13. Pura-pura Lupa

1342 Words
Nyai Kosasih dengan sabar menunggu dan merawat mereka. Beliau berharap mereka segera sadarkan diri. Namun hingga usai waktu Isya, mereka belum juga sadarkan diri. Nyai Kosasih yang teramat panik mencurahkan isi hatinya kepada abah Engkus—suaminya. “Abah ... kenapa mereka belum juga sadarnya? Kumaha ini teh?” Nyai Kosasih begitu khawatir. “Sudah, Ambu ... pasrahkan saja semua pada Allah, kita sudah berusaha semampu kita. Tinggal berdoa saja yang banyak buat mereka!” Abah Engkus berusaha menenangkan hati istrinya yang terlihat sangat galau. Setelah Abah Engkus melihat dua orang itu. Hatinya bergetar merasakan iba. Pria paruh baya itu bergegas berganti pakaian dan bersiap memberitahu Bu Dokter Niken. Mengenai kondisi terkini, kedua orang yang mereka temukan di tepi sungai. Nyai Kosasih tetap duduk di tepi ranjang kamarnya yang saat ini menjadi tempat berbaring Hapsari dan juga Gendis yang masih belum sadarkan diri. Baru saja Abah Engkus melangkahkan kaki untuk membuka pintu rumahnya. Tiba-tiba istrinya memanggil-manggil nama Abah Engkus. “Abah!” “Abah, kadieu!” Nyai Kosasih berteriak-teriak memanggil suaminya untuk segera datang menuju sumber suara. ‘Naon deui Si Nyai teh? Abah udah siap-siap mau ke rumah Bu Dokter Niken malah dipanggil-panggil lagi!’ batin Abah Engkus yang merasa kesal. Pria paruh baya itu langsung bergegas kembali ke kamar Nyai Kosasih. Baru saja abah Engkus membuka gorden kamar itu. Nyai Kosasih langsung menghampirinya. “Bah! Tingali eta! Lihat Abah!” Nyai Kosasih menunjukkan jari telunjuknya ke arah Hapsari dan Gendis yang sudah membuka mata secara perlahan. “Alhamdulillah ... Jadi mereka teh udah siuman?” Abah terlihat berbinar mengetahui dua orang yang mereka selamatkan sudah siuman. “Terus sekarang Abah teh panggil Dokter Niken ke sini!” Nyai Kosasih kembali memerintah suaminya untuk segera memanggil dokter Niken. “Tahu gitu mah atuh tadi Abah langsung aja ke dokter Niken Ambu! Jadi sekalian jalan teu bolak-balik!” Abah merasa bahagia, sekaligus kesal terhadap istrinya. “Sudah! Abah teh nggak usah komplain! Sekarang buru atuh Abah ke dokter Niken!” perintah Ambu kepada Abah sembari mendorong tubuhnya. “Iya ... iya sabar atuh, Ambu!” Abah langsung berjalan menuju rumah dokter Niken. *** Setelah Abah memanggil dokter Niken untuk memeriksa dua pasien itu di rumahnya. Saat itu juga dokter Niken bergegas mengambil tasnya dan pergi bersama Abah menuju rumah Abah. Dokter Niken merasa lega mendengar kabar bahwa dua pasien yang tadi diperiksa sudah siuman. Dokter muda itu pun sangat responsif untuk menomor satukan kesehatan warga desa. Dokter Niken segera memeriksa kondisi Hapsari dan juga Gendis yang baru saja membuka matanya. Dokter muda itu sangat berdedikasi dalam profesinya. Bahkan dia tidak ragu-ragu untuk mau ditempatkan di sebuah desa terpencil yang bahkan memiliki akses yang sulit untuk dijangkau. Jangankan sinyal ponsel. Bahkan kendaraan menuju desa itu pun hanya bisa dijangkau menggunakan ojek. Mobil dokter Niken pun diparkirkan di desa sebelah sebelum memasuki desa itu. *** “Halo bagaimana kondisi kalian?” dokter Niken menyapa kedua pasiennya yang tidak lain adalah Hapsari dan Gendis. Mereka berdua hanya mengulas senyum dan menatap bingung situasi yang ada di sekitar mereka. Menyadari hal itu, dokter Niken berusaha untuk menjelaskan kepada mereka. “Pasti kalian bingung ya? Kenapa ada di sini? Sebelum saya menceritakan kepada kalian. Perkenalkan nama saya Niken. Saya dokter satu-satunya yang ditugaskan oleh pemerintah untuk menjaga kesehatan warga desa ini,” jelas dokter Niken kepada 2 pasien itu. “Kalian berada di rumah Abah Engkus dan Nyai Kosasih.” Dokter Niken kembali memperkenalkan pemilik rumah kepada mereka. “Kalian tidak perlu takut! Karena merekalah, orang yang pertama kali menolong kalian saat hanyut dan tersangkut berbatuan di tepi sungai. Saat kalian ditemukan, sedang terjadi hujan lebat yang mengguyur wilayah inj. Bahkan Abah Engkus dan Nyai Kosasih tidak memedulikan hal itu. Karena yang terpenting bagi mereka adalah bisa menolong kalian.” dokter Niken mengulas senyuman hangat sembari menjelaskan kepada mereka secara perlahan. “Terima kasih!” kalimat itulah yang pertama kali keluar dari mulut Hapsari. “Tidak perlu berterima kasih atuh, Neng! Kita sesama manusia teh memang harus saling tolong-menolong! Lalu nama Neng teh siapa?” Nyai Kosasih penasaran dengan identitas mereka. “Nama saya ....” tiba-tiba ekspresi wajah mereka berubah nelangsa. ‘Alhamdulillah ya Allah. Engkau telah melindungi hamba dan Putri hamba. Entah bagaimana jadinya jika saat itu kami tidak bisa keluar dari mobil! Hamba bersyukur karena telah diberi kesempatan kedua setelah mengalami sesuatu hal yang sangat mengerikan bersama putri hamba—Gendis,' bisik Hapsari dalam hatinya sembari memikirkan cara untuk bisa kembali bertahan hidup. “Neng?” Ambu Kosasih kembali memanggil nama mereka sembari melirik ragu ke arah suami dan dokter Niken. “Saya Hapsari. Lalu ini anak saya—Gendis,” ucap Hapsari yang masih terlihat sedikit linglung dan bingung dengan keadaan yang ada di sekitarnya. “Bagaimana Ibu bisa hanyut bersama putri Ibu?” dokter Niken membutuhkan informasi itu. Karena dia merasa kalau ada orang yang yang sedang mencarinya. “Saya ... Saya lupa dengan apa yang terjadi!” Hapsari pura-pura lupa bagaimana kejadian tentang kecelakaan itu. Pun berpura-pura merasa pusing ketika mengingatnya. “Ya sudah Bu, jangan dipaksa untuk mengingat apa yang terjadi dengan Ibu dan anak Ibu! Mungkin Ibu terkena benturan di kepala yang mengakibatkan trauma sehingga Ibu sulit untuk mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Tapi semuanya akan berangsur pulih.” Bu dokter Niken berusaha untuk menenangkan mereka. Hapsari hanya mengangguk kemudian menatap Gendis yang terlihat masih kebingungan seperti dirinya. “Oh ya Bu, sepertinya tangan putri ibu mengalami benturan yang cukup keras. Kemungkinannya retak. Tapi untuk mengetahui lebih lanjut, sebaiknya Ibu datang ke rumah sakit agar tangan kiri Putri Ibu bisa dirontgen. Supaya mendapatkan perawatan yang lebih baik.” dokter Niken menyarankan hal itu walaupun beliau sudah berusaha untuk membidai tangan Gendis. “Saya masih lemas Dok! Apa bisa Putri saya dirawat di rumah saja? Saya juga bingung harus tinggal di mana sekarang.” Hapsari bingung harus melangkah seperti apa. Berusaha menutup-nutupi kalau dirinya menjadi korban kecelakaan. “Hal apa yang terakhir Anda ingat ,Bu? Apakah Anda korban kecelakaan? Korban penculikan? Atau korban pembegalan atau kau sedang bermain di sungai atau bagaimana?” dokter Niken ingin mengetahui asal-usul Hapsari dan Gendis yang tiba-tiba ada di tepi sungai di desa itu. “Walaupun Saya berusaha untuk mengingatnya, kepala saya terasa sakit. Tapi yang terakhir saya ingat waktu itu, kami sedang bermain di tepi sungai sebelum hujan lebat. Terus saya tidak ingat apa-apa lagi!” sekali lagi Hapsari berusaha untuk menutup-nutupi identitas serta kecelakaan yang menimpanya. “Baiklah kalau begitu, untuk sementara waktu akan Saya rawat. Ibu bisa tinggal di rumah kontrakan saya yang tidak jauh dari sini!” dokter Niken menawarkan hal itu. Namun segera dibantah oleh Kosasih. “Tinggal di sini saja, Bu dokter! Saya sama Abah kan kesepian. Kalau nanti ada Hapsari dan Gendis mungkin bisa menjadi pelipur lara buat kami!” Nyai Kosasih keberatan kalau Hapsari dan Gendis diboyong ke rumah ibu dokter. “Baiklah kalau begitu, bagaimana Ibu Hapsari? Apakah ibu mau tinggal bersama Nyai Kosasih?” dokter Niken kembali mempertanyakan hal itu kepada Hapsari. Hapsari menatap Nyai Kosasih dengan ragu-ragu sembari mengulas senyumannya. “Kalau memang tidak merepotkan Nyai, saya dan anak saya mau tinggal di sini untuk sementara waktu, sampai saya bisa mengingat semuanya.” Hapsari yang lemah lembut bingung untuk menjawab hal itu. Dia tidak menolak jika tinggal di rumah Nyai Kosasih yang sudah begitu baik menolong Hapsari dan Gendis. “Tidak merepotkan! Justru saya teh senang kalau bisa menolong kalian!” Nyai Kosasih terlihat sangat berbinar-binar. Karena dia merasa Hapsari dan gendis adalah dua bidadari yang dikirim oleh Tuhan untuknya. Setelah sekian lama Nyai Kosasih dan Abah Engkus memohon, berdoa, untuk dikaruniai keturunan. Walau mungkin bukan anak kandung. Paling tidak Nyai Kosasih memiliki anak angkat. Wanita itu memang berniat untuk mengangkat anak terhadap Hapsari dan Gendis sebagai cucunya. “Terima kasih, Nyai.” Hapsari tersenyum lega kepada Nyai Kosasih. “Panggil saja, Ambu, Neng!” Nyai Kosasih juga merasa senang karena akhirnya rumah itu tidak lagi sepi. Bagi Hapsari saat itu dirinya berusaha untuk menyembunyikan identitasnya dari siapa pun. Karena dia merasa ada konspirasi yang terjadi dengan kecelakaan yang menimpa Hapsari dan putrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD