CHAPTER 8

1033 Words
Bak seorang detektif yang sedang mengintai targetnya, Yasmin dan Naomi terlihat mengikuti Keenan dan seorang gadis yang tengah berjalan melewati lorong kampus menuju ruang perpustakaan. Sesekali kedua gadis itu bersembunyi saat melihat Keenan dan gadis itu menghentikan langkahnya. Tampaknya Keenan mulai sadar jika sejak tadi ada yang mengikutinya. Buktinya saja sekarang, pria itu terlihat menghentikan langkahnya sambil menoleh kearah sekelilingnya. "Kayaknya kita ketahuan deh, Yas. Udah lah langsung samperin aja deh ya daripada ngumpet-ngumpet gini kayak mau maling aja," ucap Naomi, membuat gadis itu langsung di tutup mulutnya oleh Yasmin. "Keenan, lo cari siapa? Ayo," tanya gadis yang tadi bersama Keenan. Keenan diam sebentar, pria itu masih terlihat melihat sekeliling. Namun disana hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang "Sepertinya ada yang mengikuti kita," ujarnya membuat gadis tadi langsung ikut melihat sekeliling. "Siapa? Perasaan lo aja kali, orang dari tadi cuman ada orang yang berlalu lalang kok. Udah yuk buruan keburu ada jam kelas lagi nih gue." Tidak ingin terlalu larut dengan kecurigaannya, Keenan langsung melanjutkan langkahnya bersama gadis itu menuju perpustakaan. Melihat kedua orang itu sudah kembali melanjutkan langkahnya, Yasmin pun berniat ingin mengikutinya lagi tapi tiba-tiba Naomi mengatakan jika dia sakit perut dan ingin ke toilet. Terpaksa Yasmin sendirian lah yang mengikuti Keenan. Begitu sampai di perpustakaan, Yasmin kehilangan jejak Keenan. Gadis itu sudah tidak bisa melihat keberadaan Keenan. Aneh, padahal tadi sebelum masuk dia masih melihat pria itu. Karena tidak ingin menyerah begitu saja, akhirnya Yasmin mencari keberadaan pria itu di dalam perpustakaan. Tidak mudah baginya mencari Keenan mengingat perpustakaan itu cukup besar. "Mereka pergi kemana sih, cepet banget ilangnya," gumam Yasmin. Gadis itu menyerah, dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk melanjutkan mencari Keenan. "Jadi lo yang daritadi ngikutin gue?" sahut Keenan. Pria itu keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Yasmin. Sejak tadi Keenan sangat yakin jika ada yang mengikutinya. Maka dari itu dia sengaja bersembunyi agar tahu siapa orang yang mengikutinya. Eh ternyata orang itu adalah gadis yang sangat tidak ingin ia temui. Yasmin Putri Wijaya, siapa sih yang tidak mengenal gadis itu. Di kampus ini Yasmin terkenal karena kecintaanya pada Keenan. Gadis itu tidak berhenti mengejar Keenan padahal Keenan sudah mengatakan padanya jika ia sama sekali tidak menyukainya. "Eh Keenan, lo kok bisa ada disini? Eh apa jangan-jangan kita jodoh karena nggak sengaja ketemu disini?" tanya Yasmin sambil menyunggingkan senyum canggungnya. Bukannya menjawab pertanyaan Yasmin, Keenan justru menatap jengah gadis yang hampir setiap hari mengganggu hidupnya itu. "Sampai kapan sih lo ganggu hidup gue? Dimana ada gue pasti ada lo. Capek tahu nggak lihatnya." "Mungkin itu yang namanya jodoh? Kita di takdirkan untuk berjodoh maka dari itu kita tidak pernah terpisahkan." Melihat bagaimana tidak tahu malunya Yasmin mengatakan hal itu membuat gadis yang tadi bersama Keenan menatapnya dengan tatapan anehnya. Karena penasaran gadis itu pun bertanya pada Keenan siapa Yasmin karena memang dirinya sama sekali tidak mengenal Yasmin. "Kenalin gue Yasmin, Yasmin Putri Wijaya Calon pacar Keenan Argantha," sahut Yasmin sambil mengulurkan tangannya pada gadis itu. "Pacar? Gila lo ya?! Nggak, dia bukan pacar gue. Asal lo tahu aja ya Yasmin, cewek yang sekarang ada disebelah gue ini adalah cewek gue. Namanya Gladys," sahut Keenan membuat Yasmin sekaligus gadis yang tadi bersamanya terkejut. Pacar? Sejak kapan Keenan punya pacar? Selama ini tidak pernah ada satupun gosip yang mengatakan jika Keenan mempunyai pacar, jadi Yasmin tidak mudah percaya dengannya begitu saja. Sangat terlihat jelas ketika Yasmin tertawa setelah mendengar Keenan mengatakan jika gadis yang berdiri disampingnya itu adalah pacarnya. "Ya ampun Keenan, saking tidak sukanya lo gue deketin sampai-sampai mengaku kalau lo udah punya pacar?" Tatapan kesal terlihat jelas di wajah Keenan, pria itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran Yasmin "Kalau lo nggak percaya, tanya aja sama orangnya." Gladys terlihat kebingungan saat Keenan meminta Yasmin untuk langsung bertanya padanya. Karena mendapat lirikan serta senggolan dari Keenan, akhirnya gadis itu mengiyakan ucapan Keenan. "Keenan benar, gue Gladys pacar barunya. Kita baru pacaran 2 hari ini jadi mungkin belum banyak yang tahu." "Nggak, kalian pasti bercanda kan? Nggak mungkin kalian pacaran. Keenan, lo pasti ngelakuin ini cuman biar gue berhenti ngejar lo kan?" "Terserah lo mau percaya apa nggak. Sekarang lo udah tahu kan kalau gue udah punya cewek? Jadi stop kejar atau ganggu hidup gue lagi." Tanpa memperdulikan tatapan sedih Yasmin, Keenan langsung menarik tangan Gladys. Membawa gadis itu keluar perpustakaan meninggalkan Yasmin yang kini menjadi pusat perhatian beberapa mahasiswa yang berada di dalam perpustakaan itu. Gladys Margaretha atau yang biasa dipanggil Gladys adalah sepupu jauh Keenan. Gadis itu baru saja pindah ke kampus ini karena orang tua nya dipindah tugaskan di kota ini. Keenan terpaksa mengakui Gladys sebagai pacarnya agar Yasmin berhenti mengejarnya karena pria itu merasa sangat terganggu dengan Yasmin yang selalu saja mencari perhatiannya. ,,,,,,,,,,, "Keenan, lo gila ya? Ngapain lo ngaku-ngaku kalau gue ini pacar lo?" tanya Gladys marah. Kini Gladys dan Keenan sudah berada didalam mobil pria itu. Keenan terpaksa membawanya kesini karena takut jika Yasmin masih mengikutinya. "Sorry, gue terpaksa lakuin itu. Lo tahu kan siapa cewek tadi? Dia yang sering gue ceritain ke lo. Gue udah capek banget dikejar sama dia jadi gue terpaksa ngakuin lo sebagai cewek gue. Dys, gue minta bantuan lo ya, please pura-pura jadi pacar gue didepan Yasmin." Tanpa berpikir panjang Gladys langsung menolak. Bukan tanpa alasan dia menolak membantu Keenan, itu semua karena dia sudah mempunyai pacar. Walaupun pacarnya kuliah di luar kota, tapi tetap saja statusnya sekarang adalah pacar orang. Gladys tidak ingin hubungannya dengan pacarnya berantakan hanya karena membantu Keenan menjadi pacar pura-pura nya. "Lo kan tahu gue udah punya pacar, gue nggak mau pacar gue marah kalau gue jadi pacar pura-pura lo." "Please sekali ini aja deh. Lagipula pacar lo kan di bandung, dia nggak akan tahu kok." "Tetap aja gue nggak mau!!" Keenan diam. Pria itu terlihat memikirkan cara agar Gladys mau menerima tawarannya. "Bagaimana kalau gue beliin tiket konser idola kesukaan lo? Gue beliin yang vvip deh." "2 tiket." "Kok ngelunjak sih? 1 tiket vvip aja udah mahal banget loh." "2 tiket atau gue nggak mau bantuin lo?" Keenan menghela nafasnya kasar. Dia menyerah, tidak ada cara lain selain mengikuti keinginan sepupunya itu. Walaupun dia harus mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli 2 tiket konser yang sudah bisa dipastikan sangat mahal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD