Diden membaringkan tubuhnya di atas ranjang dalam kamarnya sendiri. Awalnya ia ingin menginap di rumah sepupunya, agar bisa menonton bola di televisi bersama-sama. Namun sejak Tasya datang ke rumahnya sore tadi, entah mengapa pikirannya sungguh tidak bisa fokus pada apapun, termasuk pada keinginannya untuk menginap.
Dipandanginya langit-langit kamar dengan penuh konsentrasi. Berharap ia bisa melupakan apa yang dilihat dan dirasakannya, hari ini. Namun entah mengapa, semuanya kini terasa menjadi lebih sulit.
Flashback On
"Den, ayo makan," panggil Mia, dari arah luar kamarnya.
Diden masih mencoba menenangkan debaran jantungnya, usai melihat senyuman Tasya dari jarak dekat, akibat membantu mengambilkan wajan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada seorang gadis yang hanya tersenyum santai dan hanya mengucapkan terima kasih padanya, setelah diberi bantuan.
Selama ini, semua gadis yang biasa ia beri bantuan akan merasa bahwa Diden bisa didekati. Mereka hanya melihat Diden karena dia tampan, dan juga punya nama baik. Jadi ketika semuanya hancur, maka gadis-gadis itu pun pergi dalam sekejap, bertingkah seakan mereka tak pernah mengejarnya.
"Den..., jangan tidur dulu. Ayo makan, nanti kamu sakit kalau nggak makan."
Panggilan dari Mia mengembalikan Diden pada kesadarannya. Jantungnya masih juga berdebar, dan ia masih juga berusaha menenangkannya sebelum keluar dari kamar.
Tok..., tok..., tok...!!!
"Kak Diden, makan yuk," suara Tasya terdengar dengan jelas oleh Diden.
Membuat debaran jantungnya malah semakin menjadi-jadi.
"Semuanya udah pada nunggu di meja makan, Kak. Kakak harus makan biar nggak sakit. Lagipula, Kakak belum shalat Isya, jadi jangan tidur dulu," tambah Tasya.
"I..., iya..., sebentar lagi aku keluar, Sya," ujar Diden, terbata-bata.
"Oke, Kak," balas Tasya.
Suara langkah kaki Tasya terdengar menjauh dari pintu kamarnya. Diden pun segera bangkit dari tempat tidur, lalu berupaya menarik nafas dalam-dalam berulang-ulang kali. Ketika ia keluar, semua anggota keluarganya memang telah berada di meja makan, termasuk Tasya. Ia pun segera duduk di samping Axel, seperti biasanya.
"Hmm, wonderful. Masakan kamu dari dulu nggak berubah sama sekali, tetap enak, dan bikin nagih," ujar Keano.
"Wah, udah kaya slogan rumah makan, tuh," cibir Tasya dengan ekspresi yang benar-benar tepat untuk Keano.
Devian tertawa.
"Dia masih jago tuh, bikin slogan-slogan kaya diiklan," ujarnya.
"Kalau gitu buat slogan buat Moon Cafe, dong. Jangan cuma bikin slogan buat komentarin orang doang," saran Tasya untuk Keano.
Keano menatap Tasya.
"Masalahnya, Sya, udah paling enak emang kalau ngasih slogan buat orang lain. Contoh, kaya Adikmu, Kiran. Masakannya, beuh..., selalu asin!" Keano menunjukkan ibu jarinya ke hadapan Tasya.
Tasya pun mencoba untuk menahan tawanya, karena baru saja sebuah perkedel masuk ke mulutnya dan belum sempat dikunyah.
"Astaghfirullah..., Key..., Key..., ingat banget sih kalau masakan Kiran selalu asin!" celetuk Devian.
Tasya segera meminum air di gelasnya hingga tandas.
"Astaghfirullah..., Adikku di rumah lagi gigitin lidah nih, pasti, gara-gara diomongin masakannya," tanggap Tasya.
PLAK!!!
Keano pun meringis, saat Tasya menghadiahinya sebuah geplakan di bahu.
"Hati-hati, jangan suka ngomongin orang. Sekalinya jodoh, hmm, habislah hidupmu!" Tasya memperingatkan.
Keano pun tertawa tanpa ampun, begitupula dengan Devian.
"Sekalinya iya jodoh, Key bakalan jadi pengidap darah tinggi setelah menikah," tambah Devian.
HAHAHAHAHA!!!
Mia datang membawa sayur sop di dalam mangkok.
"Memangnya, iya, Adikmu kalau masak selalu asin?" tanya Mia.
Tasya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kiran kalau masak apapun di rumah, pas bagian menabur garam tuh, kaya penuh dendam gitu, Kak. Nggak enak aja bawaannya gitu, kalau ngasih garamnya sedikit-sedikit," jawab Tasya, sangat jujur.
"Ya Allah..., terbayang sudah di dalam pikiranku, bagaimana rasa asinnya," ujar Ardi sambil meringis.
Tasya menatap ke arah Ardi.
"Jangan dibayangin, Kak, coba aja langsung rasakan sendiri. Rasanya, beuh..., nggak ada lawan," saran Tasya.
Mereka semua tertawa. Bahkan Ana sekalipun yang biasanya murung karena harus terjebak di kursi roda, kini terlihat begitu bahagia saat mendengar Tasya bercerita.
"Nah, yang parah tuh waktu kita masih SMP. Kita lagi ngumpul nih, di rumahku bertujuh. Pengen ngemil 'kan, jelas kalau ngumpul-ngumpul gitu. Kita bikin deh seblak. Aku buat bumbu seblaknya, Lila nyuci kerupuknya, dan Veri bagian rebus itu kerupuk," ujar Tasya.
"Nah pas Tasya udah menumis bumbu, dan kerupuk yang udah direbus masuk ke dalam tumisan itu, Bundanya Tasya pulang, bawa belanjaan di mobilnya. Tasya sama Lila bantuin lah dulu Bundanya kasih turun barang-barang belanjaan. Key yang disuruh jagain itu seblak sekaligus untuk memberi garam, dan nggak lama, keluarlah Kiran dari dalam rumah," sambung Devian.
"Bodohnya, aku meminta Kiran untuk memberi garam pada seblak itu, dan terjadilah bencana," sesal Keano, sambil berakting menangis.
Axel pun menunjuk ke arah Keano.
"Pasti kamu yang makan semua seblak itu 'kan, akhirnya?" tebaknya.
HAHAHAHAHA!!!
Tasya dan Devian pun tak mampu menahan tawanya, atas tebakan Axel yang begitu tepat. Keano semakin depresi ketika mengingat rasa seblak yang harus ia makan bertahun-tahun lalu, itu.
"Mantap, Key. Kapan lagi 'kan, bisa menjadi pengidap darah tinggi melalui jalur instan," ledek Ardi.
Ana dan Mia tertawa terbahak-bahak. Suasana makan malam kali itu sangatlah berbeda. Sangat terasa menyenangkan bagi semua orang. Diden menikmati setiap gigitan dari perkedel yang tengah dimakannya. Sesekali ia menatap ke arah Tasya yang begitu terbuka pada siapa saja, tanpa merasa segan.
Debaran jantung itu tak pernah berhenti, dan kali ini Diden tak ingin meminta untuk berhenti.
Flashback Off
Tok..., tok..., tok...!!!
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat lamunan Diden buyar dalam sekejap. Ia segera kembali bangkit dari tempat tidurnya, untuk membukakan pintu. Raut wajah Mia terlihat di sana, menatap ke arahnya dengan sendu.
"Aku merasa deg-degan dari tadi," ujar Mia.
"Kenapa?" tanya Diden.
"Aku menceritakan yang sebenarnya tentang kamu dan Sarah, pada Tasya. Aku begitu was-was dan takut kalau dia akan menanyakannya langsung padamu saat kita makan malam tadi. Tapi nyatanya, tidak satu kata pun yang keluar dari bibirnya untuk membahas masalah itu. Bahkan terhadap Dev ataupun Key," Mia mengakui.
Diden menatapnya datar, seperti biasa. Membuat Mia ingin tahu, apakah Adiknya akan marah atau tidak atas tindakan yang dilakukannya.
"Mungkin belum saatnya," ujar Diden.
Mia mengerenyitkan keningnya.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Mungkin belum saatnya bagi Tasya, untuk membahas hal itu padaku, atau pada Dev dan Key. Mungkin dia sedang merencanakan sesuatu yang menurutnya tidak akan menyinggung perasaan siapapun," jelas Diden.
Mia pun akhirnya memikirkan apa yang Diden pikirkan. Lalu kemudian kembali menatapnya.
"Lalu, kalau seandainya Tasya mulai bertanya-tanya, apakah kali ini kamu akan memgungkapkan semuanya?" Mia kembali ingin tahu.
* * *