Chapter 7

1198 Words
Terik matahari menyilaukan El, matanya terbuka dengan perlahan. "Good morning Be," "Hei, kok lo ada disini Ar?" tanya nya bingung, Kavin memutar matanya. "Lo waktu malem kayak patung es, dingin dan beku." ucap Kavin. "Masa?" "Bodo!" sahut Kavin. El mendengus mendengarnya. "Gue tanya serius Ar, emang malem gue kenapa?" tanya nya bingung. Perasaan, dia sedang menikmati udara dingin saat hujan. "Udahlah ga usah dipikirin, sekarang lo makan! Udah jam 11 ini. Dasar kebo." ucap Kavin. "Gue ga kebo!" "Yaaa terserah apa kata lo, cepet makan!" "Iya iya," El meraih mangkuk yang dipegang Kavin. "Biar gue suapin," ucap Kavin menjauhkan mangkuknya. El mengangguk dan menerima suapan dari Kavin. Pintu terbuka, Monik dan Revan tersenyum melihat El baik-baik saja. Kejadian semalam membuat jantung mereka berhenti berdetak untuk sementara. Monik duduk disamping El, mengelus kepalanya lembut. "Udah baikan sayang?" tanya nya lembut. "Emang Quen kenapa?" tanya El bingung, dia tidak mengingat apa yang sudah terjadi semalam. "Kamu ga inget sayang?" tanya Revan, El menggeleng sembari menyambut suapan Kavin. Kavin hanya mendengarkan, fokus memberikan makan untuk sahabat nya itu. "Emang kenapa sih? Terus juga kenapa Kavin ada disini? Biasanya dia paling males main kerumah kalo libur." cibir El menatap Kavin sinis. Memang benar, Kavin tidak akan mau main ke rumahnya jika hari libur. Selalu El yang akan main ke rumah nya, padahalkan seharusnya lelaki yang main ke rumah perempuan. Kavin hanya meliriknya, tangannya tidak diam. Dia memotong ayam goreng kesukaan El. Monik dan Revan terdiam mendengar ucapan El yang menyindir Kavin. "Orang yang lo omongin ada di depan lo dan lagi nyuapin lo." ucap Kavin, memberikan suapan nya. El membuka mulutnya dan mengunyah nya, "Dari pada ngomong dibelakang." jawab El. Kavin mendengus mendengarnya. Tetap dia akan kalah jika berdebat dengan El. "Ayo bun, kita keluar." ajak Revan, Monik mengerti dan meninggalkan mereka berdua setelah mencium puncak kepala El. Kavin menatap pintu yang sudah tertutup, "Bunda lo udah jinak?" El menaboknya keras mendengar nya. "Dia bukan Hewan! Jinak jinak." cibir El. Kavin meletakkan mangkuk itu beralih meraih tangan El, "Ga usah nabok bisa kan? Sakit kan tangan nya." ujarnya mengelus telapak tangan El yang memerah. El cemberut, dia tidak suka jika Kavin mengalihkan pembicaraan. "Bunda udah sayang lagi dong sama gue!" serunya tiba-tiba semangat. Mood nya memang gampang sekali berubah jika menyangkut bundanya itu. El sangat menyayangi Monik lebih dari Revan, karena dia sangat dekat dengan Monik bukan Revan. Kavin tersenyum melihat binar bahagia dari wajah El, "Syukur deh, jadi gue ga susah buat nutupin kesedihan lo." ujarnya. "Heh! Emang gue pernah minta tolong buat nutupin itu?! Ga kan!" Kavin menoyor kepala El. "Sebagai sahabat emang gitu tugasnya, oon sih lo jadi ga bisa mikir." ucap Kavin. El merengut tidak terima mendengarnya. "Lain kali kalo bunda kasih nasihat atau perintah itu nurut! Biar ga celaka kayak semalem! Dibilangin masuk ya masuk! Bukan cari alasan suka sama udara sejuk saat hujan! Udah tau badan lo lemah kalo kena angin malam, ini malah masang! Dibilang jangan begadang malah begadang, alesan besok libur lagi! Intinya! Gue ga mau lo kayak semalem! Gue ga mau lo sakit Be!" omel Kavin panjang. El menatapnya, "Panjang bener Ar, lo tau ga? Gue ga ngerti apa yang lo omongin." ucap El polos, Kavin hanya menatapnya datar. *** Rizal menerima pesan dari Revan, rasa khawatir tiba-tiba menyeruak dalam hatinya. Rizal menghubungi Revan, "Halo?" "Ya nak, kenapa?" tanya Revan, dia sudah tau pasti Rizal akan langsung menghubungi nya setelah menerima pesan darinya. "Keadaan El gimana om? Baik-baik aja kan? Sakitnya ga parah kan? Apa perlu dibawa ke rumah sakit?" cerocos nya. Revan tersenyum mendengar serentetan pertanyaan Rizal. "Dia udah mendingan nak, berkat Kavin yang menjaganya." ucap Revan. Rizal terdiam mendengar nama Kavin yang terucap, Revan melihat ke handphone nya ketika tidak ada suara. "Halo?" Rizal tersadar. "Oh iya om, terimakasih udah kasih Rizal kabar El. Saya tutup." tangan Rizal mengepal kuat mendengar Kavin yang merawat gadisnya, bukan dirinya. Rizal harus bergerak cepat, Kavin sudah sangat lama dekat dengan gadisnya. Akan sangat sulit mengalahkannya, apa lagi El yang cuek dengan sekitar dan tidak pernah masalah jika dirinya didekati dengan lelaki lain. Rizal kesal dengan kenyataan itu, bagaimana jika perasaan El dipermainkan? Mungkinkah El akan terus cuek jika perasaan nya yang dipermainkan?. Rizal mendengus memikirkan nya. "Gue harus cari cara merebut El dari Kavin." ucapnya tegas. Meskipun hubungan mereka sebatas sahabat tapi Revan melihat ada rasa yang masuk diantara mereka walaupun terlihat samar. Dia tidak akan melepaskan gadis cueknya itu, entah bagaimana gadis itu bisa memenuhi hatinya dan pikirannya. Pertemuan pertama dengannya saja sudah membuat debaran jantung yang meningkat. Flashback El memasuki area kelas 12, dia sedang mencari seseorang yang membuatnya kesal hari ini. Dengan tergesah dia berjalan, memasuki setiap kelas. Saat diperempatan kelas 12 dan 11 dia akhirnya menemukan lelaki menyebalkan itu. "Anwar!" serunya, semua murid yang mendengarnya menatapnya. Tangan El terkepal dan tatapan nya berubah tajam. Dia berjalan cepat menghampiri Anwar yang kelabakan. El sudah tepat di depannya, "Beraninya lo jahilin gue!" serunya, tangannya yang tadi terkepal memukuli Anwar keras dan bertubi tubi. "Ampun Quen! Ya allah! Tenaga lo kuat juga kalo lagi marah." celetuk nya. El berhenti memukul nya beralih menjambak nya, "Gue kesel sama lo! Kenapa lo bilang sama si Radit kalo gue suka sama dia!" El merasa bertambah kesal setelah mengucapkan nya. Waktu istirahat dia dihampiri Radit, dia ngomong kalo El suka dengannya bahkan cinta! El tidak suka jika ada seseorang yang berani beraninya berbicara omong kosong. Anwar meringis, jambakan El memang kuat. "Sakit Quen! Lepas!" Anwar menghentak tangan El kuat. Mata mereka saling beradu, napas El belum teratur. "Gue belum puas nyiksa lo!" ucapnya dan tangannya kembali menjambak Anwar. "Aduh kalian ini berisik tau!" seru Mario menghentikan El. "Oh ada orang." celetuknya, Mario menatap El. "Lo ga liat gue sama Rizal dari tadi?" tanya Mario. "Ga, lo gaib sih." mata El kembali ke depan menatap Anwar garang. "Sekali lagi lo ngomong yang ga jelas tentang gue, gue akan nyiksa lo lebih dari ini. Mungkin juga gue akan bawa pisau buat nyiksa lo!" ucapnya dan berbalik pergi meninggalkan tiga orang itu. Anwar bergidik ngeri mendengarnya, El bisa akan s***s jika ada yang mengganggu ketenangan nya. "Siapa dia?" tanya Rizal masih menatap punggung El. Anwar yang masih memegang kepalanya menjawab,"Quenbe Elvina, sahabatnya Kavin si juara kelas." jelasnya singkat. Rizal tersenyum tipis mendengar nya. "Gue harap lo ga suka sama dia." ujar Mario. "Kenapa?" tanya Anwar, Rizal menatap Mario datar. "Jangan salah paham Bro, dia itu paling cuek kalo urusan cinta. Dia dekat dengan laki-laki manapun dan berhasil membuat mereka baper, tapi ga buat Quen. Bahkan dia selalu berduaan sama Kavin, mereka berdua terlihat kayak pacaran tapi kenyataannya mereka sebatas sahabat." jelas Mario menatap Rizal yang sempat menatapnya curiga. "Gue ga perduli." ucap Rizal singkat. Ingatan Rizal buyar karena deringan handphone. Melihat nama yang terpampang jelas dilayar nya. Setelah melihatnya dia menerima panggilan itu dengan semangat. "Halo?" sapa orang itu. "Hmm." Sebenarnya Rizal menahan senyum setelah mendengar suara gadisnya itu. "Singkat bener, gue cuma mau bilang." "Bilang apa?" tanya Rizal karena ucapan El yang menggantung. "Jangan kangen gue dan mikirin gue kalo lagi sendirian, hahahaha." ucap El. Rizal terdiam mendengar tawa dari El. Debaran jantungnya semakin menggila. "Halo?" Rizal tersadar. "Lo ngelamun ya? Dari tadi dipanggil diem mulu." gerutu El. "Lo nelpon gue cuma mau bilang gitu doang?" "Ga, gue cuma menyampaikan amanah dari Kavin, katanya lo nanti ada turnamen basket tingkat provinsi. Lo mau ikut ga?" ucapan El merusak kesenangan Rizal. "Oh." "Kok oh doang sih?! Udah cape cape ngomong panjang lebar cuma dibales Oh!" gerutu El. Kavin yang disebelahnya terbahak melihat wajah kesal El. Rizal mendengar suara tawa Kavin, berarti mereka berdua sedang bersama, pikir Rizal. "Ya udah lah, gue tutup bye!" Rizal menatap layarnya kembali mati. Tatapannya tiba-tiba kosong dan pikirannya melayang entah kemana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD