Keesokan harinya Neron bangun dengan keadaan linglung lalu, setelah sadar jika dia melewatkan untuk menjelajah keluar raut wajahnya menjadi lebih tidak menyenangkan. Untuk melampiaskan kekesalannya dia menggosok giginya dengan sangat keras dan cepat, orang-orang disekitarnya dengan mata terheran-heran bahkan, tidak ada yang berani dekat-dekat dengannya.
Splass! Neron memercik air di baskom, melempar sikat giginya entah ke mana lalu dengan sembarangan berkumur dan mencuci muka sekadarnya. Setalahnya, segera berganti baju dan duduk dengan wajah tertekuk di ranjang. Kedua tangannya menyilang di depan d**a seolah sedang berpikir keras, yang sebenarnya hanya omong kosong karena tidak ada yang bisa dia pikirkan kecuali dia tidak bisa menemui kekasihnya.
Orion sebenaranya tidak pernah usil dengan keberadaan orang lain malah dia sangat terkesan dingin dan tak acuh pada sesuatu disekitarnya terkecuali, pada sesuatu yang membuatnya tertarik. Ini termasuk pada Neron, yang berani protes pada orang yang jelas di atasnya. Para senior itu biasanya tidak senang dibantah atau diprotes, di zaman kerajaan menghormati kekuatan dan senioritas adalah yang terpenting. Beruntung pada Neron yang selamat menghadapi William yang baik hati.
Inilah juga alasan Orion ingin sedikit mengganggu Neron karena dia merasakan energy keberuntungan yang sangat-sangat jarang dimiliki oleh orang-orang lain. Orion mengetuk palang besi yang menjadi penyangga dari ranjang susun tersebut. “Apa semalam ada setan datang ke mimpimu, huh?”
“Pergi, aku sedang tidak ingin bercanda,” jawab Neron tanpa menoleh.
“Kamu tidak sadarkan jika kemarahanmu yang tanpa alasan itu mengganggu orang lain, kan?” tanya Orion berlanjut tanpa kenal takut.
Neron mendengus lalu, mendongak menatap Orion. Pemuda usil yang sejak kemarin cukup mengganggunya, memikirkannya Neron tidak tahu apa yang orang ini inginkan ataukah mereka sebelumnya pernah punya dendam tetapi, rasanya tidak. Hari kemari adalah pertemuan pertama mereka. “Sebenarnya kamu punya urusan apa denganku?”
Orion terdiam sesaat karena ditanya seperti itu, matanya menyipit jejak kebencian melintas di depannya. ‘Sungguh menyebalkan, sialan!’… “Tidak ada! Tapi, karena wajah dan auramu itu sangat mengganggu sekali tahu!” salaknya marah lalu berlalu pergi.
Akhirnya Neron menghela napas, menghilangkan kekesalannya dan bersikap biasa. Neron sadar di sini, dia tidak boleh membuat musuh malah seharusnya dia bisa berteman dengan banyak orang karena mungkin dia butuh orang-orang ini menyembunyikan rahasianya. Mengingat hal itu, tingkat stressnya kembali tinggi… dia begitu khawatir tetapi, sekaligus berdebar senang langkahnya memasuki academi masih mulus.
‘Yah, untuk saat ini tidak buruk hanya … bocah bernama Neron ini tidak tahu apa yang akan dihadapi ke depannya.’
Bangkit berdiri Neron melihat sekitar mencari seseorang. Menemukan targetnya dia segera berjalan mendekat tetapi, setengah jalan diurungkannya lagi. Memukul kepalanya sendiri Neron kembali ke pos-nya sendiri hanya berpikir, dia tidak perlu sampai meminta maaf apalagi melakukan hal konyol dengan meminta mereka berteman dengannya karena kemungkinan besar mereka pun tidak mau. Orang yang bernama Orion, menegurnya barusan pun pasti hanya kesal padanya bukan karena hal-hal lainnya jadi tidak perlu dipikirkannya.
**
Pagi ini, William sebagai President Council datang dengan cepat bahkan, hampir seperti marah melihat sebagian dari siswa-siswa baru ini belum bersiap semuanya. “Apa saja yang kalian lakukan sejak tadi, hah? Cepat bereskan semuanya kita akan sarapan lalu mempersiapkan tes untuk kalian!”
“Kak, apa Anda tahu tes apa yang akan kita lakukan?” tanya seseorang yang sepertinya cukup penasaran. Dia berdiri di barisan paling depan, percaya diri karena semua persiapan miliknya sudah selesai lebih awal.
William mengalihkan pandangannya dari orang-orang di belakang jauh sana yang masih bersiap-siap dengan keadaan tergesa-gesa dari mencuci wajah dan berpakaian jelas mereka terlambat bangun dan baru saja membuka mata setelah mendengar teriakan William. “Aku tidak tahu dan tidak mau tahu … yang harus kulakukan hanya mengatur kalian agar tertib dan tidak membuat masalah yang tidka perlu jadi, jangan banyak bertanya ini itu. aku tidak akan menjawabnya! Oke aku hitung sampai lima tidak peduli kalian siap atau tidak kita pergi ke ruang makan terlebih dulu! 1 … 2 …. 3 … 4 … 5! Ayo, pergi!”
“Tunggu kami!” teriak orang-orang yang terlambat dengan keadaan tunggang langgang tetapi, William sudah berbalik dan berjalan yang diikuti para siswa lainnya begitu juga Neron tidak punya keinginan untuk berhenti sesaat bahkan, menoleh ke belakang.
Setelah hari kemarin, berada di ruang makan adalah cahaya baru di mata Neron. Sepanjang hidupnya yang berusia tujuhbelas tahun ini belum banyak dia melihat makanan sebanyak semewah semalam dan kali ini pun sama. Hanya untuk sarapan saja ternyata masih banyak menu makanan yang tersedia bukan hanya sekadar roti atau bubur gandum dan s**u. Dengan sigap Neron tidak kalah bersama yang lain langsung mencari tempat duduk dan makan hampir melupakan semua hal sampai perutnya merasa kenyang.
“Ah, kenyang sekali,” ungkapnya sambil menegak minum air madu.
Tidak disangka masih pagi seperti ini dia bisa makan daging ham beberapa potong dengan bubur nasi putih yang harum dan enak sekali. Bahkan, dia juga mencoba roti lapis telus yang tidak kalah enaknya. Menepuk perutnya yang penuh, pikiran dan hati Neron pun turut membaik lebih dari sebelumnya dan bahkan, dia bisa berkonsentrasi ingat pada tujuannya. ‘Aku ingin bicara dengan Marvella tapi, bagaimana caranya? Apa dia tidak ada di ruangan ini? Apa dia masih sakit, yah?’
Neron benci sekali dia tidak bisa mencari solusi dari berbagai macam pertanyaan juga keinginan dalam benaknya. Tetapi, meski begitu matanya tidak pernah diam, dengan seksama mencari di mana kemungkinan kekasihnya. Tidak tahan hanya menebak-nebak akhirnya Neron menyenggol lengan orang di sampingnya. “Boleh, aku tanya sesuatu?”
Orang itu menoleh dengan mulut penuh makanan, di tangannya juga ada paha ayam yang baru saja digigitnya. Neron sebenarnya sedikit mengerenyit bukan jijik tetapi, heran dan berpikir dengan cara makan orang yang membuatnya menanggung beban sebenarnya seberapa menyedihkannya orang ini dibanding dia? Dia juga tidak pernah makan semewah di sini, dia juga rakus tetapi, tidak kalap seperti itu … jika, dia bisa tinggal di sini bukannya tidak perlu khawatir lagi tentang makanan.
“Kamu, mau tanya apa?” tanya orang itu karena melihat Neron hanya diam tetapi, juga tidak berhenti sambil mengunyah daging ayam yang baru digigitnya.
“I-itu kamu tahu di mana ruang perawatan?”
Giliran pemuda itu yang mengerutkan kening. “Kenapa bertanya padaku? Mana aku tahu, aku ini siswa baru sepertimu. Cari senior William saja sana!”
“Benar juga,” sahut Neron sambil berdiri lalu, menoleh lagi. Dia lupa tidak mengatakan sesuatu yang penting. “oh,ya, terima kasih!”
Neron keluar dari bangku panjangnya, menoleh ke kiri dan ke kanan sebelum akhirnya memilih ke kiri di mana terlihat jika, disebelah sana merupakan bagian untuk para senior . Aula di sini sangat luas dan begitu panjang cukup menampung hampir seribu anak remaja dan para guru pembimbing di academi. Puluhan hingga ratusan meja makan yang sangat panjang bisa diisi oleh limapuluh sampai tujuhpuluh orang permeja dan mempermudah keluar masuk para siswa terdapat tiga pintu utama yang dipersiapkan academi.
Letak-letak pintu itu sangat disesuaikan dengan semua prasarana sekolah para murid, sehingga tidak akan membuat murid-murid ini kehilangan waktu apalagi tersesat di antara lorong-lorong academi yang banyak dan membingungkan untuk yang masih baru macam Neron. Lihat saja sekarang dia bingung, tidak ingin melangkahkan kakinya terlalu jauh karena mendengar peringatan seseorang.
“Apa aku benar-benar tidak bisa ke sana?”
“Coba saja, asal kamu yakin tidak membuat senior-senior kita itu tersinggung. Jangan buat masalah.” Sebelumnya Orion menghentikan Neron, yang hendak berjalan makin jauh ke area makan para senior.
“Padahal, aku cuma mau tanya sesuatu ke Kak William? Apa aku tanya saja sama senior-senior yang lain?”
Orion memutar matanya. “Memangnya kamu mau tanya apa? Sebentar lagi kita juga menemuinya tunggu saja saat itu.”
Neron menggaruk rambutnya frustrasi, tidak yakin apa nanti bisa bicara tetapi, akhirnya tetap berniat berbalik mungkin belum ada kesempatannya untuk bisa melihat Marvella saat ini. Pluk! Sesuatu mengenai kepala Neron, dia pun kembali berbalik dan menoleh dan benar saja … matanya masih bisa melihat dengan jelas dan seketika itu juga berbinar dengan disertai sebuah senyuman.
Marvella masih duduk di meja makan, sungguh sebenarnya itu tidak terlalu jauh tetapi, entah kenapa baru bisa dilihatnya saat ini. Gadis cantik dengan kuncir kuda itu memberi Neron sebuah kode dengan tatapan matanya, agar dia segera mengikutinya. Arah matanya mengarah pada pintu keluar segera dia mengangguk tetapi, hal itu ternyata tidak lepas dari mata Orion di sampingnya.
“Kamu mau ke mana?”
“Ouh, oh, aku pergi ke tempat dudukku lagi.”
“Jangan bohong, baru saja aku melihat kalian berdua? Siapa dia? Bukannya dia gadis yang dilawan Kak Kalil kemarin?”
“Ssst, jangan mengatakan apapun!” Neron mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Orion dengan satu jari telunjuk dari tangan lain terangkat. “aku mohon, aku akan sangat berhutang padamu.”
Orion menepuk tangan Neron dibahunya dan mendengus sebal tetapi, tidak mengatakan apapun dan kembali ke tempat duduknya. Melihatnya, Neron merasa anak itu tidak buruk, dia juga percaya jika Orion tidak akan mengatakan apapun soalnya dengan Marvella. “Terima kasih!” ucap Neron puas dan berlalu pergi. Di sisi lain Orion masih meliriknya ketika dia benar-benar pergi ke arah pintu yang di tunjuk gadis senior itu
*
“Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan di sini?!” teriak Marvella meluapkan emosinya sejak kemarin. Matanya tajam menelisik, Neron dari atas ke bawah terlihat jelas tidak ada jejak kesabaran di matanya melihat penampilan Neron yang lebih berantakkan dari sebelumnya.
Apa yang digunakan Neron saat ini adalah kemeja putih yang terbuat dari satin, pakaian terbaiknya di rumah dan jelas jarang dia gunakan sebelumnya hanya untuk acara-acara penting. Bagian bawahnya adalah celana hitam berbentuk balon yang setengah menggantung di bawah lututnya. Pakaian seperti ini sebenarnya tidak tampak terlalu lusuh jika, … jika digunakan diperkampungan mereka sebelumnya berbeda dengan saat ini.
“Kenapa rasanya kamu sangat marah?” tanya balik Neron, dia juga memerhatikan mata Marvella saat melihat pada pakaiannya. “Apa aku terlalu lusuh, maaf, aku tidak memperhatikan hal lain…selain untuk bisa datang ke sini. Persiapanku begitu kurang tapi, jangan khawatir diam-diam nanti aku—“
“Neron, bukan cuma itu yang kupedulikan!” kesal Marvella yang lagi-lagi berteriak. Untuk hal itu dia tidak perlu khawatir jika, aka nada orang lain yang akan mendengar suara keduanya karena Marvella membawa Neron jauh ke halaman belakang tepatnya ke sebuah rumah kaca di mana ada ruangan terpencil lainnya. Biasanya tepat ini digunakan sebagai gudang pupuk yang jarang disinggahi orang lain. “Aku tanya sekali lagi. Kenapa kamu ada di sini?”
“Aku tidak mau putus darimu. Karena alasanmu tidak tahan dengan hubungan jarak jauh kita … aku putuskan akan di sini juga menemanimu sampai lulus.”
“Apa kamu gila?! Bagaimana bisa kamu berada di sini, Neron! Kamu sadarkan, kamu itu gak punya kekuatan sihir?” Marvella memegang kepalanya dan mengerang frustrasi mendengar alasan tidak masuk akal Neron.
“Aku tahu soal itu… aku akan berusaha. Agar tidak ada satu orang lain pun tahu. Jadi, jangan khawatir,” ujar Neron tidak tahan dan mulai menggengam tangan Marvella.
“Dasar bodoh!” Di hempaskannya gengganman tangan Neron. “Apa semudah itu, hah, bilang akan berusaha! Lalu, memangnya siapa orang yang mau kamu bodohi itu,huh. Neron! Cepat atau lambat orang lain pasti tahu—“
“Gak, akan, Ella. Percaya padaku!” potong Neron sambil mencoba meraih tangan Marvella kembali tetapi, ditolak lagi dan lagi oleh gadis itu. “Ella, apapu bakal aku lakuin buat kamu tapi, jangan marah padaku apalagi meminta putus denganku, Ok!?”
“Aku sangat ingin menamparmu, Neron.”
“Kamu boleh menamparku,” tawarnyaa sambil memperlihatkan pipinya yang sebelah kiri. “Ayo, lakukan! Asal marahmu mereda aku terima.”
“Neron, sebelum semuanya semakin runyam… lebih baik kamu cepat pergi dari sini dan … jangan bicara apa-apa lagi soal kedekatan kita. Kutekankan lagi kita sudah putus artinya berpisah.”
“Sudah kubilang! Aku tidak mau putus darimu… aku datang ke sini semua karenamu?”
“Aku tidak menyuruhmu! Jadi, cepat pergi kemasi barang-barangmu sebelum orang lain tahu jika, kamu sebenarnya cuman anak biasa. Tidak punya kekuatan sihir bagaimana kamu bisa hidup di sini, Neron.”
Mata Neron terasa berembun, tidak menyangka tanggapan Marvella begitu keras penuh kebencian. Hatinya menjadi kacau dan sedih, dia tidak mempertimbangkan jika Marvella akan bersikap kejam begini. “Aku bersungguh-sungguh mencari jalan untuk sampai ke sini untukmu, Ella.”
“Sudah kukatakan jangan menyebut-nyebutnya lagi. Aku tidak memintanya. Lebih baik kamu pikirkan urusan dirimu saja dan … ingat! Jangan pernah mengatakan apapun tentang kita saling mengenal. Aku tidak ingin mengenalmu di sini!”
“Ella!”
Marvella bersikap dingin, tidak peduli dengan kesedihan Neron meski, remaja pria itu jelas-jelas memperlihatkannya. “Neron berhenti, berpura-pura menjadi anak anjing menyedihkan! Sekarang, lebih baik kamu pikirkan keselamatanmu sendiri … apa setelah ini kamu masih bisa selamat dan tinggal di sini?”
“Apa maksudmu?” tanya Neron ketakutan setelah mendengar keseriusan kata-kata Marvella.
“Sebentar lagi kalian akan berkumpul di Aula pelatihan. Kamu di sana harus menunjukan element apa Mana apa yang kamu miliki. Hal ini dilakukan untuk menempatkan pengelompokkan tepatnya kamu berada.”