Kalil berdiri di atas podium sedikit bingung di saat harus memilih lawannya. Ada enam orang semua memakai jubah biru sebagai lambing element air, dua diantaranya adalah seorang perempuan. Kalil tidak bisa meremehkan kekuatan perempuan contohnya adalah kakak perempuanya yang juga penyihir air dengan kekuatan tempur yang besar dan bisa dibilang jenius di antara keluarganya. Jadi, kalil semakin bingung memilih dia harus hati-hati agar bisa menang.
“Kamu sudah bisa memilih?” Fred dengan baik hati mengingatkannya lagi.
“A-aku pilih?” Kalil masih saja tetap bingung lalu, akhirnya dia menoleh pada teman-temannya yang sudah menunjuknya. “Kalian! Yang mana harus kupilih?” tanyanya.
Teman-teman Kalil saling berpandangan sedikit terkejut tetapi, dengan cepat kembali melihat Kalil lalu orang-orang yang jadi pilihannya. “Bagaimana yang ke 3 tubuhnya tipis mungkin saja kekuatannya tidak terlalu kuat juga,” ujar salah satu dari mereka.
Kalil menoleh dan memerhatikan pilihan temannya secara seksama. “Kamu yakin?” tanyanya balik tidak percaya diri.
“Ayo,lah, Kalil. Kamu lebih hebat daripada kami. Kamu pasti bisa mengalahkan salah satu dari mereka,” ucap remaja tinggi kurus dengan rambut hitam lepek dan tampak sangat berminyak. “Kami percaya padamu!”
Menghela napas, Kalil sekali lagi memerhatikan lagi secara seksama orang-orang berjubah biru itu lalu, mengangguk setelah meyakinkan dirinya. Kekuatan Kalil saat ini sudah berada di Level 2 pemula karena baru beberapa bulan saja dia naik level setelah bertahun-tahun berlatih. Orang tuanya bukan bangsawan tinggi hanya sekelas Baro tetapi, mereka tidak pernah mengabaikan budidaya untuk meningkatkan kekuatan meski, sangat berusaha keras hasilnya Kalil tidak mengecewakan mereka karena dengan cepat dia selalu berhasil meningkatkan kekuatanya.
“Aku pilih, orang di ujung sana!” Tunjuk Kalil pada pria berjubah Biru perawakannya sederhana tetapi, tidak bisa menyembunyikan matanya yang selalu berkeliaran seolah khawatir. Itulah yang akhirnya tanpa sengaja Kalil perhatikan.
“A-aaku?” tanya penyihir muda itu.
Kalil mengangguk yakin. ‘Sepertinya aku tidak salah pilih, dia mungkin orang di Level 1 itu.’
“Kamu yakin?”
“Iya, itu kamu. Tidak ada yang lain, kamu pasti level 1! Aku bisa mengalahkanmu.” Kalil sangat yakin saat ini.
Tidak disangka raut wajah remaja itu menyeringai lebar. “Sekali lagi! Apa kamu yakin ingin melawanku? Kamu tahu, aku tidak asal bicara … tapi, hampir semua yang menjadi lawanku pasti banyak terluka.”
Kalil menjadi sedikit khawatir, keningnya mengerut seolah tengah berpikir keras tetapi, setelah keduaya saling bertatapan tanpa bertindak sombong Kalil mengangkat dagunya seolah mengatakan dia mampu menghadapi apapun itu. ‘Aku pasti bisa !?’
“Baiklah, jangan menyesal!”
“Ah, tidak! Aku pilih gadis dibaris keempat saja,” sahut Kalil cepat, merubah pilihannya. “Maafkan aku! Aku akan bertarung dengan gadis itu.” Tunjuknya.
‘Marvella!’
Neron tidak percaya orang itu memilih Marvella-nya untuk jadi lawannya, bagaimana seorang pria memilih lawan seorang gadis. ‘Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika saat duel Marvella yang terluka? Aku harus melindunginya.’
Sayang begitu banyak hal yang dipikirkan Neron tidak ada hasil yang membuahkan bahkan, sebelum dia bisa melakukan sesuatu ternyata, Marvella sudah berdiri di depan panggung tanpa terpengaruh hal apapun. Saat melihat hal itu Neron hanya bisa melihatnya sedih dan bingung dengan segala kemungkinan dipikirannya. Jika dia maju ke depan sekarang dan mencoba menghalangi duel itu apa yang akan terjadi? Jika dia hanya diam, apa gunanya dia berada di sini?! Neron akhirnya hanya bisa mengepalkan tangannya saat melihat, Marvella sudah mengeluarkan serangan sihirnya.
Serangan pertama yang diluncurkan Marvella adalah tembakan air yang sebesar-besar balon jika meledak itu cukup melukai lawan meski, kekuatanya bukan di level tinggi tetapi, Marvella bisa terus melakukan tembakan tanpa henti selama enam puluh detik yang cukup merepotkan lawan. ‘Ayo! Lebih kuat, aku bisa mengalahkanya!’ Tekad Marvella dalam hatinya.
Kalil hampit tidak bisa menahan serangan lawannya, semua tubuhnya basah kuyup terutama bagian wajahnya bahkan, dia sangat sulit untuk membuka mata dan hampir tidak melihat serangan lawan karena bola air terus saja menyerang area wajahnya jelas, ini siasat lawannya. Sudah ia katakan sebelumnya bahkan, kekuatan sihir wanita tidak bisa diremehkan.
Enam puluh detik berlalu begitu saja, Kalil akhirnya bisa bernapas meski masih terengah-engah sambil setengah berjongkok. Kemudian, dia mendongak melihat wajah lawannya itu. Dia gadis cantik, pikirnya tetapi saat ini itu tidak penting karena saat ini gadis itu adalah lawannya. Kalil menegakkan punggungnya, menarik napas dalam dan bersikap tenang.
Melihat lawannya sudah berdiri tegak kembali, Marvella tanpa mengatakan apapun kembali melancarkan serangan. Kali ini cambuk air yang muncul dari telapak tangannya, panjangnya hampir satu meter meluncur bebas dan lurus tetapi, saat dihentakkan ke atas permukaan lantai itu cukup membuat tubuh lawan memar bahkan, dilevel lebih tinggi. Cambuk air bisa dengan mudah menghancurkan tubuh lawan.
Untuk menghadapi serangan kedua kalinya, Kalil sekarang lebih dari siap. Dia juga tahu ternyata gadis di depannya sama sepertinya yang merupakan penyihir level 2 jadi, dirinya masih bisa mengikuti pergerakkannya yang tidak akan berbeda jauh darinya. Seperti kali ini, saat melihat Marvella mengeluarkan cambuk air dan akan memukulnya dengan hal itu. Kalil melakukan hal yang sama bahkan, dengan cambuk yang lebih panjang dan solid dibanding serangan cambuk air milik Marvella.
Kini kedua cambuk saling melilit. Marvella dan Kalil saling tarik menarik dengan tatapan panas dan tidak ingin saling menyerah tetapi, tampak jelas saat ini kekuatan Kalil lebih besar dan kuat karena Marvella sudah berkeringat dingin langkah siaganya mulai tergerus ke depan oleh tenaga tarikan Kalil yang semakin kencang dan kuat.
‘Sialan! Ternyata anak baru ini sudah level 2 bahkan, lebih kuat.’ Marvella menggeretakkan giginya menahan dirinya untuk bertahan dan tidak terseret jika, itu terjadi. Berakhirlah sudah!
Begitu juga Kalil bahkan, bebannya terasa lebih berat dia tidak akan punya wajah jika dia harus kalah dari level yang hampir sama dengannya terutama lawan nya jelas-jelas adalah wanita. ‘Kamu tidak bisa kalah di sini, Kalil! Jangan membuat keluargamu menanggung malu,’ ujarnya bertekad kuat dalam hati.
Waktu berlalu beberapa lama dengan kegigihan dua orang tersebut tetapi, yang punya pengamatan lebih mulai bisa melihat jika, lawannnya mulai lelah dengan kakinya terus bergeser sedikit demi sedikit. Kalil melihat ini lalu, kemudian dia dengan sengaja mengendurkan kekuatan tali di tangannya membuat Marvella lengah terlebih dulu. Sesuai rencananya Marvella yang tidak siap dengan tangan yang longgar hampir terjerembab ke belakang.
Mengambil keuntungan dari hal ini Kalil, menarik kuat cambuknya hingga, cambuk air Marvella menghilang dalam sekejap dan cambuk air miliknya ia gunakan segera dengan menghempaskanya kuat pada kaki lawannya sampai terhempas jatuh. “Aku menang!” soraknya setelah melihat lawannya jatuh.
Neron sudah berlari tetapi, tertahan dipinggir platform karena kesadarannya cukup menahan pergerakannya jika, dia tidak boleh mendekat tetapi, melihat Marvella yang jatuh dan kalah dirinya tidak tahan untuk menerjang si Pelaku. Matanya tajam marah menatap Kalil, yang sedang berayun senang setelah berhasil menjatuhkan lawannya.
Marvella benar-benar berwajah merah, dia terbanting sampai terlentang permukaan punggungnya terasa remuk. ‘Sial! Kenapa harus kalah.’
“Ella, kamu masih bisa bangun?”
‘Suara itu? Neron?’ Marvella menoleh ke asal suara dan menemukannya. Wajah itu menatapnya dengan raut cemas jelas ingin mendekat tetapi, juga banyak keraguanya muncul. Marvella berbalik melepas pandangan mereka dan tanpa disangka terlihat sebuah uluran tangan.
“Kamu bisa bangun?”
“Hm,” gumamnya tanpa menolak uluran tangan tersebut.
“Maaf tapi, kamu tidak terluka parah, kan? A-aku tidak punya pilihan lain karena aku ingin menang.” Kalil menatap Marvella dengan permohonan maaf sungguh-sungguh.
Senyum Marvella setelah itu menjadi mengerikan, “Tentu saja karena aku juga ingin menang! Ini serangan terakhirku.” Tanpa diduga Marvella yang sudah terjatuh masih bisa melakukan serangan terakhirnya, dia dengan kekuatan gelembung air menerkam kepala Kalil yang tidak seberapa jauh darinya.
Kalil lupa jika, tidak pernah ada kata menyerah dari mulut Marvella sebelumnya dia hanya terjatuh dan belum tentu kalah. Satu hal lagi, lawannya baru saja melakukan dua serangan bukan tiga kali. Bahkan, dirinya sendiri baru melakukan satu serangan dan sudah sangat berharap untuk langsung menang.
Neron tanpa sadar berjingkrak senang melihat serangan terakhir Marvella. ‘Kekasihku memang hebat! Aku saja kalah darinya bagaimana orang lain bisa menang,’ bangganya dalam batinnya. Tetapi, wajahnya kegembiraanya barusan dengan cepat lenyap setelah melihat tatapan tajam dari orang-orang sekitarnya.
“Jadi, kamu membela senior itu sekarang?”
Menelan ludahnya pahit, Neron menoleh ke samping melihat orang usil sebelumnya Orion Gerda tengah berbicara dengannya. “Tentu saja tidak!”
“Tidak?! Ingat jika, Kalil kalah saat ini selanjutnya kamu yang harus maju menghentikan penindasan para senior itu?”
“Apa? Kenapa harus aku?”
Orion memegang bahu Neron sedikit mencengkeramnya. “karena kami terinspirasi olehmu jika, bukan karena kata-katamu mana kami sadar jika, duel ini hanya untuk mempermalukan kami yang masih amatir ini!”
‘Sialan! Apa-apaan bocah ini? Aku tidak akan mau melakukannya.’ Neron menoleh lalu bicara dengan nada cibiran, “Siapa kamu, heh? Sudah bagus aku ingatkan jadi, jangan sombong. Kalau mau lakukanlah sendiri. Aku bukan orang penurut.”
Bibir Orion terkatup rapat tidak bisa membalas tetapi, matanya jelas menunjukkan perasaan kesal. Setelah mendengus kasar, dia akhirnya hanya bisa mengalihkan pandangannya lagi ke depan melihat apa yang selanjutnya terjadi dengan duelnya.
Kalil masih tersesat dalam gelembung air yang diciptakan Marvella, dia kesulitan bernapas. Matanya terbuka dengan lebar menahan air agar tidak masuk mulut juga hidungnya. Balon gelembung itu menyelimuti seluruh kepala Kalil membuatnya sesak napas dan terengah-engah cukup menyiksa. Tangannya yang bebas mencoba memukul-mukul balon gelembung di wajahnya tetapi, tidak juga berhasil.
“Menyerahlah, angkat tanganmu! Lalu kau masih bisa bernapas,” ujar Marvella sambil mengusap keringat yang bercucuran di keningnya. Sebenarnya Mana-nya saat ini terbatas, dia sudah banyak keluarkan kekuatannya jika, tidak cepat berisitirahat Mana nya akan lama pulih.
Sedangkan, Kalil sendiri tidak mendengar apa yang dikatakan Marvella. Dia sibuk ingin menghancurkan balon gelembung yang menyiksa kepalanya tetapi, akhirnya tanpa diduga gelembung itu pecah tiba-tiba, dia bisa bernapas kembali. Di saat yang sama Lutut Marvella jatuh ke lantai, kekuatanya habis.
“Hahhh.” Kalil bernapas dengan sangat keras, meraup udara sebanyak-banyaknya sambil terbatuk-batuk. Matanya memerah, rambutnya yang sebelumnya rapih berubah sangat lusuh tetapi, Kalil masih berdiri melihat Marvella merunduk tampak kelelahan. “Apa yang kamu katakana tadi, hah?”
Marvella mendongak, melihat ke atas di mana Kalil yang juga sedang menatapnya. “K-kamu …hah! Baik,” ucapnya terasa pahit. Tiga serangannya sudah dikeluarkan tetapi, orang di depannya dia masih punya dua serangan lain. Ini bisa gawat jika, orang itu ingin membalas dan menyiksanya seperti yang dilakukannya barusan. “Aku menyerah!”
Kalil tersenyum puas. “Aku menang!” teriaknya sedikit sunyi sambil menyunggingkan senyum pada Marvella.
Neron mendesah sedih, matanya berkaca-kaca melihat pujaan hatinya kalah seperti ini lalu, tak lupa menatap Kalil dengan mata tajam seolah menyimpan dendam. Dia ingin mendekat, mungkin berlari tetapi sebelum itu terjadi otaknya tengah menahannya. ‘Jangan mendekatinya jika, itu terjadi kalian tidak akan baik-baik saja. Sialan!’
William dan Fred yang sedari tadi menonton paling dekat tidak bisa mengatakan apa-apa, keduanya sama-sama bergetar dan berkeringat dingin tiap kali Marvella mengeluarkan serangannya. Sebagai wanita Marvella cukup terkenal, bukan hanya karena paras cantiknya tetapi, juga dia selalu menjadi anak yang pintar di kelas dan menjadi sanjungan semua guru. Tidak aneh meski, dia kalah masih banyak anak laki-laki kagum padanya dan berebut menghampirinya untuk membantunya.
“Pertandingan sudah selesai!” Wilian berseru di tengah-tengah platform di mana Kalil masih berdiri sedangkan Marvella sudah di bawa pergi teman-temannya. “Pemenangnya … Kalil Evan!”
Mendengar pengumuman resmi tersebut para junior baru bersorak senang. Hanya Neron saja yang tidak bisa merasakan kegembiraanya karena pandangannya masih mengikuti sosok Marvella yang tengah dituntun teman-temannya keluar dari aula ini. ‘Aku pengecut tidak berguna! Sangat lemah bagaimana bisa aku masih bisa berdiri di sini, sungguh tidak tahu malu. Ella, Maafkan aku!’ saking kesal pada dirinya Neron hanya bisa mengepalkan tinjunya dan memukul pahanya sendiri untuk melampiaskan kekesalannya.
“Kita semua akan berhenti di sini, kan?”
“Tidak ada duel lagi,kan? Kalil yang menang?”
Tangan William terangat ke depan menyuruh semua orang diam. “Semua tenang! Seperti keputusan yang sudah disepakati. Jika kalian menang, kita akan menghentikan duel ini dan kalian bisa makan malam dan beristirahat selanjutnya.”
Suara gaduh yang bersemangat dan rasa senang mencapai batasnya dengan banyak orang bersorak terutama teman-teman Kalil yang datang menyerbunya di atas flatform. William dan Fred akhirnya yang berdiri di sana harus mundur teratur kembali ke barisan mereka. Tidak lama juga Sir Mony dengan sikap santainya, dia berjalan menghentikan antusias siswa baru yang semakin menjadi-jadi.
“Oke, semua orang diam!” terdengar teriakannya yang melengking seolah menggunakan speaker, sekarang tidak ada lagi suara lain yang terdengar. Hanya tertinggal suaranya. “Kalian semua kembali masuk barisan! Sambutan dari senior kalian sudah selesai waktunya kita memasuki aula utama!”