Raga berjalan keluar rumah hendak berangkat ke kampus untuk mengajar, didepan pintu dia melihat Yasmin yang masih berdiri di teras sambil mengadahkan tangannya, mengecek apakah hujannya masih turun atau tidak. Hujan memang sudah turun sejak tadi subuh hingga sekarang.
Dengan senyum tipisnya Raga menghampiri gadis itu dan berdiri tepat di sampingnya "Mau bareng nggak?" tanyanya berhasil membuat Yasmin langsung menoleh ke arahnya.
Yasmin tidak menjawab pertanyaan Raga itu, dia memilih diam karena masih marah dengan kejadian semalam. Saat Raga memaksanya menandatangi surat perjanjian yang pria itu buat. Karena tidak mendapat respon dari Yasmin, akhirnya Raga pun kembali melayangkan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya. Namun lagi-lagi Yasmin hanya diam enggan menjawabnya.
Karena sudah 2x bertanya dan tidak mendapat respon, pada akhirnya Raga memutuskan untuk kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil. "Yakin nggak mau bareng? Jam 8 nanti kamu ada kelasku, kamu tahu kan apa hukumannya kalau kamu terlambat?" tanya Raga lagi sebelum benar-benar menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya.
Yasmin terlihat memejamkan matanya sekilas, ah dia lupa jika pagi ini ada kelas dosen menyebalkan itu. Karena tidak ingin terlambat dan berakhir mendapat hukuman, gadis itu akhirnya terpaksa berangkat bersama Raga. Menunggu hujan rega akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika saja ayahnya tidak menarik mobilnya mungkin Yasmin tidak akan kesusahan berangkat ke kampus.
Sepanjang perjalanan menuju kampus keduanya terlihat saling diam. Raga yang fokus menyetir sesekali melirik kearah Yasmin yang tengah memalingkan wajahnya keluar jendela melihat rintikan hujan yang turun membasahi jalanan ibu kota. Karena hujan yang sudah turun sejak tadi pagi membuat jalanan menjadi cukup macet.
"Nanti gue turun di persimpangan dekat lampu merah aja. Gue nggak mau ada yang lihat gue berangkat berang lo," ucap Yasmin sambil melirik sekilas kearah Raga.
Raga mengangguk kemudian keduanya kembali diam beberapa saat. Karena bosan menunggu kemacetan, akhirnya Raga pun mencoba mengajak Yasmin mengobrol. "Aku dengar Keenan sudah punya pacar? Kemarin aku juga sempat melihat mereka datang ke ruang rektorat," ujar Raga membuka suaranya. Mencoba memecahkan keheningan antara dirinya dan Yasmin.
Yasmin yang tadinya melihat keluar jendela kini mulai mengalihkan pandangannya kearah Raga "Harus banget ya lo bahas itu?" tanyanya dengan nada kesal.
Sebuah kekehan terdengar keluar dari bibir Raga, pria itu terkekeh karena melihat bagaimana raut wajah cemburu Yasmin saat mengatakan pertanyaan barusan. "Kamu cemburu?"
"Bukan urusan lo!"
"Baiklah sekarang aku ubah pertanyaannya, apa kamu masih ingin mengerjarnya?"
Pertanyaan yang baru saja keluar dari bibir Raga membuat Yasmin terdiam. Gadis itu terlihat menghela nafasnya panjang. Sejujurnya dia sendiri juga bingung harus berbuat apa. Dia tidak tahu harus berhenti mengejar Keenan atau tetap memperjuangkan perasaanya pada Keenan, walaupun Keenan sudah mempunyai kekasih.
Raga menatap Yasmin dengan tatapan datarnya. Jika boleh jujur, ada sedikit rasa sakit yang ia rasakan saat melihat bagaimana reaksi sedih Yasmin ketika gadis itu mengetahui jika Keenan sudah mempunyai kekasih. Terkadang Raga berfikir, sebegitu cinta kah Yasmin pada Keenan sampai gadis itu tidak mau melihat kearahnya? Raga sudah berusaha menjadi yang terbaik tapi gadis itu tetap saja tidak ingin menerimanya.
"Stop! Gue turun disini." sahut Yasmin.
Dengan spontan Raga menghentikan mobilnya tepat di persimpangan dekat lampu merah seperti yang Yasmin minta tadi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Yasmin langsung turun dari mobil begitu saja. Meninggalkan Raga yang menatap kepergiannya dengan tatapan sendunya.
,,,,,,,,,,,
Pandangan Naomi tidak lepas dari foto seseorang yang ada dilayar ponselnya. Disamping nya duduk 2 orang temannya yang juga ikut memandangi foto tampan dosen pujaan hati mereka. Beberapa saat yang lalu Naomi tidak sengaja melihat akun sosial media lama milik Raga, didalam akun itu terdapat begitu banyak foto lama Raga ketika masih bersekolah dibangku kuliah. Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan mendapat foto tampan Raga, Naomi pun langsung menyimpan semua foto itu didalam galeri ponselnya.
"Pak Raga ganteng banget sih, apalagi pas jaman kuliah. Berasa ngelihat idol korea nggak sih," seru salah satu teman sekelas Naomi yang bernama Mona.
"Oh iya, kalian penasaran nggak sih siapa mantan istri pak Raga? Waktu itu kan cuman foto dari belakang, belum kelihatan dari depannya. Gue penasaran cewek secantik apa yang udah bisa mendapatkan pak Raga walau hanya sesaat," sahut Naomi. Jika boleh jujur, gadis itu sangat penasaran dengan wajah mantan istri Raga.
Saat asik membicarakan tentang mantan istri Raga, mereka bertiga dikejutkan dengan kedatangan Yasmin dengan wajah murungnya. Gadis itu bahkan langsung mendudukan dirinya ditempatnya tanpa menyapa sahabatnya. Melihat hal itu Naomi pun langsung bangkit dari duduk nya kemudian menghampirinya. "Yasmin, lo gapapa kan?"
Yasmin tidak menjawab, gadis itu memilih menidurkan kepalanya diatas meja. Rasanya hari ini adalah hari yang membuatnya malas masuk kampus. Bukan tanpa alasan kenapa gadis itu murung, alasannya karena tadi saat hendak pergi ke kelasnya, Yasmin tidak sengaja melihat Keenan yang baru saja datang bersama Gladys. Hal yang semakin membuat Yasmin murung adalah ketika melihat Keenan membukakan pintu untuk Gladys lalu memayunginya masuk ke gedung kampus.
"Kayaknya Yasmin lagi galau deh, kan Keenan udah punya pacar," ucap Moni.
Tidak ingin mengganggu Yasmin, Naomi pun kembali ke bangku nya guna melanjutkan aktifitas ghibahnya bersama teman-temannya.
,,,,,,,,,,,,
"Selamat pagi, pak Raga."
Raga menyunggingkan senyum tipisnya membalas sapaan beberapa dosen yang sudah lebih dulu datang ke kampus. Dengan senyum yang masih mengembang pria itu berjalan menuju mejanya.
"Selamat pagi, pak." Keenan bersama Gladys yang baru saja masuk kedalam ruang dosen itu menghampiri Raga di mejanya. Niat kedatangan mereka menemui Raga adalah untuk memberikan surat kepindahan Gladys ke kelas Keenan.
"Jadi kamu ingin pindah fakultas? Kenapa?" tanya Raga pada Gladys setelah membaca isi surat itu.
"Tak apa, pak. Hanya ingin saja."
"Benarkah? Bukan karena ingin sekelas dengan kekasihmu?" tanya Raga lagi. Kali ini pria itu bertanya dengan nada godaannya.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari Raga membuat Keenan dan Yasmin tersipu malu. Mereka berdua tidak menyangka jika berita tentang hubungan mereka sudah menyebar bahkan sampai ke telinga dosen.
"Tak usah malu, saya juga pernah merasakan jatuh cinta saat masih kuliah dulu. Kalau bisa pertahankan hubungan kalian, jangan sampai pisah. Sayang, kalian sudah sangat cocok. Sama-sama tampan dan cantik."
"Terima kasih, pak. Hmm kalau begitu kami permisi ya pak karena sebentar lagi ada jam kelas."
Raga mengangguk menanggapinya. Entah kenapa pria itu merasa ada yang aneh dengan Keenan dan Gladys. Walaupun tidak tahu apa yang aneh dari mereka, Raga tetap merasa jika ada sesuatu yang mereka sembunyikan.