Kepercayaan Demian!

1658 Words
“Apa yang sedang kalian lakukan?!” teriakan itu menggema di seluruh lorong ruangan dan membuat semua orang tertegun dibuatnya. kemudian, pria tua dengan wajah keriputnya melangkah maju ke depan masih dengan tangan teracung. Matanya menyipit memerhatikan semua hal disekitar, dia menyibak coat panjangnya yang tampak usang juga mengusap rambut hitamnya yang klimis seolah tengah merapihkannya. Setelah dua detik kemudian, dia kembali maju dengan suara sepatunya berderak di tiap langkah bermaksud menakuti semua orang. “Semua kotor dan rusak, kalian berani bertarung di lorong sekolah?” tanya sir Felix yang sudah berdiri di depan mereka, menatap dengan mata merah dan penuh lingkaran hitam di bawah matanya. “T-tidak, Sir?!” Fawel dan Billy menyahut lebih cepat, tidak ingin ada orang lain yang mendahului mereka. “K-kami tidak tapi, karena dia yang memulai.” Unjuk Fawel langsung pada Neron. Felix seolah tidak ingin mendengarya, dia mengibaskan tangannya. “Kalian tahu, aku baru saja akan beristirahat?! Jadi, apa yang kalian lakukan sampai membuat kekacauan seperti ini? Bukankah, di sini lorong sekolah bukan arena bertarung, hah?” “S-sir.” Fawel maju dengan suara sengau dan wajah memperihatinkan, menghilangkan wajah kemarahannya yang sebelumnya. “Lihatlah! A-aku diserang sampai terluka …aku hanya mencoba membela diri. Tolong jangan menghukumku.” “Sir, aku juga hanya mencoba membantu Fawel yang terluka, menyuruhnya diam dan menyerah tetapi, dia mengamuk seperti orang gila,” ujar Billy dengan nada sedikit bersemangat. Dia juga dengan senang hati menunjuk Neron sebagai biang keladi semua yang terjadi. “Dia bukan hanya anak tidak tahu malu tapi, juga sangat jahat setelah berhasil jadi pencuri dia sekarang ingin jadi pembunuh.” “Apa yang kalian katakan aku tidak memulai perkelahian,” tukas Neron tidak terima difitnah seperti ini. Belumnya lagi, dialah yang banyak diserang dan mungkin jika, dia tidak pandai menghindar dirinyalah yang akan terluka banyak. Sir Felix menoleh, dia menatap Neron dengan kerutan kening sangat keras. “Jadi, kamu pikir merekalah yang bersalah? Kalau begitu apa penyebab mereka menyerangmu?” Mata Neron bergerak melihat Fawel dan Billy lalu, kembali menatap sir Felix. “Aku hanya bertanya ke mana mereka membawaku pergi lalu, tiba-tiba saja dia menyerangku.” Neron menunjukan kaki kirinya di mana celana di atas lututnya terbakar dengan membentuk bulatan menembus kulitnya yang kelihatan merah kehitaman bekas serangan api biasanya. “Hanya seperti itu? Dan, kamu menyerang mereka dengan pisaumu itu? Jelas kamu ingin membunuh mereka?” Bola mata Neron membulat, tidak percaya mendengar pembelaan seorang guru yang tidak masuk akal. “Aku tidak membunuh mereka, aku hanya melindungi diri sendiri.” “Melindungi diri sendiri dengan pisau macam itu?! Apa kamu seorang udik tidak tahu cara pertahanan sihir? Di mana kamu berada saat ini? Bukankah ini Academi sihir lakukanlah semua hal dengan menggunakan sihir jika, kamu hanya bisa menggunakan pisau pergilah ke kelas prajurit atau dapur di mana kamu bisa memotong sayuran atau melakukan beberapa sayatan di daging.” Fawel dan Billy berdiri di samping Sir Felix menyeringai senang bahkan, tanpa ragu tidak menyembunyika tawanya yang menghina. “Maaf ,Sir, sebenarnya dia tidak bisa sihir. Dia anak yang tidak tahu malu sudah mencuri surat undangan temannya untuk datang kemari. Dia juga baru saja bebas dari hukuman. HeadMaster ingin menemuinya, kami akan mengantarnya ke sana tapi, dia tidak menurut dan sudah ingin pergi saja!” “Dasar anak tidak tahu adab,” cibir sir Felix lalu, dengan tangannya yang panjang dan kurus dia meraih dagu Neron. “Jadi, kamu yang bernama Neron itu. Kamu tidak pantas berada di sini tapi, Head Master sungguh baik ingin merawatmu dan … cih, berani tidak bersedia datang saat dipanggil? Dasat tidak tahu diri.” Neron mengeretakkan giginya, dia begitu marah dan kesal mendengar dari kata-kata tajam dari sir Felix lebih dari itu dia ingin membalas ucapannya tetapi, rasanya mereka tidak percaya dan itu membuang-buang energy saja. Daripada itu lebih baik, dia diam dan bicara saat disuruh atau disaat ada orang yang akan percaya pada ucapannya. “Bawa dia ke HeadMaster jika, dia tidak mau lakukan saja hal mudah ini!” “Aaakh!” Neron berteriak sangat berlebihan seolah itu luka parah meski, sebenarnya dia bisa menahannya tetapi dia tidak bisa menahan emosinya yang sudah ada di ubun-ubun jadi, lebih baik melepaskannya saja. “Apa aku menghancurkan kakimu? Seberapa kuat sihirku itu sudah kuperhatikan.” Sir Felix tertegun sambil melihat jari telunjuknya lalu, pada Neron yang tengah berguling-guling. Baru saja dia sebenarnya, melakukan serangan tetapi hanya dengan satu telunjuknya mengarah ke telapak kakinya. Itu hanya sihir kecil hanya membuat kakimu terasa tersengat listrik. Semua orangpun jadi, tampak terkejut dengan teriakan Neron seolah merasa sakitt sekali, mereka juga tidak lepas dari melihat sir Felix seolah dia baru saja melakukan kesalahan besar. *** “Ini hari pertama kamu kembali tapi, sudah membuat masalah.” Demian melirik Neron sambil mendesah tidak mengerti. Keduanya berada di ruang kantornya membiarkan semua orang pergi dan hanya tinggal mereka berdua. Neron menunduk sedikit malu, pria tua itu berbicara dengan lembut meski, sedang memprotesnya. “Maaf, Sir! Aku juga tidak ingin hal seperti ini terjadi.” “Baiklah, lupakan saja soal itu! tapi, kamu tidak memprovokasi orang lain lagi atau kamu bisa saja terluka lebih parah.” Dalam hati Neron tidak setuju, dia merasa dirinya tidak selemah itu untuk dikhawatirkan tetapi, dia tidak boleh menjawab atau akan tambah panjang saja petuah yang mungkin keluar dari kakek tua di depannya ini. “Baik, Sir! Aku akan lebih memerhatikannya. “Jawaban yang bagus. Aku tahu kamu bukan anak remaja yang sepenuhnya nakal meski, mempunyai masa lalu buruk ke depannya seseorang bisa saja berubah. Apalagi kamu hanya seorang pencuri kecil, yang membuatmu memberi kesempatan setelah mendengar alasanmu yang ingin belajar menggunakan sihir. Apa keinginanmu masih seperti itu?” “I-iya, Sir!” Awalnya Neron sedikit terkejut mendengar semua ucapan kepala sekolahnya bahkan, hatinyelum adaa sedikit merasa bersalah bukankah alasanya datang ke mari dan mencuri karena ingin dekat dengan gadisnya. Alasan lainnya itu untuk menyelamatkan dirinya juga Marvella. “Aku sangat ingiin jadi, seorang penyihir meski, butuh waktu lama …aku akan yakinkah Anda tidak menyesal dengan keputusan Anda hari ini.” Demian terkekeh, senang melihat semangat anak remaja di depannya. “Kamu masih sangat muda. Kata-katamu juga sangat luar biasa tapi, ada banyak hal yang perlu kita sadari di mana batas kita. Belum lagi, tidak ada seorang penyihir yang lahir dari tekad kuat saja.” Kepala Neron menunduk, dia juga tahu tidak aka nada yang percaya jika. Dia bisa menjadi seorang penyihir nantinya meski, itu kepala Academi sendiri. ‘Tidak apa-apa , bukankah aku hanya tinggal membuktikannya saja?’ pikir Neron dalam hati dengan membesarkan hatinya pula. “Neron,” “Ya, Sir!” “Meski tekadmu sangat kuat dan luar biasa tapi, aku hanya bisa memberimu waktu satu tahun ini saja. jika, kamu masih tidak memilki kemajuan dalam hal penggunaan sihir terpaksa kamu akan dikeluarkan.” Bola mata Neron masih menunjukan keterkejutannya meski, dia sudah tahu tentang hal ini tetapi masih membuatnya berdebar takut ketika mendengarnya dari mulut kepala academinya sendiri. “A-aku akan sangat berusaha dan terima kasih atas kesempatan besar yabg Anda berikan ini.” Demian tersenyum puas mendengarnya. “Kamu di sini tidak akan belajar dengan sia-sia meski, nantinya tetap tidak jadi seorang penyihir. Belajarlah yang rajin dan hindarilah masalah sebisa mungkin.” “Ya, sir saya mendengarkanmu.” Kemudian, bangkit berdiri. Mengambil bola pemilih dan melirik Neron. “Oh, ya, sepertinya jangan lupakan jika, kamu harus minta maaf pada temanmu yang bernama Oris Darel itu.” “Dia sudah ada di sini?” “Tentu saja, dia anak yang luar biasa tidak mungkin kami harus membiarkannya tinggal di luar dan kehilangannya.” “Senang mendengarnya,” sahut Neron dengan senyuman lebar tetapi, entah kenapa rasanya pahit. Tidak bisa membayangkan apa Oris mau bicara lagi dengannya, rasanya belum siap untuk bertemu. “Sekarang lanjutkan, kamu ingin pergi ke kelas mana?” Di depannya sudah ada bola Kristal yang membuat dirinya terbongkar. Ah, sebenarnya lambat laut pasti dirinya akan terbongkar juga jadi, dia tidak membenci bola tersebut. “Aku tidak masalah ke manapun pergi,” sahut Neron. Demian diam sejenak, berpikir ke mana dia harus meletakkan Neron, yang mungkin pasti banyak orang menilainya. “Neron , apa kamu tidak ingin meletakkan tanganmu di bola ini mungkin saja…?” “Tidak, Sir?!” tukas Neron secepat mungkin. Demian menghela napas lalu, melanjutkan kata-katanya, “Sebelumnya aku sudah menyelidiki latar belakangmu. Kamu lahir dari keluarga penyihir, bukan? Orang tuamu melakukannya.” “Iya.” “Karena itu, mungkin saja kamu hanya terlambat bangkit dan ada inti Mana di tubuhmu.” Sungguh mengejutkan ada seseorang yang mengatakan hal-hal baik seperti itu. “Bisakah hal itu terjadi?” “Tentu saja, hanya ada kurang dari satu persen dari dua orang tua yang seorang penyihir dan anaknya tidak bisa menggunakan inti Mana-nya.” “Jadi, tetap saja kemungkinan itu ada, yah? Jika ternyata aku tidak punya inti Mana … mungkin aku adalah bagian dari mereka yang kurang dari satu persen itu.” Mata Neron bergetar dengan wajah sedih dan seolah kehilangan. “Jangan seperti itu…masih banyak kesempatan. Meski, akhirnya terlambat datang kamu akan jadi seorang penyihir juga.” “Sir, apa Anda percaya padaku? Apa aku akhirnya bisa menjadi seorang penyihir.” “Tidak ada yang tidak mungkin tapi, untukmu aku hanya bisa menunggu selama satu tahun ini. Kelak, jangan lagi kecewa dan marah masih banyak hal yang bisa kamu lakukan meski, bukan jadi penyihir.” Senyum di bibir terbit untuk hari ini. “Rasanya menyenangkan mendengar hal itu dari Anda. Aku akan melakukan yang terbaik selama satu tahun ini…yah, kemungkinan inti manaku yang sedikit terlambat.” Demian mengangguk dengan semangat muda Neron. Anak di depannya masih punya harapan meski, kecil tidak ada masalah untuk memberinya kesempatan sederhana seperti ini. “Jadi, apa kamu tidak ingin mencoba bola Kristal di depanmu ini? Mungkin saja—“ “Tidak, Sir. Aku tidak punya kepercayaan diri meletakkan tanganku ini. Nanti, saja setelah aku benar-benar yakin.” Putus Neron sambil menatap lamat-lamat bola Kristal tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD