Plak!
Sebuah tangan baru saja melayang dan jatuh di pipi Neron dan berhasil membuat suara yang indah saking cepat dan kuatnya tamparan tersebut. Marvella tidak melepas tatapan tajamnya, dia kini kesal setengah mati pada Neron, mantan pacarnya yang cuma tampang tetapi, ternyata tidak punya otak sama sekali. Beraninya dia masuk ke academi tanpa punya kekuatan bahkan, sampai tidak pikir panjang sama sekali dengan mencuri undangan orang lain.
“Apa kamu tahu apa arti kartu pass itu, hah? Apa kamu benar-benar sampa tidak mencaritahu hal seperti itu? Beraninya kamu mencuri tempat Oris.”
Baru saj tadi Neron bicara jujur pada Marvella tentang bagaimana dia berhasil masuk academi. Sebelumnya Neron tidak pernah berpikir akan mendapat pujian tetapi, mendapat tamparan rasanya… keterlaluan juga, padahal karena gadis di depannya ini dia berjuang meski, harus menggunakan jalan yang salah. Bukan kata bangga yang dia ingin dengar tetapi, mungkin sedikit kata-kata yang lebih menyentuh dan membuatnya menyesal atas perbuatannya rasanya itu akan lebih baik. Sayang, ternyata hanya tamparan keras yang pantas dia dapatkan.
“Aku tahu aku salah tetapi, apa yang kulakukan untuk bisa ke sini itu—“
“Jangan bilang itu semua karena aku! Aku tidak pernah menyuruhmu datang, Neron!”
Mulut Neron menjadi lebih kering setelah mendengar pernyataan Marvella. “Ella tapi, aku tidak mau putus denganmu,” ujarnya sambil menunduk, Neron hanya bisa mendengar dengusan keras dari bibir Marvella.
“Neron, terus sekarang kamu mau bagaimana?”
“Aku gak tahu harus bagaimana, Ella,” jawab Neron bodoh. “aku cuma gak mau kita putus itu … yang penting.”
“Neron! Bukan hubungan kita yang penting sekarang… “ Marvella mengetuk lengan Neron kesal mendnegar jawabannya. “Sebentar lagi, akan ada tes element. Pikirkan itu! Apa yang mau kamu lakukan?”
Mendengar itu rasa khawatir di hati Neron menjadi tersadar. “Ahh, iya, apa sebaiknya kulakukan ya?”
“Pertanyaan bodoh, kenapa kamu menanyakannya padaku. Apa kamu masih saja tidak mengerti jika, kamu ingin tinggal di sini maka, kamu harus punya Mana, kamu harus bisa menggunakan sihir!” Marvella menghentakkan kakinya terlalu kesal pada Neron. “Dan, untuk hal lain, cari tahulah sendiri! Dan, awas saja jika, kamu berani menyebut-nyebut namaku saat kamu tertangkap nanti. Aku tidak punya urusan denganmu dan aku tidak pernah menyuruhmu untuk datang ke sini.”
Setelah mengatakan hal-hal kejam itu Marvella berbalik pergi, meninggalkan Neron yang patah hati sedih juga kebingungan. Dia tidak beranjak pergi bahkan, matanya tidak teralihkan sampai sosok Marvella menghilang di balik pintu. “Padahal aku bisa melakukan apapun untukmu, Ella. Bahkan, jika harus menerima hukuman pun aku bersedia saja tapi, … aku gak bisa terima sikap kamu yang kayak gini! Harusnya, kamu gak marah. Beri aku sedikit semangat saja aku bakal bahagia, Ella!” celoteh Neron penuh emosi.
Pada akhirnya, Neron banyak memakan waktunya untuk tinggal di ruangan tersebut mencoba mencari akal. Sayang, otaknya sepertinya tidak bisa diajak untuk menemukan solusi kali ini bahkan, saat tadi bertanya pada Marvella saja cukup membuatnya sadar jika, tidak cukup dengan tamparan untuk membuatnya sadar tidak ada yang bisa dia lakukan di dunia ini tanpa sihir. Orang sepertinya tanpa kekuatan hanya bisa berada dibawah dan itu membuatnya kesal.
‘Sial!’ keluh Neron dalam hati, setelah keluar dari kebun dan berpisah jalan dari Marvella tidak disangkan dia dengan cepat ditemukan orang lain. Pasalnya jika, dia bisa mengulur waktu karena tersesat di castle ini mungkin dia bisa memecahkan masa di depannya soal Mana ini.
“Kamu dari mana? Kenapa berkeliaran sendirian?”
“Fred.”
“Apa?”
Neron ingin mengatakan sesuatu tetapi, akhirnya tidak berani bicara. Siapa Fred dia hanya teman yang baru dia temui. ‘Ouch, Sial!’
“Kamu kenapa?” tanya Fred sambil mengerutkan kening tidak mengerti dengan sikap Neron tetapi, memang apa. Fred segera meraih lengannya menggerenya pergi. “Sudahlah, ayo, pergi dulu! Siswa yang lain sudah berkumpul di aula utama. Ini hari pentingnya… kamu harus tampil luar biasa.”
“Tampil luar biasa? Apa dia gila,” gumam Neron dengan tawa pahit di ujung bibirnya. “Hah,ha… sepertinya aku memang sudah bersiap mati seperti ini.”
“Kamu bilang apa?” tanya Fred sambil menoleh.
“Tidak ada tapi, kenapa kamu bisa mencariku?”
Fred sedikit menggaruk rambutnya, sedikit malu. “Tadi aku mencarimu tapi, kamu tidak terlihat dan aku tanya-tanya pada yang lain lalu, anak bernama Orion bilang kamu izin ke kamar mandi dan belum balik jadi, kupikir kamu tersesat. “
“Bagus memang seharusnya aku tersesat saja,” ucap Neron berbisik.
“Oh, ya, kamu tidak kecewakan sebelumnya tentangku?”
“Kecewa kenapa?”
“Aku tidak bermaksud berbohong di kereta aku juga tidak menyebutkan tingkatanku saat pergi karena terburu-buru juga… kamu mau maafin aku, kan?”
“Tidak perlu minta maaf. Memangnya apa yang kamu pikirkan soal itu? aku tidak ada masalah, itu soal sepele malah bukannya aku yang salah sangka karena tidak memerhatikan jubahmu itu.”
“Ah, iya, juga itu memang salahmu yang tidak tahu apa-apa,” sahut Fred dengan senyuman yang lebih lega. “Kalau begitu kita cepat berjalan, Neron kamu tidak ketinggalan seleksi tes-nya…hal seperti ini yang paling menyenangkan.”
Raut wajah Neron menjadi hitam, di otaknya hanya di isi dengan ketegasan yang tidak mampu di laluinya . ‘aku tidak ingin pergi ke sana tetapi, aku sedang berjalan ke arah sana… sungguh neraka yang menakutkan.’
“Fred bisakah aku kembali dulu ke toilet, aku seprtinya mulas saking gugupnya.”
Fred mengerutkan kening tidak setuju tetapi, akhirnya mengangguk juga. “Ok hanya dibelokan kedua di sana juga toilet. Seharusnya kamu tidak perlu pergi sejauh ini ke sini …ah, salah pengurus siswa juga seharusnya kami mengadakan tour academi kemarin agar semua siswa baru tidak banyak tersesat….”
Neron tidak mendengarkannya siapa peduli yang terpenting untuk sesaat dia bisa mengundurkan waktu. Benar-benar setelah dua belokan berjalan di lorong mereka menemukan toilet . Neron, masuk sendiri dan dengan setia Fred menunggunya di luar. Katanya dia malas dengan bau toilet umum. Wajar saja sebagai Wakil president council mereka punya ruangan pribadi yang lebih baik.
Di dalam kamar mandi Neron melakukan niatannya, dia benar-benar datang untuk buang air kecil sambil masih berpikir caranya dia selamat dan aman tetapi, sekeras apapun tidak ada yang ide yang muncul di otaknya yang cuman bisa melihat garis koma saja … ‘sepertinya aku bakal mati hari ini! Hukuman apa ya, yang bakal kuterima? Ah, sial! Kenapa Marvella harus ngomong segala, sih kalo bakal ada tes gini. Lebih baik aku gak tahu apa-apa dan tertangkap tangan langsung di sana daripada harus menderita ketakutan kayak gini.’
“Neron apa kamu sudah selesai?” Fred setengah berteriak, membuka pintu dan melihat ke dalam. Di sana Neron sedang berdiri di depan cermin dan menoleh mendengar suaranya.
“Sudah, baru saja aku mau keluar,” ujar Neron berjalan ke arah Fred dengan langkah setengah mantap. Dia berharap aka nada keajaiban seperti sihir setelah dia keluar dari balik pintu tersebut tetapi, sayang itu jelas hanya omong kosong belaka. Sihir itu juga adalah keajaiban, sehingga tidak akan menghampiri dirinya yang tidak tersentuh oleh keajaiban itu sendiri.
**
Sekali lagi Neron ingin berharap bahkan, bermimpi lebih banyak ketika melihat pintu yang terbuka lebar di mana terdapat banyak orang berkumpul dengan suara-suara mereka yang seakan memecah langit-langit ruangan. Sungguh pemandangan luar biasa, banyak sekali sorakan takjub di antara mereka dan sebesar itu pula ketakutan dan harapan Neron agar bisa di sentuh oleh bentuk keajaiban.
“Ayo, cepat masuk! Banyak sekali katanya talenta yang luar biasa dari teman seangkatanmu …ah, aku juga menantikan milikmu. Sepertinya kamu akan lebih dari luar biasa, Neron!”
‘Sialan! Apa dia menyumpahiku tentu saja aku luarbiasa … luar biasa untuk sangat berani menginjakkan kakinya di sini tanpa memiliki Mana.’
“Fred, jangan berharap banyak padaku, mengerti!” kata Neron dengan suasana hati yang sudah ia buat setenang mungkin.
“Benarkah? Tapi, kupikir kamu pasti cukup keren.”
“Jangan membual!” kesal Neron yang akhirnya berjalan lebih cepat dari Fred dan ketika sadar dia sudah berada di dalam aula besar di mana di depan sana, sebuah platform panggung yang lebih tinggi sekumpulan para pembimbing termasuk kepala academi tengah duduk dengan nyaman memerhatikan sesuatu.
Yah, di tengah-tengah itu ada sebuah bola Kristal yang menjadi pusat perhatiannya di sampingnya seorang siswi berdiri di sana sambil meletakkan tangannya di atas bola Kristal dan tanpa menunggu waktu lama, Bola Kristal yang putih itu mulai berubah warna dari warna hitam dan perlahan-lahan berubah menjadi biru pudar dan setelah beberapa waktu tak ada lagi perubahan.
“Penyihir element air, level pemula!” teriak seorang pria bertopi kerucut. “Selamat! Felys Hurtgo , akan bergabung dengan yang lainnya. Penyihir element air beri tepuk tangan untuk rekan baru kalian.”
Setelah itu, tepuk tangan bergema di sana. Anak bernama Felys cukup puas dengan sambutan semua orang, tak lupa dia pun membungkukkan badan pada semua guru penuh hormat dan sopan santun lalu, segera berlari turun dan masuk ke dalam kelompok element air yang menyambutnya dengan suka cita.
“Wow, luar biasa! Tahun ini sepertinya akan menjadi tahun element air. Banyak sekali yang menjadi anggota baru mereka. Neron, apa element-mu?” tanya Fred yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Neron yang diam membeku tetapi, dalam pikirannya Neron sekarang sedang takjub.
“Apa aku akan berdiri di sana juga?” tanya Neron dengan pandangan kosong, pikirannya entah sedang melayang ke mana.
“Hey, tentu saja! Di sana, memangnya bagaimana lagi caranya kita semua tahu kamu termasuk penyihir yang mana?”
Neron berbalik, menoleh pada Fred. “Kamu termasuk penyihir mana?”
“A-aku, aku element tanah… yang sedikit langka,” jawab Fred dengan rasa bangga. Lihat saja cara jawabnya yang mencolok dengan menyesuaikan ekspresi wajahnya. Salah satu matanya berkedip satu dan satu tangan terangkat menunjukan jarak antara jari telunjuk dan jari jempol.
Sudut bibir Neron berkedut, dia tidak tertarik seberapa sedikit langka milik Fred hanya hatinya bisa menebak jika, orang di depannya pasti anak yang luar biasa. Buktinya dia ternyata wakil President council tetapi, yang paling penting apa Fred bisa jadi temannya. “Fred apa kamu bisa menyembunyikanku?”
“Maksudnya?”
Neron menelan ludah, tenggorokannya terlalu kering untuk membuka rahasianya pada orang ini tetapi, jika dengan bantuan Fred dia bisa terhindar dari tes- ini , dia pasti akan sangat bersyukur. “Apa kamu bisa membantuku?”
“Bantu apa, menyembunyikanmu dari apa?” tanya Fred semakin bingung.
“Kita pergi dari sini dulu,’ ujar Neron sambil menariknya untuk pergi tetapi, belum pergi jauh seseorang memanggil Fred.
“Fred! Mau ke mana kamu, tugas kita banyak.”
“Ah, iya!” jawab Fred cepat-cepat lalu, dia juga segera menoleh pada Neron. “Maaf, sepertinya aku harus pergi!”
“Fred!”
“Baik, Senior Ben,” Sahutnya lalu pergi sambil menepuk bahu Neron dan berbalik dengan senyum manisnya. “Hey, Neron tenang saja. kamu pasti baik-baik saja.”
“Ok!” setelah mengatakan hal itu, kepala Neron menekuk kepalanya bawah hilang sudah harapannya. Padahal rencananya adalah membiarkan Fred menyembunyikannya sampai tes ini berlangsung, dia yakin dari ratusan orang siswa baru yang datang tidak ada yang akan kehilangan satu orang sepertinya dan mungkin juga tak ada yang memerhatikan. “Hey, kalau begitu kenapa gak kabur aja sendiri?”
Neron segera menyelinap keluar kembali. Mungkin dia akan ke tempat yang tadi sebelum akhirnya nanti mencari asrama yang mana saja, yang bisa ditempati.
“Hey, kamu mau ke mana?” Tiba-tiba saja sosok Orion datang menghadangnya.
“Bocah usil ini lagi,” keluh Neron tidak senang. “Minggir, aku mau lewat!”
“Ada apa denganmu? Kita sedang mengadakan tes, mungkin sebentar lagi giliranmu?”
Kepala Neron menoleh ke belakang di mana tes masih berlangsung. “Aku mau cepat-cepat pergi dulu! Aku gugup , aku harus ke toilet!”
“Oh, kalau begitu aku ikut. Aku juga perlu ke toilet.”
“Kamu tidak usah, diam saja di sini! Aku hanya sebentar nanti, bisa saja kamu kehilangan giliranmu.”
“Jangan khawatir! Aku sudah melakukannya jadi, aku sangat santai dan ingin ke toilet..”
“Aku tidak mau toilet berdua bareng anak laki-laki,” ujar Neron tegas. Dia juga tidak beranjang pergi meski, sudah melihat Orion berjalan beberapa langkah di depannya.
“Aku juga bukan mau satu bilik toilet denganmu?!” salak Orion sebal tiba-tiba Neron bertingkah. “Aku hanya butuh teman perjalanan lagian, aku juga tidak tahu arah ke mana toilet itu.”
Neron cemberut tidak bisa membalas lagi tetapi, ketika baru saja siap untuk melangkah dia benar-benar sangat terkejut seolah jantungnya seakan jatuh sangat sakit. Itu bukan hanya karena perasaan sakit hati tetapi, juga kekhawatiran yang besar. Dari atas panggung platform pria bertopi kerucut, memanggil nama siswa . “Oris Darel!”