Mati Rasa

1183 Words
Kembali bekerja, Rara mulai disibukkan dengan aktivitasnya di kantor seperti biasa. Cuti selama satu minggu membuatnya sudah bersiap untuk lembur. Namun, di luar dugaan, Vano membantunya menyelesaikan beberapa pekerjaan melalui stafnya. “Sudah diselesaikan sama anak-anak Bu, tempo hari kita lembur,” jawab staff finance Rara. “Wow, ini banyak lho. Kalian lembur berapa hari ini?” tanya Rara kepada mereka. “Ada Pak Vano yang kasih izin kita lembur hari sabtu kemarin. Bu Rara tinggal cek saja,” jawabnya. “Baiklah, terima kasih banyak buat kalian semua, saya gak ngerti mau bicara apa,” ucap Rara terharu mengetahui kekompakan para staff nya. “Kopi aja Bu, kami butuh kopi,” sahut salah satu staff Rara bagian pajak membuat gaduh suasana. “Oke, oke, saya pesankan kopi buat kalian,” jawab Rara sambil membuka aplikasi pesan makanan online. Dalam meeting internal divisi yang Rara pimpin, kali ini membahas persiapan rapat umum yang akan digelar dalam dua minggu kedepan. Rara sebagai pimpinan tertinggi di divisi keuangan harus mempersiapkan beberapa data yang diminta management. “Oke, sudah jelas yah. Selamat bekerja teman-teman, nikmati kopinya juga,” kata Rara menutup meetingnya. Rara kembali ke ruangannya terlebih dahulu untuk mengambil beberapa data yang ia perlu bahas dengan Vano. Ia mengambil Tab nya lalu menghampiri meja sekretaris pribadi atasannya. “Pak Vano ada di dalam Mbak?” tanya Rara kepada Egi, wanita yang sudah lima tahun menjadi sekretaris pribadi Vano. “Ada, udah ditungguin tuh. Eh, Ra. Turut berduka yah, yang sabar,” kata Egi menyampaikan empatinya kepada rekan kerjanya. “Makasih Mbak, aku masuk dulu,” jawab Rara. Rara yang memakai setelan rok span berwarna hitam dan blazer dengan warna senada tampak manis seperti biasanya. Walau wajah sedihnya tidak dapat disembunyikan, ia berusaha profesional. “Duduk Ra, gimana? Adik kamu sudah disini?” tanya Vano yang terlihat lega melihat Rara ada di hadapannya. “Lancar Pak, terima kasih bantuannya sampai sejauh ini, saya jadi gak enak,” jawab Rara sambil menyerahkan dokumen yang Vano minta. “Sudah seizin Pak Tara dan Pak Gunawan, kamu tenang saja,” jawab Vano meyakinkan Rara. “Oiya, Pak?” Rara terkejut mendengar penuturan Vano. “Iya, masa saya bohong Ra. Oiya, tolong besok pagi kamu jemput mereka dari airport. Kamu temani dulu sampai saya datang yah, nanti sama Egi juga yang bantuin,” kata Vano. “Baik Pak, ada yang harus disiapkan untuk mereka Pak? Makanan atau apa gitu?” tanya Rara memastikan. “Kamu temani mereka makan siang, saya takut gak keburu Ra. Makanan gak perlu, hanya siapin minuman dingin. Si anak manja itu pasti ngerepotin kamu minta segala macam, jadi siapin aja,” kata Vano. “Baik Pak, ada lagi?” tanya Rara mencatat apa saja yang diminta atasannya. “Cukup, kamu tanya ke Egi detailnya. Perlu kamu tahu, Tara gak seperti Pak Gunawan yang santun, dia agak anu Ra,” kata Vano memperingatkan Rara. “Anu gimana pak? Kurang setengah?” tanya Rara menahan tawanya. “Bukan, rada-rada. Pokoknya kamu yang sabar ngadepin dia, walau begitu sebenarnya baik kok,” ucap Vano terbahak tak kuasa menahan tawanya. “Curiga neh saya, tawanya Pak Vano meragukan,” ucap Rara memicingkan matanya penasaran. “Serius Ra, sudah kamu balik sana. Sebentar lagi makan siang, kamu banyak makan biar kuat ngadepin dia,” ucap Vano setelah menandatangani dokumen yang Rara butuhkan. “Jangankan Pak Tara, kenyataan pahitnya kayak gini aja kuhadapi, Pak,” gumam Rara sambil menutup pintu ruangan Vano. Rara keluar dari ruangan atasannya dengan membawa beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Ia mengajak Egi makan siang untuk membahas persiapan kedatangan pemilik Dirgantara Group besok. “Makan bareng yuk, Ra. Aku juga perlu kasih tahu kamu beberapa hal,” kata Egi meraih dompet dan ponselnya setelah mematikan komputer. “Boleh Mbak, tapi ke ruangan sebentar yah, naruh ini dulu,” kata Rara menunjukkan dokumen yang ia pegang. “Oke,” jawab Egi mensejajari langkah Rara. “Ra, info dari pak Vano, kamu yang gantiin dia jemput Pak Tara dan Pak Gunawan.” Egi membuka pembicaraan. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju salah satu mall di Jakarta yang terkenal ramai pada saat makan siang. “Iya neh, waktu di Singapore kan saya gak ketemu Pak Tara. Katanya galak yo Mbak?” tanya Rara penasaran. “Bukan lagi, itu bukan karangan anak-anak, memang benar adanya Ra. Aku khawatir sama kamu neh,” ucap Egi cemas. “Gimana dong, udah perintah yah gaskeun saja,” jawab enteng Rara. “Sekarang aja bilang gaskeun, kamu makan yang banyak deh biar gak habis tenaga ngadepin manusia ajaib itu,” kata Egi sambil membaca buku menu di sebuah restoran sushi. “Seajaib aja sih, penasaran saya,” kata Rara terkekeh. Setelah makan siang, keduanya kembali ke kantor, ketika berada di parkiran mobil, Rara dan Egi tidak sengaja dalam satu lift dengan Nanda dan Prita. Mereka terlihat canggung dan seperti tidak saling mengenal satu sama lain. Egi yang mengetahui bahwa Nanda dan Rara memiliki hubungan khusus mendadak bingung dengan situasi tersebut. Rara memberikan kode agar Egi tidak bertanya terlebih dahulu. Nanda sempat memandang ke arah Rara, seakan ingin berbicara dengan wanita itu namun gagal karena ponsel Rara berbunyi. “Ra, serius mereka? Gak nyangka aku,” kata Egi geleng-geleng kepala, keduanya sudah dalam perjalanan kembali ke kantor. “Serius Mbak, pesta resepsinya kebetulan barengan sama tujuh harinya ibu. Jadi, aku gak bisa datang,” kata Rara tanpa datar dan tanpa ekspresi. “Gila, gak ada otaknya mereka itu! Kamu cari lagi aja Ra, gak usah mikir mereka, lagian kamu juga masih muda dan cantik kok, emosi saya,” kata Egi berapi-api. “Doakan saja Mbak, yang pertama harus saya hadapi sepertinya Pak Tara, itu lebih penting daripada bahas mereka bukan,” ucap Rara bijak. “Betul, kamu bisa dapat yang lebih baik daripada begundal itu kok,” sahut Egi. Rara menanggapi ucapan Egi hanya dengan senyuman. “Ra, gelas keramiknya jangan lupa. Saya sudah pesankan, besok siap pakai yah,” kata Egi sebelum berpisah di lift dengan Rara. “Siap Mbak, makasih yah.” Rara melambaikan tangannya kepada Egi lalu berjalan menuju ruangannya. Meneruskan pekerjaannya lagi, Rara berkutat dengan angka-angka yang tertera di layar laptopnya. Hingga jam pulang kantor, Rara belum beranjak dari pekerjaanya. “Ra, gak pulang? Jangan lembur dulu, kamu urus adik kamu tuh kasian sendirian,” kata Vano melongok masuk ke ruangan Rara. Ia melihat ruangan tersebut masih terang, tanpa pemiliknya belum pulang. “Siap Pak, dikit lagi kelar kok,” jawab Rara. ia mengangkat kepalanya melihat Vano berada di ujung pintu ruangannya. “Ya sudah, saya balik dulu. Jangan telat yah besok, saya yang digorok sama Tara,” kata Vano mengingatkan Rara. “Baik Pak,” jawab Rara. Ia membereskan mejanya setelah Vano pergi. Ia mematikan laptopnya, lalu pulang ke apartemennya. Ia bertemu kembali dengan Prita yang sepertinya baru saja keluar kantor, Rara hanya menyunggingkan senyumnya namun enggan berbicara dengan sahabatnya itu. Wanita berusia 28 tahun itu melenggang masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari gedung perkantoran tempat ia bekerja. “Dunia ini sempit juga, dari banyaknya lift di gedung itu, kenapa selalu dipertemukan dengan mereka lagi di tempat yang sama,” gumam Rara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD