EPISODE 7

1017 Words
Sore itu, Diden membawa segelas kopi s**u ke meja ruang tamu, di rumah sepupu jauhnya. Rumah mereka bersebelahan, jadi Diden bisa kapan saja menginap semau hati, jika bosan berada di rumah. Keano masih berdiam diri di kamar, usai kejadian tadi siang, di Cafe. Ardi dan Axel - Kakak-kakak Keano - menatap ke arah Diden yang kembali berdiam diri sambil menatap keluar jendela. "Den, ini kita lagi lihat rekaman CCTV tadi siang, di Cafe," ujar Axel, yang biasanya memang paling akrab dengan Diden ketimbang Ardi atau Keano. Diden tetap menatap keluar jendela, tanpa berniat menoleh sedikitpun. "Iya. Aku udah lihat langsung, kok, tadi siang," balasnya, tenang. Ardi dan Axel pun saling pandang. "Kata Mia, itu cewek Adiknya, Zayn? Benar, Den?" tanya Ardi. "Iya. Kata Veri, begitu," jawab Diden, masih dengan ketenangan yang sama. "Terus, setelah marah besar ke Lusi, dia pergi dan nggak balik lagi?" tanya Axel. "Iya. Nggak. Mungkin dia banyak kerjaan di kantornya," jawab Diden lagi. "Menurutmu, dia akan balik lagi nggak, kira-kira?" Ardi ingin tahu. BRUUUM BRUMM!!! BRUBUMM BUMM BRUMM BRUMM!!! Suara motor yang memasuki pekarangan rumah mereka pun terdengar sangat keras. Diden segera bangkit, saat melihat sosok Tasya yang datang ke rumah mereka. Membuat Axel dan Ardi bertanya-tanya, tentang siapa yang datang. Keano pun keluar dari kamarnya dengan wajah yang sembab, akibat menangis. Tasya membuka helmnya, dan meletakkannya pada stang motor seperti biasa. Ia sempat terlihat kebingungan saat akan mengetuk pintu rumah, karena ia melihat ada dua buah pintu yang saling berdekatan. Kebingungan gadis itu berakhir, saat Mia keluar dari dalam rumahnya. Tasya tersenyum seperti biasa ke arah Mia. "Assalamu'alaikum, Kak," sapanya. "Wa'alaikumsalam. Kamu kok bisa tahu alamat rumah kami?" tanya Mia, heran. Tasya pun menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum serba salah. "Uhm..., begini Kak, pertama aku ini Polisi dan tahu alamat Kakak dari berkas kasus yang aku tangani. Kedua, kebetulan sekarang ada GPS, Kak, jadi aku nggak perlu pakai atlas atau peta buat nyari rumah Kakak," jawab Tasya. Mia pun sukses terkikik geli dibuatnya. "Ya udah, oke, kamu menang. Duh, sakit perut aku lama-lama kalau ngomong terus sama kamu," keluh Mia, sambil memegangi perutnya. Diden keluar bersama Devian, yang telah dibangunkan dari tidurnya. Keano pun membuka pintu rumahnya, lalu keluar dan bergabung dengan Tasya dan Devian. Axel dan Ardi hanya mengintip saja dari balik jendela. "Uhm..., boleh pinjam Dev sama Key sebentar, Kak? Nanti aku balikin," pinta Tasya. "Nggak dibalikin juga nggak apa-apa, kok. Santai aja," balas Mia. Membuat Devian dan Keano mendelik seketika ke arah wanita itu, namun tampaknya Mia serius dengan kata-katanya pada Tasya. "Ya, harus aku balikin dong. Aku belum sanggup menafkahi orang lain, Kak. Menafkahi diriku sendiri aja masih keteteran," Tasya mengakui. Diden mengulum senyumannya diam-diam, sementara Mia sudah kembali terkikik geli di tempatnya. "Kita nggak minta dinafkahi kok, Sya," tolak Keano. "Ya siapa juga yang mau, sih, Key?" balas Tasya, sambil menyeret Keano dan Devian. Mereka berjalan menjauh, menuju ke sebuah rumah-rumahan yang berdiri di atas sebuah kolam ikan yang Diden buat. Mereka duduk bertiga di sana, sementara Mia dan Diden kembali masuk ke dalam rumah. Ardi dan Axel ke rumah sebelah melalui pintu dapur yang memang sengaja dibuat tembus, agar memudahkan mereka untuk saling berkunjung. Mia terlihat sedang membuat minuman, sementara Diden membantunya menyiapkan cemilan. "Itu yang namanya, Tasya?" tanya Axel. "Iya," jawab Diden. "Udah nggak ngamuk, dia?" tanya Ardi. Mia menatapnya. "Tasya cuma ngamuk sama Lusi doang, kok. Dia aslinya ramah sama siapa aja. Hanya karena tadi, Lusi udah sangat... ." Mia menggantung kalimatnya, karena mendadak merasa sangat sesak di dalam dadanya. Ardi mengerti akan hal itu, dan ia memilih untuk tak bertanya lebih lanjut pada Mia. Ana keluar dari dalam kamarnya menggunakan kursi roda. "Kak, itu siapa yang datang?" tanya Ana. "Temannya Dev dan Key. Kamu mau makan?" tawar Mia. Ana menggelengkan kepalanya. "Cantik, ya. Humoris, lagi," puji Ana, yang sebelumnya tidak pernah memberi penilaian pada siapapun. Mia, Diden, Axel, dan Ardi saling menatap satu sama lain. Apa yang Ana katakan adalah hal yang tepat untuk menggambarkan Tasya secara singkat. "Sini, biar aku yang antar cemilannya ke depan," pinta Ana. Diden pun menyerahkan satu buah baki berisi cemilan pada Ana. Ana pun segera meletakkan baki itu ke pangkuannya, lalu memutar roda pada kursinya agar bisa sampai ke depan rumah. Diden tentu mengikutinya, bersama dengan Ardi dan Axel. Ana tiba di teras rumah, Tasya melihatnya dan segera melompat dari rumah-rumahan di tengah kolam itu. Gadis itu bahkan melupakan sepatunya, dan membiarkan kakinya telanjang menginjak tanah. "Hei, hati-hati, sayang," ujar Tasya. Ana tersenyum malu, saat menyadari bahwa dirinya hampir saja terjatuh. Jika Tasya tidak sigap menangkap kursi rodanya, maka Ana pasti akan tersungkur ke tanah. Devian dan Keano mendadak lega setengah mati. "Ya Allah, Ana udah besar, ya. Masih ingat nggak, sama Kakak?" tanya Tasya, sambil membelai rambut panjang Ana yang lembut. Langkah Mia pun terhenti, saat mendengar pertanyaan itu. Ana pun mengerenyitkan keningnya, selama beberapa saat, mencoba mengingat siapa sosok yang kini ada di hadapannya. "Wah, Ana lupa, ya?" Tasya mengacak lembut rambut Ana, "aku Kakaknya Seth, teman sekelas kamu di SD, dulu. Ingat, 'kan? Aku pernah bawain kamu sepatu balet, karena kata Seth, sepatu balet kamu hilang saat akan lomba," jelas Tasya. Wajah, dan pancaran mata Ana pun kini terlihat berbinar-binar bahagia. Ia menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Tasya. "Kak Tasya! Iya, aku ingat sekarang!" serunya, kemudian memeluk Tasya dengan erat. Tasya pun membalas pelukan itu dengan hangat. "Seth pasti senang sekali, kalau bisa ketemu kamu lagi. Dia udah kerja sekarang di rumah sakit, cuma nggak full time," ujar Tasya. Kedua mata Ana mendadak berkaca-kaca. "Iya, Kak. Hanya kalau Seth nggak tahu mengenai masalah dalam keluarga kami. Dia pasti senang bertemu aku, lagi," balas Ana. Tasya tak kehilangan senyumannya. Ia justru menggenggam tangan Ana jauh lebih erat dari sebelumnya. Apa yang Ana katakan, membuat siapapun yang ada di dalam keluarga itu akan kembali berpikir berulang-ulang kali, untuk membuka diri pada dunia luar. "Masa? Kata siapa? Buktinya, aku masih di sini," tegas Tasya. Ia menghapus airmata Ana dari wajah cantiknya. "Kamu nggak kehilangan segalanya. Kamu masih punya banyak hal yang nggak akan pernah pergi, meskipun kamu mengusirnya. Aku adalah salah satunya," Tasya menyakinkan. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD