Chapter 2

945 Words
Suasana kantin begitu ramai, jam istirahat sudah memasuki. El dan Kavin berjalan beriringan dengan saling melempar ejekan. "Dasar pendek," ejek Kavin. "Gapapa yang penting cantik," "Ga ada yang mau sama lo," "Banyak!" "Mana? Buktinya lo masih jomblo," langkah El terhenti dan menatap Kavin. "Kenapa berhenti? Kantinnya masih jauh tuh," Kavin menunjuk kantin yang masih beberapa meter lagi. "Emang lo udah punya pacar?" tanya El penasaran, menghiraukan herannya Kavin. "Oh ya tentu!" Kavin tersenyum lebar. "Belum," lanjutnya membuat El kesal dan pergi meninggalkan nya setelah menjambak Kavin. Suara teriakan Kavin yang memanggilnya dia abaikan. "Hei Quennya Rizal, sini dong duduk sama kita," sahut Anwar ketika El melewati meja mereka. El berhenti dan menatap Anwar intens membuat Anwar salah tingkah. "Ngeliatin nya ga usah gitu juga kali Quen, abangnya kan jadi berdebar," ucapnya. El tidak menanggapi, ia hanya menatapnya sekilas dan memperhatikan semua orang yang ada di meja itu. El menatap mata salah satu dari mereka, "Ehem, jangan tatap tatapan dong, abang kan jadi iri," Kata Mario melihat interaksi El dan teman nya yang dingin itu. El menatap bingung Mario, "Jadi duduk disini aja ya Quen?" tanya Anwar lagi. El menatap Kavin yang sudah di belakangnya, "Udah mesen?" tanya nya. El menggeleng dan langsung menarik Kavin untuk memesan bakso. El memang sengaja berhenti untuk menunggu Kavin bukan untuk meladeni ucapan Anwar. "Lah? Jadi dia berhenti buat nungguin Kavin doang? Baru ngeh gue, pantesan dia ga jawab ga ngomong," ucap Anwar. Mario menatap Rizal yang hanya diam. "Udah lah Ri, dia nya juga cuek gitu, ngapain juga diurusin. Ga penting tau," ucap Mario, Rizal menatap tajam sahabatnya itu. "Dia milik Gue!" sahutnya singkat dan melanjutkan makannya. Mario dan Anwar menggeleng kepalanya mendengar sahutan Rizal, cowok dingin yang menyukai El sejak pertama bertemu. *** "Lo tadi kenapa berhenti di depan mejanya Anwar? Mereka gangguin lo?" tanya Kavin setelah duduk di kursi taman sambil membawa semangkok bakso. "Tadi? Tadi digodain sama si Anwar, tapi gue ga ladenin. Karena penjual makanan yang rameh semua gue nungguin lo buat antri hehehe," ucap El. Kavin menatap El, "Kenapa berhentinya disitu? Kan masih ada tempat lain Be," El menatap Kavin. "Kan tadi udah dihentiin Anwar, ya udah sekalian nungguin lo nya disitu, emang kenapa?" Kavin mendengus, "Rizal suka sama lo," El berhenti meniup kuah bakso nya. "Tau," balasnya singkat dan kembali memakan bakso nya. Kavin menatap tidak percaya El, "Kok lo biasa biasa aja sih?" El mengernyit bingung. "Emang kenapa? Dia yang suka ini, bukan Gue," Kavin berhenti makan dan menghadapkan badannya ke arah El. "Si Rizal kan ganteng tuh ketos lagi, banyak yang suka. Tapi kenapa lo biasa aja? Ga normal ya lo?" El menepuk paha Kavin cukup keras. "Sembarangan kalo ngomong! Yang patut dicurigai itu Lo! Kenapa Lo memujinya? emang apa masalah nya kalo gue biasa aja? Gue kan emang cantik dan imut wajar dong banyak yang suka," ucap El. Kavin menatap kesal El, "Enak aja! Gue itu masih normal! Kan setidaknya ada respon apa kek, ini mah cuma ngomong 'Tau' doang. Nih dengar ya Be, cewek lain tuh malah ngejar ngejar Rizal, lah lo? Rizal di depan mata malah diabaikan," jelas Kavin. El hanya mendengarkan ucapan Kavin sembari memotong bakso gede menjadi kecil. "Ya trus?" respon El, Kavin jadi gemas sendiri. "Lupakan," celetuknya datar dan melanjutkan makannya. *** "Lo milik gue Quenbe! Hanya milik gue!" ucap Rizal menatap kedua orang yang sedang makan di kursi taman itu. "Bagaimana pun caranya, lo harus jadi milik gue!" lanjutnya. *** Awan mendung menghiasi langit sore, El menunggu ayahnya menjemputnya setelah meneleponnya tiga puluh menit yang lalu. El menatap awan mendung yang semakin tebal dan rintik hujan mulai turun walaupun tidak deras. El berteduh di depan pos satpam dekat pagar sekolahnya. "Belum pulang neng?" tanya mang Tomo, satpam sekolah El. "Belum mang, lagi nunggu jemputan nih Mang," jawab El. "Biasanya sama nak Kavin, sekarang kok sendirian?" El dan Mang Tomo melanjutkan obrolannya hingga telepon El berbunyi nyaring "Halo, Yah? Jadi jemput ga? Kalo repot biar El pulang pake ojek aja," cerocos El. Revan tersenyum mendengar pertanyaan beruntun putrinya,"Quen, dengerin ayah dulu dong. Ayah ga bisa jemput maaf ya? Kamu pulang sama Kavin aja ya sayang?" "Kavin udah pulang Yah, ya udah kalo ga bisa jemput Quen naik ojek aja ya?" "Kavin udah pulang? Ga ga! Jangan naik ojek, ini udah gerimis nanti kamu sakit, ehm gini aja deh, nanti ayah telepon anak temen ayah buat jemput kamu gimana?" "Ga usah Yah, Ojek online kan ada yang make mobil. Gapapa kan?" "Ga! Nanti kamu diculik gimana? Udah lah nanti ayah kirim orang buat jemput kamu, oke bye sayang, jangan kabur!" El menggerutu setelah telepon dimatikan. "Kenapa neng? Ga bisa jemput ayahnya?" "Iya mang, tapi nanti ada yang jemput kok," El tersenyum, Mang Tomo pamit buat mengecek seluruh ruangan. Tidak lama terdengar suara klakson mobil, kacanya menurun dan terpampang wajah Rizal yang datar. El menatapnya bingung, menengok ke kanan dan kiri barangkali ada orang lain selain dirinya. "Gue jemput lo," ucap Rizal datar masih menatap El. "Jemput gue? Serius lo?" tanya El. "Ya, buruan masuk! Dingin!" ucapnya lagi. "Tapi gue nunggu jemputan ayah gue," jawab El. "Ayah lo nyuruh gue buat jemput lo," ucap Rizal, El menatapnya lama. "Kalo ga percaya telepon ayah lo," El mengangguk dan menelepon Ayahnya. Ternyata benar, Rizal orang yang diminta Ayahnya menjemputnya. "Udah tau jawabannya kan, buruan naik. Hujannya udah deres," El ingin berlari memasuki mobil Rizal yang cukup jauh jaraknya. Namun baru selangkah Rizal sudah menghentikan nya,"Tunggu! Biar gue ke lo!" Rizal keluar dari mobil menghampiri El dengan payung. El menatap Rizal yang semakin dekat dengannya. Rizal menarik lembut tangan El untuk mengikuti nya agar tidak kehujanan. "Udah tau hujan malah ga bawa payung!" ucap Rizal. El hanya diam menerima rangkulan Rizal yang tiba-tiba saat angin berhembus kencang. "Cepet elah jalannya! Dingin tau!" El menatap Rizal kesal. "Kalo ga ikhlas jemput ga usah dilakuin!" ucapnya kesal. "Ini juga kenapa rangkul rangkul?!" lanjut El lagi sambil menepuk tangan Rizal yang di bahunya. Rizal hanya mendengarkan dan mengeratkan rangkulan nya. "Udah cepet, pendek!" El bertambah kesal mendengar ejekan Rizal. Rizal menatap wajah kesal El yang terlihat lucu membuatnya menahan senyum dengan terbatuk pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD