bc

Menikah dengan Pria yang Menodaiku

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
drama
like
intro-logo
Blurb

Maya dipaksa menikah dengan Pria yang tidak dicintainya. Apalagi Pria itu adalah orang yang telah merenggut paksa kesuciannya. Selain itu, Pria yang dijuluki Juragan itu mempunyai istri. Dan Maya harus menjadi istri kedua. Apakah Maya mau menikah dengan Pria yang sudah berumur itu?

chap-preview
Free preview
Menikah dengan Pria yang Menodaiku part 1
"Anak kurang ajar! Tidak tahu malu! Tidak punya harga diri!" umpatan meluap setelah Ibu memergoki aku sedang melihat hasil test pack di kamar mandi. Benda yang meunjukkan dua garis merah dirampas dari tanganku, diperhatikannya sejenak lalu melemparkannya ke wajahku. Rambut panjangku dijambak dan diseret dari kamar mandi hingga aku terjerembab di ruang tengah. Pukulan bertubi-tubi menjatuhi tubuhku. Tangan lembut yang biasanya membelaiku kini berubah menjadi tamparan. Ibu yang selama ini lembut tiba-tiba berubah menjadi sangat buas. Melihat anak perawannya hamil di luar nikah, pasti hatinya seperti diremas. Hancur! "Anak siapa ini, hah?" Suaranya setengah memekik. Berusaha agar tidak terdengar tetangga. "Dengan siapa kau melakukannya? Dia harus bertanggung jawab!" Kembali rambutku dijambak lalu dihempaskan hingga kepalaku terbentur di dinding. Hanya mengaduh dalam hati jika rasa sakit menghampiri. Mudah saja bagiku untuk mengaku siapa bapak dari anak yang kukandung. Tapi, Ibu tidak akan sanggup mendengar pernyataan dan menerima kenyataan. Juga, tak sudi lelaki yang menam paksa benihnya ke ramhimku harus menanggung jawabinya. Lebih baik mati saja! "Ayo, jawaaaab!" gerang Ibu dengan terus mengobrak-abrik kepalaku. Kudengar suara Aini menangis dan meminta Ibu untuk menyudahi menyakitiku. Aini datang memelukku untuk memberi perlindungan dari amukan Ibu. "Jika tidak mau mengaku, berarti lelaki yang menyentuhmu tidak satu. Dasar anak kurang ajar! Kotor!" Sebuah benda tumpul mendarat beberapa kali ke tubuh dan kepalaku. Itu batang sapu. Aini menjerit memohon agar Ibu berhenti sambil terus memeluk tubuh yang tak berdaya ini. "Ada apa ini?" Tiba-tiba Bapak muncul dan merangkul Ibu dari belakang, hingga gerak Ibu terhalang. Ibu terus meraung minta dilepaskan. Belum puas rasanya sudah menghajarku membabi buta. Sambil bersusah payah menahan Ibu, pria yang tidak lagi muda itu bertanya ada apa. Apa yang sedang terjadi. "Dia hamil. Aku malu punya anak seperti dia!" Suaranya naik beberapa oktaf. Ibu menunjukku dengan tatapan murka. Ada luapan api yang membara sedang membakar dada. Hamil? Mungkin pria itu terkejut mendengar pengakuan Ibu. Entah disadarinya atau tidak, tangan kokohnya tak lagi merengkuh Ibu. Ia membisu. "Dari kecil kau dididik, kutuntun kau dengan agama, semuanya sia-sia. Terbuang percuma. Aku menyesal telah melahirkanmu!" Ya, Allah. Murka Ibu adalah murka-Mu juga. Apakah Engkau juga murka padaku? Sedang Engkau-lah yang maha tahu. "Lihat siapa ini. Lihat! Dia yang rela dan tulus membesarkanmu dan merawatmu!" Tangan kanan ibu mencengkram daguku dan tangan kirinya menunjuk lelaki yang sekarang mematung. Rona wajah yang menampakkan usianya tidak lagi muda tercengang, ia sama sekali tidak menduga. "Apa yang dia dapat darimu, Hah? Apa? Kau coreng nama baiknya. Dasar tidak tahu diutung!" Kembali Ibu akan menyerang, namun segera Bapak tersadar dan menghalang. Ibu menjerit sejadi-jadinya. Tak peduli lagi didengar tetangga. "Sudahlah, malu dilihat tetangga. Mari kita bicara baik-baik," bujuk Bapak sambil berusaha menenangkan Ibu. Ternyata benar, tetangga sudah pada melongo dari depan pintu dan jendela. Ingin melihat lebih dekat kejadian perkara. Bahkan ada yang merekam dengan ponsel kamera. Pasti buat diposting demi mendulang banyak like dan komentar. Dasar manusia sekarang, selalu mengambil kesempatan meraup keuntungan dari penderitaan orang. Aini adikku sayang. Dengan hati-hati ia menyuruh orang bubar dan segera menutup pintu. "Ada apa ini, Aini?" tanya wanita yang kami sapa Bude. Wanita itu menyempatkan diri bertanya sebelum pintu tertutup sempurna. Sepertinya dia pun baru mengetahui keributan ini. Terlihat dari caranya menyerobot sekerumunan orang di depan pintu. "Ada masalah, Bude. Amit, Bude. Pintu mau ditutup dulu." Aini sadar, saat ini belum saatnya berbagi cerita dengan wanita yang tak asing lagi bagi keluarga kami. Terdengar manusia di luar tidak benar-benar bubar. Sayup-sayup terdengar mereka masih menerka-nerka tentang perkara. Setelah Ibu sedikit tenang, kami berkumpul di ruang tengah. Aku menunduk, namun ekor mataku masih dapat menangkap Ibu terduduk lemas di samping Bapak. "Katakan, siapa yang menghamilimu?" Bapak mengawali pembicaraan, suaranya tenang. Menunjukkan sikap bijaksana. Tapi aku tahu, hatinya gelisah. Aini menransfer energinya dengan menggenggam tanganku. Sangat kentara dia dipihakku. Padahal, bisa saja dia membenci kakaknya yang sudah membuat malu. Tidak menjaga martabat sebagai wanita baik-baik. Tidak memberi contoh yang baik pula. Kuangkat kepala dan menatap pemilik suara yang sedang bertanya. Ingin sekali kukatakan fakta. Kutatap pria itu dengan tatapan benci. Pria yang pandai bersandiwara dan membuatku menderita. Pria itu tahu, siapa yang menyebabkan aku berbadan dua.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Secretly Rejected My Alpha Mate

read
36.6K
bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
623.7K
bc

His Unavailable Wife: Sir, You've Lost Me

read
11.3K
bc

Claimed by my Brother’s Best Friends

read
832.2K
bc

The Lone Alpha

read
125.9K
bc

Bad Boy Biker

read
8.9K
bc

The CEO'S Plaything

read
20.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook