Rara tersulut emosi mendengar ucapan Asih, makam ibunya saja masih basah dan dia sudah membicarakan soal harta.
“Maaf Budhe, rumah itu tidak akan dijual sampai kapanpun,” jawab tegas Rara.
“Dikasih tahu orang tua ngeyel. Kalau rumah itu dijual, kan kamu ada pegangan untuk biayai adikmu kuliah. Mau minta ke siapa kowe? Hah?” Asih kembali berbicara dengan nada tinggi.
“Dengar ya Budhe, Ayah dan Ibu beli rumah itu sendiri, pinjam ke bank. Tidak ada kewajiban mereka bagi untuk berbagi sama Budhe, kecuali itu rumah warisan seperti rumah yang Budhe tempati,” jawab Rara yang terlanjur kesal dengan ucapan Asih.
“Kurang ajar, jadi ini yang kamu banggakan dari karirmu di Jakarta! Pantesan kamu ditinggal nikah sama pacarmu yang anak pejabat itu,” kata Asih tak mau kalah. Seketika jantung Rara seperti berhenti berdetak, nafasnya tersengal dan matanya sudah berkaca-kaca.
“Asih, jaga ucapanmu!” Muh benar-benar tak habis pikir dengan tingkah Asih, adik kandungnya itu memang sering berulah. Ia meminta Asih pergi dari rumahnya agar keadaan tidak meruncing. Sementara itu, istri Muh berinisiatif mengambilkan minuman untuk Rara.
“Maafin Asih, Ra. Kamu jangan ambil hati ucapannya tadi,” ucap Muh berusaha membesarkan hati Rara.
Tidak ada satupun manusia yang hatinya tidak tercabik-cabik kehilangan dalam waktu yang bersamaan. Orang-orang yang Rara sayangi meninggalkan dirinya begitu saja. Ia sekuat tenaga tidak terlalu menunjukkan di depan Muh dan istrinya.
“Minum dulu, Ra. Asih memang keterlaluan, kamu gak usah hiraukan dia.” Istri Muh menyerahkan segelas air putih untuk Rara minum.
“Terima kasih, Budhe,” jawab Rara kepadanya.
“Jadi, besok mau balik Jakarta?” tanya Muh memastikan.
“Iya, Pakde. Rara sudah dapat tiketnya. Tadinya mau jalan dari Surabaya, tapi bawaan Chika juga lumayan. Jadinya beli tiket dari Malang besok siang,” jawab Rara mengenai kepulangannya ke Jakarta membawa serta adiknya.
“Ya sudah, besok tak antar. Kalian mau kemana lagi?” tanya Muh kepada keduanya.
“Pakde, Budhe maaf. Bukannya ibu ada tanggungan ke kalian berdua. Rara mau tahu,” ucap Rara teringat catatan buku hutang ibunya yang ditemukan Chika di kamar ibunya.
“Sebenarnya saya gak mau bahas ini dulu. Tapi karena kalian nanya, cuma kasih tahu saja, ibumu pinjam kami bukan uang kami sendiri, melainkan ke pihak lain tapi pinjam atas nama Budhemu,” jawab Muh kepada keduanya.
“Tapi, Budhe sarankan selesaikan ke tetangga dan teman-teman ibumu dulu,” jawab istri Muh kepada keduanya.
“Ini, ada beberapa catatan ibu. Kami kurang paham soal hutang yang di pasar Budhe, karena ibu gak tulis nama orangnya,” ucap Rara bingung.
“Ini kan yang kecil-kecil, kamu bayar yang kayak gini dulu. Pikirkan adikmu, dia kan juga butuh biaya, katanya mau masukin kuliah, Ra.” Muh memberi saran kepada keponakannya.
“Nggih Pakde, jadi bagaimana?” tanya Rara lagi.
“Budhe antar ke rumahnya, yang dagang di pasar ada di gang sebelah. Kalau mau kita ke rumahnya sekarang,” ucap istri Muh.
“Boleh Budhe, makasih,” jawab Rara lega.
Rara diantar oleh Muh dan istrinya mengunjungi beberapa pedagang sayur dan ikan langganan mendiang ibunya. Dengan sopan, Rara menyampaikan niatnya untuk melunasi tanggungan ibunya kepada mereka. Setelahnya, Rara dan Chika diantar pulang oleh keduanya.
“Sudah malam, ayo Pakde antar ke rumah. Kalau ada tamu gak penting lebih baik gak usah dibukain pintu, anggap saja kalian sudah tidur,” kata Muh memberi nasehat kepada keduanya.
“Nggih, Pakde.” Rara dan yang lain terkejut melihat Asih dan dua orang saudara kandung Muh yang lain sudah berada di depan rumah Rara.
“Ini ada apa kok rame-rame?” tanya Muh kepada saudara-saudaranya.
“Gak ada apa-apa Mas. Kami mau lihat Rara sama Chika saja, kalau besok takutnya gak sempat,” ucap Heru.
“Masuk Pakde, ayo,” jawab Rara tak enak hati kepada saudara-saudara ibunya.
Mereka duduk di hamparan karpet berwarna hijau, ruang tamu yang mereka sulap menjadi tempat menggelar doa bersama memang sengaja belum dibereskan oleh Rara dan adiknya.
“Jadi, kami datang mau tanya rencana kalian selanjutnya apa?” tanya Heru kepada Rara.
“Saya mau bawa Chika ke Jakarta, Pakde. Biar kuliah disana,” jawab Rara.
“Apa gak kemahalan Nduk, Pakde ada saran buat kamu. Umur udah cukup lebih baik segera menikah, perkara jodohnya, Pakde ada calon buat kamu. Gak kalah kaya dari mantan pacarmu yang anak pejabat itu,” kata Heru berpendapat.
“Sebelumnya terima kasih Pakde, tapi Rara belum ingin menikah dalam waktu dekat. Rara mau fokus bantu Chika kuliah biar punya pendidikan bagus,” tolak Rara halus.
“Alah, kamu itu memang sok-sok an. Hutang ibumu aja dimana-mana pake gaya mau kuliahin adikmu di Jakarta, mimpi kowe jangan tinggi-tinggi Nduk, gak punya ya gak punya aja.” Asih mencibir jawaban Rara kepada Heru, kakaknya.
“Asih!” Muh tak kuasa menahan kekesalannya kepada adiknya.
“Sudah, mending jual aja rumah ini. Kamu juga bebas hutang, pakai uang itu untuk melunasi hutang ibumu di bank,” kata Heru kepada Rara.
“Ngapunten Pakde Heru, saya sudah selesaikan urusan ibu dengan pihak bank, jadi tidak perlu jual rumah. Sampai kapan pun Rara usahakan tidak menjualnya seperti keinginan Ibu selama ini,” jawab tegas Rara.
“Dapat duit dari mana kamu lunasi hutang Ibumu yang segunung itu? Apa jangan-jangan kamu menolak dijodohkan karena jadi simpanan laki orang? Iya? Jawab Ra!” Heru tersulut emosi mendengar jawaban tegas Rara.
“Heru, jaga ucapanmu. Namanya hutang ke bank kalau yang bersangkutan meninggal dunia, ahli waris bisa urus agunannya. Kowe ini kayak orang bodoh aja.” Muh memarahi adiknya karena merasa ucapannya kepada Rara sudah keterlaluan. Heru sendiri, pura-pura tidak mendengar ucapan saudara tertuanya.
“Sudah bubar, ini udah tengah malam. Anak-anak ini juga butuh istirahat,” kata istri Muh meminta saudaranya kembali ke rumah masing-masing.
“Ya, kamu tetap harus jual rumah ini. Kami ini masih saudara ibumu yang juga harus diperhatikan. Selama kamu di Jakarta juga kami yang direpotkan ibumu,” ucap Heru masih berkeras hati mengenai peninggalan orang tua Rara dan adiknya.
“Tidak akan pernah, orang tua kami beli rumah ini juga gak minta belas kasihan Pakde Heru, hutang ke bank dan bayar tiap bulan, Pakde tidak berhak atas rumah ini, Budhe Asih juga,” ucap Chika bersuara. Ia sudah tidak tahan dengan desakan Heru dan Asih sejak hari ke-3 acara doa bersama digelar.
Rara berusaha menenangkan adiknya yang ikut terpancing emosinya. Karena kondisi sudah tidak memungkinkan, Muh dan istrinya meminta Heru dan Asih meninggalkan rumah.
“Sampeyan ngusir saya, Mas?” tanya Asih kepada Muh.
“Bukan ngusir, ini sudah malam Asih. Apa kamu gak kasian sama anak-anak ini, mereka juga capek, butuh istirahat,” kata Muh memberi pengertian adik-adiknya.
“Jual mahal, paling yo gak perawan. Di Jakarta kan hidup bebas,” kata Heru beranjak dari ruang tamu lalu membanting pintu rumah Rara cukup keras hingga menimbulkan getaran pada kaca jendela di sampingnya. Asih pun ikut pergi mengikuti Heru karena kesal usahanya kembali gagal.
“Huh, saudara macam apa kok modelnya kayak gitu,” gumam istri Muh kesal sambil menutup pagar rumah.