PROLOG

1085 Words
Deru mesin kendaraan yang berhenti di depan pagar rumah, membuat Rismaya segera berlari meninggalkan dapur dengan cepat. Kiran - putri kelimanya - yang juga berada di dapur begitu terkejut dengan tingkah laku Ibunya, pagi itu. Mira - putri keempat Rismaya - yang baru saja keluar dari kamar mandi pun, melotot ke arah jejak Ibu mereka. "Bunda kenapa, sih? Lagi nunggu tukang sayur, gitu ya?" tanya Mira. "Nggak tahu, tuh. Kalaupun Bunda memang lagi menunggu tukang sayur, entah apa juga yang mau dibeli. Semua keperluan masih ada kok, di kulkas," jawab Kiran. Rismaya menatap keluar jendela, dengan harapan tinggi. Tak lama ia pun tersenyum, karena firasatnya ternyata benar, bahwa putri ketiganya telah pulang dari bertugas. "Tasya!!!" serunya, begitu bahagia luar biasa. Tasya yang baru saja akan membuka pintu pagar pun, segera melambai-lambaikan tangannya seraya tersenyum. "Bunda!!!" balas Tasya, tak tahu malu dipagi buta. Mira dan Kiran mendengar suara Ibu mereka, lalu segera mengabarkan pada yang lainnya di lantai atas. "Ayah!!! Kak Tasya pulang, Yah!!!" teriak Mira, sambil menggedor-gedor pintu kamar orangtuanya. Kiran mengetuk pintu kamar Kakak-kakaknya yang lain. "Kak Zayn, Kak Teresha!!! Kak Tasya pulang!!!" serunya. Seth - anak laki-laki paling bungsu di rumah itu - segera keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk. "Serius? Kak Tasya benar-benar, pulang?" tanyanya. Kiran pun mengangguk dengan pancaran wajah paling bahagia, yang pernah Seth lihat. Rama pun keluar dari kamarnya, lalu mengikuti jejak Mira yang menarik lengannya terburu-buru agar bisa cepat sampai di lantai bawah. Tasya telah masuk ke dalam rumah, dengan segudang barang bawaannya dari Yogyakarta. Rismaya tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Tasya, membuat gadis itu melambai-lambaikan tangannya ke arah Rama, demi meminta pertolongan. "Bun, bagi-bagi dong, Tasyanya. 'Kan bukan cuma Bunda aja, yang kangen," pinta Rama. Tasya mencebik. "Bagi-bagi? Memangnya Tasya, dodol?" gerutunya. Rama pun terkekeh. Putrinya tetaplah orang yang sama, meski sudah tujuh tahun tinggal jauh dari keluarga. Suka protes dan suka menggerutu, adalah sifat Tasya yang paling alami. Tasya menenggelamkan diri dalam pelukan Ayahnya. Semua saudara dan saudarinya terlihat keluar dari dalam rumah dengan wajah penuh tagihan. "Wah, mana nih, oleh-olehnya?" tanya Teresha, tanpa berbasa-basi. Tasya kembali mencebik. "Sapa Tasya dulu lah, Kak. Masa Tasya baru aja sampai di ruang tamu, udah ditagihin oleh-oleh," protes Tasya. Teresha pun terkikik geli, sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Tasya. Mira dan Kiran pun ikut memeluk, hingga mereka kini terlihat seperti gulungan karpet yang berputar-putar. "Wah, kayanya oleh-oleh yang aku pesan nggak ada, nih," ujar Seth, sambil melihat-lihat semua bawaan Tasya. "Memangnya kamu pesan apa, sama Tasya?" tanya Zayn. "Candi Borobudur," jawab Seth, yang lantas membuat cengo Rismaya, Rama dan juga Zayn sendiri. Tasya pun segera meraih satu buah boks dari dalam kopernya yang paling atas, lalu diserahkan kepada Adik bungsu kesayangannya dengan penuh drama. "Ini adalah pesanan Adik bungsuku yang paling ganteng. Candi Borobudur, dalam bentuk miniatur," ujar Tasya. Seth pun menerimanya dengan wajah berbinar-binar, lalu memeluk boks tersebut dengan sangat hati-hati. "Kak Tasya..., saranghae," ucap Seth, seraya membentuk love menggunakan jarinya, seperti Oppa-oppa Korea pada umumnya. "Abdi oge bogoh ka anjeun," balas Tasya, yang sekarang tiba-tiba merasa sangat muak pada Adik bungsunya. HAHAHAHAHA!!! "Korea di balas Sunda, mantap! Adiknya Kakak memang the best!" seru Zayn bahagia, usai melihat wajah Seth yang baru saja terhantam oleh budaya. Tasya pun dipimpong kiri kanan oleh semua saudara dan saudarinya, demi melepas rasa kangen mereka yang telah menggunung selama tujuh tahun belakangan. Rismaya dan Rama bekerja sama mengangkat semua barang-barang milik Tasya ke lantai atas, padahal Tasya sudah melarang mereka karena akan mengerjakannya sendiri. "Sekarang, gimana? Kamu akan bertugas, di sini?" tanya Teresha, yang juga berprofesi sebagai Polisi seperti Tasya dan Mira. "Iya, Kak. Akhirnya setelah menyelesaikan semua tugas, kasus, dan memberikan keadilan pada yang berhak, Tasya diperbolehkan bertugas di sini sama atasan Tasya yang sebelumnya," jawab Tasya, begitu lega. "Alhamdulillah. Kalau begitu, kamu nggak perlu jauh-jauh lagi dari kami semua. Kami sebenarnya sering was-was selama kamu bertugas di tempat lain. Apalagi kamu 'kan mengambil posisi sebagai penindak kriminal pembunuhan. Kami sama sekali nggak tenang," ungkap Zayn, apa adanya. Tasya pun tersenyum, lalu memeluk Kakak laki-laki kesayangannya dengan sangat erat. "Insya Allah Tasya nggak akan kemana-mana lagi, Kak. Tasya akan bertugas di sini sampai akhir hayat," ujarnya, menenangkan. Rismaya dan Rama pun turun dari lantai atas, kemudian bergabung dengan anak-anak mereka. "Lantas, kamu akan ditempatkan di mana? Polsek, Polres, atau Polda?" tanya Rama. "Hmm, itu baru akan dikabari nanti malam, Yah. Setelah aku mengkonfirmasi keberadaanku di Malangbong, baru akan ada keputusan di mana aku akan ditempatkan," jawab Tasya. Kiran dan Mira telah selesai menyajikan makanan di meja makan, Teresha pun telah selesai menata piring, sendok, dan gelas di sana. "Ayo semuanya, sarapan. Kita mau pada berangkat kerja, 'kan?" Mira mengingatkan. Semua orang pun bergegas beranjak ke meja makan. Begitupula dengan Tasya, yang sudah lama tak bercengkrama dengan keluarganya sejak dipindah tugaskan ke Yogyakarta. Pagi itu, semuanya kembali seperti semula. Lengkap, dan bahagia. "Hmm..., sayurnya asin! Siapa nih, yang mau banget cepat-cepat nikah?" celetuk Seth, tak tahu malu. "SETH!!!" amuk Kiran, dengan jurus serbet terbangnya. * * * Usai merapikan semua barang-barangnya, Tasya pun menggelepar di atas kasur seperti ikan tak diberi air. Lelah membuatnya ingin sekali berguling-guling, di atas kasur empuk kesayangannya sejak SD yang posisi, bentuk, dan baunya masih saja sama. Ia tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Menutup mata sambil menghirup udara segar khas Cijanur, yang masuk melalui jendela. Drrrttt!!! Drrrttt!!! Drrrttt!!! Suara getaran ponselnya yang terletak di atas nakas, membuat gadis itu bangkit dengan terpaksa. "Halo, Assalamu'alaikum," sapa Tasya. "Wa'alaikumsalam. Udah selesai beres-beres, belum?" tanya Lila - sahabatnya. "Udah, nih. Baru aja selesai. Memangnya, kenapa?" tanya Tasya. "Ke Malangbong, yuk. Kita ke Cafenya Dev, dan Key. Kata Fian, mereka selalu stand by di situ, loh," ajak Lila. Tasya pun segera berdiri dengan tegap, seakan rasa lelahnya telah hilang dalam sekejap mata. Saat mendengar ajakan Lila, tentu saja semangatnya kembali lagi seperti semula. Ya, rasa rindu pada para sahabatnya telah menggunung, dan terus saja meminta untuk dipuaskan segera dengan perjumpaan. "Ayo, aku on the way..., lagi pakai sepatu, nih," balas Tasya. "Lah, gercep amat! Jemput aku dulu, Sya, baru kita ke Malangbong sama-sama!" gemas Lila. Tasya pun menepuk keningnya, saat tahu kalau Lila masih berada di Cibodas. "Astaghfirullah, Lila! Kirain kamu udah di jalan! Ternyata masih nyangkut di rumah! Kamu yang ngajak, kamu yang telat! Gimana, sih?" gerutu Tasya, tak berkesudahan. Lila hanya bisa terkikik geli, saat mendengar gerutuan Tasya yang tak pernah berubah, setelah belasan tahun bersama. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD