Dinner With The Boss

2359 Words
Amara merenggang kan otot ototnya setelah dalam waktu 5 jam dirinya hanya duduk. Saat pria itu membimbing nya keluar, dia memberikan Amara sebuah pekerjaan uji coba terlebih dahulu dengan membuat laporan kontrol dalam bidang manajerial. Dan membuat data lengkapnya di sana, dan itu benar benar sangat banyak. Bahkan waktu 20 menit istirahat nya sama sekali tidak berasa. Dan ia bersyukur dalam hati jam sudah menunjukan pukul 18:00PM dimana menandakan jam kantor suah tiba. Dengan bergegas Amara membereskan semuanya dengan rapih dan telaten. Tidak ingin ada satupun yang tertinggal, mungkin saat di rumah nanti dirinya akan kembali melanjutkan ini semua. Amara menoleh saat mendengar langkah kaki yang mendekat. “Amara?? Kau sudah selesai??” Ternyata itu adalah Riska. Ah, Amara sampai melupakan temannya ini. “Aku sudah selesai, Ris. Baru saja, sungguh ini semua melelahkan!” Keluh nya yang langsung di jawab anggukan setuju dengan Riska. “Kau benar Amara!! Astaga, aku merasa tulang rusuk ku sulit kembali tadi. Itu benar benar menyiksa!!” Ucap Riska heboh, Amara hanya terkekeh mendengarnya. Ternyata ia juga merasakan hal yang sama dengannya. “Apa kau ingin makan malam setelah ini??” Pertanyaan Riska membuat Amara melebarkan mata abu nya binar, kemudian mengangguk semangat. Ya Tuhan, tawaran yang sungguh tepat. Sejak tadi perutnya benar benar lapar, ia hanya menahannya dengan meminum lebih banyak air putih. Riska terkekeh kecil. “Kalau begitu kita akan ke Restoran dekat sini.” Setelah beres merapihkan pekerjaannya, Amara dan Riska langsung bergegas meninggalkan lantai kerja mereka dan menuju lift untuk ke lobby, dan saat ini mereka masih di dalam lift menuju lantai dasar. “Sungguh Amara, aku masih tidak bisa percaya jika aku bekerja di sini,” Celetuk Riska tiba-tiba. Amara menoleh dan terkekeh mendengarnya. “Bahkan saat kita menginjakkan kaki di sini, Ris.” Ucap Amara membenarkan. Mereka terkekeh bersama. “Ah iya Amara. Aku baru ingat, saat terakhir kali tadi kita menemui Mr. Culles, aku tidak melihatmu. Aku tidak sadar kau ternyata masih di dalam, apa Mr. Culles memanggilmu?? Dia berbicara apa padamu??” Amara mengumpat dalam hati karena pertanyaan itu keluar dari mulut Riska tiba tiba saja tanpa ada angin atau hujan. Sejak tadi padahal ia berdoa agar siapapun tidak akan menanya kan itu padanya, oh Tuhan. Malahan sepertinya Amara sudah lupa ada kejadian memalukan itu, dan ia sama sekali tidak berniat mengingatnya. Ia hanya menganggap itu tidak pernah terjadi, Mycle hanyalah bos nya saat ini. Itu saja. Amara bingung harus menjawab apa, ia terdiam sejenak hanya tersenyum pada Riska kaku. “Ayolah, Amara. Ada apa??” tanya Riska lagi tidak sabar. “Hmm, itu- itu aku hanya-“ Bunyi tanda pintu lift terbuka mebuat Amara sujud syukur dalam hati. Ia akhirnya bisa bernafas lega karena menghindari pertanyaan Riska itu. Mereka kini keluar dari lift dan mulai berjalan menuju lobby. “Ah, Riska. Kira kira kita akan makan apa ya??” tanya Amara mengalihkan topik, berusaha membuat Riska lupa dengan pertanyaannya. Dan itu berhasil! Riska sedang nampak berfikir, seperti mencari cari menu makanan apa yang akan mereka makan. Sebenarnya tidak penting juga, untuk apa di pikirin sekarang, toh ke restoran nya saja belum. Agak konyol, tetapi Amara bersyukur untuk itu. “Ah aku bingung. Yang terpenting makanan itu cukup membuat kita kenyang!” Ucap Riska kemudian. Amara terkekeh. “Kau benar!!” Ucapnya. Riska kembali menoleh. “Amara?? Pertanyaan ku tadi-“ Amara terkejut bukan main saat tiba tiba saja seseorang menarik tangan nya. Mencengkram nya erat, mata Amara menatap orang itu bingung. Seorang pria- dan Amara mengenalinya. “Maaf Mr. Culles. Tanganku, apa anda bisa melepaskannya??” Amara masih menahan nada marah nya, mengeraskan rahang melihat pria ini belum melepaskan tangannya, kakinya menahan langkahnya keras sehingga membuat pria bermata biru itu menoleh cepat. Tatapannya menyorot tajam, menatap nya seolah Amara melakukan kesalahan besar. Tanpa membuka suara, Mycle hendak kembali menarik lengan Amara lagi. “Mr.Culles!!” pekik Amara sedikit keras. Bahkan orang orang di sekitar mereka sudah menatap bingung termasuk Riska. Mycle menoleh kembali, kali ini ia berjalan mendekati Amara, memisahkan jarak hanya beberapa senti dari tubuh wanita itu. Mata birunya menatap Amara tajam. “Aku sudah bilang padamu sebelumnya bahwa aku akan menunggumu saat jam pulang untuk makan malam. Tetapi kenapa kau tidak datang, huh??!” Mycle kesal. Suaranya memang pelan, mungkin untuk membuat orang orang tidak terlalu mendengarnya tetapi Amara mendengar itu cukup jelas, suara pria ini terdengar tajam dan tertahan. “Apa aku mempunyai kewajiban untuk menurutinya??” Tanya Amara berani. Ia membalas tatapan Mycle, tetapi lebih tenang. Mycle mengeraskan rahangnya. “Kau wajib menurutinya! Aku atasanmu!” Ucap Mycle penuh penekanan. “Maaf Mr. Culles, tetapi itu di luar perintah pekerjaan. Kau hanya mengajakku, itu termasuk dalam makan malam bersama pribadi,” Balas Amara kemudian tersenyum sopan. Wanita itu hendak berbalik kembali menuju Riska, tetapi dengan cepat Mycle menahannya. “Masa bodo kau menolak ku!” Mycle kembali menarik tangan Amara. Menyeret wanita itu cepat menuju lobby. Amara memberontak kesal, berusaha melepaskan cengkraman Mycle pada lengan kecilnya yang bahkan saat ini sudah terlihat memar, ya Tuhan rasanya sakit sekali. Saat Mycle menariknya, Amara sempat menoleh pada Riska yang masih menatap bingung berbarengan dengan tatapan sedih dan kecewa. Mungkin dia merasa bersalah karena tidak bisa menolongnya. »»——⍟——«« Kini Amara dan Mycle sudah sampai di lobby, di sana sudah terparkir Aston Martin d11 hitam yang sangat mewah,mobil itu terparkir sombong. Dua orang pelayan memabukkan dua pintu bagian depannya. Seperti mempersilahkan dirinya dan Mycle masuk kesana. Mycle sudah melonggarkan cengkraman nya. Dan itu membuat Amara dengan cepat menarik tangannya hingga terlepas. Ia meringis kesakitan, dan menatap kasihan pada pergelangan tangannya yang sudah memar ini. Mycle menoleh, mendengar rintisan Amara. Ia sedikit terkejut melihat tangan wanita itu, khawatir. Mycle meraih tangan Amara untuk melihatnya. Tetapi dengan cepat wanita itu menariknya kembali. “Ini ulah mu!” Ketus Amara menatap Mycle tajam. Mycle melembut, menatap Amara menyesal. “Maafkan aku, sungguh!” Ucap pria itu. Amara tidak menanggapi, ia masih memegang tangannya kesakitan. Ia terkejut saat Mycle kembali meraih tangannya, melihatnya dengan tatapan menyesal. Wajahnya mendekat, kemudian meniup memar itu lembut. Dan Amara bersumpah, saat nafas pria itu menyentuh kulit memarnya, ia merasakan sensasi hangat dan lembut bersamaan. Kemudian beberapa detik setelah itu, rasa sakit pada tangannya menghilang. Gila! “Sudah hilang kan??” tanya Pria itu menatapnya lagi. Amara terdiam, hanya memandang bingung. Ia melihat Mycle yang tersenyum lagi. Kemudian pria itu mulai menuntunnya lembut untuk memasuki mobil. Para pelayan menunduk hormat, termasuk pada Amara. Amara sebenarnya merasa malu, benar benar malu. Terlebih banyak pasang mata yang menatapnya terang terangan tidak suka atau bingung. Untuk menghindari itu mau tidak mau Amara masuk kedalam mobil menuruti Mycle. Mobil mewah itu kini sudah melesat meninggalkan lobby. Membelah jalanan malam kota Calgary yang penuh dan terang dengan bermandikan cahaya lampu perkotaan. Selama perjalanan tidak ada yang membuka suara sama sekali. Amara hanya menatap jalanan keluar jendela dengan tenang, walaupun otaknya sejak tadi berfikir keras mengenai Mycle yang berlaku seperti ini padanya. Kalau boleh jujur, sebenarnya ini semua sangat manis. Tetapi untuk lelaki yang baru di kenalnya bahkan dalam waktu kurang dari 24 jam. Itu sangat tidak masuk akal. Sekitar 20 menit perjalanan, kini mobil mewah Mycle mulai berjalan lambat. Memasuki sebuah perkarangan mewah yang ditumbuhi oleh rumput rumput dan lampu hias taman. Amara menatap bingung, ia menoleh kearah Mycle. “Kita dimana??” tanya nya bingung. Mycle tersenyum. “Belvedere restaurant. “ Jawab Mycle jujur. Amara mengernyit bingung. “Belvedere restaurant??” tanya nya mengulang. Mycle mengangguk. “Kau tidak tahu??” Tanya pria itu lagi. Oke Amara tidak perduli jika ia dianggap sangat kampungan atau semacamnya karena tidak mengetahui hal apapun tentang Calgary, karena memang ia belum terlalu mengenal kota ini lebih jauh, apa lagi yang berbau bau mewah seperti ini. “Belvedere adalah restaurant terbaik di Calgary bahkan Kanada. Dia dikenal dengan chef, menu makanan dan pelayan terbaik. Dan dia sudah beberapa kali menerima peringkat restaurant cepat saji terbaik di dunia,” Ucap Mycle menjelaskan. Amara sedikit terkagum mendengarnya. Ternyata itu adalah restaurant yang sangat mewah. Ya Tuhan, jadi pria ini membawanya kesini??! Amara menoleh ke depan sana. Dari sini ia sudah bisa melihat restaurant itu yang sangat besar, megah, mewah dan indah dengan interiornya yang sederhana. Sangat terang karena menggunakan banyak lampu, dan letak restaurant ini seperti di sebuah halaman luas. Hanya restaurant ini saja, seperti sekeliling nya tidak ada lagi. Mobil Mycle sudah memasuki Lobby, dan berhenti di sana. Seorang pelayan pria berjalan mendekat. Sama seperti saat di kantor tadi, pelayan itu memabukkan kedua pintu mobilnya. Mycle sudah turun lebih dulu, dan menyerahkan kunci mobilnya pada pelayan itu. Amara mau tidak mau menyusul, ia mulai menurunkan kakinya dan keluar dari mobil. Pelayan itu menu duk hormat, Amara hanya tersenyum ramah menanggapinya. Mycle menuntun Amara memasuki restaurant dengan meletakan tangan besar pria itu di pinggangnya. Amara sedikit merasa aneh dan risih, tetapi entah mengapa ia tidak bisa mengeluarkan suaranya untuk meminta Mycle menyingkirkan tangannya. Sekitar 5 pelayan menghampiri mereka. Pelayan itu menyambut Mycle ramah dan hormat. Dia berkata sesuatu tetapi menggunakan bahasa Perancis yang sama sekali tidak Amara mengerti. Pelayan itu kemudian berjalan lebih dulu, seperti sedang menggiring mereka ke suatu tempat. Amara dan Mycle hanya mengikuti. Mata abu Amara menatap kagum isi restaurant ini yang benar benar mewah. Orang orang yang sedang mkan di sini juga terlihat dari kalangan kelas atas. Sudah ketebak dengan para wanitanya yang menggunakan dress dress sangat mewah dari brand ternama dan juga perhiasan mereka di setiap bagian lekuk tubuh. Dan para pria nya yang menggunakan setelan jas rapih dan mewah. Melihat itu mebuat Amara merasa insecure. Tetapi saat matanya menoleh pada Mycle, tiba tiba saja ia merasa jantungnya berpacu cepat. Mycle sangat tampan, oh Tuhan. Bagaimana mungkin ia berkata itu. Dan jujur saja, Amara merasa sedikit bersyukur ia datang kesini bersama Mycle karena itu masih menolongnya. Mycle memancarkan aura yang sangat menawan terlebih dengan setelan mewah nya yang tidak kalah dari pria pria itu. Bahkan Amara dapat menyadari beberapa pasang mata mengambil curi padang pada Mycle. Kini kakinya sudah melangkah masuk ke sebuah ruangan mewah. Masih saat sebenarnya seperti ruangan sebelumnya. Hanya saja yang membedakan ruangan ini terlihat sangat sepi, masih banyak meja meja kosong di sekitarnya. Pelayan itu tersenyum ada Mycle dan berbicara lagi menggunakan bahasa Perancis, Amara hanya bisa menatapnya saja. Kemudian pelayan itu menunduk ramah pada Mycle dan juga dirinya. Amara hanya tersenyum membalasnya. Mycle menoleh kearah wanita itu, kemudian tersenyum manis. Amara mendongak, juga menatap Mycle. Dan saat ia melihat senyum manis pria itu, tiba tiba saja tubuhnya menegang. Entah mengapa, senyum Mycle seperti sihir. Untuk waktu beberapa saat Amara sempat memuji dan mengagumi senyum manis itu. Terlebih wajah tampan Mycle. Tangan Mycle bergerak, menarik lembut Amara menuju salah satu meja yang sudah penuh oleh makanan. Mycle menarik satu bangkunya, dan membersihkan Amara duduk. Amara terdiam, lagi lagi ia merasa ini seperti mimpi. Oh ayolah, sekarang permainan apa lagi yang akan takdir berikan untuknya??!! Amara sudah muak. Perlahan Amara mulai menduduki bokongnya di sana. Melihat itu Mycle tersenyum senang. Ia berjalan menuju bangku yang terletak tepat di hadapan Amara, dan duduk di sana. Beberapa saat kemudian terdengar alunan musik yang lembut. Sebuah alunan biola yang dipadukam dengan piano, mengeluarkan nada romantis di sana. Mendengar itu membuat Amara menoleh kebelakang, ternyata di sana ada sebuah panggung kecil. Dimana memang sudah tersedia untuk penata musiknya. Amara tersenyum saat orang orang di sama juga tersenyum kearahnya. “Kau menyukainya??” Amara menoleh saat mendengar suara itu. Kembali menatap Mycle, dan ia masih melihat wajah pria itu yang tersenyum. Baiklah, Amara sudah tidak bisa menahan nya. Ia tersenyum tipis, kemudian mengangguk. Mycle tersenyum puas melihatnya. Ia kemudian bergerak mengambil salah satu makanan di meja, dan menyerahkan nya diatas piring tatak milik Amara. Amara memandang bingung makanan itu. Mengerti dengan tatapan Amara, Mycle membuka suaranya. “Itu namanya adalah Foie gras. Restaurant ini menjadikan menu itu adalah hidangan pembuka nya. Sudah sangat terkenal, terlebih daging di atasnya itu. Itu adalah daging sapi yang di padukan dengan saus krim pada hitam,” Ucap Mycle menjelaskan. Amara tersenyum, entah mengapa ia suka mendengarnya. Sekarang ia jadi lebih tahu. “Lalu ini??” Amara tiba-tiba saja menunjuk sebuah cake di dalam sebuah gelas yang di cantik dengan hiasan di atasnya seperti bunga bewarna gold. “Ah, itu namanya Golden Opulence Sundae. Dia terbuat dari Chocolate truffles, Gran Passion caviar, dan es krim vanilla milik Tahitian,” Jelas Mycle. Amara mengangguk paham. “Kemudian dia juga diberi taburan bubuk emas 23 karat serta selembar daun emas. Sundae ini tersaji di dalam crystal goblet milik Baccarat Harcourt. Oleh karena itu satu porsi Sundae ini dibanderol sebesar $ 1.000.” Lanjut Mycle. Amara terkejut bukan main. Bahkan barusan saja ia tersedak oleh luadahnya sendiri. Amara terbatuk. Mycle melihat itu panik, tangannya bergerak cepat memberikan minuman pada Amara yang lagsung diterima wanita itu cepat dan mulai meneguk nya. “Astaga, kenapa kau malah tersedak??!” Tanya Mycle heran. Amara mengatur nafasnya. Ia kembali menatap Mycle. “Bagaimana tidak! Ya Tuhan, harga dessert ini sangat mahal sekali! Ia mengalahkan harga $50 heels milikku yang menurutku sudah sangat mahal!!” Ucap Amara mengomel. Mendengar itu Mycle terkekeh. Entah mengapa Amara justru terlihat menggemaskan. Mycle menunduk, menoleh ke bawah meja tiba tiba. “Apa itu heels nya??” Tanya pria itu, Amara terkejut. Untuk apa pria itu harus melihatnya, kakinya sontak mundur kebelakang. Mycle terkekeh. “Dia heels yang sangat beruntung karena bisa membalik kaki indahmu!” Ucap Mycle kemudian. Pria itu melengkung kan bibirnya sempurna. Astaga, Amara tidak bisa berkata apapun lagi. Ia merasakan pipinya memanas kalau Mycle berkata barusan. “Makanlah. Aku tahu kau lapar,” Ucap Mycle menyudahi untuk menggoda mate nya ini. Entahlah, Mycle sangat menyukai saat gadis ini tersipu. Itu benar benar menggemaskan. Ingin sekali ia kembali mengecup bibirnya, tetapi untuk malam ini. Mungkin tidak, mereka akan menjalankan makan malam mereka lancar. Mycle ingin selalu memenangkan ini, makan malam pertama mereka yang akan berkesan. Mycle dan Amara makan dengan tenang. Masing masing menikmati makanan mereka, sambil sesekali berbincang kembali. Tetapi di tengah kegiatan mereka tiba tiba saja Amara menegang. Melihat itu Mycle mengerutkan kening bingung. “Ada apa, sayang??” Tanya nya penasaran. Amara tida menjawab, ia masih terdiam. Wajahnya keliahatan merasa bersalah. Kemudian wanita itu bangkit berdiri, mengambil mantel nya da tas miliknya cepat. Saat hendak berjalan dengan sigap Mycle menahan lengan itu. “Hei, ada apa??!” Tanya Mycle lagi penasaran. Amara menoleh gelisah. “Astaga, Mycle. Ibukku sendiri. Dia sendiri di rumah, aku harus segera pulang!” Jawab Amara panik. “Kenapa?? Bukankah-“ “Mycle, aku harus pulang!! Keadaanya sedang tida baik, dia sendiri!!” Amara sedikit meninggikan suaranya. “Oke baiklah baiklah. Tenang! Aku akan mengantarmu, oke??” TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD