Pakaian Elena tercabik-cabik hingga beberapa sobekannya menampakkan beberapa bagian tubuhnya yang putih mulus. Pergerakan Raja Harry terhenti sesaat saat melihat sang gadis menangis tersedu-sedu. Perlahan ia mengangkat dagu mungil itu dengan jari-jarinya yang berkuku panjang.
Raja Harry mendekatkan wajahnya yang tampak menyeramkan. Ada rasa iba saat maniknya bertemu dengan bola mata sang gadis yang seperti bola pingpong itu. Hingga dengan kekuatan yang dimilikinya, ia bisa melihat masa lalu Elena. Ia melihat banyak kenangan buruk yang dialami gadis malang di hadapannya tersebut. Secepat kilat ia turunkan tangannya dan pergi meninggalkan Elena. Ia naik ke permukaan dan kembali mengenakan jubahnya. Berlalu tanpa sepatah kata pun. Sementara Elena hanya bisa menangis dan menangis.
“Dingin ....”
Tubuhnya mulai menggigil. Bibirnya pucat dengan mata yang merah karena kemasukan air. Ia bergerak dengan bersusah payah, bertumpu pada pinggiran kolam. Langkahnya semakin berat karena harus melawan beratnya air kolam. Dengan sisa tenaganya, ia pun naik ke permukaan dan menarik kain yang mengelilingi dan menutupi kolam. Ia lilitkan kain tersebut untuk menutupi tubuhnya. Menghangatkan.
“Aku yakin ini hanya mimpi ... mungkin, jika aku tidur, aku akan kembali berada di rumah sakit.”
Elena memeluk lututnya dengan erat. Menyembunyikan wajah di antara lututnya itu dengan rambut basahnya yang bercucuran air. Ia masih menangis mengingat perlakuan kasar Raja Harry. Selama hidupnya tak pernah ada orang yang begitu kasar padanya. Maka dari itu, ia sangat terkejut diperlakukan demikian.
Tubuhnya sangat kelelahan. Hingga perlahan rasa kantuk pun datang mendera. Dalam kondisinya yang seperti itu, samar-samar ia melihat seseorang berjalan mendekatinya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas karena rasa kantuknya semakin tak tertahankan. Hingga posisinya goyah dan ditahan oleh pria itu. Ya, Elena masih menyadari jika seseorang yang datang padanya adalah seorang pria sebelum matanya mengatup dengan sempurna.
***
Di dalam kastel yang megah, kabar kedatangan Elena langsung diterima oleh seorang Permaisuri, Diandra. Wanita yang mempunyai wajah begitu bersih, cerah bersinar, cantik dan dapat membuat siapa saja yang memandangnya akan terpikat. Wanita itu sangat terkejut dengan kabar yang baru saja diterimanya.
“Apa?! Siapa dia? Kenapa Baginda mau menerima wanita yang tidak terhormat sepertinya?”
Permaisuri Diandra memang selalu sensitif jika berbicara soal seorang wanita. Sudah ada beberapa selir yang menjadi saingannya di Kastel itu. Bagaimana bisa dia tidak cemas? Posisinya bisa terancam jika ada selir yang bisa melahirkan banyak anak untuk Raja, apalagi jika anak itu laki-laki.
Seorang penasihat membisikkan sesuatu, “Wanita itu berbeda, Yang Mulia.”
“Berbeda? Apa maksudmu, Ami?”
Sang penasihat yang bernama Ami itu pun hanya diam sambil menundukkan kepalanya dan membuat Permaisuri Diandra murka. Saking penasarannya, Permaisuri Diandra bergegas berjalan cepat menuju ke kamar Raja. Ia pergi bersama Ami dan beberapa pelayan yang mengikutinya dari belakang. Setiap langkahnya mampu membuat siapa pun yang dilewatinya tunduk. Paras dan segala macam mengenai Permaisuri Diandra memang tak bisa diabaikan. Auranya terpancar.
Langkahnya semakin dekat menuju kamar Raja Harry. Tampak Darrol berada di depan itu. Menjaga dengan berdiri tegak di sana. Namun, saat Permaisuri Diandra tiba di hadapannya, ia pun menundukkan kepalanya.
“Di mana Baginda Raja?” tanya Permaisuri Diandra.
“Baginda sedang berada di dalam,” sahut Darrol tanpa menatap wanita yang kini berada di hadapannya.
“Minggir!”
Darrol membentangkan tangannya. Menghalangi Permaisuri yang ingin masuk. “Maaf, Yang Mulia, Baginda sedang–”
Tak mau mendengar penjelasan yang bertele-tele, Permaisuri Diandra lantas memaksa masuk dengan mendorong tubuh Darrol. Apalah daya, Darrol tak dapat menolak. Sebagai bawahan, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih Permaisuri Diandra memang terkenal dengan sifatnya yang keras kepala.
Saat pintu terbuka, mata Permaisuri Diandra terbelalak saat mendapati Raja Harry sedang menyelimuti wanita yang baru saja dilihatnya.
Benar, saat Elena tertidur, Raja Harry membawanya ke kamar. Entah kenapa ia merasa sangat penasaran dengan wanita yang baru saja ditemuinya. Meskipun Raja Harry terkenal sebagai sosok raja yang kejam dan berdarah dingin, tapi sebenarnya ia memiliki hati yang baik.
“Baginda ... siapa dia? Kenapa Baginda menidurkannya di dalam kamar ini? Ini tidak pantas dilakukan!”
Permaisuri berbicara meledak-ledak sampai membuat telinga Raja Harry sedikit berdenging. Permaisuri sama sekali tak suka dengan kehadiran sesosok makhluk yang tampak berbeda dari kaumnya. Aroma tubuh wanita itu sangat kuat hingga membuat dirinya tak kuasa terlalu dekat. Walhasil, Sang Permaisuri pun sedikit menjaga jarak. Namun, aroma tubuh Elena justru mengundang kaum pria.
“Diamlah! Wanita ini sedang tidur,” kata Raja Harry dengan santainya. Ia menatap wajah Elena yang tampak tenang. Tertidur begitu pulas.
“Bagaimana bisa dia–”
Permaisuri masih saja mempermasalahkan tindakan Raja Harry yang memasukkan orang asing begitu saja ke kamarnya.
“Kenapa? Apa kau cemburu?”
“Bukan masalah cemburu, tapi ini namanya sebuah penghinaan.”
“Penghinaan katamu?! Lalu apakah caramu yang masuk begitu saja ke kamarku bukanlah sebuah penghinaan?” Raja Harry membalikkan pertanyaan. Ia tak suka jika ada yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamarnya.
“Tapi aku–”
“Pergilah sebelum aku menyuruh Darrol untuk menyeretmu keluar!” titah Raja Harry yang masih saja memperhatikan Elena.
“Apa?!”
Meskipun Permaisuri adalah wanita yang secara sah menikah dengan Raja Harry, tapi sikap Raja begitu dingin padanya. Bukan apa-apa, semua itu karena pernikahan di antara mereka berdua bukanlah karena unsur saling mencintai, melainkan karena hutang balas budi. Ayah dari Permaisuri Diandra dulunya adalah seorang perdana menteri.
Kala itu, perang terjadi dan Ayah dari Raja Harry hampir saja tewas saat melawan musuh. Saat itu, sang ayah hampir saja terkena sabetan pedang tajam. Namun, berkat bantuan Ayah dari Permaisuri Diandra, Ayah Raja Harry pun dapat terselamatkan dan justru ayah dari Permaisuri Diandra yang tiada karena terkena sabetan yang cukup dalam.
Sayangnya umur sang ayah memang tidak panjang, hingga Harry pun naik takhta menggantikan ayahnya. Ya, wasiat terakhir sang ayah adalah agar Harry menikah dengan Diandra. Raja Harry memang terpaksa melakukannya dan sampai saat ini, ia pun sama sekali tak mempunyai perasaan pada Permaisuri Diandra.
“Baiklah,” kata Permaisuri Diandra seraya menahan rasa sakit hatinya saat mendengar ucapan Sang Raja.
Dengan kekesalannya, Permaisuri Diandra tak bisa berbuat apa-apa. Matanya hanya mendelik pada Elena yang sedang tertidur pulas. Ia benar-benar tak menyukai kehadiran wanita itu. Kemudian ia pergi menuju keluar dengan berjalan begitu cepat. Darrol berusaha menahan tawanya.
“Awas kau! Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu!” batin Permaisuri Diandra.
Selanjutnya, ia merapikan penampilan dan menaikkan dagunya sedikit. Ia pun segera berjalan ke arah yang berbeda. Bukan kamarnya lagi yang dituju, tetapi kamar Ibu Suri.