Rara dibantu adiknya menyiapkan sarapan di meja makan. Muh dan istrinya terpaksa menginap di rumah Rara karena tidak tega dengan kakak beradik yatim piatu tersebut.
“Ra, jadi istri ayahmu itu yang namanya Viona? Kamu kenal?” tanya Muh kepada keponakannya.
“Rara gak kenal Pakde, tapi sepertinya dia orang baik. Kasih tahu semuanya. Kelihatan rasa kehilangannya belum hilang,” jawab Rara.
“SImpan baik-baik, perkara hutang sama orang lain pelan-pelan saja. Kamu jangan sampai kurang Ra,” ucap Muh lagi.
“Iya, Pakde.” Rara sedang memeriksa koper adiknya dan memastikan tidak ada yang tertinggal
“Sambil sarapan Ra, Chika ayo, biar gak buru-buru ke bandaranya,” kata istri Muh kepada keduanya.
“Iya, Budhe.” Chika yang baru saja selesai bersiap duduk di meja makan bersama yang lain.
Setelah sarapan, mereka bersiap mengantar Rara dan Chika ke bandara Abdurrahman Saleh. Muh sendiri, sudah memarkirkan Avanza hitam miliknya di depan pagar rumah Rara untuk memudahkan mereka.
“Sini Pakde bantu, kamu tuh dah kalah tinggi sama Chika kalau kebanyakan bawa barang berat yang ada tambah pendek,” kata Muh terkekeh melihat Rara kesulitan memasukkan kopernya ke bagasi mobil.
“Pakde jangan jujur gitu dong, kasian Mbak Rara tuh manyun,” sahut Chika yang berada di belakang Rara ikut terkekeh.
“Seneng banget kayaknya,” jawab Rara terkekeh juga.
“Lho, mau kemana kalian?” tanya Heru yang datang bersama istrinya. Ia baru saja mematikan mesin motornya dan menghampiri Rara dan adiknya.
“Kan mau balik Jakarta, Pakde,” jawab Chika bersiap melindungi kakaknya. Ia berpindah posisi mensejajari kakaknya.
“Lho, urusan sama Budhe kamu gimana? Hutang tetap harus dibayar Ra,” kata Heru tak tahu malu.
“Hutang ibu sama Budhe Ros nanti Rara bayar sendiri, apa ibu juga ada hutang sama kalian?” tanya Rara kepada keduanya.
“Ya gak ada sih,” jawab Heru dan istrinya.
“Ros sudah ditelepon sama Rara, kowe ndak usah ikut campur. Bantu bayar nggak rusuh doang.” Muh kesal kepada Heru dan istrinya hingga menutup bagasi mobilnya keras.
“Ayo Ra, masuk. Keburu telat nanti,” kata Muh dari balik kemudinya karena melihat Rara tak kunjung masuk ke dalam mobil malah melayani istri Heru yang berbicara macam-macam.
“Saya pamit dulu Budhe, permisi,” kata Rara. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah adiknya.
“Kamu itu terlalu baik sama mereka, uang sisa pengajian juga gak dibalikin kok sok-sok an nanyain hutang segala.” Muh mengomentari tindakan sodara-sodaranya. Rara hanya diam saja, ia hanya tersenyum getir menanggapi ucapan saudara tertua mendiang ibunya.
Tercipta suasana sendu ketika Rara dan Chika hendak masuk ke dalam ruang tungga. Perpisahan sementara dengan Muh beserta istri sukses membuat Rara kembali berkaca-kaca.
“Sering-sering telepon Nduk, kalau ada apa-apa jangan sungkan. Rara yang kuat ya Nduk, jodoh sudah ada yang atur. Sekuat apapun kamu menggenggamnya, jika bukan jodohmu akan lepas juga,” ucap istri Muh sambil memeluk Rara. Wanita itu tahu betul apa yang dirasakan Rara.
“Makasih Budhe, Pakdhe, kami pamit dulu,” jawab Rara dan Chika bergantian mencium punggung tangan keduanya.
Kedua kakak beradik tersebut memasuki pesawat yang sudah siap take off menuju Jakarta.
“Mbak, makasih ya.” Chika mengelus-elus punggung tangan kakaknya. Keduanya sudah duduk di dalam perjalanan di atas udara.
“Apaan sih,” jawab Rara mentoel pipi adiknya gemas.
Sesampainya di Jakarta, Rara mengajak adiknya ke apartemennya. Keduanya bekerja sama membereskan tempat itu karena hampir seminggu tidak ditempati.
“Gimana Dek? Oke gak?” tanya Rara kepada adiknya.
“Oke, Mbak. Tapi, apa=apa mahal ya Mbak, gak kayak di Malang,” ucap Chika sambil memasukkan bajunya ke lemari.
“Nanti kita beli lemari lagi, sekarang seadanya dulu ya dek,” kata Rara menyerahkan air mineral dingin kepada adiknya.
“Iya, Mbak.” Chika duduk di karpet dekat ranjang bersama dengan Rara.
“Kita beli aja ya makan siangnya, Mbak capek,” kata Rara membuka aplikasi pesan online.
“Boleh, pengen makan makanan orang Jakarta,” jawab Chika terkekeh.
“Oke,” jawab Rara mengulir ponselnya mencari menu makan siang untuk keduanya.
Hingga menjelang malam, Rara merasa kehidupannya seakan baru saja dimulai, tanpa kekasih dan wanita yang selama ini ia banggakan. Ia memandang Chika yang sudah terlelap dengan memeluk guling kesayangannya. Rara berjalan ke arah balkon apartemennya, memandang langit malam Jakarta yang sepi tanpa bintang.
Kenapa rasanya sesakit ini Tuhan…Apa rencanaMu sebenarnya sehingga takdir yang Kau berikan seperih ini. Hamba hanya manusia biasa yang penuh dengan ambisi dan keinginan.…
Rara mengusap pipinya yang basah, memandang langit seolah ingin berbicara banyak hal dengan Tuhan Sang Maha Agung. Menangis dalam diam, Rara memeluk barang pertama yang diberikan Nanda pada saat anniversary pertama hubungan keduanya saat itu. Rara sesenggukan hingga tubuhnya merosot terduduk di lantai, bagaimana tidak, di dalam bingkai foto tersebut terdapat kenangan mereka bertiga dengan senyum kebahagiaan. Foto antara dirinya, Nanda dan mendiang sang Ibu saat Rara berhasil mendapatkan beasiswa pertamanya di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang.
Notifikasi pesan masuk ke ponselnya membuat Rara tersadar dan mengusap pipinya untuk kesekian kali. Ia melihat pesan singkat dari Muh yang menanyakan keadaannya.
“Rara sama Chika baik Pakdhe, besok masih ada waktu untuk istirahat mau ke makam Ayah,” jawab Rara kepada Muh.
“Ya sudah, hati-hati Nduk, Tidur, sudah malam.” Muh mengakhiri obrolannya dengan Rara. Ia sedikit bernafas lega membaca jawaban Rara.
Keesokan harinya, Rara mengajak Chika mengunjungi makam ayahnya di Karawang. San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes merupakan komplek pemakaman pertama di dunia sejak didirikan tahun 2007 yang memadukan konsep forest lawn dengan kebudayaan Indonesia. Sebelumnya, Rara sudah bertukar pesan dengan Viona untuk mengabarkan kedatangannya bersama Chika ke makam. Dipandu oleh salah satu kerabat yang kebetulan datang bersamaan dengan Rara, ia memasuki area private pemakaman keluarga. Tertera nama sang ayah diantara beberapa nama asing bagi keduanya.
“Makam ayah kalian diantara diapit oleh kedua orang tua Bu Viona, kebetulan saya yang bertugas mengurus pemakaman pada saat itu,” kata orang suruhan Viona.
“Oh, begitu ya Bu.” Rara duduk di dekat pusara sang ayah. Mengusap-usap nisan bertuliskan nama ayahnya dengan perasaan hancur. Keinginannya untuk menikah dengan disaksikan kedua orang tuanya pupus sudah. Semua seperti angin yang dengan mudah meninggalkannya tanpa aba-aba.
Cukup lama keduanya dimakam tersebut hingga orang kepercayaan Viona mengajak keduanya untuk makan siang terlebih dahulu sebelum kembali ke Jakarta.
“Bu Viona yang memerintahkan langsung Mbak Rara, jadi saya harap kalian tidak keberatan ajakan makan siang ini,” kata wanita cantik yang merupakan asisten pribadi Viona.
“Baiklah,” jawab Rara mengajak adiknya mengikuti langkah wanita itu.
La Collina adalah sebuah restoran yang masih berada di dalam komplek pemakaman San Diego tersebut tampak begitu menawan, di bawah naungan Aryaduta Hotel & Resort management, restoran mewah tersebut menyajikan aneka hidangan hidangan nusantara dan Italia. Walaupun masih dalam suasana duka, Rara berusaha menghormati Viona yang sudah memperlakukannya dengan baik.
“Tante repot sekali, makasih sudah dibantu ke makam Ayah,” jawab Rara ketika Viona melakukan sambungan telepon dengannya.
“Lain kali Tante temenin, kebetulan hari ini ada yang harus diurus, kamu hati-hati balik Jakarta ya,” kata Viona mengakhiri sambungan teleponnya dengan Rara.
Sepertinya patah hati terberatku adalah kehilangan kalian berdua di waktu yang tidak tepat…Ayah Ibu, kalian baik-baik disana.
Rara sekuat tenaga tidak meneteskan air matanya kembali.