EPISODE 1

1044 Words
Tasya memarkirkan motornya tepat di depan Moon Cafe. Sebuah Cafe yang berdiri dari hasil kerja keras Devian dan Keano - sahabat baiknya. Lila turun dari motor tersebut, lalu menyerahkan helm pada Tasya. Mereka bergegas masuk ke dalam Cafe tersebut, saat melihat sosok yang mereka cari ada di sana. "Selamat datang di Moon Cafe..., silahkan... ." Devian pun menggantung kalimatnya, saat melihat siapa yang datang ke hadapannya. "DEV!!!" seru Tasya dan Lila, kompak sekaligus ramai. Devian yang masih merasa speechless pun akhirnya ikut tertawa, dan segera keluar dari balik meja kasir. Ia memeluk kedua gadis itu dengan penuh rasa rindu luar biasa, yang tak mampu ia gambarkan selama tujuh tahun terakhir. Keano - yang baru saja keluar dari pantry - ikut terpana, sama seperti Devian, tadi. "KEY!!!" Seruan yang sama pun diterima oleh Keano, yang kini sedang merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Tasya dan Lila. "Ya Allah, akhirnya kalian berdua pulang," ungkapnya, seraya meneteskan airmata. Tasya pun kehilangan senyumannya. "Loh, kok kamu nangis, Key? Kenapa? Ada apa?" tanya Tasya, to the point. Kepekaan yang sama, kekhawatiran yang sama. Tasya masih belum berubah, dia tetaplah Tasya yang mereka kenal sejak dulu di SMP. "Jawab, Key. Kamu ada masalah apa? Orang kangen nggak akan nangis, orang yang kangen itu akan tertawa bahagia saat melihat yang sudah lama tidak ditemui. Jadi jawab, kamu kenapa?" desak Tasya, yang benar-benar bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres. Devian merangkul Tasya dengan cepat, Keano pun mengusap airmatanya lalu pura-pura tersenyum. "Key nggak apa-apa, kok, Sya. Namanya kangen, ya kadang bisa bikin orang nangis juga, lah," ujar Devian, berusaha meyakinkan. Tasya menangkap lebih banyak lagi hal yang tidak beres dari sorot mata Devian saat itu. Bibirnya mungkin tersenyum, namun mata takkan pernah bisa berbohong. Mata itu tak lagi secerah dulu, tak lagi menampakkan keteduhannya seperti yang Tasya kenali. Tatapan matanya begitu gelap, seakan ada awan mendung bergelayut di sana sepanjang waktu. Lila tahu, kalau naluri Tasya begitu tergelitik saat ini. Gadis itu bukan lagi Tasya yang sering mencoba menebak-nebak keadaan di sekitarnya. Dia telah bertransformasi menjadi orang yang jauh lebih peka, dari dirinya yang dulu. Jelas sekali, Tasya merasakan ada hal besar yang disembunyikan oleh Devian dan Keano. Tapi bagaimana pun, Tasya selalu tidak tega memaksa mereka untuk bercerita, sejak masih SMP. "Duduk, yuk. Kita ngobrol di sudut sana," ajak Keano, yang masih berusaha menahan airmatanya. Tasya dan Lila pun mengangguk, lalu mengikuti langkah Keano menuju salah satu meja di sudut dekat jendela. Devian membuatkan minuman, kemudian kembali mendekat sambil membawa minuman yang lengkap dengan cemilan untuk Tasya dan Lila. "Kalian, apa kabar?" tanya Devian, mencoba terlihat ceria. Tasya dan Lila pun ikut tersenyum terpaksa. "Alhamdulillah, kabarku dan Lila baik. Insya Allah mulai sekarang, kami akan ditugaskan di Malangbong, tidak di Yogyakarta lagi, seperti dulu," jawab Tasya. "Alhamdulillah...," Keano dan Devian mengucap syukur bersamaan. Entah mengapa, perasaan Tasya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres, namun mereka sembunyikan. "Berarti kalian akan bertugas sama-sama dengan Fian, ya? Fian 'kan juga bertugas di sini sejak tiga tahun lalu," Keano begitu antusias. "Nah, itu. Kami masih menunggu keputusan. Kalau kami ditugaskan di Polsek Malangbong, maka kami akan bertugas dengan Fian. Tapi kalau kami ditugaskan di Polres atau Polda Garut, ya berarti kami nggak akan sekantor," jelas Lila. Tasya menikmati kue sus kesukaannya, yang tadi Devian bawakan. Kedua matanya pun membola dengan indah saat merasakan nikmatnya kue yang tengah ia cicipi itu. "Hmm..., enak banget! Ini kue sus pasti bikinan sendiri, nih!" seru Tasya, takjub. "Kok tahu?" tanya Devian. "Tahu dong. Rasanya beda banget sama yang sering dijual di pinggir jalan, Dev. Ini enak banget, sumpah," jawab Tasya, sangat jujur. Keano terkikik geli saat melihat ekspresi takjubnya Tasya yang telah lama tak ia lihat. Waktu berlalu sudah sangat jauh, dan waktu bergulir sangat lama sejak mereka ditugaskan di Yogyakarta, tujuh tahun lalu. Mereka pikir, Tasya akan berubah setelah lama tak bertemu. Nyatanya, Tasya tetaplah Tasya, yang tidak pernah mau mengenal apa itu perubahan. "Kalau suka, nanti aku bungkusin buat dibawa pulang. Kebetulan, masih banyak sisa dan pasti nggak akan habis. Daripada mubadzir, lebih baik kamu yang bawa pulang," ujar Devian. "Tenang..., kamu nggak perlu khawatir, Dev. Hari ini, Tasya udah menemukan surga bagi lidahnya yang cinta banget sama kue sus. Jangan takut, jangan risau, pasti dia bakalan borong kue sus itu setiap hari!" yakin Lila, yang tahu betul sifat alami Tasya. Tasya pun mencibir tepat di samping Lila. "Ah, sok tahu! Sejak kapan aku kaya begitu?" tanya Tasya. "SEJAK DULU!!!" jawab Lila, Devian, dan Keano, dengan kompak. Mereka tertawa lagi seperti dulu, hanya saja belum lengkap tanpa tiga orang lainnya. Seseorang mengintip dari balik meja kasir ke arah meja yang mereka berempat tempati. Tatapannya begitu dingin, namun menunjukkan seakan begitu penasaran, tentang siapa dua gadis yang mendatangi Devian dan Keano tersebut. "Memangnya aku dari dulu, begitu, ya?" tanya Tasya, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Astaghfirullah..., jadi selama ini kamu nggak pernah sadar?" gemas Lila. Keano tertawa tanpa ampun. "Bisa-bisanya sih, Sya, pakai acara nggak sadar diri segala," ungkap Devian. "Ya, karena perasaan, aku nggak pernah kaya begitu, Dev," balas Tasya, polos. "Nggak pernah, apa? Nggak pernah sadar, kalau dirimu itu tukang borong makanan saat udah menemukan yang pas, di lidah?" sindir Lila. Keano pun berusaha untuk menghentikan tawanya. "Gila ya, kalian berdua masih aja kocak dari zaman dulu. Kirain kalian bakalan jaga image, gitu, atau bersikap sok anggun. Ternyata benar-benar nggak ada yang berubah, ya," nilai Keano, jujur. Lila menatap sinis ke arah Tasya. "Mana bisa dia berubah! Bagi Tasya, makanan itu kaya jodoh! Kalau udah ketemu sama yang cocok di lidah, ya pasti akan selalu cocok juga di hati," cibirnya. HAHAHAHAHAHA!!! "Gila, bisa kram setiap saat ini pipi, kalau kita hidup serumah sama mereka berdua! Nggak bisa berhenti ketawa soalnya," ujar Devian. Keano mengangkat kedua tangannya. "Ya Allah, ampuni dosa-dosa hamba. Bisa-bisanya aku berteman sama dua cewek gila kaya mereka," keluhnya, sambil tertawa. Seseorang yang tadi hanya mengintip dari balik meja kasir, kini menatap terang-terangan ke arah meja di sudut itu. Ia memperhatikan baik-baik ke arah Tasya dan Lila. Gadis yang berhasil mengembalikan tawa bahagia Adik dan Adik sepupunya. "Siapa kamu? Mengapa tiba-tiba datang membawakan bahagia pada mereka, tanpa syarat apapun? Tuluskah, itu?" batin orang tersebut. Netranya pun bertemu pandang, dengan netra indah milik Tasya. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD