Bukan Berarti Lemah

1145 Words
Sejak pagi memang kondisi Rara kurang baik, namun gadis itu sepertinya tidak memperdulikan keluhan sakit kepalanya. “Mbak, kita udahan dulu yuk. Waktunya ashar,“ ucap Rara kepada Indah. Keduanya sedang mengerjakan serah terima tugas dan tanggung jawab untuk posisi Rara yang akan digantikan oleh Indah. “Boleh, ayo barengan.“ Indah mengambil tas mukenah yang biasa dipakai untuk sholat ke mushola perusahaan. “Kamu agak pucat, Ra. Gakpapa?“ Indah baru menyadari ketika gadis itu melepas kacamatanya. “Gakpapa, mungkin capek aja, Mbak. Aku akhir-akhir ini kurang tidur.“ Rara memijat kepalanya perlahan. Awalnya memang baik-baik saja, tidak ada yang aneh dengan Rara, tiba-tiba saja ia terhuyung tak mampu menopang tubuhnya sendiri. “Ra, Ya Allah! Tolong, Mas tolong!” Indah berteriak menghampiri Rara yang jatuh tak sadarkan diri. Padahal gadis itu hanya ingin mengembalikan sajadah di rak yang sudah disediakan. Ia meminta salah satu cleaning service yang sedang bertugas untuk membantu membopong Rara ke ruang kesehatan. “Aduh, Ra. Kamu kenapa sih,” ucap Indah panik. Ia mau tidak mau menghubungi Vano, atasan Rara sebelumnya. “Bawa ke rumah sakit, biar disiapkan mobil,” kata Vano kepada Indah. Ia bergegas menghampiri Rara yang berada di ruang kesehatan. “Ada yang bisa bantu saya bopong, cepet.” Vano yang sama paniknya dengan Indah merasa tertolong dengan kehadiran Tara. “Biar gue yang bawa, Lo ke mobil aja,” ucap Tara yang tiba-tiba datang dari belakang menghampiri Vano dan Indah di ruang kesehatan. Suasana kantor Dirgantara sempat heboh, Rara, general manager yang baru menggantikan Vano tak sadarkan diri. “Kita ke rumah sakit mana?“ tanya Vano kepada Tara. Mereka baru saja keluar dari area parkir perusahaan. “Yang dekat aja. Ini panas banget badannya, Lo nyuruh dia ngapain sih!“ Tara mengomel kepada Vano. “Lah, bukannya Lo. Gue udah beda divisi kalle “ Vano yang sedang dibalik kemudi membantah ucapan saudaranya. “Aduh, jangan ribut dong!“ Indah yang sejak tadi diam akhirnya buka suara. Setelah sampai di rumah sakit, mereka bertiga menunggu di luar. Selama Rara diperiksa oleh dokter. Mereka duduk terdiam dengan pikiran masing-masing. “Kalau boncel hamil gimana, Van!“ ucapan Tara mendapatkan makian dari Indah yang mengenal betul atasannya. “Maaf, Pak. Rara tidak serendah itu! Dia pegang teguh adat istiadat ibunya,“ jawab Indah kepada Tara. “Mulut itu dijaga, Lo pikir Rara cewek apaan, bego!“ Vano pun tak kalah kesal mendengar ucapan Tara. Ketika Tara akan menjawab ucapan Vano, dokter yang menangani Rara keluar. Otomatis mendapatkan berbagai pertanyaan dari Vano dan Tara. “Saya jawab pertanyaan kalian di ruangan saya, mari.“ Dokter tersebut dengan tenang meminta mereka mengikuti langkahnya memasuki ruangan. “Gimana, dok? Ada apa dengan karyawan saya?“ tanya Tara cemas. “Secara fisik tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi, saya sarankan istirahat beberapa hari disini. Ada yang tahu, mungkin pasien mengalami perubahan sikap dan atau mungkin mood nya tidak baik?“ tanya dokter tersebut. “Ada masalah berat yang jelas, dok.“ indah memberanikan diri membuka suara. “Saya sarankan ke psikiater atau sejenisnya, kasian. Jika berlarut-larut akan jadi penyakit fisik,“ ucap dokter tersebut. “Tapi bisa sembuh, kan dok?“ Tara tidak menyangka jika patah hati yang dialami Rara cukup dalam. “Bisa, asal ada kemauan dan dukungan tentunya. Pasien saya pindahkan ke ruang rawat inap. Tolong jangan terlalu banyak diajak bicara dulu,“ kata dokter tersebut. Kini, Rara sudah sadarkan diri. Di ruang VIP sebuah rumah sakit, Rara tergolek lemah di atas brangkar.. “Mbak, Chika. Dia pasti bingung nyariin aku.“ Rara yang sedang dipasang infus khawatir terhadap adiknya. Ia memandang Indah dengan perasaan gelisah. “Sebentar, aku bantu telepon dulu. Setidaknya ngabarin kamu disini,“ ucap Indah menenangkan Rara. Tak lama kemudian, muncul Egi dan Vano yang membelikan buah dan makanan sesuai rekomendasi dokter. Mereka duduk di sofa tamu ruangan Rara dirawat. “Apa dijemput aja, Ndah?“ tanya Vano kepada Indah. “Kalau boleh, Pak. Saya gak enak merepotkan begini,“ ucap Rara malu-malu. “Gak ngerepotin, tapi buat heboh. Lo waktu di Bandung habis hujan-hujanan pasti gak mandi lagi. Makanya demam, mana udah telat lagi demamnya,“ ucap Tara menghampiri Rara yang terlihat pucat. Ia membawakan sup hangat untuk gadis itu. Mendengar ucapan Tara, Vano dan yang lain saling berpandangan. Ada apa dengan keduanya. “Pada ngeliatin gue begitu amat. Gak ada yang terjadi, gue cuma bantu boncel biar gak kehujanan. Jangan mikir macam-macam!“ Tara duduk di kursi dekat ranjang dan membuka paper bag sup yang ia bawa. “Makan ini dulu, biar enakan.“ Tara membukakan tempat sup dan mempersilahkan Rara makan. “Makasih, Pak.“ Malu-malu Rara menikmati sup yang dibawakan atasannya. “Itu saran Chia, dia yang buatin. Gue keluar dulu cari kopi. Adik Lo biar dijemput Indah sama sopir.“ Tara menyeret Vano keluar dari ruangan Rara dirawat untuk mengajaknya bicara. Meninggalkan Rara bersama dengan Egi, sementara Indah, ia bersama Pak Mul menjemput Chika setelah berhasil menghubungi adik kandung Rara tersebut. “Apaan sih! Lo ketemu Rara di Bandung?“ Vano menatap Tara curiga. “Gue gak sengaja lihat dia sendirian di taman, mana malam-malam. Nangis pula,” jawab Tara apa adanya. “Lo ngapain di taman?” tanya Vano masih curiga kepada saudaranya. “Habis beliin minyak gosok buat Celia, kayaknya masalah si boncel gak sekedar patah hati, Van. Berat neh,” ucap Tara sambil memikirkan sesuatu. “Ya namanya pacaran lama, terus ditinggal gitu aja. Wajar lah kalau oleng si Rara,” jawab Vano berpendapat. “Ya udah, ini gimana si boncel sakit. Lo dobel dulu, ntar gue bantuin kerjaannya,” ucap Tara mengingat banyaknya pekerjaan yang Rara handle. “Siap, Pak. Saya mau kok bantuin Pak Vano,” ucap Egi menghampiri keduanya. “Oke, makasih, Egi. Itu Rara tidur?” tanya Vano memastikan kondisi Rara. “Iya, efek obat juga, Pak,” jawab Egi. “Biarkan saja, kalau gitu gue balik. Celia nyariin,” pamit Tara kepada keduanya. “Hati-hati, Lo,” jawab Vano kepada saudaranya. Tak lama kemudian, Chika datang bersama dengan Indah. “Rara tidur, kita tunggu disini saja biar dia istirahat,” ucap Vano kepada Chika. “Iya, Pak, Makasih,” jawab Chika sopan. Sementara itu, Tara yang baru saja sampai di rumah, disambut oleh tangis Celia. Gadis kecil itu mengadu kepadanya karena Sarah tidak mengangkat telepon darinya. “Sudah, nanti beli sama Papa aja,” ucap Tara menenangkan anaknya. Ia menghapus pipi Celia yang yang basah. Hatinya tidak terima dengan perlakuan sarah kepada anaknya. “Kapan, Papa kan sibuk kerja terus,” ucap Celia memprotes Tara. “Kan cari uang sayang, buat Celia juga,” jawab Tara memberi pengertian anaknya. “Iya, sih. Apa boleh beli sama Nenek?” tanya Celia mencoba bernegosiasi dengan Tara. “Boleh, tunggu Nenek gak sibuk. Celia boleh jalan sama Nenek dan Akung,” jawab Tara kepada anaknya. “Makasih, Pa.” Celia menyandarkan kepala di bahu Tara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD