sabrina menatap Aksa yang menolaknya. “Nanti aku telepon,” ujar Aksa lagi. Sabrina akhirnya mengangguk. “Saya permisi dulu, Om.” Aksa pun pamit untuk undur diri. “Malam, Sayang,” ujarnya pada Sabrina. Aksa pun berbalik, lalu melangkah menjauhi mereka. Sabrina dan Bayu masih berdiri di tempat mereka masing-masing hingga Aksa masuk ke mobil dan pergi. “Ayo masuk,” ajak Bayu setelah mobil Aksa melaju dari depan rumah mereka. Sabrina mengangguk, lalu mengikuti ayahnya. Akan tetapi, baru saja ia tiba di ruang tamu, Bayu yang telah berjalan lebih dulu seketika membalik badan dan menatap Sabrina dengan ekspresi marah. “Ke mana saja kamu baru pulang jam segini?” Sabrina yang tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti ini dari ayahnya seketika terkejut. “Lho, Pa, aku kan udah kirim pesan kalau akan makan malam sama Aksa,” jawab Sabrina. Sikap ayahnya barusan sangat kontras sekali dengan saat bersama Aksa tadi. “Perempuan pergi sama laki-laki dan baru pulang jam segini?” kata Bayu. “Pa, ini baru jam delapan. Dan kami juga cuma makan malam bareng kok,” balas Sabrina membela diri. “Lola sudah di rumah sejak sore tadi. Apa kalian pergi makan malam sampai berjam-jam? Jam lima sampai jam delapan malam itu nggak sebentar.” Sabrina memandangi ayahnya bingung. “Selain makan, kami ngobrol-ngobrol, Pa. Aksa lagi bad mood gara-gara kakaknya. Tiga jam doang kan nggak lama.” “Tiga jam cukup lama untuk keluar berduaan dengan laki-laki,” balas Bayu. “Kamu itu perempuan, kamu sadar kan?” “Ya ampun, Pa. Aku kan sudah dewasa, sudah bisa jaga diri juga. Papa khawatirnya berlebihan deh.” Meski heran dengan sikap ayahnya kali ini, Sabrina masih mencoba bersabar dengan mengajaknya bercanda. “Sejak lulus, kamu sudah berani membantah ya. Kalau begini seharusnya Papa paksa saja kamu kuliah di kedokteran.” “Pa…” Sabrina memandangi ayahnya heran. “Kok jadi bahas itu lagi?” “Karena sepertinya kamu nggak bisa diberi kebebasan. Sekarang lihat, kamu sudah mulai berani membantah dan melanggar aturan semaunya.” “Pa… Aku juga baru kali ini kok pulang malam. Dan Aksa pun tadi antar aku sampe depan rumah dalam keadaan baik-baik saja.” “Ya, tapi siapa yang tahu apa yang sudah kalian berdua lakukan selama tiga jam hanya berduaan saja tanpa ada yang melihat.” Mulut Sabrina terbuka karena terkejut. Ayahnya kali ini benar-benar tidak masuk akal. “Aku baru kali ini pulang malam, Pa. Lola bahkan lebih sering pulang lebih larut,” kata Sabrina. Ia jadi tidak rela jika hanya dirinya saja yang mendapat teguran. “Lola belajar sama teman-temannya. Dia ngerjain tugas. Jangan bawa-bawa adik kamu dalam situasi ini,” bantah Bayu. “Tapi kan sama-sama pulang malam,” bantah Sabrina juga. “Kalau Lola aja boleh, kenapa aku nggak?” “Situasinya berbeda. Kamu pergi sama pacar kamu, Lola pergi sama teman-temannya.” Di balik tembok ruang tengah, Lola yang tengah menguping perdebatan ayah dan anak itu pun tersenyum. Rencananya memanas-manasi Bayu sejak pria itu pulang kerja tadi akhirnya berhasil. Sabrina sekarang kena getahnya. Itulah yang harus perempuan itu terima karena memonopoli Aksa darinya secara berlebihan hari ini. “Jadi Lola boleh dan aku nggak? Begitu?” tanya Sabrina. Matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya sakit sekali karena lagi-lagi ayahnya bersikap berat sebelah. “Apa Papa punya bukti kalau dia memang pergi dengan teman-temannya? Bisa aja kan dia pergi dengan laki-laki lain, atau mungkin jadi selingkuhan kekasih orang di luar sana.” Karena emosi, Sabrina akhirnya kelepasan bicara. Mendengar itu, Lola pun sedikit terkejut. Ia kini mulai bertanya-tanya, apakah Sabrina tahu mengenai hubungannya dengan Aksa? “Kamu jangan bicara sembarangan. Lola kan kuliah satu tahun lebih telat dari kamu, dia masih mahasiswa. Ada banyak tugas yang harus dia kerjakan. Mana sempat pacar-pacaran seperti kamu.” Sabrina menggigit bibirnya. Ayahnya memang akan tetap memenangkan Lola di atas dirinya. “Papa memang nggak akan pernah percaya kan sama aku. Papa selalu saja membela Lola.” Mendengar suara putrinya yang bergetar dan matanya yang berkaca-kaca, hati Bayu seketika bagai tercubit. Seketika ia sadar sudah bersikap berlebihan pada putrinya. “Bukan begitu maksud Papa. Kamu dan Aksa sudah cukup lama menjalin hubungan. Papa khawatir kalian kebablasan,” ujar Bayu dengan suara melunak. “Papa nggak usah khawatir. Aku akan minta Aksa melamarku segera. Jadi nanti Papa nggak perlu mikirin yang nggak-nggak dan khawatir terus setiap kali aku keluar sama Aksa,” kata Sabrina. Bayu seketika terkejut dengan ucapan putrinya barusan. Hal yang sama juga terjadi pada Lola yang tengah menguping. Aksa melamar Sabrina? Tidak akan ia biarkan. Lola mengepalkan tangannya dengan erat. “Malam, Pa.” Tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka, setelah mengatakan itu Sabrina pun segera melangkah meninggalkan ayahnya sendirian di sana. Menyadari bahwa Sabrina akan segera lewat, Lola pun buru-buru bersembunyi di balik lemari pajangan yang ada di sana. Ia melihat Sabrina yang berjalan cepat menuju tangga, dan menyadari bahwa ibunya juga berdiri menguping perdebatan ayah dan anak itu dari bawah tangga. Ketika mata mereka berpapasan, Sekar menyunggingkan senyum pada Lola. *** “Papa, aku mau yang warna biru,” ucap Sabrina kecil. “Eh, aku yang biru aja deh. Sabrina boleh ambil yang warna cokelat,” kata Lola. “Tapi kan—” “Berikan ke Lola saja ya, Nak. Dia kan baru tinggal di rumah ini. Biar dia nyaman,” bujuk Bayu. Akhirnya, dengan berat hati Sabrina pun merelakan boneka beruang berwarna biru favoritnya itu pada Lola. Sabrina menghapus air matanya. Ia menatap iba pada pantulan dirinya di cermin. Sejak dulu ayahnya selalu memintanya mengalah pada Lola. Rasanya Sabrina sudah banyak mengalah, tapi kenapa tidak pernah sekali saja Bayu memikirkan perasaan Sabrina? Siapa yang sebenarnya anak kandung di sini? Apakah karena hal ini sudah menjadi kebiasaan sehingga apa pun yang terjadi, Sabrina harus mengalah pada Lola? Bahkan kali ini pun Lola juga menginginkan kekasihnya. “Pacarmu tampan sekali, Sabrina. Anak orang kaya pula. Pertahankan hubungan kalian ya, Mama ingin punya menantu seperti Aksa. Lola nanti cari pacar seperti Sabrina ya, ganteng, baik, anak orang kaya pula.” Itu yang dulu dikatakan Sekar sepulangnya Aksa dari rumah mereka. Saat itu adalah kali pertama Sabrina mengenalkan laki-laki itu pada keluarganya. Dulu Sabrina selalu berpikiran positif pada sang ibu tiri sehingga mengabaikan nada materialistis di dalam ucapannya. Waktu itu ia benar-benar berpikir bahwa Sekar hanya bercanda. Toh ayah Sabrina sendiri adalah direktur di rumah sakit milik keluarga besar mereka. Jadi rasanya hidup mereka tidak akan kekurangan. Tapi setelah kejadian yang menimpanya kemarin, semuanya mulai terlihat. Dan itu menyakiti hatinya semakin dalam. Sekar dan Lola sama saja. Sama-sama materialistis dan perebut suami orang. Sekar merebut ayahnya dari sang ibu, dan Lola merebut Aksa yang akan segera menjadi calon suami Sabrina. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Apakah kali ini Lola akan berhasil merebut Aksa darinya? Tidak! Kali ini Sabrina tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika di kehidupan sebelumnya Lola berhasil melangkahinya dengan hamil anak Aksa, di kehidupan kali ini Sabrina tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Di kehidupan sebelumnya, pernikahan Sabrina dan Aksa akan dilangsungkan dua tahun dari sekarang. Tapi saat ini Sabrina justru mempercepatnya. Artinya, Lola yang akan hamil dua tahun lagi tidak akan bisa melakukan itu sekarang. Tapi… Sabrina sendiri tidak yakin untuk menikah dengan Aksa. Ia tidak tahu sudah sejauh apa perselingkuhan laki-laki itu dengan Lola. Dan Sabrina tidak ingin menikahi laki-laki tukang selingkuh. Akan tetapi, jika ia tidak mengikat Aksa dari sekarang, maka ia akan kembali dilangkahi Lola di masa depan. Ya Tuhan, apa yang sebaiknya ia lakukan? Ia kembali ke masa sekarang bukan tanpa alasan bukan? *** “Aku masih di jalan, Sayang,” ujar Aksa. Tangannya mengendalikan kemudi, sementara matanya fokus ke depan ke arah jalan raya. “Pokoknya aku mau kamu ganti waktu kita yang terbuang. Kamu aja bisa jalan sama Sabrina sampai malam begitu, aku kan juga mau. Aku kangen sama kamu,” rengek Lola dari seberang telepon. Aksa menghela napas panjang. Terkadang, inilah yang kerap kali membuat Aksa dihimpit rasa penyesalan. Keisengannya bermain api dengan Lola sering kali berakhir dengan membuatnya pusing. Lola selalu banyak menuntut, tidak seperti Sabrina yang tenang dan penuh pengertian. Tapi Lola benar-benar pandai merayu dan menggoda. Aksa tidak kuasa menolaknya. Apa lagi ia tidak pernah mendapatkan itu dari Sabrina. Namun, hari ini Sabrina sedikit berubah. Kekasihnya itu juga tampak mulai lebih agresif dari biasanya. Apa sebaiknya ia akhiri saja hubungan gelapnya dengan Lola? Toh sekarang Sabrina sudah mulai berubah ke arah yang ia harapkan. “Sayang… Kamu dengerin aku nggak sih?!” Suara bentakan Lola yang merajuk membuyarkan pikiran Aksa tentang Sabrina hari ini. “Eh, iya. Sabar dong, aku lagi konsentrasi nyetir nih.” “Ya udah, nanti kalau sudah sampe rumah telepon aku ya,” kata Lola. “Love you.” Lalu panggilan tersebut diputus begitu saja. Aksa seketika melepas earpiece sambil menghela napas panjang. Bagaimana caranya ia memutuskan hubungan terlarangnya dengan Lola? Perempuan manja dan keras kepala seperti Lola sulit sekali diusir pergi. Haahhh… Ini memang salahnya. Ia yang sejak awal mengundang perempuan itu masuk ke dalam hidupnya. Ponsel Aksa lagi-lagi berbunyi. Tanda masuknya sebuah panggilan telepon. Ia hendak mengabaikan panggilan tersebut, tapi ketika melirik caller ID penelepon adalah Sabrina, Aksa pun kembali memasang earpiece dan menghubungkan telepon mereka. “Hai, Sayang,” sapa Aksa sambil tersenyum. “Kamu sudah di rumah?” tanya Sabrina. Dahi Aksa seketika berkerut ketika mendengar suara Sabrina yang terdengar berbeda. “Sayang, suara kamu kenapa? Kamu habis nangis?” tanya Aksa. Ia mengarahkan setirnya ke kiri, dan melajukan mobilnya melewati gerbang perumahan. “Kamu masih di jalan ya?” tanya Sabrina tanpa menjawab pertanyaan Aksa. “Sebentar lagi sampe kok. Ini aku udah melewati gerbang. Kamu kenapa, Yang?” tanya Aksa lembut. “Kamu pasti habis nangis kan?” Terdengar suara Sabrina membersit hidung. “Kapan kamu melamar aku?” Aksa yang semula menjalankan mobil dengan kecepatan standar seketika mengerem mendadak. “K-kamu kenapa? Aksa… Kamu dengar aku kan?” Mendengar decitan ban mobil Aksa yang mengerem mendadak, Sabrina seketika panik. “Nggak apa-apa… Di depan tadi ada kucing lewat. Hampir aja kegilas,” ujar Aksa berbohong. Ia tidak ingin tahu bahwa ucapan Sabrina barusan berhasil membuatnya terkejut. Aksa pun mengarahkan mobilnya ke bahu jalan untuk berhenti. Ia tidak boleh menyetir sekarang. “Kenapa tiba-tiba kamu bicara begitu?” tanya Aksa lagi. “Aku pasti bikin kamu kaget ya. Maaf… Lupakan saja.” “Hey… Sayang… Aku nggak kaget. Aku cuma bingung, kenapa kamu tiba-tiba membahas hal itu,” kata Aksa. Terdengar tarikan napas yang dalam dari Sabrina di seberang sana. “Papa marah karena aku pergi berduaan sama kamu sampe malam.” “Lho, tadi pas aku antar kan baik-baik saja.” “Iya, makanya aku jengkel. Pas kamunya pulang, Papa ngomelin aku. Karena itu aku bilang akan minta kamu melamar aku secepatnya biar Papa nggak mikirin kita macem-macem lagi.” Aksa membuka mulutnya, lalu mengerjap. “Maaf ya. Aku rasa ini memang bikin kamu kaget karena tiba-tiba banget,” kata Sabrina lagi. “Nggak apa-apa kok.” Aksa tidak sampai hati mengakui bahwa ia memang terkejut. Sabrina tidak dalam kondisi yang baik saat ini. Hening sejenak di antara mereka, hingga akhirnya setelah berhasil lebih tenang, Aksa pun kembali berkata, “Tapi aku belum cukup mapan. Aku nggak punya modal apa-apa untuk ditawarkan saat mengadap ayah kamu.” “Nggak apa-apa. Kita bisa tunangan dulu supaya Papa tahu kalau kamu serius sama aku,” kata Sabrina. “Hmmm… Oke. Aku akan bicarakan ini sama keluargaku dulu ya. Mama pasti akan senang mendengarnya,” ujar Aksa. “Tapi… Kamu nggak keberatan kan? Atau kamu—” “Nggak kok. Aku sama sekali nggak keberatan. Hanya saja, karena aku masih belum cukup mapan yang membuatku belum punya cukup keberanian saat ini. Tapi aku akan coba, supaya papa kamu tahu kalau aku serius sama kamu.” Sejujurnya Aksa panik. Ia tidak menyangka akan secepat ini menjajaki hubungan mereka ke tingkat yang lebih lanjut. “Makasih ya,” ujar Sabrina lembut. “Sama-sama, Sayang. Kamu jangan nangis lagi ya,” bujuk Aksa. Sepertinya sekarang ia benar-benar punya alasan untuk mengakhiri hubungannya dengan Lola. Semoga saja perempuan itu tidak menambah masalah dan bisa diajak bekerjasama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD