EPISODE 8

1028 Words
Usai shalat maghrib di kamar milik Mia, Tasya segera beranjak menuju ke dapur. Mia terlihat sedang memasak di sana, untuk makan malam. "Mau masak apa, Kak?" tanya Tasya. "Sayur sop, Sya, sama mau buat perkedel. Tapi adonannya belum kubuat," jawab Mia, sambil terkekeh pelan. "Ya udah, aku yang buat perkedelnya ya," izin Tasya. "Boleh. Tapi kamu nggak merasa repot, 'kan?" tanya Mia. "Nggak, dong. Masa cuma bikin perkedel doang aja aku harus merasa direpotkan," jawab Tasya. Diden masuk ke dapur usai shalat berjama'ah di rumah sebelah, bersama yang lainnya. Ia mengambil gelas untuk minum, lalu memperhatikan Tasya yang sedang membentuk perkedel di tangannya. Mia terlihat santai saja, meskipun ada orang lain yang memasak bersamanya di dapur. Padahal biasanya, Mia tak terlalu suka jika ada orang lain yang ikut memasak bersamanya. "Langsung kugoreng ya, Kak," izin Tasya. Mia mengangguk. "Iya, Sya. Pakai wajan yang di atas sana aja," ujar Mia. Tasya pun berusaha meraih wajan yang tergantung agak lebih tinggi dari wajan lainnya. Tangan berusaha menggapai-gapai, namun apa daya, tingginya yang sudah 170 sentimeter masih juga kurang. Diden mendekat, lalu mengambilkan wajan yang Tasya tuju. Gadis itu tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya pada Diden. "Terima kasih, Kak," ucapnya, lalu mulai menuangkan minyak goreng pada wajan. Diden tak menjawab, ia langsung berlalu pergi meninggalkan dapur. Tasya mengamatinya diam-diam, berusaha menebak-nebak bagaimana perasaannya setelah semua yang terjadi di dalam keluarganya. "Diden nggak terlalu merasa kehilangan kaya' Dev, saat istrinya meninggal di hari yang sama," ujar Mia. Tasya menoleh ke arahnya, sambil mengerenyitkan kening pertanda heran. Ia sama sekali tak bertanya apapun, namun Mia tiba-tiba memberikan sebuah keterangan. "Diden dan Almarhumah Sarah dijodohkan oleh orangtua kami. Sarah tidak mencintai Diden, begitupula dengan Diden yang tidak mencintai Sarah. Mereka terpaksa menerima pernikahan itu, karena keluarga kami dan keluarga Sarah saling mempertahankan kekayaan serta nama baik," tambah Mia. Tasya membalik gorengan perkedelnya, lalu mengangkat sebagian yang sudah matang. Usai memasukkan adonan perkedel lain, Tasya pun kembali menatap ke arah Mia. "Pada saat pernikahan itu terjadi, apakah Kak Diden punya..., kekasih?" tanya Tasya, sangat hati-hati. Mia menggeleng. "Diden bukan orang yang mudah membuka diri. Dia orang yang kaku, sehingga begitu sulit baginya untuk bisa memiliki kekasih. Tapi prinsip yang Diden pegang adalah, bahwa dia hanya akan menikah dengan orang yang benar-benar dia cintai dan bisa membalas cintanya. Jadi, pernikahan dengan Sarah, bukanlah hal yang Diden harapkan terjadi di dalam kehidupannya," jawab Mia. "Lalu, apakah Almarhumah Sarah memiliki kekasih, saat pernikahan itu terjadi?" tanya Tasya lagi. Mia menatap ke arah Tasya, sekarang. Tak lama kemudian, ia pun mengangguk. "Nama pria itu adalah Sakya. Almarhumah Sarah begitu mencintainya, hingga diam-diam dia sering mengundang Sakya ke rumah saat Diden pergi kerja. Dan di hari naas itu, kemungkinan Almarhumah Iren ada di tempat yang salah, memergoki mereka berduaan dan Sakya tak bisa menahan diri lagi lalu membunuh dua-duanya. Ya, meskipun itu Hany kemungkinan," jelas Mia. Kedua mata Mia mulai berkaca-kaca, dan hampir menangis. "Pernyataan Kakak ini, tidak pernah ada di dalam berkas kasus. Kenapa?" "Karena aku tahu, akan terlihat seperti apa Adikku jika aku mengatakan yang sebenarnya pada Polisi. Diden akan terlihat seperti... ." "Pembunuh Almarhumah Sarah dan Iren. Ya, aku mengerti," Tasya sengaja memotong dengan cepat. Ia mematikan kompor, lalu memeluk Mia untuk menguatkannya. "Bersabar ya, Kak. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk menyelesaikan semuanya. Insya Allah," janji Tasya. Mia pun mengangguk seraya menyeka airmatanya yang mulai mengalir di wajahnya yang cantik. "Apakah, sekarang kamu akan mencatat dalam berkas mengenai apa yang kukatakan barusan?" tanya Mia. Tasya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku hanya perlu menyimpannya di otakku. Lagipula, saat ini aku sedang tidak bertugas dan interogasi barusan hanya akan dianggap sebagai obrolan biasa," jawab Tasya, jujur. Mia pun tersenyum. "Terima kasih, karena telah bersedia mendengarkan kami dan mempercayai apa yang kami katakan," ucapnya. "Sama-sama. Lagipula, keadilan memang harus ditujukan pada orang yang benar, bukan pada orang yang salah," tutur Tasya. * * * Seth melihat foto Ana yang diperlihatkan oleh Tasya, saat pulang ke rumah. Ia menatap wajah itu sangat lama, seakan ingin sekali meluapkan kerinduannya pada sosok gadis kecil yang suka sekali menari balet, tersebut. "Masya Allah, dia udah besar sekarang," ujar Seth. "Iya lah, kamu aja udah tua," cibir Tasya. Seth tak mempedulikan cibiran yang Tasya layangkan untuknya. Ia segera meraih ponselnya dan mengirim foto itu melalui w******p. Tasya tersenyum diam-diam saat melihat kelakuan Adiknya, sambil menikmati kue sus dan segelas teh hangat. "Ekhm..., aku bakalan dapat apa nih, sebagai kompensasi karena telah memberikan foto Ana secara sukarela?" tanya Tasya, sambil memasang ekspresi bodoh. Seth tersenyum malu-malu sambil menatap ke arah Kakaknya. "Aku kasih cinta, cukup nggak?" tawar Seth. "Ah, nggak mau! Aku maunya yang lain!" jawab Tasya. "Oke..., oke..., Kakakku yang cantik dan pengertian ini maunya, apa?" Seth bertanya sambil memeluk pinggang Tasya. "Hmm..., kamu temuin Ana, ya. Biar dia nggak merasa ditinggalkan, lagi," pinta Tasya. Seth pun mengangguk, setuju. "Sekarang dia tinggal di mana?" tanya Seth. "Di Sukamanah, dekat kok kalau dari sini," jawab Tasya. Seth menatap Tasya lebih lama dari biasanya. Tasya mengerti arti tatapan itu, yang mana Seth ingin Tasya bercerita lebih banyak mengenai Ana. "Aku sempat dengar tentang kasus yang menimpa keluarganya, tapi nggak terlalu tahu. Karena berita itu cepat sekali menghilang, seiring dengan menghilangnya Ana juga, waktu itu," ujar Seth. "Aku sekarang menangani kasusnya, Dek. Kasusnya udah lama banget membeku, nggak ada penyelesaian. Tapi aku optimis, bahwa aku akan bisa menyelesaikan kasus ini sampai benar-benar tuntas," tutur Tasya. Seth tersenyum saat melihat Kakaknya yang tak pernah memiliki semangat yang surut. Ia bangga dengan apa yang selalu Tasya lakukan. "By the way, Ana kenapa duduk di kursi roda, sekarang? Apakah sesuatu juga terjadi, sama dia?" Seth sangat ingin tahu. Tasya pun menyudahi acara makan kue susnya, lalu kemudian secara serius berhadapan dengan Seth. "Jadi, dalam kasus yang aku tangani ini, ada kasus-kasus lain yang berkaitan. Awalnya mungkin hanya sekedar masalah tuduhan penggelapan dana perusahaan, lalu berkembang menjadi kasus pembunuhan, dan satu lagi, kasus mengenai Ana," ujar Tasya. "Kasusnya, berat nggak?" tanya Seth. Tasya pun mengangguk. "Ana tahu siapa tersangkanya, hanya saja nggak ada yang bisa membuat si tersangka terbukti melakukan kejahatan pada Ana. Terlebih waktu itu, baru saja terjadi pembunuhan di dalam rumah keluarganya," jawab Tasya, apa adanya. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD