Culles Company

1621 Words
Amara Pov. Aku sudah siap sekarang. Kemeja biru yang dipadukan dengan rok putih kesukaanku. Terkesan simple penampilanku saat ini, tetapi aku menyukainya. Aku hanya bisa berharap hari ini berjalan dengan lancar, entah aku harus bersyukur seperti apa untuk keajaiban yang sangat tiba tiba ini. Benar benar keberuntungan, rasanya seperti mendapat undian ratusan dolar secara tiba-tiba. Sore itu, ketika aku membeli obat untuk ibu di pusat kota, aku melihat sekumpulan orang. Flashback On "Maaf, apa aku boleh tahu. Kalian semua berkumpul di sini untuk apa??" Tanya ku kepada seorang perempuan di sana. "Ah, ini adalah undangan pekerjaan yang diberikan langsung oleh Culles Company, mereka sedang mencari beberapa karyawan untuk bergabung di perusahaan nya dan ikut dalam kerja sama proyek yang sedang mereka bangun. Mereka bilang saat ini sedang menurun, untuk itu mereka membuka undangan ini, guna meningkatkan proyek mereka," Jawab perempuan itu menjelaskan panjang. "Culles Company??" Tanyaku Bingung. "Kau tidak tahu?!!" Tanya perempuan itu terkejut. Aku menjawabnya menggeleng. "Dia adalah salah satu perusahaan terkenal internasional sepanjang masa! Namanya seakan sudah terpampang jelas di berbagai macam negara. Dan itu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, terlebih Calgary. Dan kau tidak mengetahui itu??" Aku masih menjawabnya menggeleng. Oke, aku tahu. Ini memalukan, aku benar benar tidak update apapun. "Dan, lalu mereka mengadakan undangan lamaran?? Apakah tidak terlalu bar bar?? Mereka juga kan tidak tahu potensi apa saja wanita wanita yang akan mereka Terima, bisa jadi itu semua tidak cocok dalam kategori yang mereka cari. Biasanya semua butuh proses dari mulai interview atau presentasi terlebih dahulu dari calon masing masing." "Iya, ada benarnya juga. Tapi entahlah, seperti ini juga ada untungnya untuk kita. Kau tahu, mencari pekerjaan saat ini tidaklah mudah!" Benar. Memang benar, sesulit itu, bahkan aku tidak bisa menjelaskannya. Susah sekali hanya untuk mendapatkan satu pekerjaan. Aku mengangguk membenarkan. "Aku juga setuju! Lagi pula ini sama sekali tidak merugikan kita kan?? Tetapi apakah ini benar?? Mereka benar benar akan menerima kita??!" Tanya ku masih setengah tidak percaya. "Benar! Karena yang aku dengar, CEO nya langsung lah yang meminta ini. Tidak ada salahnya untuk mencoba. Ini, isi lengkap ya, semoga saja kita beruntung!" Ucap wanita itu kemudian memberikanku selembar formulir. Aku menerimanya cepat. "Terimakasih!" Setelah formulir itu berada di tanganku, aku memandangi lebih dulu formulir itu dengan ragu, cukup lama. Karena memang entah mengapa perasaanku menjadi bimbang. Tapi setelah itu aku isi data ku lengkap disitu. Kemudian seseorang meminta formulir yang sudah kami isi lengkap untuk dikumpulkan. Dalam hati aku berdoa, semoga saja memang keberuntungan berpihak padaku. Ya Tuhan, aku juga bingung sebenarnya untuk apa aku ikut ikutan seperti ini. Tetapi apa salahnya mencoba, iya kan? Lagi pula, jarang sekali ada yang seperti ini. Setelah itu kami pun disuruh untuk menunggu karena ada beberapa informasi penting yang akan disampaikan mengenai lamaran masal ini. Dari yang aku dengar setelah informasi itu diumumkan, bahwa lamaran ini akan di ambil menjadi 10 orang dan itu semua adalah wanita, dari 200 orang yang sudah mengisi data lamaran itu. Sebenarnya aku sangat bingung dengan pemungutan lamaran masal ini, maksudku, sangat tidak masuk akal menerima begitu saja seseorang masuk kedalam perusahaan yang pasti akan sangat membutuhkan orang profesional yang bisa mereka terima. Tetapi ini?? Benar benar aku baru pertama kali mengetahui perusahaan ada yang seperti ini. Tidak mau terlalu banyak memikirkan itu aku pun hanya diam menunggu pengumuman dari semua data yang sudah mereka Terima,dan tanpa aku sadari, keberuntungan hari ini benar benar lagi berpihak padaku. Entahlah, aku bingung harus bicara apa. Senyum senang sudah mengembang di wajah ku, seperti baru saja menemukan jalan keluar setelah tersesat bertahun tahun lamanya. Dengan perasaan ceria dan bersemangat aku melanjutkan jalan untuk pulang. Ah, aku merasa bersalah sekali karena sudah telat memberikan obat yang aku beli ini. Pasti ibu sangat menungguku. Maafkan aku ibu. Flashback Off. Sebelumnya aku sudah memberitahu ibuku tentang lamaran ini dan dia sangat senang mendengarnya dia pun sangat menyetujuinya, namun aku masih ragu kalau aku harus meninggalkan ibuku di rumah sendirian dan baru pulang larut malam. Namun ibuku bilang dia tidak apa apa dan dia tetap keras kepala memaksaku untuk tidak menolak pekerjaan ini, ya mau bagaimana lagi, ini juga demi ibuku dan kehidupan kami ke depan nya, jadi aku akan melakukannya. Mau tidak mau. Setelah turun dari bus aku berjalan menyebrang jalan raya dan kembali ketempat kemarin dimana aku menaruh lamarannya, karena memang informasinya setelah kami berkumpul di sana kami akan dibawa ke Building pusatnya langsung yaitu. Aku benar benar baru mengetahui kalau ternyata mereka memiliki kantor lain selain di Calgary, ya Tuhan ada berapa banyak kantor mereka ini?? »»——⍟——«« Author Pov. Disisi lain Mycle sedang kebingungan karena dia baru saja diberi tahu kalau acara pengangkatannya sebagai Alpha akan dimajukan menjadi pekan depan, sedangkan dia saja belum menemukan mate nya. "Apa ayah tidak memikirkan bahwa aku belum menemukan, Mate ku??!" Tanya Mycle kesal. Sejak tadi ia tidak henti hentinya berjalan mondar-mandir gelisah di ruangannya. "Karena mendapatkan Mate pada acara penobatan ataupun belum itu sama sekali tidak berpengaruh, Mike! Kau harus tetap mendapatkan penobatan itu walaupun tanpa Mate kita sekalipun!" Ucap Alex. "Tidak! Aku ingin saat penobatan ku, Mate kita sudah mendampingi ku. Bagaimanapun caranya!" Jawab Mycle keras kepala. "Kau benar benar menyebalkan!!" Alex berucap emosi. Kemudian memutuskan mindlink sepihak. Dasar!! Pasti akan selalu seperti itu akhirnya, wolf sialan itu lebih dulu yang akan mengakhiri panggilannya. "Alpha?" Mycle menghentikan langkahnya saat Darvin memanggilnya melalui mindlink. "Bagaimana??" "Sepuluh wanita itu sudah dalam perjalanan. Aku langsung yang akan menuntun mereka menghadap mu beberapa saat lagi!" Ucap Darvin memberitahu. Mendengar itu Mycle menyeringai senang. "Bawalah mereka secepatnya!" "Baik Alpha." Mycle berjalan menuju bangku besarnya. Dan mendudukkan bokongnya di sana. "Maaf, Alpha? Apa aku boleh berkata jujur mengenai feeling ku??" Darvin tiba tiba saja kembali mindlink nya. "Jujur lah, apa yang kau rasakan??!" "Aku merasa mate mu itu ada diantara sepuluh wanita yang akan menghadap mu Alpha." "Bagaimana kau tahu??!!" "Aku hanya merasa auranya sangat kuat. Aku yakin itu adalah milik Luna ku," Jawab Darvin yakin. Sungguh, sama halnya dengan Darvin, Mycle pun mengharapkan demikian. Satu dari sepuluh wanita calon anggota perusahaan nya, satu di antaranya adalah dia. Wanita itu, 'Mate' nya. »»——⍟——«« Author Amara memandang takjub gedung pencakar langit di depannya ini yang menjulang tinggi, ia menebak kalau gedung ini tingkatnya lebih dari 25 lantai, benar benar sangat tinggi dan mewah. 'Apakah aku bermimpi akan bekerja di kantor mewah ini?? Oh tidak, siapapun bangunkan aku!' Batinnya berteriak. "Amara??" Panggil Riska. Riska adalah wanita yang ia temui di Travel tadi. Kebetulan Amara mendapatkan duduk di samping wanita itu, mereka berkenalan dan ternyata Riska sangat cocok dengannya. Amara merasa nyaman berteman dengan dia. Disisi lain ia juga cukup bersyukur, di hari pertama ini ia sudah memiliki seorang teman. Dan mungkin saat mereka bekerja nanti, Amara tidak akan merasa kesepian. "Iya?" Jawab Amara. "Ayo," Ajak Riska. Aku menjawabnya dengan anggukan cepat. Saat mereka semua sudah keluar dari Travel, seorang pria bersebelahan rapih menghampiri. Mereka menggiring kami memasuki lobby. Kini kami semakin jelas untuk melihat Building mewah itu. Amara, Riska dan yang lainnya sudah berkumpul saat ini di sebuah lobby utama yang terdapat logo di atasnya Culles Company sangat besar selain logo di building nya juga. Seakan logo besar itu mau ber sombong pada pengunjung. "Riska?" Panggil Amara pelan tiba tiba. "Apa??" Jawab Riska menoleh. "Kau percaya kita akan bekerja disini??" Tanya Amara sambil matanya masih berkeliling menatap takjub lobby yang sangat mewah ini. Memperhatikan nya detail. "Entahlah Amara. Aku merasa ini seperti mimpi!? " Jawab Riska. Amara mengangguk setuju. "Kau sangat benar!! Ya Tuhan, bahkan aku tidak bisa membedakan ini kenyataan atau mimpi!" "Astaga! Baiklah, mungkin kau akan bilang aku norak, berlebihan atau apalah itu. Tetapi aku bersungguh sungguh, tempat ini sangat mewah. Ya Tuhan, aku masih tidak percaya menginjakkan kaki ku di granit mewah ini. Bahkan heels 95$ yang aku beli ini masih terasa hina saat menginjaknya!" Amara terkekeh mendengar itu. "Bagaimana kabar heels ku yang bahkan seperti harga sayur di supermarket??" Mereka tertawa bersama. "Maaf Miss. Mungkin obrolan seru kalian bisa dilanjutkan nanti, setelah kalian bertemu dengan Mr. Culles terlebih dahulu," Tiba tiba saja seorang pria menghampiri. Pria itu adalah yang sebelumnya menggiring kami memasuki lobby. Oh astaga, Riska dan Amara terkejut saat menoleh ke depan ternyata rombongan mereka sudah tidak ada. "Ah, maaf. Kami tidak tahu," Jawab Amara sopan. Pria itu hanya tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya lebih dulu. Dengan cepat Riska dan Amara mengikutinya. Mereka sudah berada di lantai 20. Dimana ruangan CEO itu berada katanya. Selama perjalanan menuju ke sana, tidak henti hentinya mereka mengagumi seluruh interior Building ini yang sangat mewah dan menawan. Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai. Mereka sudah berdiri tepat di hadapan sebuah pintu besar. Dimana akan menghubungkannya dengan ruangan CEO itu. Oh entahlah, sekarang Amara semakin merasa gugup. »»——⍟——«« Author. "Mereka sudah sampai Alpha," Ucap Darvin mindlink. "Baiklah, biarkan mereka masuk dan suruh mereka untuk menunggu diruang tunggu ku, aku akan segera datang." "Baik Alpha". Setelah itu Mycle berjalan kearah pintu yang membawanya menuju ruang tunggu dimana dia akan menemui sepuluh wanita yang itu. Oh ayolah, tiba tiba saja ia merasa gugup. Mycle saat ini sedikit ragu untuk memutar kenop pintu. Benar benar menyebalkan! Ia menarik nafasnya dalam dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tetapi tiba tiba saja keningnya mengkerut kala hidungnya menangkap aroma harum ini. Tunggu!! Ini aroma Vanilla. Dari mana asalnya?? Dia benar benar begitu kuat! "MATE KU!! ITU MATE KU, INI ADALAH WANGI MATE KU MIKE!!" Pekik Alex keras tiba tiba. Sampai sampai Mycle memegangi kepalanya pening. "Astaga! Tenanglah!! Kau membuatku pusing!!" Omel Mycle kesal. "Ini adalah aromanya!! Aku yakin!!" Ucap Alex lagi. Mendengar itu Mycle perlahan mengembangkan senyum nya. Entah mengapa kini ia juga menjadi yakin. "Sebentar lagi kita akan menemuinya, Alex!!" Mycle menyeringai. TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD