Mycle berjalan pelan memasuki ruangan tunggu pribadinya. Kedua tangan nya ia selipkan pada saku celana. Dari sini mata birunya sudah bisa melihat mereka yang terduduk rapih di atas sofa panjangnya. Telinga mereka mendengar ketukan sepatu Mycle yang mendekat, serempak mereka berdiri, memberi sikap menghormati Mycle sebagai orang besar dan berpengaruh di kantor ini.
Setelah itu, Mycle mulai menduduki ingin sofa nya. Ia memberi isyarat Darvin untuk kembali menyuruh mereka duduk.
“Ekhmmm,” Deham Mycle memecahkan keheningan di ruangan ini. Rasanya sangat mencekam padahal sama sekali tidak terjadi masalah yang serius di sinim
“Kalian tidak perlu takut” Mycle membuka suara. Menegakkan tubuhnya. “Bersikaplah santai. Aku tidak akan melakukan apapun kekerasan pada kalian juga” Mycle menatap mereka satu persatu. Tetapi mata birunya tiba tiba saja berhenti pada sosok gadis cantik dengan kemeja biru dan rok se dengkul bewarna putihnya. Gadis itu masih menunduk dalam, seolah tidak membiarkannya menatap wajah cantik itu. Mycle tanpa sadar tersenyum kecil.
“Kalian sudah tau? Apa tujuan dan maksud kalian berada disini, kan??” Mycle memberi pertanyaan. Mereka menganggukkan kepala kompak. Melihat itu Mycle menghela nafasnya gusar.
“Tentu saja mereka akan seperti ini. Mereka di terima dengan acak acakan, tanpa persiapan apapun bahkan keberanian diri untuk menghadap ku. Tenanglah Mycle, kau harus mengerti itu! “ Dewa batin Mycle menggeram.
“Jika aku sedang berbicara maka tataplah wajahku!” Sentakan Mycle menggema.Tentu saja itu berhasil membuat mereka kepala para wanita itu berhasil terangkat bersamaan. Terduduk tegak dengan mata lurus menghadap Mycle. Bersamaan dengan itu, Mycle juga merasakan nafas mereka yang tercekat juga detak jantung mereka yang berpacu cepat.Tapi satu hal yang berbeda, aroma salah satu dari mereka benar-benar kuat. Mycle tidak tahu apa itu.
Mata biru lautnya kembali terarah pada wanita ber setelan biru putih itu. Dan Mycle kini bisa melihat wajahnya jelas. Oh Tuhan, dia sangat cantik. Mata abu nya yang bersinar, kulit putih bersihnya yang terawat, rambut coklat gelap nya dan pipinya yang bersemu merah. Tanpa sadar Mycle mengulum senyum tipis lagi kearah wanita itu. Tetapi kemudian ia menahan tawa saat melihat wanita itu menunduk kembali.
Amara menegang, saat mata nya berhasil bertemu dengan mata biru bak lautan itu. Ia merasa seperti terhipnotis, tatapannya sangat mengintimidasi, dan mengikat tetapi juga seperti membelai nya lembut. Tidak berani menatap mata itu lebih lama, Amara kembali menundukkan kepalanya, memutuskan kontak mata mereka beberapa detik lalu.
“Baiklah. Dengarkan!” Mycle kembali membuka suara. Ia membenarkan duduknya, tatapannya kali ini benar benar serius.
“Kalian mungkin berfikir perusahaan ku sangat bodoh dan payah karena telah membuka penerimaan kerja dengan sangat asal asalan seperti ini. Tetapi jangan anggap itu hal yang sepele dan kalian akan merasa tidak perduli, terus kedepannya kalian akan main main dengan pekerjaan kalian yang sudah kalian dapatkan tanpa ada satu butir keringat pun yang menetes!”
Amara menelan ludahnya pahit. Benar apa yang pria itu katakan, dirinya saat ini berada dalam sebuah perusahaan mewah dan terkenal tanpa mengeluarkan satu perjuangan sedikitpun. Bahkan satu tetes keringat. Apakah akan sangat mungkin dirinya benar benar bisa bekerja di perusahaan ini?? Itu seperti kemustahilan yang sangat sulit menjadi nyata.
“Aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang nama Culles Company pada kalian. Karena aku yakin 95% dari kalian sudah tahu, bahkan jika kalian ingin mengetahui lebih lengkapnya, kalian bisa search di Google atau web, terserah.”
“Aku bukan tipikal orang yang suka berbasa basi. Itu terlalu membuang buang waktu. Aku hanya ingin mengatakan pada kalian, bahwa tugas kalian di sini akan kami tetapkan masing masing. Setelah ini wakil Manajer ku yang akan mengurus kalian semua, dimana mereka akan memberikan kalian percobaan guna menguji potensi kalian masing masing, mengerti??”
“Kami mengerti, Mr. Culles,” Jawab mereka lagi serempak. Mycle mengangguk puas.
“Jadi pekerjaan kalian di sini atau jabatan kalian di sini itu di tentukan oleh hasil tes uji coba kalian. Jika kalian beruntung, bahkan kalian bisa menjadi sekertaris hd disini atau jika kalian kurang beruntung. Maka yang terparah nya kalian bisa saja menjadi OB!” Ucap Mycle lagi. Entah mengapa itu sangat menusuk untuk mereka masing masing.
“Kalian di sini bukan semata mata untuk mendapatkan pekerjaan yang penting dengan jabatan tinggi. Itu sangat tidak masuk akal, dan aku tidak mungkin menempatkan posisi penting seperti itu asal asalan.”
“Kurasa itu saja yang bisa aku sampaikan. Ini hanya sekedar kata kata sambut ku untuk kalian, beruntunglah dan selamat bekerja keras. Ku harap kalian akan nyaman bergabung dalam Culles Company.” Mycle menyudahi kalimat nya. Dalam hati ia meruntuk, ini benar benar merepotkan. Tetapi kalau bukan karena Mate nya maka Mycle bersumpah ia tidak akan pernah membuka lamaran masal ini lagi untuk perusahaan nya.
“Kalian bisa mulai bekerja,” Mycle bangkit berdiri. Merapihkan jas nya yang berubah posisi. Kemudian semua wanita itu juga ikut berdiri. Menunduk hormat.
“Terimakasih, Mr. Culles,” Ucap mereka. Mycle mengangguk pelan. Ia memberi isyarat pada Darvin untuk kembali menggiring mereka keluar ruangan, dan kini wanita wanita itu sudah berbaris untuk keluar dari ruangannya satu persatu. Tetapi dengan cepat Mycle melangkah, tangannya bergerak menarik lengan kecil wanita yang sejak tadi ia perhatikan terus menerus.
Amara menoleh terkejut, ini sangat mendadak. Ia melihat Mr. Culles lah yang menahan tangannya, mata biru nya kini bisa ia saksikan dari dekat. Dan ternyata benar benar indah, sekan membuatnya meleleh. Belum sempat Amara membuka suaranya, dengan cepat Mycle menutup mulut itu dengan bibir nya.
Mycle dapat melihat mata wanita itu yang melotot seperti ingin keluar. Tetapi ia sama sekali tidak perduli, tangan besarnya menangkap pinggang itu membuat tubuh kecilnya melengkung sempurna pada tubuhnya. Mycle memejamkan matanya, menikmati ciuman ini. Oh Dewi Bulan, ia berani bersumpah. Wangi Vanilla ini begitu menyeruak ke indra penciuman nya. Memasuki rongga rongga hidungnya, dan memenuhi setiap tarikan nafasnya. Benar benar memabukkan. Tangan Mycle berpindah menuju tengkuk Amara guna memperdalam ciuman mereka.
Pasokan udara seperti habis, semakin menipis dan hilang. Tetapi panasya ciuman mereka lebih menggoda, Mycle tidak berniat menghentikannya. Walaupun ia bisa merasakan nafas Amara yang memburu, tetapi ia tidak perduli. Malahan Mycle sangat menikmatinya, nafas Amara begitu sexy, menggoda dan membuatnya semakin menuntut ciuman mereka.
Walaupun sedikit tidak termina karena ini benar benar mendadak. Tetapi Amara tidak bisa berbohong bahwa ia menikmati belaian lembut bibir Mr.Culles ini. Seperti mendamba tetapi sangat menuntut. Tidak ada tanda tanda akan berhenti, justru lumatan pria ini semakin intens dan kuat. Nafasnya hangat dan tenang, menerpa wajahnya harum. Perlahan ia juga turut memejamkan matanya. Lagi pula untuk memberontak pun tidak bisa, terlalu kuat pria ini mengunci tubuh kecilnya dalam dekapan tubuhnya yang besar. Tenaga pun Amara masih kalah.
Mycle melepaskan ciuman mereka. Ia menatap puas wajah cantik itu yang terengah engah, seperti mencari cari udara dan menghirup sebanyak banyaknya. Mycle menyunggingkan bibirnya, tangannya terangkat menyentuh bibir itu dengan ibu jarinya. Menyapu nya lembut, setelah itu ia menjilat ibu jarinya sehabis itu.
“Kau sangat manis!” Mycle jujur.
“Kenapa kau melakukan ini??!” Ketus Amara menatapnya tajam.
“Karena kau mate ku!” Ucap Mycle pelan. Amara menautkan alisnya bingung. “Apa maksudmu??!” Tanya Amara lagi kesal. Pria ini benar benar tidak masuk akal, aneh dan menyebalkan. Bersikap seenaknya dan- ugh Amara tidak mengerti lagi.
“Ssssshhhttt, kau tidak perlu bertanya, sayang. Aku akan menunggumu di ruang kerjaku sepulang jam kantor. Kita akan makan malam bersama, dan kau tidak bisa menghindari itu!” Tukas Mycle seenaknya. Amara menatap tidak suka. Pria ini ternyata benar benar menyebalkan, dia sudah berlaku seenaknya dengan mencium bibirnya tanpa permisi dan sekarang memotong ucapannya.
“Maaf, Mr. Culles. Saya-“
Mycle kembali mengecup cepat bibir manis itu. Hanya sekilas, kemudian ia tersenyum.
“Aku menyukai bibirmu!” Ucap Mycle menyeringai. Aku tidak mengerti dengan dirimu sendiri, mengapa seperti sangat sulit untuk memberontak, menyela, memprotes atau melempar pria itu pake Heels nya. Tetapi tubuhnya benar benar sulit untuk di gerakan seakan menolak untuk melakukan itu.
Tanpa memperdulikan tatapan membunuh Amara, Mycle membalik tubuhnya. Berjalan cepat kembali menuju pintu di mana ruangan kerja nya berada. Masih dengan senyum melengkung sempurna di bibirnya awet. Pria itu kembali membuka suaranya.
“Panggil aku Mycle!! Tidak Mr. Culles!!” Teriak pria itu dari jauh kemudian kini sosoknya sudah hilang di balik pintu. Meninggalkan Amara yang masih mematung tidak percaya dengan mulut terbuka dan mata yang hampir saja keluar.
“Ada apa sih dengan pria itu??!!” Geram Amara kesal. Menatapnya, menahannya untuk keluar, menciumnya tanpa permisi berkali kali. Mengatakan hal yang aneh, seperti Mate?? Apa itu??
Banyak pertanyaan berputar di otaknya. Bahkan mengenalmu benar benar baru hari ini, pria itu tidak ada alasan sama sekali untuk bisa berlaku seenaknya kepadanya seperti itu.
Ya Tuhan. Apakah benar benar dirinya akan bekerja di tempat ini??! Bertemu sangat sering dengan CEO tidak warasnya itu??! Amara tidak bisa membayangkan akan menjadi seperti apa nantinya.
Amara terkejut saat tiba tiba saja pintu ruangan terbuka. Muncul Amara sosok pria yang sejak awal menggiring nya datang kesini, pria itu yang yang menegur dirinya dan Riska saat sedang berbincang tadi.
“Maaf Miss. Urusan anda dengan Mr. Culles sudah selesai, aku akan mengantarmu keluar dan mengarahkan mu lebih lanjut,” ucap pria itu ramah. Kepala Amara masih berputar ada kejadian beberapa menit lalu. Astaga, bagaimana kalo orang orang di kantor ini tahu?? Itu akan sangat memalukan. Amara mengangguk kecil, mengangkat bibirnya. Ia mulai berjalan mendekati pria itu yang sudah keluar lebih dulu, berjalan di depannya.
»»——⍟——««
Mycle mendudukkan bokongnya di bangku kebesarannya. Senyum cerah itu masih sangat betah terukir di wajahnya sejak tadi. Bahkan saat dirinya sedang bekerja sekalipun seperti sekarang. Bayangan wajah Amara yang sangat cantik, dari mulai mata abu nya, kulit mulus dan bersih nya, tatapan matanya yang tajam, suara protes nya yang mengalun merdu. Ah, itu masih berputar sangat jelas di otaknya.
Seseorang mengetuk pintunya tiba tiba. Dengan ramah Mycle menjawab untuk mempersilahkan orang itu masuk. Pintu terbuka, mata birunya menoleh penasaran. Ternyata itu adalah Mr. Andreas. Melihat itu Mycle mengingat dirinya meminta pria ini datang kemarin saat meeting pribadi mereka.
“Ah, Mr. Andreas? Silahkan duduk,” ucap Mycle ramah di tambah dengan senyumnya yang mengembang. Mr. Andreas membalas senyum Mycle sopan, kemudian berjalan dan mulai duduk di kursi tepat berhadapan dengan Mycle. Tangan pria baya itu di penuhi oleh beberapa tumpukan file.
“Maaf mungkin aku datang telat, Mr. Culles, “ Ucap Mr. Andreas tiba tiba. Mycle menggeleng pelan. “Kau tidak telat sama sekali. Tenang saja,” Jawab Mycle masih ramah. Mr. Andreas tersenyum. Ia menatap Mycle sedikit bingung, bertanya tanya ada apa dengan pria ini? Mycle terlihat berbeda.
“Kau bisa langsung memulainya,” Tutur Mycle, ia menyenderkan punggungnya kebelakang. Matanya serius menatap Mr. Andreas seperti sudah siap mendengarkan apa yang akan wakil Direksi nya ini katakan.
“Begini Mr. Culles. Investasi pertambangan minyak di Tyumen sudah kami periksa, mereka berjalan lancar. Peningkatan nya sangat drastis, pembisnis an tambang minyak di sana sangat berkembang pesat. Dan saham perhiasan di Amerika juga berkembang drastis, dan akan seperti itu pada setiap dekade nya. Harga akan semakin meningkat, terlebih saat ini yang sedang meledaknya adalah perhiasan dengan tambahan Diamond. Itu akan menuai kan harga yang tinggi setiap periode nya.” Jelas Mr. Andreas panjang. Mycle mendengarkan dengan serius, kemudian ia tersenyum puas saat Mr. Andreas sudah menyelesaikan kalimatnya.
“Berita yang benar benar bagus!!” Mycle bertepuk tangan sendiri, Mr. Andreas hanya tersenyum kaku. “Aku senang mendengarnya! Kalau begitu aku ingin kau perintahkan mereka untuk menambah koleksi berlian sebanyak mungkin, kalau bisa kalian cari yang lebih langka dari itu. Juga jangan lupa untuk memperhatikan setiap perubahan masa, karena itu sangat berpengaruh. Terlebih kaum hawa sangat mudah bosan dan akan cepat berganti model,” Tampah Mycle member saran. Mr. Andreas mengangguk paham. “Saya mengerti, Mr. Culles. “
Setelah itu mereka hanya mengobrol bisa, terutama mengenai saham yang masih bergantung di tangan orang lain itu. Itu yang sempat membuatnya naik pitam kemarin. Tetapi yang membuat Mr. Andreas bertambah bingung sekarang adalah Mycle sama sekali tidak menunjukan kemarahan bahkan kekesalan sedikitoun membahas masalah itu. Pria itu sejak tadi hanya tersenyum, berbicara tenang atau bahkan sesekali tertawa.
“Sepertinya hari kau sedang sangat ceria, Mr. Culles, “ ucap Andreas tiba tiba. Mycle menahan senyum geli nya. “Apa maksudmu?? Aku biasa saja,” jawab Mycle menahan senyum. Dan itu justru membuat Mr.Andreas terkekeh. “Aku sangat mengenalmu Mr. Culles, kau terlihat berbeda hari ini. Jika bisa di andaikan, saat ini seperti ada pelangi di atas kepalamu. Kau benar benar jarang sekali seperti ini. Terlihat senyum dan tertawa sepanjang waktu,” Ucap Mr. Andreas tersenyum geli. Dan itu membuat Mycle tida bisa menahan tawanya.
“Oh, ayolah Mr. Andreas. Jangan meledekku seperti itu. Lagi pula kau seharusnya ikut berbahagia,” ucap Mycle sembari merendahkan tawanya. Mr. Andreas bangkit berdiri. “Tentu saja aku turut bahagia, Mr. Culles. Aku senang melihatmu seperti ini, kau kelihatan lebih hidup.” Ucap Mr. Andreas membuat Mycle mengernyit tidak suka. “Jadi selama ini kau anggap aku mati??”
Mr. Andreas langsung menggeleng cepat. “Ah, tidak! Maksudku bukan seperti itu, hanya-“
“Baiklah, aku mengerti. Karena hari ini sangat cerah, kau harus menikmatinya. Bersenang senanglah. Kau bisa pergi sekarang, “ Ucap Mycle tersenyum.
Mr. Andreas menaikan kedua ujung bibirnya kaku. Matanya menatap luar jendela yang sedang hujan lebat, karena memang akhir akhir ini Calgary sedang sering seringnya di landa musim hujan. Melihat itu ia hanya menampilkan deretan gigi putihnya.
“Kalau gitu saya permisi, Mr. Culles.” Pamit Andreas sopan. Ia hanya tersenyum hambar kemudian segera melangkah cepat keluar ruangan.
“Kelihatannya dia sedang tidak baik, “ Batin Andreas ketika sudah keluar ruangan.
TO BE CONTINUED