Devian membukakan pintu kaca untuk Tasya dan Lila.
"Yakin, mau pulang?" goda Keano.
"Andai aku nih cowok, ya Key, pilih nggak pulang aku. Udah betah aku di sini, kaya rumah sendiri," balas Tasya, yang sebenarnya merupakan sindiran untuk Keano.
HAHAHAHAHA!!!
Lagi-lagi Devian dan Keano tertawa terbahak-bahak akibat balasan yang Tasya berikan.
"Coba aja, Sya, sekali-sekali. Paling-paling kamu cuma dicincang sama Bundamu, kalau berani nggak pulang," saran Lila, bijaksana.
Tasya pun segera melilitkan lengannya di leher Lila, hingga membuatnya terlihat seperti sedang tercekik. Sekotak penuh kue sus pun diserahkan oleh Devian ke tangan Tasya.
"Lain kali jangan bayar, Sya. Anggap aja aku lagi traktir kamu, kaya dulu," ujar Devian.
"Enak aja! Nggak bisa! Pokoknya setiap kali aku ke sini, aku dan Lila wajib membayar apapun yang kami konsumsi. Kamu tuh di sini untuk kerja, Dev. Kamu harus cari untung, bukan cari rugi. Jadi meskipun kita sahabatan kaya apapun modelnya, tetap aja harus membayar kalau makan dan minum di sini!" tegas Tasya, panjang lebar.
"Iya tuh, benar kata Tasya. Sekalian, melatih isi dompet kami, biar cepat terkuras sebelum tanggal gajian tiba," tambah Lila.
"Astaghfirullah..., udah sana, deh. Kalau mau pulang mah, pulang aja. Capek ketawa tahu nggak, sih, kalau terus-terusan berada di dekat kalian," keluh Keano, sangat jujur.
Tasya dan Lila pun terkekeh lalu mulai menaiki motor milik Tasya, usai memakai helm. Kedua gadis itu melambaikan tangannya ke arah Devian dan Keano, sambil sesekali membentuk lambang love ala-ala Korea dengan sangat lebay. Lagi-lagi, hal itu membuat kedua pria yang sedang menatap mereka kembali tertawa lepas, seakan tak punya beban.
Setelah motor milik Tasya melaju meninggalkan Cafe itu, Keano dan Devian pun saling pandang selama beberapa saat. Kedua mata Keano sudah kembali berkaca-kaca lagi, seperti tadi.
"Kenapa hidup kita bisa jauh berbeda saat ada Tasya dan Lila, Dev? Kenapa?" tanya Keano.
Devian pun segera merengkuh sepupunya tersebut ke dalam pelukan tegarnya. Ditepuk-tepuknya punggung Keano, agar kembali bisa menguatkan diri.
"Sabar, Key. Terkadang Allah memberikan cobaan pada umatnya, tidak akan melebihi kesanggupan umat tersebut dalam menerima cobaan-Nya," balas Devian, dengan bibir gemetar.
Sepasang mata di balik meja kasir itu pun kembali menundukkan kepalanya. Hatinya yang tadi ikut sedikit terhibur oleh kehadiran dan tingkah laku Tasya yang apa adanya, kini mulai kembali tenggelam dalam kubangan duka yang sama.
"Lagi-lagi, kami harus berakhir dalam lubang penuh airmata. Apakah kamu, akan kembali untuk menghibur kami lagi?" tanyanya, membatin.
* * *
Tasya memarkirkan motornya di depan rumah. Lila turun dan membuka helmnya.
"Hayo loh, pada dari mana kalian? Dicariin sama Bunda, tuh, dari tadi," Seth muncul seakan sedang memergoki Tasya dan Lila.
Kedua gadis itu pun segera tertawa pelan saat melihat tampang Seth, yang selalu saja konyol sejak kecil.
"Kita dari Moon Cafe, ketemu sohib lama. Terus dari Masjid Agung, shalat ashar dan maghrib di sana," jelas Tasya, sambil mengusap-usap rambut Seth yang begitu rapi.
Seth pun melingkarkan lengannya di pinggang Tasya dengan manja, sambil bersandar di perut Kakaknya tersebut.
"Itu bawa, apa?" tanya Seth yang melihat sebuah kotak dalam kantong plastik bening.
"Oh, ini kue sus. Tadi aku beli di Moon Cafe. Mau? Kita makan di dalam sama-sama, yuk," ajak Tasya.
Seth pun segera mengangguk dengan cepat. Diraihnya kotak itu dari tangan Tasya, lalu masuk ke dalam rumah untuk menyajikannya di piring. Tasya dan Lila tak langsung masuk ke dalam, mereka memilih untuk duduk-duduk sebentar di beranda.
"Aku masih merasa ada yang aneh dengan Dev dan Key. Aku nggak bisa mengabaikan naluriku yang begitu tergelitik saat melihat Key menangis saat melihat kita, tadi," ujar Tasya.
Lila pun mengangguk.
"Aku tahu, kok. Nalurimu itu kuat sekali, Sya. Aku aja yang udah kerja bertahun-tahun sama kamu, masih juga belum bisa memiliki naluri setajam nalurimu. Kalau nalurimu merasakan ada yang tidak beres pada mereka berdua, jangan ragu, pasti nalurimu itu benar, Sya," tanggap Lila, penuh kepercayaan.
Tasya terlihat berpikir.
"Aku ingin sekali meminta mereka bercerita, La. Tapi aku nggak sanggup memaksa mereka, aku takut mereka akan semakin jauh dari kita, kalau aku memaksa," jelas Tasya, akan apa yang dipikirnya.
"Kalau begitu, sebaiknya kita biarkan saja semua mengalir seperti biasanya, Sya. Seperti dulu," saran Lila.
Tasya pun memejamkan kedua matanya dengan perasaan yang tidak tenang. Ada yang benar-benar mengganjal di dalam hatinya, namun tak bisa ia uraikan dengan lisannya yang kaku.
"Ada apa, ini? Mengapa aku merasakan kerisauan yang teramat dalam seperti ini saat kembali menemui mereka?" batin Tasya.
"Kak Tasya..., Kak Lila..., ini kue susnya udah aku buka. Mau minum teh, nggak?" tanya Seth dari arah dalam rumah.
"Boleh, Dek," sahut Tasya.
Ia dan Lila pun masuk ke dalam rumah, di mana ternyata semua orang tengah berkumpul di ruang tengah sambil menonton drama korea.
"Astaghfirullah..., Cheon Seo Jin!" seru Tasya, sambil menunjukkan wajah ngerinya.
"Lah, masih hidup aja, si Cheon Seo Jin sama Joo Dan Tae!" sebal Lila dengan kedua matanya yang menyipit ke arah drama Korea, The Penthouses season kedua.
Zayn berbalik ke arah Tasya dan Lila sambil melayangkan tatapan penuh rasa tidak percaya.
"Astaghfirullah, kalian nonton juga?" tanyanya.
"Iya, Kak. Daripada kita nonton sinetron Ikatan Cinta, mending nonton si Joo Dan Tae yang kaya Iblis, itu," jawab Lila, jujur.
"Yang paling penting adalah, ceritanya nggak muter-muter kaya Ikatan Cinta," tambah Tasya.
HAHAHAHAHAHA!!!
"Bisa aja sih kamu, Sya. Bilang aja kalau nggak suka lihat aktor dan aktris lokal," ujar Teresha.
"Nggak juga kok, Kak. Kalau yang lokal banyak juga kok, yang aku suka. Angga Yunanda, Jefri Nichol, Syifa Hadju, Aci Resti, Kiki Saputri. Banyak...," ungkap Tasya.
Rismaya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, saat mendengar topik pembicaraan anak-anaknya. Rama diam-diam tersenyum sambil tetap memperhatikan berkas-berkas yang ada di tangannya.
Drrrttt!!! Drrrttt!!! Drrrttt!!!
Getaran ponsel milik Tasya dan Lila pun membuat perbincangan tadi mendadak selesai. Kedua gadis itu memeriksa ponsel mereka, dan berusaha membaca baik-baik pesan yang masuk.
"YES!!! KITA BERTUGAS DI POLSEK MALANGBONG!!!" seru mereka berdua, sambil melompat-lompat di sofa, tanpa tahu malu sama sekali.
Semua orang menertawai tingkah kedua gadis itu. Tingkah yang tak pernah berubah, sama sekali. Bahkan untuk urusan hal-hal konyol pun, mereka tetap kompak dan sama persis.
"Haduh, nggak Adikku..., nggak sohibnya..., kelakuannya selalu aja berhasil bikin resah, ya," gumam Zayn, sambil tersenyum diam-diam.
* * *