Dua pengawal Raja menyeret Elena masuk ke dalam ruangan besar dan luas. Di sana terdapat kolam renang yang cukup besar juga dan airnya berwarna putih s**u. Kelopak bunga mawar merah berada di tepiannya. Sebagian lagi bertebaran mengapung di atas air.
Lilin-lilin terapi yang menerangi seisi ruangan megah tersebut begitu menusuk hidung wanginya, tapi mampu untuk membuat tenang siapa pun yang menghirupnya. Tirai-tirai kain berwarna merah muda dan kuning keemasan membuat suasana semakin terlihat mahal dan luar biasa.
Borgol rantai yang terpasang dan membelenggu tangan dan kaki Elena pun dibuka. Rantainya jatuh dan menumpuk di antara kaki mungilnya yang mulus dan putih. Elena sedikit bisa bernafas lega karena terbebas dari beratnya bola boling yang telah memberatkan langkahnya.
“Coba dari tadi kaya gini,” dengkus Elena kesal. Ia mengusap kedua pergelangan tangannya yang memerah bekas borgol tadi.
“Itu sakit, tahu!” Tak henti-hentinya ia menggerutu.
Namun, ia melihat raut wajah kedua pengawal itu menyeringai dan sukses membuatnya ketakutan. Tiba-tiba … byur!
Elena di dorong ke dalam kolam tersebut. Sungguh terkejutnya ia. Kolam itu memang tidak dalam, tapi Elena yang tidak bisa berenang malah panik dan melambai-lambaikan tangannya seolah sedang meminta pertolongan. Kedua orang pengawal itu malah pergi dan sama sekali tak menghiraukannya.
Elena seperti hendak tenggelam. Sebagian air s**u itu terminum olehnya. Ia terus menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
Greb! Greb!
Beberapa saat kemudian kedua tangan Elena dipegang dan ia pun bisa memunculkan kepalanya ke atas permukaan air. Ia mencari udara untuknya bernafas. Matanya masih terpejam dengan mulut yang terbuka dan nafasnya pun terengah-engah.
“Tenang, Nona! Tenang!”
Suara seorang wanita membuatnya mendapatkan kesadarannya kembali. Ia melihat ke sisi kanan dan kirinya. Ternyata ada dua orang wanita yang telah menolongnya.
“Apa … apa aku masih hidup?” tanya Elena yang terus mengerjapkan matanya.
Kakinya menyentuh dasar kolam. Ia pun lalu mencoba berdiri dengan air yang terus-menerus menetes dari rambutnya. Nafasnya tak beraturan.
Kedua orang wanita itu malah menertawakan kelakuannya. Elena semakin kebingungan dan menatap aneh pada kedua wanita yang bertelinga seperti serigala itu. Mereka berdua terlihat sangat cantik dan memakai kain berwarna putih bersih. Tepatnya mereka adalah para pelayan Raja.
“Nona, cepat lepas pakaiannya!” pinta seorang wanita yang tadi membantunya.
“Le-lepas? Ti-tidak. Aku tidak mau.” Elena menolak. Namun, kedua wanita itu malah semakin gencar melaksanakan aksinya.
Sebisa mungkin Elena menepis tangan-tangan yang hendak menyentuh dirinya.
“Nona harus segera mandi, nanti Yang Mulia bisa memarahi kami,” ucap salah seorang wanita berambut panjang dikepang.
“Yang Mulia? Tidak. Aku tidak mau. Tempatku bukan di sini. Aku sebenarnya di mana?”
Elena masih tak percaya dengan tempatnya kini ia berada. Semua seperti mimpi.
“Ini planet Pandora, Nona.”
“A-apa itu planet Pandora. Kenapa bisa aku sampai ke planet ini? Aku ingin pulang,” kata Elena.
Elena terus bertanya-tanya karena baru pertama kali mendengar nama planet itu. Ia ingat betul jika guru IPA-nya tidak pernah menyebut planet Pandora. Ia berpikir jika planet itu tidak tercacat di tata surya.
Lagi-lagi para wanita itu malah menertawakan Elena. Ia semakin kebingungan.
Ceklek!
Suara pintu terbuka dan suara tertawaan pun sekejap sirna. Kedua wanita itu segera menundukkan kepalanya seakan memberi hormat.
“Siapa dia?” gumam Elena penuh tanya.
Pandangan matanya agak samar karena banyak air yang masuk ke dalam matanya. Perih. Matanya sedikit memerah.
Seorang pria menghampiri kolam itu dan langsung berjongkok mendekati Elena yang sedang berada di pinggir kolam.
“Jadi dia yang akan dijadikan selir berikutnya?”
“Iya, Pangeran Hermes,” sahut seorang wanita yang berada di samping Elena.
Elena hanya bisa menatap pria itu. Semua tampak aneh. Begitu pun dengan pria yang kini dilihatnya. Telinga pria itu layaknya orang-orang yang sebelumnya Elena lihat. Akan tetapi, milik pria ini berwarna hitam.
“Siapa kau?” selidik Elena. Ia pasang wajah kecut.
“Aku? Perkenalkan, namaku Pangeran Hermes.”
Pria itu menarik dagu Elena dan memperhatikan wajah cantiknya. Satu titik mempertemukan mata mereka berdua. Mau tidak mau, mereka pun saling beradu pandang. Namun, tiba-tiba suara menggelegar mengagetkan pengisi ruangan tersebut.
“Pangeran!”
Suara yang terdengar manly, besar dan menggema mengalihkan perhatian Elena. Kedua wanita di samping Elena semakin mundur dan sedikit memberi jarak padanya.
“Apa yang sedang kau lakukan di pemandian selirku Pangeran Hermes?” tanya Raja Harry. Matanya mendelik seakan tak suka.
“Lepasin!” Elena menepis tangan Hermes.
Hermes bangkit dan menghampiri Raja. Kedatangan Harry tentunya sangat membuat Hermes terganggu.
Sebelumnya Hermes berdiri dan menundukkan kepalanya, memberi hormat. Lalu ia dengan cepat merangkul pundak Raja Harry.
Darrol yang melihat itu, terkesiap dan hendak mengeluarkan pedangnya. Ia yang harus melindungi Raja tentunya harus selalu siap siaga. Akan tetapi, Raja Harry melarangnya. Darrol pun terpaksa mengurungkan niatnya.
Hermes tersenyum. Ia sama sekali tak menganggap dan menghormati Harry sebagai seorang Raja. “Aku hanya ingin melihat selirmu yang baru. Mmm … sepertinya dia berbeda. Dari wangi tubuhnya saja ia sampai bisa memanggilku,” ujar Hermes.
Karena Elena adalah seorang manusia dan berbeda dari penghuni planet Pandora. Maka dari itu, wangi tubuhnya begitu mengundang para pria di kaumnya.
Hermes menatap Elena. Ia melempar senyum dan mengedipkan matanya padanya.
“Dasar laki-laki genit,” pikir Elena.
“Pergilah! Jangan ganggu selirku!” titah Raja Hermes.
“Tenanglah … kau tidak perlu berlebihan seperti itu! Kau memang pelit,” ucap Hermes. Ia kemudian melepas rangkulan tangannya dari Harry.
Terlihat sekali jika Harry sangat tidak menyukai tingkah Hermes. Namun, Harry tetap sabar menghadapinya.
“Baiklah! Aku akan pergi. Yang penting aku sudah berkenalan juga dengannya,” ujar Pangeran Hermes sambil berlalu pergi.
Raja Harry tak menghiraukan Pangeran Hermes. Matanya kini beralih pada calon selirnya.
“Kenapa selirku belum siap?” tanya Raja Harry dengan suara yang seolah sedang membentak.
“Maaf, Yang Mulia. Nona tidak mau mandi,” ucap salah satu wanita tadi. Mengadu.
“Keluar kalian berdua!” suruh Raja Harry.
“Baik.” Serentak kedua wanita itu berucap. Mereka kemudian naik dan meninggalkan Elena sendirian di dalam kolam.
“Ka-kalian mau ke mana? Tunggu aku!” Elena berteriak-teriak. Ia tak mau ditinggalkan dan hanya berdua bersama sang Raja.
“Diam kau!” bentak Raja Harry yang mengagetkan Elena. Seketika mulutnya rapat.
“Darrol! Tutup pintu dan kunci dari luar! Tinggalkan kami berdua di sini!” titah sang Raja yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Mata Elena membulat sempurna. Ia tak mengerti apa yang akan dilakukan sang Raja padanya.
“Baik, Yang Mulia,” sahut Darrol.
Tanpa basa-basi lagi, Darrol menutup pintu yang besar itu dan terdengar suara jika ia juga telah menguncinya sesuai titah atasannya.
“Ke-kenapa semua orang disuruh keluar? Aku yang mau keluar, tahu!” Elena protes.
Raja Harry tak menghiraukan ucapan Elena. Ia malah melepas jubahnya.
“Ma-mau apa kau?” Elena gelagapan.
Mata tajam Raja Harry kini hanya tertuju pada sosok wanita yang berada di tengah kolam itu. Ia lalu melepas pakaiannya.
“Hentikan itu! Jangan sampai kau buka juga yang lainnya!” Elena mulai panik.
“Ya Tuhan … mimpi aneh apa ini? Bangunkan aku sebelum raja gila itu berbuat yang aneh-aneh padaku,” batin Elena. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Mulutnya masih saja komat-kamit.
Sesaat kemudian terdengar suara kaki masuk dan melangkah dalam air. Elena melihat ke bawah, ia bisa tahu bahwa sang Raja masuk ke dalam kolam. Air dalam kolam itu menjadi bergelombang.
“Jangan mendekat! Kumohon …,” ucap Elena dengan nada lirih. Ia sangat ketakutan.
Greb!
Tidak membutuhkan waktu lama, kini Raja Harry sudah berada di hadapan Elena. Ia bahkan sampai memegang tangan sang wanita.
“Jangan menutup matamu! Buka dan tatap aku! Singkirkan tanganmu!” suruh Raja Harry.
Elena malah menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya sudah gemetar hebat. Jantungnya berirama sangat cepat. Perbuatannya itu malah memancing emosi sang Raja.
Byur!
Elena didorong hingga ia jatuh kembali ke dalam kolam. Lagi-lagi ia panik seolah akan tenggelam. Kakinya tak lagi menyentuh dasar. Untuk ke sekian kalinya ia minum air s**u yang terasa hambar itu.
Greb!
Tepat di leher Elena. Sang Raja mencengkeram wanita yang akan dijadikannya selir. Bukan mendapatkan udara, Elena malah semakin kehabisan nafas. Matanya yang merah karena terkena air hanya menatap sang Raja. Ia berontak dan berusaha mendapatkan sedikit udara dengan cara mencakar tangan sang Raja.
“Le … pas …,” ucap Elena susah payah. Wajahnya sudah mulai membiru. Pucat pasi. Air matanya menetes bercampur dengan tetesan air dari kolam.
“Tuhan … apa aku harus mati sekarang? Apa aku harus pergi meninggalkan Ibuku sendirian?” batinnya sedih.
Cukup lama Raja Harry menyadari hal tersebut. Lalu beberapa saat kemudian ia melepas cengkeramannya. Elena segera mencari udara, ia bahkan sampai terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang sudah sangat merah. Elena berpegangan pada tembok beton pembatas kolam. Dadanya kembang-kempis. Ia pun hendak naik ke permukaan dengan tangannya yang gemetar. Tubuhnya begitu lemah.
Berulang kali ia berusaha naik. Ia tak mau disiksa oleh sang Raja yang kejam itu. Dalam pikirannya kini hannyalah ingin melarikan diri saja.
Sret!
Rambut Elena ditarik, dijambak. Wajahnya sampai mendongak. Elena terlihat semakin ketakutan.
“Tolong …!” ucapnya dengan suara yang rendah dan hampir serak. Ia sudah merasa kelelahan.
Sang Raja menempelkan tubuhnya pada sang wanita. Ia mengimpit dan menyudutkannya pada tembok pembatas itu. Pergerakan Elena terkunci. Ia sampai tak bisa berbuat banyak. Raja Harry kemudian menyentuh dan mengelus pipi Elena.
Sang Raja membuka mulutnya dan mengeluarkan taring tajamnya. “Biar kumandikan sendiri saja,” bisik Raja Harry yang mampu membuat mata Elena terbelalak.
“Jangan …!” Elena memohon dengan amat sangat. “Ampuni hamba ….”
Sang Raja berbuat sesuka hati. Ia menarik dan merobek pakaian Elena dengan tenaganya yang sangat kuat.
“Ibu …!” Elena berteriak memanggil-manggil ibunya. Tangisnya tumpah ruah di sana.