Chapter 3

736 Words
El memasuki rumah dengan sedikit berlari karena hujan masih turun. "Ayah, Quen pulang!" teriaknya. "Ga usah berisik! Ganggu!" ucap Monik tanpa mengalihkan matanya dari televisi. "Maaf bun," El menunduk. "Kamu udah pulang Quen?" Revan datang dari ruang kerjanya. El hanya mengangguk dan kembali menunduk. Revan tau apa yang sudah terjadi, ia melirik Monik sinis. Revan harus menghibur putrinya itu. "Quen bagaimana dengan orang yang jemput kamu? Tampan kan?" kepala El langsung tegak menatap Ayahnya. "Ga tuh biasa aja," Revan tersenyum mendengar jawaban El. "Dia tampan loh Quen, ga naksir?" Revan menaik turun kan alisnya. "Ayah," rengek El, menyebalkan jika sifat Revan tiba-tiba muncul. "Kenapa? Bener kan kata ayah? Dia itu tampan," "Ish, ayah," El menggoyangkan tangan Revan. Revan tertawa melihat wajah putrinya yang memelas. "Baiklah baiklah, kamu udah makan Quen?" El menggeleng. "Kamu ganti baju gih, nanti kita makan di luar," "Bunda?" Revan menghembuskan napasnya mendengar kata bunda dari putrinya. "Iya iya, bunda juga ikut," jawabnya datar. "Oke!" El berlari menuju kamarnya dengan girang. Revan tersenyum tipis melihatnya, ia menghampiri Monik yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan Revan dan El. "Bersiap lah, kita akan keluar untuk makan," ucap Revan, Monik menatapnya. "Saya tidak mau jika harus sama dia!" Revan menatap Monik tidak mengerti. "Seharusnya kamu tau diri, bukan aku yang mengajak mu keluar Tapi Quen!" Revan berusaha agar tidak teriak atau membentak Monik karena itu akan membuat El kecewa jika ia melihatnya. "Huft, terserah kamu mau ikut atau tidak!" Revan meninggalkannya sendiri. Monik terdiam dan tatapannya kosong. Entahlah ia memikirkan apa. El sudah siap, langkahnya terhenti menatap bundanya belum bersiap. "Bunda ga bersiap? Kita akan pergi buat makan," Monik hanya diam, El menyentuh bahu Monik membuatnya tersadar. "Apa?" El menatap mata Monik. "Bunda ga ikut Ayah? Kita akan pergi buat makan," ucap El mengulang. Monik melepas sentuhan El di bahunya, "Jangan pernah menyentuh saya, lebih baik kamu pergi sekarang!" El tentunya kecewa dan sedih mendengar ucapan Monik. Bahkan Monik tidak sudi dipegang olehnya, apa salahnya hingga Monik membenci nya? El menahan tangisnya, ia berjalan keluar dengan menunduk. Revan ingin memanggil El ketika melihatnya keluar namun terhenti melihat wajah El yang terlihat sedih. "Ayah, bunda ga ikut kita?" sebenarnya itu bukan pertanyaan namun pernyataan. Revan terdiam menatap mata El, "Bunda ga enak badan Quen, dia hanya ingin istirahat," ucap Revan berbohong. "Udah, ayo," Revan menuntun El agar segera memasuki mobilnya. *** Revan dan El memakan makanan mereka dengan tenang sebelum seseorang yang tidak diundang datang. "Mas Revan?" sapanya langsung duduk. Revan hanya memasang wajah dingin nya, El menatap bingung wanita yang di depannya itu. "Mas udah lama disini? Aku boleh duduk disini ya," ucapnya. Revan masih tetap melanjutkan makannya, "Hai nak, kamu anaknya Mas Revan?" El hanya mengangguk. "Mas, kok diem aja sih?" tangan wanita itu memegang tangan Revan, El menatapnya garang. Revan menarik tangannya cepat, "Jangan sembarangan menyentuh saya!" ucapnya datar. Wanita itu hanya tersenyum,"Ih mas kok gitu? Kita kan temenan," tangan wanita itu kembali mencoba menyentuh tangan Revan. El tentu marah melihat ayahnya disentuh oleh wanita selain bundanya. El menyentuh tangan wanita itu erat,"Jangan pernah menyentuh ayah saya!" ujar nya. Wanita itu menatap sinis El,"Jangan ikut campur bocah! Lagian juga istri Mas Revan ga ikut, jadi aku bebas dong mendekatinya, dan juga Saya lebih menarik dari pada ibu mu itu yang p*****r," El memelintir tangan wanita itu, "Jangan pernah menjelekkan bunda saya di depan saya nyonya! Yang pantas disebut p*****r adalah anda! Ayah saya sudah mempunyai istri dan anda masih menggodanya!" rintihan kesakitan wanita itu El abaikan. Revan hanya diam menyaksikan aksi putrinya itu. "Au au, lepaskan!" El melepaskan nya dengan kasar. El menunjuk wajah wanita itu,"Jangan bermain-main dengan saya nyonya, jangan mengganggu Ayah saya lagi jika tidak," El tersenyum sinis. "Anda akan tamat ditanganku!" El menarik tangan Ayahnya untuk pergi meninggalkan wanita tadi yang masih kesakitan. *** "Kenapa ayah cuma diem aja digodain?!" Sedari tadi El terus saja mengomel dan menggerutu melihat Revan yang hanya diam saat digodain tante-tante kurang belaian menurut El. Revan hanya tertawa mendengar ocehan El. "Ayah! Kenapa ayah cuma ketawa? Ga ada yang lucu Yah!  Ish nyebelin!" El mengalihkan pandangan nya keluar. "Hahahaha, jangan ngambek dong sayang. Ayah kan emang ganteng jadi wajar kalo banyak yang godain,"  ujar Revan. "Dia siapa sih Yah? Kok kenal sama Ayah?" "Dia temen ayah waktu kuliah, dia juga selalu ngejar ngejar ayah waktu kuliah tapi ayah cuma mau sama bunda kamu," ucap Revan. "Tapi kan ayah bisa nolak dengan tegas kalo ayah udah punya bunda! Kenapa tadi malah diem doang?!" gerutu nya masih kesal. Revan tertawa pelan mengacak rambut putrinya itu, dia tau El kehilangan kasih sayang dari bundanya beberapa tahun terakhir, mungkin itu karena kesalah pahamannya dengan Monik. Namun dia berusaha agar keluarganya kembali seperti dulu lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD