Neron tercengang, otanya tiba-tiba berpikir sangat keras untuk menjawab tantangan orang yang baru dikenalnya. “A-aku … aku tidak akan melakukannya. Aku lelah, lapar! Kalau kamu memang mau lakukan saja.”
Orion Gerda Gibran, Lahir dari keluarga Marquis Gerda, bangsawan ternama dari ibukota. Salah satu anak berbakat yang mempunyai bakat Mana luar biasa dengan kekuatan element sihir api yang besar dan bahkan, bisa membakar rumahnya sendiri saat pertama kali kekuatannya terbangun. Tidak hanya itu dia juga sudah bisa melawan para guild api milik keluarganya meski, masih harus imbang.
Tidak hanya bakatnya yang menonjol sedari kecil tetapi, juga berkat nama keluarga yang bisa memberikannya sumber daya Mana memadai dia tumbuh dengan cukup luar biasa dibanding anak-anak seusianya. Tidak salah juga seperti Oris, Orion Gerda disebut-sebut sebagai anak yang dikarunia kekuatan Dewa Api atau dewa perang, Mikhel.
Saat ini Orion sendiri melotot tak percaya, mendengar seseorang baru saja menolak tantangannya. Padahal rasanya dialah yang selalu menolak tantangan orang lain, karena menganggap lawannya tak cukup pantas bersaing dengannya tetapi kali ini, tanpa peringatan dia diremehkan. Padahal baru kali ini dia penasaran dengan anak lain disekitarnya, yah. Dia tertarik dan penasaran orang di sampingnya karena keberaniannya beberapa saat lalu, yang sudah berani mengintrupsi pertandingan yang sudah tradisi academi sendiri.
“Kamu sungguh tidak mau berduel?” tanyanya lagi.
“Tidak.”
“Terus, buat apa kamu keluarin tongkat jelek kamu itu.” Orion masih penasaran, matanya menoleh melihat tongkat sihir yang sedang dipegang Neron.
Neron pun melakukan hal yang sama, melihat tongkat sihir ditangannya. “Ini, I-ni … aku perlu mengorek hidungku yang gatal,” jawabnya asal sambil tak ragu memasukkan tongkat itu ke lubang hidungnya.
“Y-yaish, menjijikan!” Kesal Orion lalu meninggalkan Neron dan berbalik pergi.
Neron bernapas lega melihat orang itu akhirnya pergi. Siapa anak itu yang tiba-tiba saja menantangnya duel sungguh tak jelas. “Aku harus makin hati-hati! Bisa-bisanya orang-orang ini dengan mudahnya mengajak berduel orang yang tidak disukainya, bukankah namanya itu penindasana,” dumel Neron pada dirinya sendiri. Tetapi, meski begitu dia masih tampak puas saat melihat Tulois diangkut dengan tandu tampak menyedihkan.
Pertandingan kedua berlanjut. Neron kira bakal jadi pertarungan anak yang baru saja mengajaknya itu maju ke panggung ternyata tidak. Orang itu hanya maju ke depan tetapi, sedikit pun tidak bergerak. Yang muncul anak bertubuh sangat bongsor jelas sangat bengkak di mana-mana.
“Aku mau mencobanya?!” ujarnya sambil mengangkat dagunya yang dipenuhi lemak. William di sisi lain hanya mengangguk saja lalu, dengan satu pandangannya pada rekan setim-nya maju ke depan.
“Persyaratan masih sama hanya tiga kali serangan masing-masing yang diperbolehkan entah itu kalian kalah atau menang.” Willian memerhatikan kedua peserta dengan serius, melihat keduanya siap dia menyuruh mereka memperkenalkan diri terlebih dulu.
“Tebet Hulkman dari keluarga Baron Hulkman.”
“Eric Gastronitis.” Yang lain menjawab lebih singkat. Tak lupa dia juga membuka jubahnya yang berwarna merah. Memperlihatkan wajahnya yang pucat dengan rambut pirang persis, seperti orang sakit dari pandangan Neron.
Kemudian, keduanya segera mengambil posisi siap berduel. Tidak seperti Tulois yang kurang waspada dan tidak cepat mengambil langkah. Tebet ini meski, berbadan besar dia cukup gesit. Eric si Pemilik sihir api tanpa berkata-kata sudah menyerangnya terlebih dulu dengan lemparan bola meriam. Neron berdecak kagum, sangat percaya jika sekolah ini sangat luar biasa dalam mendidik siswa-siswanya sebagaimana ternyata remaja-remaja yang sudah berjubah resmi Academi tidak peduli lagi dengan tongkat sihir mereka.
“Ini hebat!” seru Neron saat melihat jika anak bernama Tebet pun melakukan perlawanan.
Tebet mengangkat tongkat sihirnya saat menghindar dari kepungan api dan mengeluarkan serpihan batu tajam yang langsung melawan api tetapi, sayang itu tidak cukup dengan mudah batu-batu itu hancur oleh panasnya api. Ketika Tebet masih harus menarik napas, serangan kedua muncul kali ini langsung mengarah ke tangan Tibet yang sedang memegang tongkatnya, datang sebuah api yang berbentuk panah dan langsung membakar tangannya begitu juga tongkat di tangannya.
“Aaa… panas!” Tebet menjerit kepanasan tetapi, setelah itu dengan cepat hilang. Sayangnya, tongkatnya hampir terbakar habis. “Jangan-jangan tongkatku!” teriaknya sambil memadamkan api dengan menginjak-injak tongkatnya. Sayangnya, tongkat itu tidak pernah selamat setelah dibakar api dan di-injak injak si pemiliknya tongkat itu hancur jadi serpihan.
Raut wajah Tebet berubah merah menahan tangis dan marah melihat tongkatnya hancur kemudian, mengangkat wajahnya melihat lawannya yang masih berwajah datar seolah tidak ada yang salah. Tebet pun bangun dengan cepat seolah akan menyerang tetapi, dia di tahan kekuatan angin yang datang dari samping, yang ternyata itu William.
“Tidak boleh ada serangan fisik! Kalau masih ingin bertanding lancarkan saja serangan sihirnya.”
“Aku tidak peduli! Aku akan menghajarnya… yah, Pucat! Akan kubuat wajahmu jadi merah karena babak belur. Kemari! Tongkat berhargaku sekarang hancur.”
“Apa kamu bodoh?”
“Kau-lah yang bodoh dan curang, ini tidak adil! Dia menyerang tanganku dan membuat tongkatku terbakar…” Tebet berteriak-teriak marah, berputar-putar di tempat seolah tengah protes pada semua orang yang hadir.
“Tidak ada yang salah menyerang pada tanganmu, itu tidak cukup membahayakan nyawa dan soal tongkatmu… “ William melirik sisa-sisa tongkat dilantai. “Itu salahmu sendiri!”
Mendengar itu semua Tebet tentu saja tidak terima, dia semakin marah. Membuka lebar-lebar jari-jarinya yang gemuk serta membaca mantra lantang seolah ingin mengeluarkan kekuatan sihirnya dari jari-jarinya itu yang mengarah pada Eric yang masih diam menunggu.
Eric melihat Willian, seolah dengan tatapan matanya untuk melepas penghalang anginnya. William mengangguk tidak lagi mengganggu karena sepertinya Tebet tidak mengejar perkelahian fisik dan jelas tampak sedang mencoba mengeluarkan kekuatan sihirnya untuk melawan.
“Apa kamu masih lama?” tanya Eric menunggu serangan yang tak kunjung datang dari Tebet.
“Diam, berengsek!” balas Tebet ikut marah, terus menatap tangannya yang sama sekali tidak bisa menyalurkan kekuatan mananya. “Aku merasakannya, sedikit lagi… diamlah di sana aku pasti membuatmu terluka.”
Meskipun begitu, tidak ada yang bisa menunggu dengan sabar begitu saja apalagi dengan hanya mendengarkan orang lain untuk diam dan menunggu. Eric tentu tidak bodoh jelas ini merupakan duel, pertarungan. Jadi, tanpa banyak kata dan kesabaran lagi dia melancarkan serangan terakhir. Bola api datang dengan hembusan angin besar dan langsung melemparkan Tebet beberapa langkah mundur ke belakang lalu jatuh terjengkang begitu saja.
William mengangkat tangannya menandakan duel sudah selesai. “Pemenangnya Eric.”
Tidak perlu diberitahu semua orang di aula ini tahu jika, anak bernama Tebet itu yang akan kalah. Tentu saja dilihat dari kekuatan saja sudah sangat jelas. Melihat apa yang terjadi remaja-remaja disekitar Neron mulai bergerak khawatir dan jelas mulai enggan untuk berpartisipasi dalam duel jika, hanya untuk dikalahkan bahkan dengan rusaknya tongkat sihir Tebet hal itu cukup menimbulkan protes karena kebanyakan dari mereka masih berasal dari tongkat sihir yang menjadi perantaranya.
Dalam hati Neron pun sedikit mencibir. Dia sudah mengatakan sebelumnya duel ini hanya untuk mempermainkan murid baru sepertinya, bagaimana tidak sejak awal level semua orang sudah berbeda. Mereka pasti sudah terlatih sedangkan murid-murid baru ini tidak semua berasal dari kalangan bangsawan yang mampu memberikan sumber budidaya untuk meningkatkan level sihir mereka di sini lebih banyak hanya orang-orang biasa, yang bermimpi bisa belajar sihir untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
“Selanjutnya,” ujar William membuat semua orang di sana menahan napas. Diperkirakan dari mereka tidak lagi berani untuk maju jika, hanya untuk dikalahkan seperti itu. Melihat tidak ada yang melangkah lagi William kembali bicara, “Kalian tidak bisa hanya takut dan jadi pengecut, kan? Dengan duel ini bukankah kita semua bisa bellajar lebih banyak dan melihat sampai di mana kekuatan yang kalian miliki.”
“T-tapi, akan sangat merepotkan juga jika kami kalah dan terluka,” sahut remaja berkaca mata dengan kepala menunduk seolah malu tidak berani mengangkat wajahnya, jauh berbeda dengan suaranya yang lantang meski masih tampak terbata-bata. “Aku menyerah! Aku tidak mau diam di rumah sakit karena terluka. A-aku sangat ingin masuk kelas dan belajar.”
William menjadi bingung tidak menyangka murid-murid baru ini sulit diatasi. Sejak kapan para junior bisa protes atau juga menolak apa yang diinginkan senior pada zamannya dulu sama sekali tidak ada yang berani. Sungguh tidak bisa dipercaya? Ada apa dengan anak-anak baru itu?’
“Aku juga/aku juga.” Akhirnya banyak anak yang ikut-ikutan menolak untuk berduel secara langsung. William tampak kewalahan melihat semua orang berteriak mengajukan protes.
“Kalo begitu kalian tidak perlu datang untuk makan malam,” kata Sir Mony dengan santai. “Duel ini sudah menjadi tradisi penyambutan siswa baru yang tidak mematuhinya berarti melanggar.”
Semua orang kembali terdiam setelah mendengar ini tetapi, meski diam-diam tidak lagi protes masih banyak yang enggan untuk berani maju ke depan. Karena tidak ada yang mau mempelopori lagi seorang remaja dari bagian para senior tiba-tiba saja maju.
‘Fred.’
“Aku Fred dari keluarga Hansel,” sapanya sebagai awal perkenalan. Tanpa di duga dia juga merupakan wakil Student Council. Dia berdiri tidak jauh dari Willliam dan sudah saling tukar pandangan, melihat hal ini dia seperti punya solusi bagaimana membuat Junior-junior mereka jinak kembali jadi, William diam dan tidak tampak keberatan.
“Kita gunakan ini sebagai pertandingan terakhir bagaimana? Itupun , dengan syarat orang yang menang kali ini dari pihak kalian … para Junior. Jadi, utuslah orang paling kuat dan berbakat di antara kalian dari pihak kami, … hanya akan memanggil orang yang setara dengannya.”
“Apa maksudnya? Kamu menghina kami ,karena masih Tmpak lebi begitu?”
“Bukan itu maksudnya.”
“Pertandingan yang seimbang yaitu, jika diantara kalian penyihir air, kami juga akan mengirim penyihir air dan satu hal lagi jika, kemenangan ada pada kalian … pertandingan ini menjadi duel terakhir. Jika, tidak. Kami akan berduel sampai ada yang menang dari pihak kalian.”
Neron bertepuk tangan dalam hati dengan ide Fred, sungguh lumayan tetapi juga tetap merugikan dipihak-nya jika, semua orang maju ke depan mungkin saja akan ada giliran untuknya. Setelah itu, Neron juga memerhatikan sekitarnya melihat apa ada anak yang terlihat cukup kuat yang bisa ditariknya keatas panggung.
Tidak disangka ada tiga murid menjadi sorotan yang sama sekali belum maju ke depan dan merupakan anak-anak dari keluarga bangsawan tinggi yang kemampuannya cukup diakui di ibukota antara lain, ada anak bernama Orion Gerda Gibran, remaja usil yang menantang Neron sebelumnya. Dua orang lainnya adalah Kalil Evan dan Alvaro Damian penyihir dengan element air.
Di tengah-tengah orang lain yang tengah membujuk salah satu dari ketiga orang itu maju. Fred tiba-tiba saja menunjuknya ke arahnya, dengan senyuman lebar yang sangat manis dilihat oleh matanya sebelum mendengar kata-kata yang diucapkannya. Kenapa senyuman dengan cepat berubah jadi seringai iblis, ingin sekali Neron untuk menghancurkannya.
“Kamu! Kenapa bukan kamu yang maju ke depan. Kamu tampak hebat dan kuat, bagaimana?”
‘Dia benar-benar bukan teman yang baik! Menyesal sudah mengenalnya,’ sebal Neron dalam hati tidak bisa terima beban berat itu ditaruh dibahunya.
“A-aku tidak bisa!! Aku lemah… manaku baru saja bangkit tidak punya pengalaman apa-apa.” Hanya alasan seperti inilah yang bisa cepat dikatakan Neron dan menurutkanya cukup masuk akal karena tidak ada salahnya mengatakan jika mana-nya baru saja bangkit daripada kenyataan pahit aslinya jika, dirinya tidak mungkin menumbuhkan Mana.
Fred tampak kecewa tetapi, dengan cepat berubah setelah melihat seseorang maju ke atas panggung. Dia, Kalil Evan setelah didesak juga diberikan kepercayaan jika, dia bisa mampu mengalahkan lawannya dia bersedia. Itu juga untuk segera menyelesaikan pertandingan ini.
“Siapa namamu?” tanya William.
“Kalil Evan, penyihir element air. “
William dan Fred kali ini juga saling menatap lalu, menoleh bersamaan ke belakang mereka di mana teman-teman seangkatan mereka berdiri di sana. Dengan cepat orang-orang yang termasuk penyihir maju ke depan, berjajar dengan rapih dan itu termasuk Marvella yang merupakan penyihir air.
“Mereka semua termasuk penyihir element air, rata-rata dari mereka pengguna level 2 yang lain level 1 sebelumnya kami yang memilihkannya,” ujar Willliam yang kemudian menoleh berbicara pada para Juniornya terutama pada Kalil yang sudah berani maju. “jadi, kali ini kami biarkan kamu memilih lawanmu sendiri?”
Di sisi lain Neron masih terkejut saat melihat kekasihnya, wanita yang menjadi tujuannya datang ke mari maju ke dapan untuk melakukan duel meski, belumlah tentu tetapi, kekhawatirannya sudah naik ke atas kepala. ‘Marvella maju ke depan? Bagaimana jika terpilih? Yang paling penting bagaimana jika dia terluka? Apa yang bakal terjadi?’ seperti itulah dia terus khawatir.