Chapter 6

994 Words
Suasana sejuk menemani malam El, alunan hujan rintik-rintik memenuhi bumi. El menatap langit dengan tersenyum, dia sangat suka angin sejuk saat hujan. Dia akan tertidur sangat lelap dengan suasana seperti ini, namun tubuhnya tidak akan kuat menerima nya dan El mengabaikan kelemahannya itu. "Quen," Monik memanggilnya ketika dia akan melewati balkon. El menengok dan tersenyum menghampiri Monik,"Kenapa bun?" "Kenapa kamu di luar, lagi hujan udaranya dingin. Masuk gih, udah malem juga," ucap Monik perhatian, El tersenyum mendengar perkataan bundanya yang kembali lembut padanya. "Enak adem bun, besok kan libur jadi bisa begadang," jawab El. Monik mengelus rambut El,"Tetep aja udah malem, kamu ga boleh begadang nanti sakit. Tidurnya mau ditemenin bunda?" tawar Monik. El mengangguk antusias, menarik lengan Monik lembut dan menutup pintu balkon dengan pelan. "Kenapa kamu suka sekali dengan udara saat hujan? Kan dingin," "Ga dingin, sejuk." jawabnya singkat. Monik mengangguk setuju, dia juga berpikiran seperti itu. "Quen," panggil Revan. "Ya?" "Belum tidur? Udah tengah malem," ucapnya. "Ini mau tidur Yah," Revan kebangun saat merasakan Monik tidak ada disampingnya dan berinisiatif untuk mencarinya. "Ayah cari bunda ya?" lanjutnya lagi. Revan mengangguk, "Kamu lanjut tidur aja Van, aku mau nemenin Quen tidur," ucap Monik. Revan menatapnya, "Ga ah, ga enak kalo ga ada kamu. Mending kita tidur barengan aja," usul nya. El tersenyum lebar melihat keluarganya seperti dulu lagi. "Emang muat? Badan kamu kan gede," cibir Monik meledek. "Kalian mau tengkar atau tidur?" sela El melihat perdebatan yang tak kunjung selesai. "Tidur," jawab mereka berdua serempak. "Lebih baik aku tidur sendiri," ujarnya dan meninggalkan keduanya. Sebenarnya dia kecewa namun tak apa yang terpenting dia bisa merasakan kasih sayang Monik lagi. Revan merasa bersalah ketika melihat tatapan kecewa El meskipun hanya sesaat. "Maaf," lirih nya menatap Monik yang masih menatap kepergian El. "Kamu sih ngajak debat!" gerutu Monik ikut kesal. "Iya aku salah, aku kan ga bisa tidur kalo kamu ga disamping aku," ucapnya. "Ga usah lebay, udah sana samperin Quen!" perintahnya. Revan pasrah ketika Monik mendorongnya. El berdiri didepan jendela, matanya belum mengantuk dan masih ingin melihat rintik-rintik hujan. Revan memeluknya dari belakang,"Kenapa belum tidur?" bisiknya. "Belum ngantuk," jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya. "Maafin ayah," "Maaf kenapa?" "Entahlah, ayah cuma merasa bersalah melihat tatapan kecewa kamu tadi," El berbalik menatap Revan dengan tersenyum, "Quen ga kecewa kok Yah," ujarnya. "Mata ga bisa bohong, sayang" El menundukan pandangannya, Revan tersenyum masam dan kembali memeluknya. "Ayah minta maaf sayang, ayah tau kamu kecewa karena bunda ga nemenin kamu tidur," ujarnya. El hanya diam, Monik menghampiri keduanya dan ikut memeluk El. "Bunda akan nemenin kamu sayang, dengan ayahmu juga," ucap Monik. El tidak menjawab, dia hanya diam dipelukan Revan dan Monik dengan mata terpejam, kepalanya sudah terasa berat dan itu menandakan badannya tidak kuat lagi dengan angin nya. "Quen?" panggil Revan khawatir. Tubuh El merosot kebawah tiba-tiba, Monik panik melihat El yang tak sadarkan diri. Revan mengangkatnya dan merebahkannya dengan hati-hati. "Quen?" Monik terus saja memanggilnya, tangan El terasa dingin. Monik menggosok nya agar tetap hangat, "Jangan buat Bunda khawatir sayang," gumamnya masih terus menghangatkan tangan El. Revan terdiam mematung melihat El yang terpejam. Monik menatapnya, "Mas? Quen kenapa?" tanya nya. Revan beralih menatap Monik dengan mata berkaca-kaca dan menggeleng tidak tau, dia tidak pernah melihat El tidak sadarkan diri di depannya apalagi dipelukannya. Tangan El semakin dingin, Monik menatapnya panik. "Panggil dokter mas! Tangannya semakin dingin!" serunya semakin menggosokan tangannya. "Tengah malam begini?" "Jangan bodoh! Dokter akan siap siaga pukul berapa pun itu! Cepat panggil dokter!" bentaknya,  dia tidak pernah sepanik ini sebelumnya. El masih memejamkan matanya, tangannya mengepal dengan tiba-tiba. Revan melihat itu terburu memeluk El erat, "Sayang, kamu kenapa?" air matanya lepas begitu saja. Monik menganga tidak percaya, dia sudah menyuruhnya untuk menelepon dokter tapi kenapa memeluk El, dengan kesal Monik menelepon dokter Ika. Seluruh tubuh El dingin, napasnya pun mulai sesak. Revan menyaksikan itu hanya panik tidak terkira, ada apa dengan putrinya itu? "Nik, telpon Kavin." ucapnya. Monik menuruti nya, dia menelepon Kavin, mungkin sahabat anaknya ini tau apa penyebab El bisa tidak sadarkan diri. "Halo?" sahut Kavin serak, dia sudah tidur nyenyak namun deringan handphone nya mengganggu. "Nak, bisa ke rumah sebentar? Ini bundanya Quen." mata Kavin langsung segar, perasaan khawatir muncul tiba-tiba. "Iya bun Kavin segera ke sana!" ucapnya dan bergegas. Monik menggigit kukunya, kebiasaan jika merasa panik atau khawatir. Dokter Ika segera memeriksa El yang terkulai kaku. "Dia tidak boleh terkena angin malam dan juga jangan biarkan dia begadang, kesehatannya terganggu karena itu. Saya akan berikan resep obat untuk Quen." jelas nya sembari menulis resep itu. Monik hanya mengangguk. Dokter Ika pamit pulang karena dia ingin istirahat. "Terimakasih dokter, maaf mengganggu tidur anda," "Tidak masalah, saya pamit," Monik menutup pintu namun terhenti melihat Kavin yang berlari dari luar. "Bun, Be baik-baik aja?" tanya nya cepat. "Lebih baik kamu liat sendiri," Kavin mengangguk dan mengikuti Monik. Tangan El masih terkepal kuat, Revan berusaha agar melepaskan kepalan itu. Seperti orang yang membeku karena es, tangannya tidak dapat terbuka. Revan masih berusaha melepaskan kepalannya, "Kenapa dengannya?"  tanya Kavin mengikuti kegiatan Revan. "Tangannya dingin!" seru Kavin. "Kamu kenapa Be?" tanya nya cemas, memang dia yang akan paling khawatir dan panik jika El terluka atau sakit. Revan menatap wajah Kavin yang terlalu khawatir, dia berpandangan dengan Monik dan tersenyum tipis. "Dia hanya tidak boleh kena angin malam, udah bunda bilang jangan tidur malem dan angin malam tidak baik tapi dia tidak mendengarkan," gerutu Monik. Kavin hanya mendengarkan, matanya tidak jadi mengantuk melihat tubuh El yang membeku bagai patung. El menghela napasnya dalam dan langsung duduk tersadar. Napas El memburu, "Ayah," rengek nya dan menangis. Kavin memeluknya, "Gue disini Be, lo buat kita khawatir," bisiknya. El mengeratkan pelukannya, dia memang seperti ini jika jatuh sakit. Dia akan menangis tiba-tiba entah karena apa. Revan menggenggam tangan El yang mulai hangat, "Lain kali dengarkan bundamu sayang." ucap Revan menasihati. El tidak menjawab, dia masih menangis. Kavin menenangkannya hingga El tertidur, dia merebahkan El dengan pelan dan menyelimuti nya. Mengelus rambutnya dengan sayang dan lembut. Perlakuan Kavin tidak luput dari pandangan Revan dan Monik. "Kamu ga pulang Vin? Quen udah tidur, kamu juga pasti ngantuk." ucap Monik. "Biar Kavin tidur disini bun, Kavin akan tenang kalo Be didepan mataku," ucapnya masih menatap wajah damai El. "Baiklah, ayah sama bunda masuk kamar dulu. Kalo butuh apa apa panggil Bibi aja." pamit Monik. "Iya bun, semoga mimpi indah," Monik dan Revan tersenyum mendengarnya, dia tidak pernah menyangka jika putrinya sangat disayangi oleh sahabat dari oroknya, Kavin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD