Chapter 5

1165 Words
El dan Kavin menatap seluruh orang yang berlalu lalang dihadapan mereka. Taman pada sore hari memang selalu ramai, apa lagi terdapat permainan untuk anak-anak. El menatap gadis kecil sendirian hanya menatap teman temannya yang bermain, El menyenggol lengan Kavin. Kavin menoleh dan menatap objek yang El tunjuk. Kavin mengerti dan beranjak menghampiri gadis itu. "Hai adek," gadis itu menoleh menatap Kavin polos. "Kakak boleh duduk disampingmu?" gadis itu menatap kursi yang diduduki nya dan mengangguk. "Kenapa ga ikut main?" gadis itu kembali menatap Kavin. "Ga ada yang mau temenan sama saya kak," jawabnya. "Kenapa ga ada yang mau nemenin? Kamu kan cantik," gadis itu tersenyum, usianya sekitar 5 tahun dan sudah pandai berbicara. "Kata mereka aku anak haram, ga punya ayah," ucapnya sambil tersenyum. Kavin menangkap kesedihan, "Kata ibu, ayah udah meninggal jadi Vira bukan anak haram, tapi mereka ga percaya sama ucapan Vira," "Namamu Vira?" gadis itu mengangguk. "Kenalin, nama kakak Kavin. Oh iya, kakak punya temen dia disana," Kavin menunjuk El yang masih memperhatikan anak-anak yang sedang bermain. "Kamu main sama kita aja yuk, kakak ga jahat kok," lanjutnya. Vira tersenyum dan mengangguk, Kavin menggandeng tangannya. El belum menyadarinya jika kedua orang itu menghampirinya. Vira berdiri dihadapan El untuk mengejutkannya, El terkesiap melihat gadis kecil itu menatapnya dengan pandangan polos. "Hei!" seru El kaget. "Kakak cantik, pacarnya kak Kavin?" tanyanya menatap bergantian El Dan Kavin. El tersenyum,"Bukan, kakak cuma sahabat nya," ujarnya. "Kakak namanya siapa?" Vira mengulurkan tangannya. "Nama kakak Quenbe," gadis itu tersenyum lebar. "Nama kakak bagus," ujarnya tulus. El yang memang menyukai anak kecil menciumnya dan mendudukan nya dipangkuan. "Nama kamu siapa sayang?" "Vira," "Kenapa Vira ga ikut main sama mereka?" obrolan kecil itu terus berlanjut, terlihat senyuman lepas El tanpa ada beban. Kavin tersenyum melihatnya, dia tidak pernah melihat El tersenyum lepas saat tidak bersama anak kecil. "Vira," panggil seorang ibu. Vira tersenyum lebar,"Ibu!" dia turun dari pangkuan El dan berlari menghampiri ibunya. Ibu itu menerima pelukan anaknya dan menggendongnya menghampiri El dan Kavin. "Terimakasih udah menjaganya nak," ucapnya tersenyum. "Oh iya bu ga masalah, kebetulan juga teman saya suka anak anak" jawab Kavin menarik El agar berdiri menyalimi ibu itu. Ibu itu tersenyum mengelus pipi El lembut,"Kamu cantik, nama kamu siapa sayang?" "Nama saya Quenbe tante," jawab El tersenyum menjawabnya. Ibu itu tersenyum, "Kapan kapan main ke rumah tante ya sayang, tante buatin makanan," "Iya ibu terimakasih, Vira anak yang pintar. Dia juga mudah bergaul," sela Kavin. El menaboknya, "Dia ga bicarain Vira nakal atau ga," bisik El. "Kalian pacaran?" "Ga bu, mereka sahabatan," jawab Vira mewakili. "Ibu ga nanya kamu sayang," Ibu itu mencubit pipi Vira gemas. El menatapnya tersenyum bahagia, Vira memang kehilangan ayahnya namun dia tidak kehilangan kasih sayang seorang ibu. "Kenapa kamu menangis sayang?" tanya ibu itu menatap El khawatir. El terkejut, "Ah ga papa bu, biasa saya suka baper ngeliat orang yang bahagia," ucapnya. Ibu itu tersenyum, dia mengetahui El dari tatapannya. "Ibu ngantuk," ucap Vira menyenderkan kepalanya. "Baiklah kita pulang, ibu pulang dulu ya, nanti main ke rumah ibu diujung jalan ini," ibu itu menunjuk rumah sederhana bercat Biru diujung jalan. El dan Kavin mengangguk dan tersenyum. "Kakak nanti kita main lagi ya!" seru Vira. El tersenyum dan mengangguk,melambaikan tangannya. *** El berjalan ke rumah nya setelah berpisah dengan Kavin di perempatan jalan. Meaw Suara bayi kucing itu membuat El berhenti berjalan. Dia melihat ke tengah jalan terdapat bayi kucing yang baru lahir merangkak diantara kendaraan yang melintas. El menengok ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada kendaraan yang berlalu lalang. El berjalan ke tengah jalan yang sudah senggang. Dia mengangkat bayi kucing itu dengan hati hati. Dia tidak melihat keadaan disekitarnya yang sudah mulai ramai akan kendaraan. Tin tin El mulai tersadar ketika mobil pribadi menuju kearahnya dengan cepat. Mata El melebar melihatnya, badannya kaku diam di tempat. Mobil itu mendekatinya dengan cepat. Suara teriakan dan klakson saling bersahutan namun badan El masih diam Mobil itu sudah semakin dekat bahkan sudah di depannya, beruntung dia ditarik paksa seseorang ke trotoar dengan cepat. Brak Mobil itu menabrak tiang listrik dengan keras. El merasakan pelukan hangat dari seseorang dengan napas memburu. "Kamu gapapa?" tanya nya, El masih belum sadar karena terkejut. "Quen?" El tersadar ketika seseorang mengusap pipinya lembut. Dia menatap orang itu bingung, "Bunda?" ya Monik, dia yang sudah menariknya ke pinggir jalan agar tidak tertabrak. Monik kembali memeluk El dengan erat, "Syukurlah kamu ga papa," ucapnya lega. El masih mencerna apa yang terjadi. Meaw Suara kucing itu menyadarkan El dari pikirannya. Monik masih memeluknya, "Jangan bagunkan aku jika ini mimpi," gumamnya. Monik meneteskan air matanya, dia memang mengikuti El ketika dia berpamitan kepadanya saat akan ke taman dengan Kavin. Dia melihat interaksi El dengan orang lain seperti yang di taman tadi. Dia selalu mengikuti El disaat El akan keluar dengan siapapun tanpa ada yang tau. "Sayang? Kamu gapapa kan? Ga ada yang luka?" tanya Monik menangkup wajah El. El menatap Monik dalam, "Quen?" El langsung menangis memeluk Monik tanpa melepaskan anak kucing itu. Kedua orang itu menjadi pusat perhatian pejalan kaki. *** Revan bingung dengan jalanan yang biasanya senggang sekarang menjadi macet total. Dia membuka kaca mobilnya bertanya kepada pejalan kaki, "Apa ada kecelakaan?" "Ya, di depan sana ada kecelakaan. Mobil rem nya blong hampir menabrak gadis kali tidak salah bernama Quen," jawab pejalan kaki itu yang sempat mendengar panggilan El, Revan mengerutkan kening nya. "Quen? Baiklah terimakasih," Revan turun dari mobilnya untuk memastikan sesuatu jika bukan Quen putrinya. Revan terdiam di tempat melihat dua wanita saling berpelukan. "Quen," kedua wanita itu melepaskan pelukannya. "Ayah," Revan memeluk El namun matanya menatap Monik yang menunduk menghapus air matanya. "Kamu gapapa sayang? Ayah dengar ada kecelakaan?" El menunjuk mobil yang menabrak tiang listrik itu. "Mobil itu hampir menabrakku, tapi bunda menarikku ke pinggir jadi aku selamat," ujarnya tersenyum. Revan menatap Monik dan El yang tersenyum. "Syukurlah kamu selamat, lebih baik kita pulang. Mobil ayah ada disana," Revan menunjuk letak mobilnya dan menarik El serta Monik untuk mengikuti nya. Monik hanya diam ketika lengannya digenggam hangat oleh Revan setelah sekian lama. El memasuki mobil dan duduk dikursi penumpang belakang, dia hanya ingin tiduran. "Bunda di depan ya, Quen mau baringan di belakang," ucapnya sebelum masuk. Monik mengangguk setuju dan memasuki mobil. Revan melirik El yang sudah terlelap, Revan meraih tangan Monik digenggam nya erat. Monik terkejut dan menatap ke belakang, takutnya El melihatnya. "Maafkan Aku udah main kasar denganmu selama ini," ucapnya. Monik hanya diam tanpa menjawab, dia bingung harus menjawab apa. "Terimakasih udah menjaga putriku," "Dia juga anakku!" serunya tidak setuju. "Bukankah kamu ga menyayanginya?" "Kalo aku ga sayang padanya, aku biarkan dia kecelakaan di depanku!" gerutu nya, Revan tersenyum mendengar gerutuan istrinya. "Kembalikan Monik yang aku kenal, kembalikan Monik yang perhatian pada keluarganya, kembalikan Monik yang sayang pada anaknya, kembalikan Monik yang sayang pada suaminya dan kembalikan Monik yang cerewet. Revan rindu dengan kecerewetannya, Revan rindu dengan senyumnya, Revan rindu melihat istri dan anaknya saling melempar canda tawa, Revan rindu semuanya.” “Aku mohon, cukup sampai disini kita saling bertengkar, saling cekcok, mementingkan ego masing-masing. Kita sudah mempunyai Quen, anak kita yang kamu berikan untukku," ucapnya panjang lebar menggenggam nya erat. Monik tersenyum,"Maaf jika ego ku lebih besar, maaf jika aku belum dewasa menghadapi masalah yang ada, dan maaf jika aku udah menyakiti perasaan putri kita," ujar Monik. Revan tersenyum mencium tangan Monik. El tiba-tiba terbangun dan langsing duduk,"Bunda!" panggilnya mengagetkan Revan dan Monik. "Iya sayang?" Monik menoleh ke belakang melihat El yang tertidur kembali. Monik terkekeh melihatnya, "Dia sepertimu Van, kalo tidur kayak kebo! Susah dibangunin," Revan tentunya protes dan obrolan mereka berlanjut hingga rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD