Datang Dan Pergi

1227 Words
Chika dan Rara saling berpandangan sama-sama tidak mengenal wanita yang bertamu. Membuka pintu rumahnya, Rara menyapa wanita itu dengan sopan dan bertanya sedang mencari siapa. “Maaf, cari siapa?” Rara bertanya kepada wanita itu, di belakangnya muncul Chika yang penasaran dengan wanita cantik tersebut. “Kalian pasti Rara dan Chika, cantik-cantik. Oh iya, saya Viona.” Memperkenalkan dirinya, wanita cantik itu membuat dua kakak beradik tersebut terkejut. Dari mana wanita itu tahu nama keduanya. “Hhmm, jadi ngobrol sambil berdiri saja ini?“ Viona menyindir keduanya yang belum juga mempersilahkannya masuk. “Eh, maaf. Mari masuk Tante,“ jawab Rara tak enak hati. Ia menyenggol lengan adiknya agar membuatkan minuman. “Terima kasih, sebelumnya, saya turut berduka cita atas meninggalnya ibu kalian. Maaf, saya baru datang karena….“ Viona tidak kuasa meneruskan kata-katanya karena dadanya kembali sesak. “Eh, kenapa Tante.“ Rara mendadak panik melihat ekspresi Viona yang sudah berkaca-kaca. “Maaf, saya mendapat amanah dari Ayah kalian untuk menyerahkan ini,“ ucap Viona. Ia mengambil map coklat dari salah satu pria yang berada di sampingnya lalu menyerahkan kepada Rara. “Tante kenal sama Ayah kami?“ tanya Chika penasaran. “Saya istri Ayah kalian,“ ucap Vion tertunduk sedih. “Lalu, Ayah dimana Tante, kenapa tidak kesini sama Tante?“ tanya Rara penasaran. “Ayah kalian sudah bahagia, dia sudah bertemu Ibu kalian di surga. Maaf, saya baru kesini setelah 40 harian beliau.“ Viona mengusap pipinya yang basah. Keduanya saling berpandangan, keinginan Rara untuk mencari keberadaan sang ayah musnah karena ucapan Viona barusan. Ia berusaha untuk menenangkan Chika yang memang berharap bisa bertemu dengan pria yang mereka panggil ayah. “Ini hak kalian, surat-suratnya sudah lengkap. Tinggal kalian datang ke bank, bawa itu semua.“ Viona menjelaskan tentang warisan dari mendiang suaminya. “Ini buat kami?” tanya Rara terkejut. “Iya, sebelum meninggal, Ayah kalian meminta saya untuk menyerahkan ini kepada kalian berdua,“ ucap Viona tulus. “Maaf Tante, boleh kami tahu dimana makam Ayah?” tanya Chika dengan mata berkaca-kaca. “Datang saja ke komplek pemakaman keluarga saya di San Diego, kebetulan ayah kalian dimakamkan di sebelah orang tuaku,” jawab Viona. “Kerawang dong Te?” tanya Rara memastikan. “Betul, bukanlah kamu kerja di Jakarta, Ra?” tanya balik Viona. “Hmmm, darimana Tante tahu?” Rara semakin terheran dengan Viona. Rupanya wanita itu tahu banyak hal mengenai kehidupan keluarganya. “Ayah kalian tahu semua, hanya saja banyak hal yang menjadi pertimbangan beliau untuk kembali, tolong jangan membencinya, beliau tidak sejahat yang kalian pikirkan,” kata Viona dengan mata berkaca-kaca. “Sejujurnya, kami tidak benar-benar membenci Ayah, tapi yang membuatku kecewa, dia tidak pernah datang sekedar untuk melihat keadaan anaknya,” ungkap Chika kecewa. “Sudah Dek, yang penting kita doakan Ayah dan Ibu,” kata Rara kepada adiknya. “Oiya, ini kartu nama saya. Kalian kalau sudah di Jakarta kabari saya. Apa kalian gak ingin bertemu dengan adik kecil kalian? Yah, saya sadar hanya saudara tiri, tapi tidak ada salahnya kalau kalian saling mengenal. “Adik kecil? Tante sama Ayah ada anak? Dimana?” tanya Chika ingin tahu kehidupan ayahnya setelah pergi meninggalkan keluarganya. “Ada di Jakarta, sayangnya saya tidak bisa bawa dia kesini,” jawab Viona. “Nanti Rara kabari kalau ada di Jakarta, Tante.” Rara merasa, takdir orang tuanya harus ia terima dengan lapang d**a. Tidak ada gunanya menyimpan dendam atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. “Baiklah, tugasku sudah selesai. Saya pamit dulu, saya harus segera kembali ke Jakarta,” pamit Viona kepada keduanya. Setelah bertukar nomor ponsel dengan Rara, Viona pergi meninggalkan rumah tersebut. Meninggalkan dua bersaudara yang kembali berduka setelah mengetahui kabar ayahnya sudah berpulang. Rara merasa tujuan hidupnya berbalik seratus delapan puluh derajat setelah kejadian ini. Prioritas hidupnya bukan lagi soal dirinya sendiri, tapi Chika. Adik perempuannya ini masih membutuhkan dirinya. “Dek, kita ke rumah Pakde Muh sekarang gimana?” tawar Rara kepada Chika yang memeluk erat map coklat yang diberikan Viona tadi. “Boleh Mbak, sepertinya harus segera,” kata Chika. Ia menyimpan map tersebut di kamarnya. Keduanya berjalan kaki menuju rumah saudara kandung ibunya, mereka sempat berpapasan dengan beberapa tetangga yang menyapa dan turut menyampaikan rasa belasungkawa. “Lho, saya baru mau ke rumahmu, Nduk. Ayo masuk,” ucap Pakde Muh dan istri menyambut kedatangan keduanya. “Makasih, Pakde. Maaf kalau kami mau merepotkan Pakde dan Budhe,” ucap Rara memulai pembicaraan. “Ndak masalah, kalian gimana? Yakin mau bawa adikmu ke Jakarta, Ra?” tanya Pakde Muh mengenai rencana Rara. “Yakin Pakde, lagian biar Rara juga ada teman.” Rara meyakinkan Muh. “Yowes, pokok yang rukun, kalian hanya berdua sekarang. Lalu, rencana kalian selanjutnya bagaimana?” tanya istri Pakde Muh. “Begini Budhe, setelah kami berunding, rumah Ibu kami titipkan ke Pakde sama Budhe. Apa kalian keberatan?” tanya Rara harap-harap cemas. “Kami tidak keberatan Nduk, hanya saja Asih bagaimana? Kamu tahu sendiri kan Budhe mu yang satu itu mulutnya kayak apa,” jawab Pakde Muh. “Biarin aja Pakde, toh itu rumah pribadi ibu dan ayah. Saya dan Chika sudah urus ambil sertifikatnya di bank. Jadi, Pakde sama Budhe gak perlu khawatir soal tanggungan Ibu.” Rara menjelaskan mengenai kondisi rumah ibunya. “Syukurlah, kalau kamu sudah urus. Kami tadinya mau ke rumahmu ya mau tanya soal ini. Perkara urusan makam sudah selesai Nduk, uang yang kamu kasih juga masih ada sisa satu juta, itu mau kamu apain?” tanya Pakde Muh kepada Rara. “Ya bagi lah sama Budhe nya yang ikut capek,” sahut Asih yang tiba-tiba masuk ke rumah karena melihat Rara dan Chika sedang berbincang dengan Muh dan istrinya. “Asih, pelankan suaramu! Ini bukan hutan,” hardik Muh kepada adiknya. “Alah Mas, anak dua ini harus dikasih tahu, sok pinter tahu nya juga butuh yang tua,” sindir Asih. “Sudah Mbakyu, kita kan mau diskusi, bukan ribut. Gak enak di dengar tetangga,” kata istri Muh mencegah Asih berbicara keras. “Jadi, kalian gak mau bagi sama kami yang bantu acara doa selama tujuh hari? Semua itu gak ada yang gratis Ra, kamu kira-kira dong,” ucap Asih dengan nada sinisnya. “Ya udah, yang di Pakde Muh sisanya kasih Budhe Asih saja,” jawab Rara tidak mau panjang. “Lalu urusan sama bank piye, jangan sampai kamu bikin malu keluarga. Bank nagih kesini, kalian gak ada,” kata Asih ketus. “Sudah kami urus kok Budhe, sertifikat sudah diambil setelah kasih beberapa syarat yang diajukan bank,” ucap Rara memberi penjelasan. “Kalau begitu jual saja. Untuk apa ada rumah gak ditempati dan kalian tinggal ke Jakarta pula, siapa yang mau urus rumah itu?” Asih merasa mendapatkan celah untuk mengeruk keuntungan dari kematian adiknya. “Aku dan Mas Muh yang urus kalau kamu gak mau,” jawab istri Muh yang membuat Asih naik pitam. “Terus yang bayar bulanannya siapa? Listrik dan air juga bayar walaupun rumah itu gak kalian tempati, Rara!” “Budhe kok sewot sih, ya itu urusan kami. Lagian juga Mbak Rara gak minta Budhe bayarin kok,” ucap Chika tersulut emosi. “Dek, sudahlah,” ucap Rara mencegah adiknya meneruskan ucapannya. “Makanya nurut sama yang lebih tua, lebih berpengalaman soal kehidupan. Daripada repot-repot bayar listrik untuk rumah yang gak kalian tempati, mending dijual. Uangnya bagi rata sama saudara-saudara ibumu,” desak Asih kepada Rara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD