Aku Dan Kamu Bukan Kita

1594 Words
Setiap orang pasti memiliki kenangan terindah dengan kekasihnya. Entah yang berhasil menjadi pasangan halal atau malah berpisah dan memilih jalan masing-masing. Tak terkecuali Rara, semakin dia berusaha melupakan semakin besar rasa kehilangan yang mendera hatinya. “Mungkin ini yang dirasakan ibu ketika ayah pergi, kurasa bahkan lebih sakit,“ gumam Rara dalam hati. Air matanya menetes begitu saja dalam kesendiriannya. Hampir setiap malam Rara bangun dan menumpahkan dukanya. Pesan ibunya lah yang selalu ia genggam dan jalankan. Karena hanya kepada Sang Pencipta kita dapat meminta pertolongan. “Berharap kepada manusia ada dua kemungkinan, Nak. Kamu bahagia ataukah kecewa. Harus siap dengan kondisi keduanya. Sudah ada pasangannya masing-masing,” ungkap mendiang ibu Rara saat itu. “Itulah sebabnya Tuhan menciptakan siang untuk malam, jatuh cinta untuk patah hati dan semua hal yang saling bertolak belakang di dunia ini,” ucap Rara dalam hati. Ia percaya, memang dengan menggelar sajadahlah tempat paling teduh untuknya saat ini. Rara kembali ke tempat tidur dan berbaring di sisi adiknya yang sudah terlelap sejak tadi. Ia memandangi setiap sudut ruangan apartemen yang ia tempati beberapa tahun terakhir, tempat yang masih menyisakan bayangan Nanda. Meraih ponselnya, ia mencoba membuka aplikasi pesan singkatnya. Tidak ada lagi pesan selamat malam atau cepat tidur dari pria yang dicintainya itu. “Tentang aku dan kamu yang tidak akan pernah menjadi kita,” tulis Rara dalam status whatsappnya. Dalam sekejap mendapatkan respon dari Tara yang memang belum tidur. “Tidur boncel! Lo besok meeting pagi sama gue,” kata Tara dalam pesan singkatnya kepada Rara. “Ih, Bapak kepo!” jawab Rara tak mau kalah. “Apapun masalah Lo, simpan air matamu untuk yang mau berjuang bersamamu bukan meninggalkanmu begitu saja.” Pesan terakhir Tara yang belum sempat terbaca oleh Rara karena gadis itu sudah terlelap. Tara melanjutkan aktivitasnya membuka media sosial Nanda, mantan pacar Rara. “Ganteng sih memang, tapi cakep gue lah kemana-mana,” gumam Tara mengomentari foto-foto Nanda saat pernikahannya dengan Prita. Hingga pagi menjelang, Chika membangunkan Rara untuk menjalankan ibadah paginya. “Mbak, bangun.” Chika menggoyang-goyangkan tubuh Rara. “Hhhhmmmm.” Rara membuka matanya perlahan dan mendapati adiknya sudah selesai mandi. “Mandi dulu, keburu habis waktu subuhnya,” ucap Chika sambil membereskan tempat tidur keduanya. “Iya, kopi dong dek.” Rara meraih kacamatanya di nakas. Sejenak duduk di tepi ranjang, meneguk air putih hangat yang sudah disiapkan adiknya. “Iya, ini juga dibuatkan,” jawab Chika sambil menyalakan kompor. Rara dan adiknya melakukan aktivitas paginya, berdua menjalani kerasnya kehidupan. DI bawah guyuran air dingin, Rara berharap hari ini lebih baik untuk hal apapun yang ia lakukan.. “Sarapan nasi goreng ya, Mbak. Ini ada sisa nasi kemarin pas untuk sarapan,” ucap Chika kepada kakaknya ketika baru saja keluar dari kamar mandi. “Boleh, itu bau nya enak banget. Kamu tambah pinter masak, jangan nikah dulu dek, sekolah yang tinggi biar punya pengetahuan bagus,” ucap Rara sambil mengeringkan rambutnya. “Iya, sini makan dulu, Mbak.” Chika memintanya duduk untuk sarapan bersamanya. “Hari ini daftar ulang, kamu sudah siapkan berkasnya?” tanya Rara kepada adiknya. “Sudah, Mbak. Ngomong-ngomong, itu name tag baru. Mbak naik jabatan?” tanya Chika penasaran. “Astaga, iya. Mbak lupa kasih tahu kamu, tapi baru di sah kan hari ini sama Pak Gunawan. Sekalian meeting dengan petinggi kantor,” jawab Rara kepada adiknya. “Alhamdulillah, rejeki, Mbak. Makan yang banyak, gak bagus kalau terlalu kurus, gemukin dikit, Mbak.” Chika memperhatikan kakaknya lebih kurus dari sebelumnya. “Iya, Mbak jalan dulu, itu udah ada yang teriak-teriak.” Rara meraih tas nya dan ponselnya. “Hati-hati, Mbak.” Chika menatap kepergian Rara dengan perasaan sendu. “Sampai seperti itu kamu, Mbak. Naik jabatan sepenting itu kalah dengan rasa sakitmu. Duh Gusti, enyahkan rasa itu dari Mbak ku,” kata Chika sambil menutup pintu apartemennya. Sedangkan di kantor, Rara dan Gunawan terlibat pembicaraan serius mengenai pekerjaan dari klien Singapore. “Ra, itu serius kasih kerjaan sampai dua tahun?” tanya Gunawan setelah membaca isi kontrak. “Betul, Pak. Dua tahun juga kita dilarang ambil kerjaan sejenis. Khusus produk s**u aja, Pak.” Rara menjelaskan lebih detail. “Oke, gak masalah. Udah eksekusi?” Gunawan masih melanjutkan kegiatannya membaca laporan Rara. “Sudah ready material, Pak. Start besok untuk pekerjaan, karena coil datang dari Surabaya siang ini,” lanjut Rara. Ia yang berada di ruangan Gunawan bersama dengan Egi dan Indah mendapatkan pujian dari pemilik Dirgantara tersebut. “Kalian kerja bagus, terima kasih atas kontribusinya. Dan saya harap ini berjalan seterusnya,” kata Gunawan sambil menandatangani surat keputusan pengangkatan Rara. “Terima kasih, Pak.” Ketiganya kompak menjawab dengan ucapan yang sama. “Eh, dicariin ternyata disini. Kapan meeting nya ini?” Tara masuk ke ruangan Gunawan setelah mengetuk pintu, di belakangnya Vano bersama dua orang tim HRD ikut ke dalam ruangan tersebut. “Sekarang, ayo mulai.” Gunawan mempersilahkan tim HRD untuk memulai prosedur pergantian jabatan mereka. Gelak tawa mengiringi acara pengesahan Rara sebagai general manager. “Kamu tinggian dikit, kalau meeting sama produksi gak bisa pake heels, Ra.” Salah satu tim HRD meledek Rara yang memang bermasalah dengan tinggi badannya. “Andai saya bisa minta setinggi Luna Maya, Bu,” jawab Rara yang kembali mengundang tawa semua yang berada di ruangan tersebut. “Udah terima nasib aja, tinggi kamu dapatkan cuma segitu, yang penting sehat, Ra.” jawab Vano terkekeh mendengar ucapannya. “Iya, Pak. Apa mau dikata, disyukuri saja,” jawab Rara malu-malu. “Ne cewek ajaib, tempo hari nangis-nangis kayak mau mati! See, sekarang senyumnya semanis gula. Benar-benar pemain watak,” gumam Tara yang diam-diam memperhatikan interaksi Rara dengan yang lain. “Pak, tanda tangan!” Rara sedikit meninggikan suara memanggilnya karena Tara terdiam tidak meresponnya. “Eh, iya, mana?” Tara kembali tersadar dari lamunannya ketika mendengar Rara memanggilnya. “Di sini, Pak. Tanda tangan dua kali,” ucap Rara membantu Tara. “Oke, sudah semua. Mulai besok pindah ruangan semua yah. Indah, sudah ready?” tanya Gunawan kepada pengganti Rara di posisi sebelumnya. “Sudah, Pak,” jawab wanita cantik itu. “Baiklah boleh kembali ke ruangan masing-masing, makan siang jangan telat.” Gunawan mempersilahkan mereka membubarkan diri. Rara dan Indah melanjutkan pekerjaan mereka dengan melakukan meeting internal untuk serah terima pekerjaan. “Sudah hampir jam makan siang, sebaiknya makan dulu, Ra. Nanti, habis akan siang lanjutkan lagi,” ucap Egi memberi saran. “Iya juga, mau makan dimana?” tanya Rara kepada keduanya. “Lalapan, sambal mangga enak ini,“ jawaban Indah membuat Rara berbinar. “Ide bagus, hajar!“ Mereka bertiga tertawa bersama. “Ra, gue boleh lebih tua dari Lo. Tapi kemampuan beda, kalau salah-salah ingatkan ya,“ kata Indah yang merupakan seniornya di universitas tempat mereka menimbang ilmu. Ia memang bekerja di Dirgantara sebelum Rara, namun prestasi keduanya berbeda jauh. “Iya, Mbak. Kapan neh jalan bareng. Kita dah lama gak hangout,” kata Rara kepada Indah. “Ayo, ajak Chika. Gue dah lama gak ketemu dia juga,” jawab Indah kepada wanita mungil itu. “Besok ada film bagus, kalian gak pengen nonton?” Egi memberikan ide. “Boleh, ayo Mbak Indah. Kita nonton,” kata Rara. Mereka sudah duduk di warung makan di belakang gedung Dirgantara. “Mbak Rara, akhirnya kesini juga. Sampai kangen aku,” kata pemilik warung tersebut. Ia datang membawakan pesanan makan siang mereka bertiga. “Iya neh, Bu. Biasa ya Bu, udah lapar neh,” jawab Rara sambil membuka air mineral dingin. Tempat inilah saksi bisu seberapa dekat Rara dan Prita, sahabat sekaligus saudara sepupunya. Hingga detik ini, Rara tidak menyangka akan ditusuk dari belakang oleh orang-orang terdekatnya. “Ra, sorry neh. Gue mau nanya, betulan berita itu?” Indah baru mendengar kabar pernikahan Nanda dan Prita dari grup chat alumni. “Betul, Mbak, Gak ada yang salah dengan berita itu,” jawab Rara datar. “Gak masuk di akal gue, Ra. Tapi ya udahlah, cari lagi aja Ra. Kalle aja dapat CEO,” ucap Indah tak ingin membahas lebih lanjut karena khawatir dengan reaksi Rara. “Ntar dulu Mbak, mau fokus kuliahin Chika. Ada rejeki dapat beasiswa juga masuk negeri,” jawab Rara santai. “Wah, memang kalian berdua ini bibit unggul,” ucap Indah. “Ra, itu mereka bukan ya?” Egi kebetulan melihat Nanda dan Prita keluar dari kedai tersebut. “Bagus kita gak naik ke atas, eneg liatnya,” kata Indah tersulut emosi melihat kebersamaan Nanda dan Prita. “Udah jodohnya, Mbak. Biar aja,” jawab Rara setenang mungkin. “Lo berhak dapat yang lebih baik dari si kupret itu, Ra.” Egi pun sama hal nya dengan Indah yang terpancing emosi. “Iya, tapi sekarang udahan dulu ngerumpinya. Jam makan siang sudah habis, bestie,” kata Rara menyadarkan keduanya. “Gue mau request ke Pak Tara, jam makan siang ditambahin. Biar otak fresh,” ucap Egi terkikik. “Kita kembali ke dunia nyata, cicilan banyak. Ayo kerja!” Rara memberi semangat kepada Indah dan Egi. Sebenarnya Nanda tahu jika Rara sedang makan siang di tempat yang sama dengannya, namun untuk menjaga perasaan Prita, ia memilih untuk tidak menyapa. Nanda mengantar istrinya kembali ke kantor sebelum melanjutkan pekerjaannya sendiri. “Status Rara ada benarnya, kamu dan aku tidak akan pernah menjadi kita. Maafin aku, Ra.” Nanda menghela nafasnya perlahan, apalagi melihat sebuah cincin pernikahan tersematkan di jarinya. Merasakan sesak di dadanya, ia menyadari bahwa semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Keputusannya untuk meninggalkan Rara nyatanya tidak hanya melukai perasaan mantan pacarnya, namun dirinya sendiri. Ditambah penolakan Rara atas ide pernikahan siri yang ditawarkan Prita kepada Rara membuat hubungannya dengan sang mantan semakin meruncing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD