Di saat seperti ini tentu saja banyak orang yang akan memerhatikannya belum lagi beberapa waktu lalu dia sudah membuat keributan, yang akan menyebar secepat hembusan angin jadi, ketika dia keluar dan berjalan di koridor mau tak mau Neron mendapatkan semua perhatian dengan pandangan jijik dan menghina. Tidak mungkin bukan, dia mendapat tatapan memuja dari para siswa di sini yang tahu apa yang sudah dilakukannya.
‘Lihat aja terus, lihat!’ keluh Neron dalam hati, dia juga tidak takut membalas tatapan semua orang. ‘Berengsek! Ini tidak menyenangkan apa aku seorang badut.’
“Senior,” panggil Neron pada orang di depannya. Kali ini yang membawanya bukan dua orang bodoh lainnya tapi, President council yang pernah dia lihat sebelumnya, William.
“Ada apa?” tanya berbalik.
Neron bisa melihat anak ini juga tidak menyukainnya tetapi, masih sedikit lebih baik karena dia berbalik mau menanyakan apa yang diinginkannya. “Apa aku bisa pergi ke kandang burung terlebih dulu? Aku ingin berkirim surat?”
“Kamu tidak bisa! Ini bukan waktunya berkirim surat, tunggulah sampai Weekend. Mengerti sekarang? Jadi, ayo, cepat! Jangan banyak bertanya lagi.”
Kepala Neron menunduk lesu, dia tetap belum bisa memberi kabar pada orang tuanya. Menunggu sampai weekend berti masih harus beberapa hari lagi tetapi, apa mau dikata. ‘Baiklah jika harus weekend, ya, berarti weekend!’ pikirnya tidak perlu bicara lagi. Beberapa saat keduanya, berjalan terlibat dalam rasa hening tidak ada yang berbicara dan hanya terus berjalan.
“Senior?”
“Jangan bicara aku tidak mau bicara denganmu?”
“Kenapa? Aku tidak punya penyakit menular juga, tuh?”
William menoleh. “Apa kamu tidak punya kesadaran diri sendiri?”
Neron yang kali ini mengerutkan kening. “Kesadaran diri tentang apa?” tanyanya balik. “Apa aku harus pingsan begitu? Bukankah, akan merepotkanmu jika aku tidak punya kesadaran diri saat ini?”
“Kamu ingin bermain-main denganku, huh?” tanyanya seolah menahan emosi membuat Neron semakin tidak mengerti ada apa dengan orang-orang di sini.
“Aku lelah, Senior?! Lain kali saja,” sahut Neron santai. “Jadi, apa kita bisa cepat sampai di kamar.”
William tidak bisa sabar, dengan wajah kesal dia hendak menginjak kaki Neron tetapi, tidak berhasil karena dengan cerdik Neron bisa menghindar. “Dasar, b******n licik,” ucapanya sebal. “Apa kamu pikir, aku juga tidak lelah mengantarmu ke sana, hah. Dasar tidak tahu terima kasih.”
“Memangnya tepatku di mana?”
“Kamu mau pergi sendiri?”
“Yah,” sahut Neron mengangguk. “Tidak masalah! Aku bisa pergi sendiri.”
“Baguslah.” William memasang wajah lega. Masih, banyak yang harus dia kerjakan jika, tadi dia tidak datang untuk memberi laporan tak mungkin dia mendapat tugas merepotkan dengan mengantarkannya ke asramanya. “Sebenarnya tidak ada asrama yang ingin menerimamu tapi, karena perintah dari kepala sekolah juga kamu bisa tinggal—“
“Dia tinggal denganku saja? aku bersedia berbagi kamar dengannya?”
“Fred.”
“Neron, senang bertemu denganmu lagi?” Fred langsung menghampirinya, merangkulnya menepuk punggungnya lama sekali. Dia senang bertemu dengan temannya ini. “Kupikir tidak ada yang ada berubah sama sekali?!”
“Apa harus ada yang berubah dariku, huh?”
“Tidak ada. Ayo, cepat ikut denganku! Ceritakan pengalamanmu di pulau kabut itu? Apa di sana menyenangkan?” Fred langsung menarik Neron untuk pergi, meninggalkan William mematung sendirian melihat kepergian dua orang itu.
“Damn it! Fred.” Kesalnya sambil mendengus keras tidak habis dengan wakil student council nya itu, bagaimana dia bisa berteman dengan orang macam Neron lalu, akhirnya berbalik pergi tanpa adanya jawaban di kepalannya.
“Ini kamarku!” Tunjuk Fred sambil membuka pintu kamarnya. Di dalam sana terdapat tiga tempat tidur, di mana terdapat lemari pakaian di tiap sisinya. Juga, terdapat lemari kecil yang di atasnya berdiri lampu kamar tepat menyorot ranjang. Cat yang berwarna merah muda dengan motif bunga tidak membuatnya tampak girly malah menjadi suasana cerah dan nyaman ditambah Jendela yang terbuka, semakin membuat suasana hidup. Sinar mentari langsung menyorot ketiga ranjang tersebut.
Neron merasa langsung jatuh hati dengan kamar tersebut jika, teringat kamarnya yang dingin di pulau kabut sudah barang tentu berbanding terbalik surga dan neraka, panas dan dingin. “Sungguh, aku bisa tinggal di sini? Bukankah kamarku sudah ditetapkan?”
“Tentu saja sebenarnya sudah ditetapkan tapi, kamu tidak bisa memilihkan. Biar nanti aku bicara dengan Miss Brunette, dia yang biasanya mengatur ruangan para siswa di sini!” Fred berjalan ke salah satu ranjang dan mendudukinya. “Ini ranjang senior Lody sebelumnya tapi, tahun ini dia sudah lulus jadi, ranjang ini kosong. “Nah, salah satu orang lagi dia itu… Roman Edsel Drew. Dia mungkin sedang berada di kelas saat ini.”
Neron mendekat, duduk di samping Fred sambil melepas tas ransel bututnya. “Apa teman sekamarmu tidak keberatan aku tinggal di sini.”
“Tidak akan. Dia anak baik tetapi, sangat dingin saat bersamaan jadi, kamu tidak bisa terkejut lagi saat melihatnya.”
“Benarkah?” tanyanya seolah tak percaya.
“Kamu bisa melihatnya sendiri. Sekarang, ceritakan tentang pulau kabut aku hanya bisa mendengarnya dari orang lain dan buku padahal, aku sangat penasaran apa saja yang ada di sana?”
Neron memerhatikan Fred terlebih dulu, melihatnya benar-benar tampak antusias dia tidak membuka mulutnya untuk bercerita. “Yang pertama kali dirasakan di pulau itu adalah suhu yang dingin, aku langsung pingsan setelah jatuh ke sana dan …” Neron menceritakn pengalamannya dari awal hingga waktu untuk mereka bicara habis.
“Seru sekali! Lain kali ceritakan lagi. Sekarang sudah waktunya makan malam, kamu pasti sudah lama tidak makan makanan lezat, kan?”
“Ish, itu tentu saja!” sahut Neron berdiri penuh semangat. “perutku sudah kosong sejak tadi siang.”
“Kasian, kasian … ayo, cepat pergi!”
Keduannya akhirnya pergi ke ruang makan. Dalam perjalanan Neron masih melihat orang-orang itu mendelik tidak senang padanya dan berbicara di belakangnya, bukan hal menyenangkan sekaligus mengherankan dengan orang-orang ini. Ada apa dengan mereka, kesalahannya hanya pada satu orang bukan pada mereka bahkan, mengenal mereka saja tidak. Kenapa semua orang begitu sensitive padanya?.
‘Ish, untuk apa juga aku memerhatikan orang-orang ini lebih baik aku pikirkan bagaiamana nantinya, apa yang harus dilakukan ketika bertemu Oris? Bagaimana tanggapannya, apa dia sekarang membenciku juga, kan?’
Dan baru saja Neron memikirkannya, orang itu tiba-tiba saja muncul di depan matanya. Keduanya bertemu di depan pintu besar ruang makan, mereka berada saling bersebrangan. Oris tengah menatapnya dengan pandangan marah dan kecewa, Neron hanya bisa menelan ludah sambil menahan rasa lapar di perutnya. “Yang harus bertemu akhirnya, bertemu juga.”
Fred menoleh melihat Neron yang juga sedang melihat Oris. “Kamu mau bagaimana?” tanyanya.
“Aku ingin makan dulu baru bicara dengannya,” jawab Neron melihat Fred lalu, seolah memberinya kode untuk berjalan masuk terlebih dulu dan dia mengikuti.
Di arah sebaliknya Oris yang melihat Neron tidak menghampirinya dan malah masuk ruang makan menambahkan bensin ke dalam hatinya yang sudah terbakar. “Neron!” suaranya tinggi dan nyaring.
“Kita makan dulu baru bicara,” putus Neron setelah dipanggil dengan suara keras membuat jantungnya hampir jatuh beruntung, dia bisa menyembunyikan ketekejutan tersebut lalu, berbicara untuk menahan emosi Oris sedikit saja. Dia percaya, orang yang kelaparan emosinya akan lebih tinggi dibandingkan orang yang sudah mengisi perutnya, dia akan lebih tenang dan berpikir jernih.
Oris ingin membantah mulutnya sudah bergetar, membuka dan menutup ingin bicara tetapi, seperti dulu sepertinya dia harus mengalah dari Neron. Mengepalkan tangannya karena kesal, Oris masuk dengan wajah merah menahan marah dan dia tidak menghindar melainkan dengan tangguh duduk di depan Neron seolah takut jika, setelah makan orang itu akan pergi.
Neron pun sama sekali tidak keberatan dan malah bernapas lega. Oris bisa menahan amarahnya dan makan terlebih dulu. “Aaah, aroma ini! Rasanya sudah sangat lama aku membauinya.”
Tanpa malu segera perut Neron berbunyi, jelas sangat kelaparan Fred dan Oris terkejut mendengarnya. Neron sendiri hanya sedikit malu. “Maaf, aku benar-benar lapar.” Setelah mengatakan itu Neron segera menarik mangkuk yang sudah terisi dengan sup daging penuh dan panas.
Fred ikut tersenyum melihatnya seolah tidak keberatan, Oris sendiri yang masih belum mengeluarkan suara sejak tadi hanya mendengus dan dia sendiri mengambil piring pasta dan daging. Tidak ada yang berubah saat mereka makan, semua focus dengan makanan di depan mereka. apalagi, diam-diam Neron melirik Oris dan tersenyum kecil merasa senang saat bisa melihatnya lagi. Mereka masihlah berasal dari tempat yang sama membuatnya sedikit nyaman setelah rasanya sangat lama sudah merindukan kampung halaman dan orangtuanya.
Untuk masalahnya dengan Oris, dia tidak akan mengelak juga tidak berharap akan langsung dimaafkan tetapi, setidaknya jika, melihatnya duduk di depan matanya seharusnya Oris tidak akan terlalu membencinya.