CHAPTER 9

1008 Words
Raga menatap Yasmin yang sedang menyatap makan malamnya dalam diam. Saat pria itu menghampirinya, tiba-tiba Yasmin menyudahi kegiatannya dengan sisa makanannya yang terlihat masih cukup banyak. Gadis itu bangkit hendak beranjak pergi ke kamarnya namun dengan cepat Raga menahan pergelangan tangannya "Mau kemana? Duduk dan habiskan makananmu." Yasmin melirik sekilas kearah tangannya yang saat ini ada pada genggaman Raga kemudian menariknya hingga genggaman itu berhasil terlepas "Gue udah nggak mood makan," balasnya dingin. Gadis itu berniat ingin melanjutkan langkahnya menuju kamar tapi lagi lagi Raga menahannya. Helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut Yasmin. Saat ini gadis itu sedang tidak ingin berdebat dengan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Tenaganya sudah cukup habis setelah digunakan untuk menangisi kenyataan tentang Keenan yang sudah mempunyai kekasih. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, duduk." Karena tidak ingin berdebat, Yasmin pun mengalah. Dengan malasnya gadis itu kembali mendudukan dirinya diatas kursi yang tadi ia duduki. Dengan tatapan kesalnya Yasmin menatap Raga yang duduk disebrangnya. Dapat ia lihat pria itu meletakkan sebuah kertas yang isinya entah apa Yasmin sama sekali tidak tahu dan tidak mau tahu. Gadis itu memilih menunggu Raga memeberitahu apa isi dari kertas itu tanpa harus ia yang bertanya. "Baca," perintah Raga sambil menyodorkan kertas yang ia bawa tadi ke arah Yasmin. Dengan kasar Yasmin mengambil kertas itu dan membacanya. Wajahnya yang tadi memperlihatkan ekspresi malas seketika berubah menjadi ekspresi terkejut begitu membaca satu kalimat yang ditulis dengan hidup kapital dengan blok hitam tebal "Surat perjanjian aturan selama berumah tangga? Apa ini?" tanyanya sambil menatap Raga. "Seperti yang kamu baca, itu adalah surat perjanjian antara kita. Di dalam surat itu ada beberapa aturan yang harus kamu patuhi. Aku sudah menulis peraturan apa saja yang harus kamu patuhi. Disitu ada beberapa baris yang kosong, kamu juga bisa menulis aturan yang ingin kamu buat. Kita bebas membuat aturan tapi kita juga harus menaati aturan masing-masing. Kalau ada dari kita yang melanggar salah satu aturan itu, maka akan ada hukumannya," jelas Raga. Setelah melihat Yasmin beberapa kali bertindak semaunya tanpa mau diatur, Raga terpaksa membuat aturan-aturan yang harus Yasmin patuhi agar gadis itu tidak lagi melakukan tindakan semaunya. Raga juga membebaskan Yasmin menulis aturan yang ingin gadis itu buat untuk dirinya. Raga ingin berniat membuat aturan itu secara adil tanpa ada pihak yang dirugikan. Dengan kasar Yasmin melempar surat itu kearah Raga. Gadis itu menolak mentah-mentah dengan aturan itu. Yasmin sendiri merupakan orang yang sangat tidak menyukai aturan. Gadis itu tidak suka mengatur dan diatur, maka dari itu dia tidak akan setuju Raga membuat aturan untuk dirinya. "Baca dulu, toh kamu juga bisa membuat aturan sendiri kan? Aku akan mengikuti semua aturan yang kamu buat selama kamu juga mengikuti aturan yang aku buat. Pokoknya mau tidak mau kamu harus menandatangani surat itu." "Gue nggak mau! Lo itu kenapa sih hobi banget ngatur-ngatur gue? Gada kerjaan lo?" "Terserah kamu mau ngomong apa, pokoknya baca surat ini dan tanda tangan!! Kalau kamu tidak mau tanda tangan, aku akan memaksamu dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya," ujar Raga sambil memperlihatkan senyum smirknya. Melihat bagaimana pria didepannya menyunggingkan senyum smirknya membuat Yasmin bergedik ngeri. Pada akhirnya gadis itu kembali mengambil suratnya dan membacanya. Didalam surat itu terdapat 4 aturan yang sudah Raga buat untuk di patuhi oleh Yasmin. Berikut aturan-aturan yang harus Yasmin patuhi. 1. Tidak boleh pulang diatas jam 9 malam dan tidak boleh pergi ke club malam. 2. Harus bersikap sopan dan baik pada suami. 3. Tidak boleh pergi tanpa seizin suami. 4. Menolak adanya larangan kontak fisik. "Apa-apaan ini? Lo pikir gue anak SD yang gaboleh pulang diatas jam 9 malam? Dan apa ini poin kedua, gue harus sopan dan baik sama lo? Dih ogah!! Apalagi poin ketiga, terserah gue dong mau pergi kemana aja kenapa harus izin sama lo? Dan poin terakhir, gue nggak akan mau kontak fisik sama lo!!" seru Yasmin kesal setelah membaca benerapa peraturan yang Raga buat. "Kamu tidak ada hak untuk menolak aturan itu. Dan sebenarnya masih ada 1 aturan lagi. Aku sengaja tidak mencantumkan disitu karena ini masih bisa dinegoisasi." "Peraturan apalagi?" "Peraturannya adalah kamu harus mau melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Ini tidak wajib sih, kamu masih bisa menolak. Tapi ini juga termasuk kedalam hukuman. Jika kamu melanggar salah satu aturan diatas, maka mau tidak mau kamu harus menerima konsekuensinya." Sontak kedua mata Yasmin langsung membulat sempurana begitu mendengar apa yang baru saja Raga katakan. Oh astaga, apa pria itu baru saja memintanya untuk melakukan hubungan badan dengannya? "Sampai kapanpun gue tidak sudi melakukan hal itu sama lo!!" "Pilihannya adalah patuhi semua aturan yang sudah aku buat jika kamu tidak ingin mendapatkan hukumannya. Sekarang giliran kamu, Kamu boleh menulis aturan yang ingin kamu buat untuk aku patuhi." Helaan napas kasar kembali keluar dari mulut Yasmin. Gadis itu sudah berusaha menolak perjanjian itu tapi Raga tetap kekeh membuat aturan itu, jika ia menolak maka pria itu akan tetap menjalankan aturannya dengan hanya dirinya saja yang mempunyai aturan. Karena tidak ingin dirugikan, akhirnya Yasmin mengalah. Gadis itu mulai menulis beberapa aturan yang ingin dia buat. Sebuah senyuman terlihat mengembang di bibir Raga saat melihat gadis itu mulai menggoreskan tinta bolpoin diatas surat perjanjian itu. Hingga beberapa saat kemudian Yasmin selesai dengan kegiatannya. Gadis itu langsung memberikan surat tadi pada Raga untuk pria itu baca. Jika tadi Yasmin yang terlihat terkejut membaca peraturan yang Raga buat, kini giliran Raga yang dibuat terkejut dengan aturan yang Yasmin buat. Bagaimana tidak terkejut, Yasmin menulis 4 aturan dengan isi yang sama yaitu 'YASMIN MENOLAK SEMUA ATURAN YANG RAGA BUAT!' "Yasmin!" "Kenapa? Bukannya lo tadi bilang gue berhak tulis apapun aturan yang gue mau kan? Ya itu, gue mau menolak semua aturan yang lo buat." "Aku sedang tidak main-main, Yasmin." "Gue juga nggak main-main, Raga." Seperkian detik kemudian suara gebrakan meja terdengar begitu keras. Raga yang menjadi pelaku penggerakan itu beranjak berdiri sambil menatap tajam ke arah Yasmin "Aku sudah mencoba bersikap sabar padamu. Jika kamu tidak bisa menghargai kesabaranku, maka jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya." ancam Raga berhasil membuat Yasmin diam seketika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD