Rara sudah bersiap dengan kostum yang disarankan oleh Egi, sekretaris pribadi Vano.
“Mbak, atasannya masih muda gini. Siapa tahu suka sama Mbak,” kata Chika membuka pembicaaraan. Ia melihat foto Tara di ponsel kakaknya yang dikirim oleh Egi.
“Jangan ngaco, udah ada anak dan istri, mau Mbak mu jadi pelakor?” Rara mengomeli adiknya.
“Kirain, tapi ganteng memang Mbak,” kata Chika memprovokasi Rara.
“Kuliah yang bener baru mikirin yang ganteng-ganteng,” omel Rara kepada adiknya.
“Lihat doang kan gak masalah, Mbak. Eh, ini dompetnya belum dimasukkan,” kata Chika menyusul kakaknya ke meja makan.
“Tumben Mbak sarapan nasi, biasa juga cuma kopi sama roti,” ucap Chika membantu kakaknya memasukkan beberapa barang kebutuhan Rara ke dalam tas.
“Hari ini beda, anaknya Pak Gunawan mau kenalan sama kita-kita karyawannya,” ucap Rara sambil mengecek penampilannya di cermin besar di sudut ruangan.
“Oh, yang Mbak gak jadi ketemu orangnya waktu di Singapore itu bukan?” tanya Chika penasaran.
“Betul, denger-denger orangnya ngeselin dan galak, makanya mbak disarankan sarapan yang banyak sama Mbak Egi biar kuat ngadepin dia,” kata Rara terkekeh.
“Ah, ada-ada saja. Nakut-nakutin doang kali Mbak,” ucap Chika tidak percaya.
“See, nanti mbak cerita setelah pulang. Kamu sudah dapat formulir pendaftarannya?” tanya Rara mengenai rencana kuliah adiknya.
“Sudah isi dan kirim, Chika ambil jurusan Management Bisnis, gimana Mbak?” tanya Chika kembali.
“Boleh aja, terserah kamu, mbak jalan dulu. Ingat, siapapun yang bertamu cek dulu yah, jangan langsung buka pintu, ini Jakarta bukan di kampung kita,” ucap Rara mengingatkan adiknya.
“Iya Mbak, hati-hati dijalan,” jawab Chika sambil menutup pintu apartemen.
Rara sudah dalam perjalanan ke bandara, info yang didapatkan dari Egi, kurang lebih dua jam lagi Gunawan dan anaknya landing dari Singapore. Ia membawa mobil kantor yang sudah ia bawa pulang kemarin atas izin dari Vano untuk memudahkan dirinya.
“Mobil bagus, kapan gue punya ini,” gumam Rara menikmati mengendarai mobil mewah itu. Rara bertemu Egi dan beberapa staf yang sudah standby lebih awal di terminal 2 bandara.
“Ra, gimana? Tempat makan siang sudah disterilkan. Kamu udah hubungi pemilik kedai kopi itu?” tanya Egi kepada Rara yang baru datang.
“Udah sih, Mbak. Aman, cuma mereka bilang aku gila. Masa mau ngopi aja sampai kosongkan tempat orang,” kata Rara memanyunkan bibirnya.
“Udah telen aja, yang penting nanti dapat fee kalau Pak Gunawan seneng,” kata Egi memberitahu.
“Emang? Kok gue gak tahu, Mbak?” tanya Rara penasaran.
“Sudah, nanti lagi kalau mau tanya-tanya, sekarang kita jemput mereka dulu,” kata Egi menyeret Rara untuk menyambut kedatangan Gunawan dan Tara. Rara sendiri, ia sudah lebih dari tiga bulan tidak bertemu dengan Gunawan karena pria itu sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Singapore, sedangkan dengan Tara, ia sama sekali belum bertemu dengan pria itu.
Rara dan Egi menyambut kedatangan orang nomor satu di Dirgantara Group dengan antusias. Terutama Rara yang memang dekat dengan Gunawan, pemilik perusahan tersebut.
“Apa kabar, Ra? Sehat?” tanya Gunawan ramah kepada salah satu karyawan terbaiknya.
“Bak, Pak. Sehat,” jawab Rara sambil meraih ats kecil milik Gunawan seperti biasanya jika keduanya bertemu.
“Terima kasih, Ra. Kamu kurusan, makan yang banyak. Gi, atasan kamu jam berapa ke kantor?” tanya Gunawan kepada sekretaris pribadi Vano.
“Hari ini, setelah makan siang, Pak. Kebetulan, hari ini jadwal Pak Vano antar Bu Yura ke dokter,” jawab Egi sedikit tergagap.
“Ya udah, kita makan sama ngopi dulu. Ra, kamu ikut di mobil saya dan Tara,” kata Gunawan yang melihat rara hendak masuk ke dalam mobil Egi.
“Oh, baik Pak.” Rara menghampiri Gunawan dan mempersilahkan pria tua itu masuk terlebih dahulu.
“Ngapain sih, Pa, Itu Papa punya karyawan boncel, yakin dia bisa kerja,” ucap Tara sinis, ia memandang remeh Rara yang memang bertubuh mungil.
“Maaf, Pak. Nama saya Rara. Bukan boncel,” sahut Rara tidak terima namanya diubah seenaknya oleh Tara.
“Saya gak nanya, dan sejak kapan kamu boleh jawab saya,” sahut Tara tak kalah sengit.
“Pak, orang tua saja kasih nama pakai acara syukuran nasi kuning, pakai doa lho.” Rara melihat Tara dengan pandangan tidak suka. Sedangkan Gunawan terlihat santai dan tidak terusik dengan kebisingan yang diciptakan keduanya. Ia tetap sibuk dengan ponselnya.
“Bodo amat!” Tara menjawab malas ucapan panjang lebar Rara.
“Ayo, kalian mau turun atau mau ribut disini,” kata Gunawan yang turun dari mobil. Mereka sudah sampai di restoran steak di daerah Senopati favorit Gunawan. Rara yang duduk di sebelah Gunawan langsung turun meninggalkan Tara yang memandang malas Rara.
“Awas Pak, nanti suka lho,” supir pribadi Tara mengomentari majikannya.
“Mulutmu, bisa diam gak! Seleraku bukan papan cucian kayak gitu, gak ada lekukan tubuhnya blas, gak menarik,” jawab Tara melenggang meninggalkan sopirnya mengikuti Gunawan dan Rara yang sudah lebih dulu masuk ke dalam restoran.
“Pekerjaanmu selalu rapi dan tepat, gak salah saya percaya sama kamu dampingi Tara nanti. Aku sudah tua, Ra. Pengen istirahat,” ungkap Gunawan memulai pembicaraan dengan Rara setelah mengucapkan turut berduka atas kematian orang tuanya.
“Begitu ya, Pak. Padahal, saya masih betah kerja sama Pak Gunawan,” jawab Rara kecewa.
“Kan ada Tara, dia memang kadang ngeselin. Kamu tahan-tahan aja sama mulutnya. Tapi baik lho, Ra.” Gunawan mencoba melihat reaksi Rara yang ternyata diluar ekspektasinya. Rara tidak berekspresi berlebihan, bahkan cenderung lempeng.
“Apa yang terjadi sama gadis ini, tubuhnya kurus dan sepertinya menanggung beban berat,” gumam Gunawan melihat sorot mata Rara.
“Kalau boleh, saya milih ikut Bapak saja,” jawab Rara malu-malu.
“Belum terbiasa, kamu adaptasi dulu. Saya juga masih ngantor sebelum rapat umum nanti, kamu sudah siapkan semuanya kan?” tanya Gunawan mengenai pekerjaan Rara.
“Sudah, Pak. Hanya saja, ada beberapa hal yang masih saya revisi. Mengenai anggaran untuk marketing dan purchasing,” jawab Rara mendetail.
“Oke, nanti kita bicara sama Tara sekalian biar dia tahu. Saya sudah banyak kasih tahu dia, tapi ada baiknya kamu juga jelaskan sama dia. Besok kita meeting berlima dengan Chia dan Mamanya,” kata Gunawan.
“Baik, Pak. Ada yang perlu disiapkan?” tanya Rara.
“Egi, kamu siapkan konsumsi untuk makan siang besok. Samakan dengan karyawan lain.” Gunawan bertitah.
“Siap, Pak. Menunya apa?” tanya Egi yang sedang mencatat beberapa permintaan Gunawan lainnya.
“Ayam goreng biasanya, kamu belum lupa kan?” Gunawan terkekeh menyadari banyaknya permintaan yang ia ucapkan selama mereka makan siang.
“Belum, saya masih ingat Pak,” jawab Egi dengan senang hati.
Tara yang banyak diam hanya memperhatikan interaksi Gunawan dengan karyawannya. Ia menyibukkan diri dengan bertukar pesan dengan anak buahnya yang sedang memantau kegiatan wanita yang dicintainya.
“Awasi terus, beri aku buktinya,” perintah Tara kepada orang kepercayaannya.’
Mereka kembali ke kantor setelah menikmati makan siang, Rara yang diminta tak jauh-jauh dari Gunawan menjadi cibiran Tara yang menjulukinya boncel karena tinggi badannya yang dibawah standar wanita dewasa.
“Abaikan, Ra. nanti dia diam sendiri,” sahut Gunawan mendengar cibiran Tara yang berjalan di belakangnya.
Rara dan Egi kembali ke ruangannya dengan memendam kekesalan, kali ini dia percaya ucapan Egi yang mengatakan bahwa Tara galak dan menyebalkan.
“Jangan-jangan anak pungut, beda banget sama Pak Gunawan,” cibir Rara yang disambut gelak tawa Egi.
“Kowe juga lama-lama crazy kalau dekat-dekat Pak Tara,” omel Rara kepada Egi.